
Dina tampak tak bernafsu dengan bakso yang ada didepannya. Dia hanya sibuk mengaduk baksonya dan memakannya sedikit-sedikit. Ismi yang melihatnya pun jadi heran dengan tingkah temannya yang tak biasa itu.
"Eh Din,loe kenapa sih? Dari tadi makan cuma diaduk-aduk gitu!" tanya Ismi penasaran.
"Gue bingung aja Mi, gue harus gimana lagi bersikap kesuami gue! Ini udah 6tahun dan sama sekali nggak ada perubahan dalam rumah tangga gue," curhat Dina sedih.
Ismi hanya diam sambil memikirkan jalan keluar untuk temannya itu. Tiba-tiba Ismi tersenyum saat sebuah ide gila terlintas dipikirannya.
"Gue punya solusi sih Din buat loe."
"Beneran Mi! Cepetan kasih tau gue," kata Dina antusias.
Ismi pun mendekati Dina,lalu membisikkan sesuatu keDina.
"Yakin loe Mi harus pakai cara itu?" tanya Dina ragu.
"Yakinlah Din, soalnya udah nggak ada cara lain lagi. Ya gue sih cuma ngasih saran, mau loe lakuin apa nggak ya itu terserah loe."
Dina terlihat masih memikirkan idenya Ismi. Dina memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya kembali sambil tersenyum tipis.
Oke, gue harus coba cara itu lagi mumpung Rega masih bertahan dengan pernikahan ini.
****
Piran terlihat masih sibuk memeriksa laporan-laporan dari berbagai divisi. Matanya nampak serius membaca tulisan-tulisan pada selembar kertas.
Tok tok tok
"Masuk."
"Permisi Bu Piran, hari ini ada jadwal tambahan untuk acara makan malam dengan perusahaan Afranda"ujar Tasya.
"Apa saya harus datang Sya?" tanya Piran malas.
__ADS_1
"Saya rasa harus Bu, mereka adalah klien baru kita dan malam ini mungkin sebagai sambutan mereka,"jelas Tasya.
" Ya sudah, nanti malam saya akan datang. Apa masih ada lagi?"
"Tidak ada Bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Malam harinya, Piran nampak cantik dengan dres hitam selututnya yang dia beli tadi siang. Dengan tergesa-gesa,Piran turun dari tangga dengan sedikit berlari.
" Ya ampun sayang, hat-hati nanti kamu bisa jatuh!" ucap Rani khawatir.
" Aku buru-buru Mah. Ini pertemuan pertama aku dengan klien,kalau terlambat nggak enak Mah,"kata Piran sambil mencium pipi mamanya.
" Makanya lain kali atur waktu yang bener biar nggak buru-buru gini," kata Rani menasehati.
Tanpa menjawab lagi,Piran pun langsung berhambur keluar rumah sambil melambaikan tangannya. Piran menjalankan mobilnya dengan cukup cepat. Setelah melewati sedikit drama diperjalanan,akhirnya sampai juga Piran disalah satu restoran mewah.
"Permisi Mbak, saya datang atas undangan dari perusahaan Afranda,"kata Piran kepada waitres.
" Oh ya mari Bu saya antarkan."
Piran pun melangkah masuk lalu mendekati lelaki itu.
"Permisi, slamat malam Pak. Saya perwakilan dari perusahaan Winata, maaf kalau saya sedikit terlambat," ucap Piran tak enak.
" Slamat ma...." Ucapan lelaki itu terhenti saat dia menolehkan wajahnya kesamping.
Begitu juga Piran yang merasa kaget melihat lelaki yang ada dihadapannya saat ini.
"Piran!"
"Vino!" ucap mereka bersamaan dengan wajah tak percaya.
"Piran, jadi loe perwakilan dari Winata?"
__ADS_1
"Iya Vin, sumpah gue kaget banget bisa ketemu loe disini!"
"Iya Pir, gue juga. Oh ya gimana kabar loe? Tambah cantik aja loe setelah lama nggak ketemu."
"Bisa aja loe Vin. Udah berapa nih sekarang mantan loe?" canda Piran.
"Gue masih jomblo Pir! Kalau loe, udah putus kan ama Rega?"
" Semenjak kejadian itu gue udah putus kok, bahkan sekarang dia udah nikah sama Dina dan punya anak," kata Piran sendu.
Mereka pun akhirnya melanjutkan obrolan hingga larut malam. Bahkan mereka sama sekali tidak membicarakan soal bisnis karena terhanyut dengan reuniannya. Sekitar jam sebelas malam baru mereka berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.
****
Rega yang baru saja meminum teh buatan Dina pun tiba-tiba merasa tak enak badan. Dina yang sudah melihat reaksi kerja obatnya pun langsung tersenyum.
" Mas, kamu kenapa Mas kok mukanya merah gitu? Jangan-jangan kamu demam Mas?" tanya Dina sambil meraba kening suaminya.
Mendapat sentuhan dari Dina, entah mengapa Rega merasa hasrat kelelakiaannya menjadi bergejolak. Tubuhnya benar-benar terasa panas dan terasa aneh.
"Ya udah kita ke kamar aja ya Mas, biar aku bantu kamu," kata Dina lalu memapah Rega masuk ke kamar.
Perlahan Dina membuka kancing baju suaminya dan Rega hanya Diam saja mencoba mengendalikan diri.
"Apa kamu masih panas Mas? Kalau ia, aku bukain celana kamu ya?" kata Dina dengan suara menggoda.
Rega segera menahan tangan Dina yang sudah memegang resletingnya. Dina yang kecewa pun tak kehabisan akal, dia pun membuka seluruh bajunya didepan Rega hingga polos. Rasanya Rega ingin sekali menerkam tubuh Dina yang sudah polos itu, tapi dia masih mencoba mengendalikan diri dengan menutup mata. Dina yang tak sabar pun langsung mendorong Rega keranjang hingga terbaring. Dina mulai menciumi seluruh wajah suaminya yang tampan itu dengan gembira.
Yes! Akhirnya gue berhasil. Tau gini, kenapa nggak gue lakuin dari dulu aja.
Rega yang sudah mulai sedikit terbuai pun hanya membiarkan Dina menciuminya. Tiba-tiba bayangan wajah Piran yang sedang menangis terlintas diotaknya. Rega yang masih sadar pun langsung mendorong tubuh Dina. Dengan cepat, Rega masuk kekamar sebelah dan menguncinya. Dia pun masuk kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas. Rega terus mengguyur tubuhnya dengan air hingga rasa panas tubuhnya berkurang. Rega keluar dari kamar mandi lalu mengganti pakaiannya. Rega tertidur disamping Arfa dan tak mempedulikan teriakan Dina yang memanggilnya beberapa kali.
Apa yang udah kamu berikan keaku Din, sampai aku jadi kayak gini? Kalau aku tahu kamu berbuat curang, aku nggak akan maafin kamu Din.
__ADS_1
bersambung...