
Tubuh Rega langsung membeku begitu mendengar berita yang disampaikan oleh Ciko, teman bermain Arfa.
Otaknya membayangkan tubuh putranya yang bersimbah darah dan meraung kesakitan.
" Om ayo cepetan!" kata Ciko sambil menarik tangan Rega.
Rega yang tersadar pun langsung mengikuti langkah Ciko yang menariknya.
Ciko membawa Rega kedekat lapangan bola. Disitu tampak banyak orang yang berkerumun mengelilingi sesuatu.
Tanpa basa-basi, Rega langsung membuka kerumunan orang-orang dan rubuhlah tubuh Rega saat melihat Arfa dalam keadaan pinsan dan darah yang mengalir dari kepalanya.
Rega meraih tubuh lemah itu dan menepuk pelan pipi Arfa mencoba untuk menyadarkannya.
" Sayang bangun, jangan bikin ayah khawatir nak!" ucap Rega dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya.
"Mas Rega cepat! Ini anaknya Mas Rega harus segera dibawa kerumah sakit. Cepet Mas! Nanti saya anter pakai mobil," ucap salah satu tetangga Rega.
Tanpa menjawab, Rega dibantu beberapa tetangganya membawa Arfa kemobil.
Ya Allah tolong selamatkan anak hamba.
Hamba tidak sanggup melihat anak hamba seperti ini Ya Allah.
Begitu sampai di rumah sakit, beberapa petugas langsung membawa Arfa diatas brangkar.
Arfa dilarikan keUGD untuk mendapatkan penanganan secara langsung.
Rega tampak mondar-mandir didepan ruang UGD sambil berdoa dalam hati.
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan dan langsung disergap oleh Rega.
" Dok, gimana keadaan putra saya? Dia baik-baik saja kan dok?" tanya Rega dengan panik.
" Maaf Pak, saat ini putra Bapak dalam kondisi kritis. Dia kehilangan banyak darah jadi kami butuh donor darah golongan B secepatnya," ucap dokter itu kemudian berlalu.
__ADS_1
B? Tapi golongan darahku A. Ya Allah gimana ini?
Rega pun mengambil hp dari sakunya lalu menelfon Dina.
" Halo Mas, tadi kamu kemana Mas kok tiba-tiba nggak ada?"
" Arfa kecelakaan Din! Cepetan kamu ke rumah sakit Alamanda sekarang!"
Belum sempat Dina menjawab, Rega sudah memutuskan sambungan telfon. Dina langsung mengambil tas lalu pergi kerumah sakit dengan terburu-buru.
Begitu sampai disana, Dina langsung menemui Rega di UGD. Dina melihat Rega yang duduk dikursi dengan gerakan tubuh yang terlihat cemas.
" Mas, gimana keadaan Arfa sekarang Mas? Kenapa tiba-tiba bisa kecelakaan Mas?"
" Arfa masih kritis Din dan sekarang dia butuh donor darah golongan B. Aku ingin sekali menolong Arfa Din tapi aku nggak bisa karna golongan darahku A," ucap Rega lemas.
Rega kembali tertunduk lalu mendongakkan wajahnya lagi kearah Dina.
" Kamu aja Din yang donor buat Arfa! Pasti salah satu dari kita bisa mendonorkan darah untuk Arfa!" ucap Rega antusias.
Rega yang mendengar ucapan Dina pun langsung kembali lemas. Rega terduduk kembali sambil memikirkan sesuatu.
" Din, aku akan menghubungi saudara atau teman-temanku. Siapa tahu ada yang mempunyai golongan darah B dan mau mendonorkannya untuk Arfa. Kamu juga usaha ya Din! Karna waktu kita nggak banyak ," ucap Rega lalu mulai menjalankan rencananya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi, dokter pun keluar untuk memastikan pendonor untuk pasien.
"Gimana dok dengan anak saya? Saya ibu dari pasien."
"Masih kritis Bu! Apa sudah ada pendonornya?"
Dina pun menggelengkan kepalanya.
" Sebaiknya cepat Bu agar nyawa anak Ibu cepat tertolong."
Dina pun merasa ketakutan mendengar penjelasan dari dokter. Tanpa ragu lagi, Dina pun menelfon Vino karna dia yakin Vino bisa membantunya karna dia adalah ayah kandung Arfa.
__ADS_1
Vino yang sedang berkutat dengan laptopnya pun langsung menghentikan aktifitasnya begitu mendengar suara telfon.
Vino pun tersenyum begitu melihat nama yang tertera diponselnya.
" Halo sayang...kenapa? Udah kangen ya?"
" Vino, Arfa kecelakaan Vin," ucap Dina sambil menangis.
" Apa Arfa kecelakaan! Kamu jangan bercanda Din!"
" Aku serius Vin! Sekarang Arfa lagi kritis di rumah sakit. Arfa kehilangan banyak darah Vin dan dia butuh pendonor secepatnya untuk melewati masa kritisnya Vin."
"Apa golongan darah Arfa B?"
"Iya Vin."
" Oke kamu tunggu aku disana! Aku kesana sekarang."
Vino pun langsung mengambil kunci mobil untuk segera pergi kerumah sakit.
Vino melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dipikirannya saat ini hanyalah segera sampai rumah sakit.
Begitu sampai disana, Vino langsung menemui Dina.
" Din temuin aku sama dokternya Din. Kita harus cepat!"
Vino dan Dina pun segera menemui dokter yang menangani Arfa.
Setelah diperiksa dan lolos sebagai pendonor, Vino langsung ditempatkan disatu ruangan dengan Arfa.
Vino melihat putranya yang kini berada disebelahnya yang tengah berjuang untuk hidup.
" Arfa, ini papa nak. Kenapa kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini nak. Papa akan lakuin apa pun untuk kamu nak walau mungkin pengorbanan papa nggak sebanding dengan kesalahan papa yang sudah menelantarkan kamu.
Kamu harus kuat nak, papa yakin kamu akan sembuh," ucap Vino sambil terus memandang wajah Arfa yang dibalut perban.
__ADS_1
Bersambung...