
Rega melangkahkan kaki dengan gontai. Wajahnya tampak kusut dengan rambut yang acak-acakkan. Rega membuka pintu rumahnya. Didalamnya nampak sepi karena kedua orang tuanya tengah pulang kekampung untuk menengok neneknya yang sakit. Rega menatap tubuhnya dicermin. Meraba pipinya yang masih memerah karena tamparan Piran. Sungguh semuanya terjadi begitu cepat tanpa dia tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Rega melepas pakaiannya dan mencium aroma alkohol dari badannya. Mungkinkan semalam Ifan memberikannya minuman alkohol. Kalau benar iya, apakah dirinya sampai mabuk dan tak sadarkan diri lalu berbuat hal diluar kendalinya.
"Arghhhhhhh...."Rega berteriak sambil memukul dinding kamar mandi hingga tangannya berdarah. Andai saja dia tak pergi kepesta sial itu pasti ini semua tak akan terjadi. Pasti hubungannya dengan Piran akan baik-baik saja. Rega menatap punggungnya dicermin, tapi aneh tak ada bekas apapun padahal semalem dia merasa ada yang memukul punggungnya dengan keras. Ya tentu saja sudah tidak ada karna Vino telah mengoleskan salep yang mampu memudarkan bekas ruam dengan cepat.
Rega pun segera membersihkan dirinya lalu beristirahat untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
****
Pagi harinya, Rega sudah berada didepan pintu gerbang rumah Piran. Pak Marno yang melihat Rega diluarpun segera menghampirinya.
"Eh mas Rega tow. Ada apa ya mas?" tanya Pak Marno bingung.
"Saya mau cari Piran Pak!" jawab Rega lesu.
" Cari non Piran? Kan non Pirannya udah berangkat ke London mas. Emang mas Rega nggak tahu?"
"Piran udah berangkat ke London! Kapan Pak perginya?" tanya Rega tak sabar.
"Kemarin siang mas sama nyonya dan tuan besar."
"Ya udah Pak kalau gitu saya permisi," kata Rega lesu sambil berlalu pergi.
Baru beberapa langkah Rega berjalan, tiba-tiba pak Marno memanggilnya kembali.
__ADS_1
"Mas Rega tunggu dulu!"
"Ada apa pak?"
"Ini ada titipan dari non Piran. Katanya suruh ngasihke Mas Rega. Maaf ya
Mas tadi saya hampir lupa," kata pak Marno lalu menyerahkan surat kepada Rega.
"Ya Pak trima kasih." Rega menerima surat itu lalu kembali berpamitan.
Rega duduk dibawah pohon sambil menyelonjorkan kakinya. Dia mengeluarkan sepucuk surat yang diberikan Piran. Rega membuka surat itu lalu mulai membacanya.
*Dear Regaku sayang
jujur Re aku bener-bener nggak sanggup dengan permasalahan yang kita alami. Aku bingung Re harus tetap percaya sama kamu atau enggak.
Aku mohon Re, jadilah lelaki sejati. Pertanggung jawabkanlah dengan apa yang telah kamu lakukan.
Seiring berjalannya waktu pasti kamu bisa melupakan aku dan mencintai Dina.
Mungkin kemarin adalah hari terakhir kita bertemu dan semoga kamu bahagia dengan kehidupan kamu yang baru.
salam sayang
__ADS_1
Piranita*
Rega tergugu setelah membaca surat dari Piran. Apakah memang semuanya sudah terlambat? Apakah sudah tak ada kesempatan baginya untuk merajut masa depan dengan Piran.
****
Sore hari Rega baru pulang dengan perasaan hampa. Hatinya belum bisa menerima kepergian Piran dari kehidupannya. Rega berbaring dikasur sambil terus mengamati hpnya. Kini dia sudah tak bisa lagi menghubungi Piran karna Piran sudah mengganti nomor kontaknya.
Tok tok tok
"Nak ini Ibuk! Ini ibu mau ngasih sesuatu!"teriak ibunya dari luar.
Rega membuka pintu kamarnya lalu berbaring lagi ditempat tidur.
"Re ini ada surat undangan buat tes seleksi diuniversitas J."
" Ya Buk makasih, nanti Rega baca," jawab Rega datar.
Bu Asih duduk disebelah Rega lalu membelai punggung putranya itu.
"Re kamu ini masih muda. Kalau kamu memang lagi ada masalah, segera selesaikan dan jangan terlalu berat kamu memikirkannya. Ingat yang harus kamu nomor satukan sekarang ini adalah pendidikan kamu." Bu Asih keluar setelah memberikan nasehat untuk anaknya.
Maafin Rega buk. Rega sudah mengecewakan semua orang terutama ibuk,bapak dan juga Piran. Apakah ibuk dan bapak masih bangga dengan Rega jika kalian tahu apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Rega duduk dimeja belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi tes seleksi besok. Dia mencoba melupakan masalahnya untuk sejenak.
bersambung...