
Diruangannya, Vino tampak gelisah sambil memutar-mutar kursinya. Tiba-tiba Vino meraih gagang telfon untuk menghubungi sekretarisnya.
" Suruh anak magang yang bernama Dina keruangan saya!" perintah Vino pada sekretarisnya.
Tak berapa lama Vino mendengar ruangannya diketuk.
" Masuk!"
" Permisi Pak, ini mbak Dinanya sudah datang."
" Suruh masuk! Kamu boleh kembali."
Sekretaris itu pun mempersilakan Dina masuk lalu pergi setelah menutup kembali ruangan Vino.
Dina berjalan masuk lalu menatap Vino yang sedang memperhatikannya dari tadi.
" Maaf Pak, ada hal apa ya saya sampai dipanggil kemari?" tanya Dina dengan formal.
Vino berjalan lalu duduk santai disofa lalu menepuk sofa disebelahnya sambil tangan satunya melambai kearah Dina agar mendekat. Dina pun mendekat dan duduk disebelah Vino.
" Nggak usah formal Din! Santai aja, Kita kan lagi berdua."
" Oke...emang ada perlu apa loe nyuruh gue kesini? Ini kan masih jam kantor."
" Ini kantor gue Din, jadi gue bebas melanggar aturan. Gimana pernikahan loe ama Rega?" tanya Vino sambil mendekatkan wajahnya kewajah Dina.
Dina pun tergagap mendengar pertanyaan Vino yang tiba-tiba menanyakan kondisi rumah tangganya.
" Ya...baiklah rumah tangga gue! Trus loe nyuruh gue kesini cuma mau tahu urusan rumah tangga gue!".
" Mungkin...karena gue penasaran kenapa waktu diapartemen loe bales ciuman gue dan gaya ciuman loe masih sama seperti pertama kali gue nyentuh loe."
Dina bertambah kaget dengan ucapan Vino barusan dan dirinya pun merasa was-was.
__ADS_1
" I...itu kar," jawab Dina yang tak sempat menyelesaikan kalimatnya karna Vino tiba-tiba mendaratkan bibirnya.
" Ehmmm Vin!" erang Dina sambil berusaha melepaskan bibirnya.
Vino melepaskan bibirnya lalu menatap tajam kearah Dina.
" Gue udah tahu Din kalau selama ini loe pura-pura percaya kalau Rega yang udah memperkosa loe! Padahal loe helas tahu kalau malam itu gue yang melakukannya!" bentak Vino.
" Maksud loe apa sih Vin ngomong gitu? Gue bener-bener dalam keadaan dibawah sadar waktu itu dan bahkan loe sendiri yang mergokin gue ama Rega dalam keadaan telanjang!" jawab Dina dengan cemas.
" Loe nggak usah ngeles lagi Din. Gue tahu waktu itu loe sengaja nyebut nama Rega!"
"Tapi..."
Vino yang sudah jengah pun langsung menggendong Dina kedalam kamar pribadi yang ada diruangannya. Vino melempar Dina diatas kasur yang empuk. Vino langsung mencengkram kedua tangan Dina keatas lalu mulai menciumi wajah Dina hingga keleher. Vino mengalihkan tangannya untuk merobek kemeja Dina hingga kancingnya berhamburan. Vino menelan salivanya saat melihat dada Dina yang terpampang didepannya. Dia lalu bangun untuk melepas seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya. Vino kembali menindih Dina yang sudah terbuai oleh permainannya. Vino menyeringai karna sedikit mengalami kesulitan saat akan mulai penyatuan dengan Dina.
Ini buktinya Din kalau Rega nggak pernah nyentuh loe dan itu artinya anak yang loe kandung adalah anak gue dan loe nggak akan bisa mengelak lagi.
Gumam Rega dalam hati.
****
Malam itu Rega sudah berada didepan pintu apartemen Piran. Rega memasukkan nomor sandi tapi sayang pintu itu tak juga terbuka.
"Gue yakin nggak salah masukin angka tapi kok dari tadi nggak bisa. Apa jangan-jangan," Vino berbicara sendiri.
" Sampai besok kamu juga nggak akan bisa buka karna aku udah ganti nomor sandinya," kata Piran yang sudah ada dibelakang Rega hingga membuat Rega kaget.
" Sayang akhirnya kamu datang juga. Aku udah lumayan lama disini."
Piran pun mendekati Rega lalu memasukkan nomor sandinya. Mereka berdua masuk setelah pintu terbuka. Piran melihat sekeliling apartemennya yang masih sama seperti dulu. Walau sudah tak ditempati, ART mamanya kerap datang untuk bersih-bersih. Piran menghempaskan pantatnya kesofa diikuti Rega.
" Apa yang mau kamu bicarakan Re?" tanya Piran singkat.
__ADS_1
" Aku kangen kamu yang. Udah hampir 5 tahun kita nggak ketemu yang dan ini-ini benar menyiksaku."
" Kamu bicara apa Re? Ingat kamu sudah 6 tahun berumah tangga!"
" Dan selama itu pula aku sama sekali nggak bisa mencintai Dina. Yang, aku ingin kita bersatu lagi. Aku nggak mau hidup seperti ini terus yang. Aku ingin bercerai dari Dina."
Piran pun terhenyak mendengar ucapan Rega.
" Apa karna kita udah ketemu lagi Re terus kamu berencana menceraikan Dina?"
" Nggak yang! Sebenarnya aku punya niat ini udah lama. Selama ini aku hanya melihat anakku, aku takut dia terluka dan nggak bisa menerima keputusanku. Tapi aku berpikir dipertahankan pun juga percuma, aku dan Dina sama-sama nggak bahagia. "
Piran melihat Rega yang mengeluarkan segala emosi yang dipendamnya. Tampak butiran bening menetes dari mata indahnya.
" Tapi Re..." Piran tak melanjutkan ucapannya saat Rega menjatuhkan kepalanya didada Piran sambil memeluk erat tubuhnya.
" Aku mohon yang, kali ini tolong dampingi aku melewati kesulitan ini. Aku bingung kalau harus berjuang sendiri."
Rega mendongakkan wajahnya dan tampaklah wajah Piran yang terlihat bimbang. Rega membelai wajah Piran yang kini nyata ada didepannya.
"Kamu tambah cantik sayang, aku jadi nggak sabar buat memiliki kamu seutuhnya," goda Rega.
Piran memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah padahal awalnya dia ingin bersikap dingin pada Rega.
" Tenang yang, aku akan segera membicarakan hal ini pada Dina dan keluargaku."
Rega mengenggam kedua tangan Piran lalu mendekatkan wajahnya. Piran yang menyadari maksud Rega langsung berdiri.
" Sayang...," kata Rega dengan nada gelisah.
" Aku nggak mau kamu cium-cium aku sebelum kita sah!"
Rega pun hanya tersenyum- senyum mendengar penolakan Piran karna disitu terselip kata-kata bahwa Piran akan menunggunya hingga dia sah jadi duda.
__ADS_1
bersambung...