
Piran tertawa geli dengan kado valentine yang disiapkan oleh Rega untuknya. Air matanya sampai menetes karena saking gelinya. Sementara Rega hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat Piran tertawa geli.
" Aduh yang sumpah aku geli banget! Lagian kok bisa sih kamu punya ide konyol kayak gini?" tanya Piran yang sudah mengendalikan tawanya.
" Ya kelintas dipikiran aja yang. Tapi kamu suka kan?" kata Rega sambil menggoyang-goyangkan miliknya yang sudah dipenuhi dengan pita.
Ya Rega menghias senjata miliknya dengan rangakaian pita warna pink dan merah. Tentu saja butuh waktu lama untuk Rega mempercantik senjatanya demi memberi kado pada sang istri
" Aduh yang sumpah kamu gokil banget. Untung aja anak kita belum bisa lihat yang, yang ada nanti dia pasti malu banget sama kelakuan bapaknya!" ucap Piran sambil tertawa.
" Udah dulu ketawanya yang. Sekarang saatnya kamu buka kado trus habis itu aku mau nengok anakku."
Piran segera melepaskan pita-pita yang menempel pada senjata suaminya. Senjata Rega pun makin menegang saat Piran menyentuhnya. Rega segera memdorong pelan Piran diatas ranjang.
Rega mulai mencium lembut bibir Piran yang sudah terbuka. Ciuman Rega semakin turun hingga keleher dan bahu Piran dengan tangan Rega yang sibuk melepas pakaian Piran dan juga pakaian miliknya.
Rega tersenyum melihat benda kenyal istrinya yang semakin berisi dan terlihat padat. Rega memajukan bibirnya untuk menikmati sumber kehidupan pertama milik anaknya nanti.
" Ahhh sayang..." erang Piran yang semakin terbuai dengan perlakuan suaminya.
" Yang, aku masukin sekarang yah?" izin Rega yang mendapat anggukan pelan dari Piran.
__ADS_1
Perlahan Rega memasukkan senjatanya kemilik Piran dengan lembut. Rega memulai hentakannya dengan irama yang pelan karna takut akan menyakiti bayinya.
Rega terus menggoyang istrinya dengan pelan sambil menciumi wajah Piran yang berkeringat namun terlihat seksi baginya. Satu jam kemudian Rega mengakhiri push up panasnya setelah menyemprotkan seluruh cairannya dibadan Piran.
Mereka pun langsung mandi air hangat karena merasa badan mereka yang begitu lengket.
Hari-hari berikutnya Rega tak pernah lagi berangkat ke kantor karna dia ingin menjadi suami dan calon ayah yang siaga. Rega mengerjakan semua pekerjaannya dirumah dan apabila ada yang membutuhkan tanda tangan, maka ia akan meminta asistennya untuk membawa kerumah.
Seperti siang ini saat Rega tengah sibuk di ruang kerjanya, tiba-tiba mama Rani membuka pintu ruangannya dengan keras. Wajah mama Rani tampak tegang hingga seperti sulit untuk berbicara.
"Mama kenapa kok mukanya panik gitu? Apa ada masalah Mah?"
Rega dan mama Rani pun pergi ke kamar dan nampaklah Piran dengan wajah yang memerah sambil mengerang sakit. Tanpa bertanya, Rega langsung membopong Piran untuk dibawa ke rumah sakit.
" Ayo Mah cepet ikut Rega!"
Rani pun segera mengikuti menantunya dari belakang sedangkan bi Tari juga menyusul sambil membawa barang-barang milik Piran yang sudah disiapkan.
Rega melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan agak cepat. Sesekali Rega menoleh kebelakang untuk melihat keadaan istrinya.
" Udah Re kamu fokus nyetir aja! Jangan sampai kita kenapa-napa karna kamu panik!"
__ADS_1
Rega pun menuruti perkataan mama Rani. Setelah sampai, beberapa petugas langsung menidurkan Piran dibrangkar dan membawanya keruang persalinan.
Rega ikut masuk untuk menemani Piran melahirkan. Rega terus menggenggam tangan Piran yang terasa dingin karna berkeringat.
" Sayang ayo kamu pasti kuat. Ini demi buah hati kita," kata Rega lalu mengecup kening Piran.
Seorang dokter wanita berdiri didepan Piran sambil membimbing Piran untuk mengejang.
" Ayo bu kita mulai sekarang."
" Ehhmmmmhh..."
" Iya ayo Bu terus lakukan. Ibu pasti bisa,"kata dokter menyemangati.
Setelah beberapa kali akhirnya keluarlah bayi laki-laki Piran yang masih merah. Suster segera mengambil bayi itu lalu diletakkan didada Piran.
Piran dan Rega menangis haru melihat bayi mereka bisa lahir dengan selamat.
Suster pun mengambil bayi itu untuk dibersihkan dan diberi pakaian.
bersambung...
__ADS_1