Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 49


__ADS_3

Dina merasa lega karena putranya telah berhasil melewati masa kritisnya. Dina tengah menunggu Arfa dan Vino yang akan dipindah keruang perawatan.


Rega sendiri sudah kembali kerumah sakit setelah mengambil beberapa baju dan perlengkapan Arfa selama dirawat.


Rega masuk kedalam ruang rawat Arfa dan terlihat Dina yang sedang menunggui Arfa.


Rega mendekati Dina sambil meletakkan tas diatas sofa.


" Gimana Din keadaan Arfa?"


" Arfa udah melewati masa kritisnya Mas dan dokter bilang kemungkinan Arfa akan sadar besok pagi."


" Ya syukur Din Arfa bisa selamat. Aku bener-bener nggak tega lihat Arfa kemarin. Ya udah kamu pulang aja biar aku yang nungguin Arfa."


" Ya udah Mas aku pulang. Nanti kalau ada sesuatu hubungi aku ya Mas," kata Dina lalu berpamitan.


Dina berjalan keluar menuju ruang rawat Vino.


Dina membuka pintu ruangan dan tampak Vino yang sedang tiduran diatas brankarnya.


" Gimana Vin keadaan kamu?"


" Aku baik-baik aja Din, cuma agak lemes aja rasanya. Dokter bilang aku besok udah bisa pulang."


" Ya syukur kalau kamu baik-baik aja dan aku juga ngucapin makasih Vin karna kamu udah menolong Arfa."


" Kamu bicara apa Din! Tentu saja aku akan menolong anakku sendiri Din. Bahkan apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan kesalahanku yang sudah menelantarkan Arfa. Aku takut kalau Arfa tidak mau menerima aku sebagai ayah kandungnya Din," kata Vino dengan wajah sendu.


" Itu kita pikirkan nanti Vin! Yang penting sekarang kita fokus dulu dengan kesembuhan Arfa. Sekarang kamu makan dulu ya terus minum obat biar cepet pulih."


Vino pun menganggukkan kepalanya lalu mulai memakan suapan dari Dina.


Tak berapa lama dokter pun masuk keruangan Arfa untuk melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Rega yang melihat dokter datang langsung berdiri dan memperhatikan dokter yang tengah memeriksa Arfa.


"Gimana dok keadaan Arfa?" tanya Rega cemas.


" Arfa sudah baik-baik saja Pak, tinggal menunggu dia sadar besok pagi. Untung saja ayah kandungnya segera datang dan melakukan pendonoran darah, kalau tidak saya tidak bisa menjamin Arfa bisa melewati masa kritisnya," jelas dokter yang membuat Rega tercengang.


" Ayah kandung, maksud dokter?"


" Ya maksud saya ayah kandung Arfa yang mendonorkan darahnya karena mereka memiliki golongan darah yang sama. Kalau begitu saya permisi Pak," ucap dokter yang tidak ditanggapi Rega karena tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Ayah kandung! Apa benar kalau selama ini aku bukan ayah kandungnya? Banyak yang bilang kalau wajahku dan Arfa tidak mirip. Apa selama ini Dina telah membohongiku? Kalau pun ia aku nggak akan sanggup berpisah dari Arfa.


Pikiran Rega tiba-tiba menjadi kacau. Dilihatnya wajah Arfa yang sedang tertidur dengan wajah damai.


Rega mengusap pipi Arfa dan tak terasa air matanya mengalir dipipinya.


" Ayah akan cari kebenarannya nak dan kalau terbukti benar ayah tidak akan memaafkan bundamu?" ucap Rega berbicara sendiri.


"Halo Re kenapa?"


"Ehm Piran, aku minta maaf ya karna malam ini aku nggak jadi menemui kamu karena ada urusan penting yang nggak bisa aku tinggalin."


" Oke Re, nggak apa-apa! Ya udah salam ya buat Arfa. Kapan-kapan aku akan menemuinya lagi soalnya jadwalku lagi padat."


" Iya nanti aku sampaiin. Ya udah aku tutup telfonnya ya, met istirahat," ucap Rega lalu mengakhiri telfonnya.


Pagi harinya setelah mencari sarapan, Rega kembali keruang rawat Arfa sambil membawa bubur ayam karena siapa tahu setelah dia kembali Arfa sudah sadar.


Rega meletakkan bubur diatas nakas lalu duduk disamping brankar Arfa.


" Ayo sayang bangun, ini udah pagi," kata Rega sambil mengenggam tangan Arfa.


Perlahan Arfa membuka matanya dan melihat ruangan asing yang ditempatinya.

__ADS_1


" Ayah," panggil Arfa dengan suara yang lemah.


" Sayang kamu sudah sadar! Ayah panggilkan dokter sekarang!" ucap Rega antusias lalu memencet bel untuk memanggil perawat.


Tak berapa lama seorang dokter dan suster masuk keruangan Arfa.


" Dok Anak saya sudah sadar, tolong dipriksa dok!"


Dokter pun mulai memeriksa kondisi Arfa.


" Apa yang adek rasakan?" tanya dokter.


" Kepala saya agak pusing dok sama kaki saya sakit."


" Ya sudah tidak apa-apa, nanti obat dan vitaminnya rajin diminum ya supaya pusingnya cepat ilang," ucap dokter lalu pergi setelah melakukan berbagai pemeriksaan.


" Arfa makan dulu ya abis itu minum obat. Ini ayah udah beliin bubur ayam buat kamu."


Rega pun menyuapi Arfa hingga buburnya habis. Rega memberikan obat untuk Arfa lalu memijit kaki Arfa untuk meredakan sakitnya.


"Arfa, nanti Arfa ditemani nenek dulu ya soalnya Ayah ada urusan sebentar."


Arfa pun hanya mengangguk pelan.


Tak berapa lama bu Asih pun datang dan nampak sedih melihat keadaan cucunya saat ini.


"Buk, Aku titip Arfa dulu ya karna ada urusan penting yang harus aku urus."


" Iya nak, kamu tenang aja pasti Ibu akan jagain cucu Ibu ini."


Rega pun meninggalkan ruangan Arfa lalu pulang untuk segera bertemu Dina guna menyelesaikan masalah rumit ini.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2