
Bel istirahat tengah berbunyi Piran segera beranjak dari duduknya.
Mona dan Silvi hanya saling pandang melihat tingkah aneh Piran saat ini.
" Mau kemana sih Piran buru-buru amat nggak ngajak-ngajak lagi," tanya Mona.
" Ya mana gue tahu! Kantin yuk dah konser ni perut gue," ajak Silvi sambil memegangi perutnya.
" Itu perut apa panggung hiburan?" komen Mona yang langsung ditinggal Silvi.
Piran berjalan dikoridor menuju kelas XII IPA 1 untuk menemui Rega.
Sampai dikelas Rega, Piran celingak-celinguk mencari keberaadaan Rega, tapi yang dicari sepertinya tidak ada.
"Eh loe lihat Rega nggak?" tanya Piran kepada salah satu siswi.
" Tadi sih udah keluar kayaknya."
" Keluar kemana? Pergi sendiri apa sama Dina?" tanya Piran beruntun.
" Kayaknya dibelakang sekolah. Dia sendirian kok soalnya Dina masih ijin."
Piran agak ragu mendengarnya,karena setahunya belakang sekolah sangat jarang didatangi para murid.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Piran langsung melenggang pergi menyusul Rega.
Piran melihat Rega yang tengah duduk santai dibawah pohon rindang sambil menutup matanya menikmati angin yang bersemilir pelan.
Piran tersenyum lalu berjalan pelan-pelan mendekati Rega.
Piran memetik rumput lalu digesek- gesekkan kehidung Rega.
" Agghh.." Rega yang kaget lansung berdiri sambil mengusap-usap hidungnya yang gatal.
Piran yang melihat reaksi Rega langsung tertawa geli. Rega pun memperhatikan Piran yang tengah tertawa geli, karena baru pertama kali ini dia melihatnya.
"Udah ketawanya?"
"Haha habis reaksi loe lucu banget."
Rega pun kembali duduk lalu menarik tangan Piran supaya duduk disampingnya.
"Kok bisa tahu saya disini?"
" Tahu donk kan gue nyari tahu! Masih gatel hidungnya?" tanya Piran sambil menyentuh hidung Rega.
" Udah enggak gatel. Oh ya ada perlu apa nyariin saya?"
__ADS_1
"Mau ngajak loe makan siang lah ke kantin."
"Nggak ah kalau kekantin.Ni tadi saya bawa bekal kamu mau temenin saya makan ini?" tanya Rega sambil menunjukkan bekal makan siangnya berupa ayam geprak.
" Tapi pedes banget nggak? Soalnya gue nggak bisa makan yang terlalu pedas," kata Piran yang melihat ayamnya sudah bercampur dengan cabe.
"Nggak pedes cabenya cuma satu. Nih coba cicipin dulu," tawar Rega sambil menyuapkan ayam kemulut Piran tanpa canggung.
Piran menerima suapan Rega dengan senang hati. Setelah mengunyah beberapa saat Piran langsung tersenyum.
"Iya Re nggak pedes malah enak banget," kata Piran antusias.
Rega tersenyum mendengarnya lalu kembali menyuapi Piran.
"Eh Re kok jadi gue yang makan ntar loe makannya gimana?"
"Saya nggak terlalu laper kok," jawab Rega yang kembali menyuapi Piran.
Setelah beberapa suapan Piran pun mulai merasa kenyang.
"Udah Re gue udah kenyang." Piran menghentikan tangan Rega yang akan menyuapinya kembali.
Rega mengambilkan air mineral lalu membuka tutupnya untuk diberikan pada Piran.
" Thanks ya Re buat makan siangnya," kata Piran setelah meminum air mineral yang diberikan Rega.
" Ih Re kok loe makan sih! Itu kan sisa gue emangnya loe nggak jijik?" kata Piran lalu merebut kotak makanan.
"Ya nggak jijik lah saya pakai bekas sendok kamu! Bukannya kita juga udah ciuman," kata Rega lalu kembali mengambil kotak makanan yang direbut Piran tadi.
Mendadak suasana jadi hening Piran pun hanya menunduk kikuk saat Rega mengingat kejadian itu.
" Sorry Pir saya nggak maksud apa-apa, tapi bener kok saya nggak jijik."
Piran pun hanya tersenyum canggung.
Setelah selesai makan Rega segera membereskan kotak makannya.
" Ehmm Re loe mau nggak ngajarin gue matematik?"tanya Piran sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Ya kalau saya bisa bantu kenapa nggak,: jawab Rega yang tangannya sibuk merapikan rambut Piran yang terkena angin.
Rega kenapa dari tadi kelakuannya manis banget. Gue malah jadi berasa kayak lagi pacaran. Apa kalau ama Dina dia juga kayak gini ya?
"Emang mau belajar dimana?" tanya Rega.
"Dirumah gue aja ya ntar gue kasih alamatnya."
__ADS_1
Tiba-tiba Piran merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak dipahanya.
" Kamu kenapa Pir kok mukanya tiba tiba aneh gitu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Rega, Piran langsung menaikkan roknya dan seketika wajahnya pucat melihat ada makhluk kecil menempel nyaman dipahanya.
" Aaaaa....ulat! Re cepet Re buang ulatnya gue geli banget," teriak Piran histeris sambil memeluk Rega.
Rega yang kaget dengan reaksi Piran pun langsung mengambil ranting kayu untuk membuang ulat kecil itu.
"Udah Pir, ulatnya udah saya buang. Kamu kok takut sama hewan kecil kayak gitu?"
Piran pun menengok kearah pahanya dan lansung lega saat makhluk menggelikan itu sudah hilang.
" Gue bukannya takut cuma geli aja," jawab Piran bergidik.
Rega melihat paha Piran yang jadi kemerahan dan bentol'bentol karena kena ulat gatal tadi.
" Saya anterin ke uks yuk! Paha kamu perlu dikasih salep biar gatelnya nggak melebar kemana-mana."
Sampai di uks, suasana terlihat sepi karena jam istirahat yang sudah hampir selesai.
" Duduk sini Pir." Rega menepuk kasur untuk duduk Piran. Piran pun menurut lalu duduk diatas kasur.
Rega membuka lemari obat untuk mengambil salep gatal.
Rega mendekati Piran, lalu tangannya menyingkap rok Piran ke atas.
Piran menghentikan tangan Rega, lalu Rega pun menatap Piran dengan dahi yang dikerutkan.
"Kenapa?"
"Ehmm gue malu biar gue sendiri aja ya yang ngolesin," jawah Piran menunduk.
Rega pun tertawa kecil mendengar ucapan Piran.
" Buat apa malu kan tadi saya juga udah lihat. Udah cepat saya olesin bentar lagi udah mau masuk."
Rega mengoleskan salep dipaha Piran dengan merata.
" Udah selse nih cepetan sana masuk ntar telat."
"Makasih ya," kata Piran menatap Rega sejenak lalu pamit kembali ke kelas.
Rega tersenyum membalas tatapan Piran lalu menyusul pergi kembali ke kelas masing-masing.
bersambung...
__ADS_1