
Hari sudah semakin sore,Piran dan Rega pun memutuskan untuk menyudahi acara jalan jalan mereka.
Rega menghentikan motornya didepan gerbang rumah Piran.
Piran turun dari motor lalu melepas helmnya.
"Makasih ya sayang jalan jalannya. Hari ini aku seneng banget," kata Piran sambil menyerahkan helmnya.
"Ya sayang sama-sama, malahan aku yang seneng banget kita bisa jalan seharian," kata Rega lalu membenahi rambut Piran dengan jari-jarinya.
"Ya udah aku langsung pulang yah!" Rega mulai menghidupkan motornya lagi.
"Hati-hati yah jangan ngebut!" teriak Piran sambil melambaikan tangannya yang dijawab Rega dengan gerakan tangannya.
Setelah Rega sudah menjauh, Piran pun masuk kedalam untuk segera membersihkan badannya yang terasa lengket dan bau polusi.
Piran segera membuka seluruh bajunya lalu masuk kedalam bath up yang sudah diberi aroma terapi.
Setelah setengah jam berendam, Piran pun segera membersihkan tubuhnya dibawah shower.
Piran yang merasa lelahpun akhirnya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah berganti baju piyama.
****
Rega bersantai dikamarnya setelah acara jalan-jalannya dengan kekasihnya itu.
Rega tersenyum sendiri saat mengingat ekspresi Piran yang memerah saat mengelus miliknya.
"Loe harus sabar bray, belum saatnya loe keluar kandang buat masuk goa terlarang jadi sabar yah."
Rega bergumam sendiri sambil menepuk pelan miliknya.
Disaat sedang asyik dengan pemikirannya tiba-tiba
Tok tok tok
"Re lagi apa kamu nak? Itu diluar ada Dina," kata bu Asih yang mengejutkan Rega.
"Ya Buk suruh tunggu dulu bentar lagi aku keluar!" teriak Rega dari dalam sambil mengganti bajunya.
Rega pun keluar kamar menuju ruang tamu untuk menghampiri Dina.
" Tumben Din kesini malem-malem?" tanya Rega tanpa basa-basi.
"Emangnya cuma Piran aja yang boleh ngunjungi loe malem-malem," kata Dina keki.
"Piran malah belum pernah kesini," jawab Rega sambil mendudukkan dirinya didepan Dina.
"Masak sih Re dia belum pernah dateng kesini? Kalian kan udah deket hampir 2 bulan! Jangan-jangan dia emang nggak sudi berkunjung kerumah loe," kata Dina memanas-manasi Rega.
Rega terkesiap mendengar ucapan Dina yang terkesan menuduh Piran.
"Piran belum pernah kesini karna emang gue belum ngajak dia kesini. Jadi ada perlu apa Din?" tanya Rega lagi.
" Gue cuma kangen ama loe Re. Semenjak loe pacaran, loe udah nggak ada waktu lagi buat gue. Gue kayak barang bekas yang nggak berguna lagi buat loe,"curhat Dina yang merasa sedih.
Rega yang mendengar ungkapan hati Dina pun jadi merasa bersalah walau sebenarnya dia sama sekali tidak bermaksud melupakan Dina.
__ADS_1
" Sorry Din gue sama sekali nggak menganggep loe seperti itu. Loe tetep sahabat gue dan gue minta maaf kalau loe merasa tersisihkan. Kalau gue jarang ada waktu buat loe. Suatu saat kalau loe udah nemuin seseorang yang loe cintai pasti loe bakalan paham dengan keadaan gue saat ini. Loe dan Piran adalah wanita yang sama pentingnya dalam hidup gue setelah ibu gue, cuma loe dan Piran punya posisi yang berbeda," jelas Rega panjang lebar supaya Dina tidak salah paham.
"Oke gue akan coba buat memahaminya.
Gimana kalau sekarang kita jalan, loe temani gue makan malem" kata Dina dengan wajah memohon.
Rega yang merasa bersalah akhirnya menyanggupi keinginan Dina walau sudah jam 10 malam.
Dina dan Rega berjalan beriringan menuju kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampung Rega.
Merekapun sudah sampai dikafe tulip.
Dina segera memesan beberapa menu kepada pelayan.
" Ehmm Re setelah ini rencana loe ama Piran mau gimana" tanya Dina memecah keheningan diantara mereka.
" Kalau gue loe udah tahulah Din, tapi kalau Piran dia mau kuliah diLondon jadi terpaksa gue ama Piran harus LDRan,"jelas Rega dengan raut muka sedih.
"Yah gue harap sih Piran bakal setia sama loe. Secara kan cowok bule pasti ganteng-ganteng dan bodynya kekar-kekar."
"Gue sih percaya kok sama Piran. Bukankah itu yang paling penting dalam sebuah hubungan yaitu kepercayaan," terang Rega yang merasa yakin bahwa Piran akan setia kepadanya.
Pukul 12 malam Rega dan Dina baru mengakhiri acara makan dan ngobrol mereka.
Setelah berpisah dengan Dina,Rega segera memesan ojek online untuk mengantarnya kerumah Piran.
Entah mau apa dia malam-malam begini mau mendatangi Piran.
Dia sendiri juga bingung yang ada dipikirannya saat ini dia begitu merindukan kekasih cantiknya itu, padahal hari ini mereka sudah bersama dari pagi hingga sore.
Rega mengendap- endap kerumah Piran seperti maling.
Rega sebenarnya juga merasa was was, tapi rasa rindu sepertinya lebih besar dari rasa takutnya.
Rega berhasil masuk rumah Piran dengan melompati tembok samping rumah.
Setelah memastikan keadaan aman Rega pun naik kebalkon kamar Piran dengan berpijak pada jendela-jendela.
Rega memegangi dadanya sambil tersenyum puas karna berhasil sampai kamar Piran dengan selamat.
Rega memeriksa pintu kaca Piran yang ternyata hanya ditutup tapi tidak dikunci.
Mungkin Piran lupa pikir Rega.
Rega membuka pintu dan masuk kekamar Piran yang hanya diterangi lampu kamar tidur.
Piran terlihat meringkuk sambil membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
Rega mendekati ranjang Piran lalu merebahkan diri disamping Piran setelah melepas sepatu dan jaketnya.
"Yang bangun yang." Rega menggoyangkan bahu Piran pelan pelan.
Piran hanya menggeliat pelan lalu memeluk erat Rega yang dikira guling.
Rega pun berusaha membangunkan Piran lagi dan alangkah terkejutnya Piran saat membuka mata dan sudah ada Rega dihadapannya.
"Yang ini beneran kamu? Tapi kok kamu bisa ada disini." Piran mencubiti pipi Rega untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ada dihadapannya saat ini bukanlah imajinasinya.
__ADS_1
"Auww yang kok dicubit! Ini beneran aku," kata Rega sambil mengusap pipinya.
"Trus kamu kok bisa masuk sini?"
"Tadi aku lompat tembok samping yang trus manjat balkon eh ternyata pintu balkon nggak kamu kunci makanya langsung masuk aja," jelas Rega.
"Lagian ngapain sih yang kamu pake ngendap ngendap kesini ,besok kan juga bisa. Lagian kan tadi seharian kita udah barengan terus."
"Aku masih kangen yang, trus aku dari tadi kepikiran terus sama kejadian tadi siang," ucap Rega sambil menelusupkan kepalanya dileher Piran.
"Yang geli leher aku jangan digituin."
"Yang aku pengen boleh ya?" Mohon Rega dengan wajah memelas.
"Kan belum boleh yang," jawab Piran yang mengerti maksud Rega.
"Ya nggak beneranlah yang," kata Rega yang langsung menciumi lagi leher Piran.
Piran hanya menggeliat geli dengan perlakuan Rega.
Ciuman Rega beralih kebibir Piran. Rega ******* lembut bibir Piran yang terasa manis untuknya.
Piran membalas ciuman Rega dan terjadilah ciuman panjang diantara mereka.
Rega melepas pagutannya setelah merasa kehabisan asupan oksigen. Setelah menetralkan nafasnya Rega kembali memandang wajah Piran lalu Rega bangun melepas kaos dan celana panjangnya.
Rega menindih tubuh Piran yang masih memakai piyama tipis.
Rega menempelkan miliknya tepat diatas milik Piran. Rega segera menggoyangkan pinggulnya.
Piran pun merasa milik Rega yang menonjol mendesak miliknya yang terasa seperti membelah.
"Ahhh yang enak," kata Rega yang masih asyik diatas Piran.
"Yang pelan
'pelan ini rasanya nyilu," kata Piran sambil melingkarkan tangannya ditubuh Rega.
Setelah puas, Rega pun turun dari tubuh Piran lalu berjalan kekamar mandi untuk mengeluarkan cairan mungilnya.
Rega segera membersihkan diri.
Piran masih tiduran diranjangnya sambil membenahi bajunya yang acak acakan.
"Yang aku pulang sekarang yah," pamit Rega sambil mengenakan sepatunya.
"iya ati-ati dijalan."
"Iya..makasih yang buat yang tadi. Sakit banget nggak punya kamu?"tanya Rega kahwatir.
" Nggak terlalu kok! Udah sana pulang nanti keburu ketahuan."
Rega pun meninggalkan rumah Piran dengan cara seperti tadi.
bersambung...
jangan lupa untuk beri like dan komen kalian.
__ADS_1