
Saat ini Rega dan orang tuanya tengah berada dikediaman keluarga Dina. Wahid yang sudah mengetahui maksud kedatangan keluarga Rega pun menyambutnya dengan ramah walau masih ada gurat kekecewaan diwajahnya. Tapi apa mau dikata semua sudah terjadi yang penting sekarang ini adalah segera menyelesaikan masalah ini.
"Pak Wahid sebelumnya saya sebagai orang tua menyampaikan maaf kepada Bapak sekeluarga atas apa yang telah dilakukan anak kami terhadap anak Bapak. Tujuan kami kemari adalah untuk melamar putri Bapak untuk anak kami sebagai pertanggung jawaban," ucap pak Yanto.
" Ya Om saya sangat menyesal walaupun itu semua diluar kesadaran saya. Saya akan bertanggung jawab jadi tolong ijinkan saya untuk menikahi Dina," ucap Rega.
"Awalnya memang saya sangat kecewa, tapi mungkin ini memang sudah takdir untuk putri saya jadi saya ijinkan kamu untuk menikahi Dina dan saya alihkan tanggung jawab saya sebagai orang tuanya kekamu," jawab pak Wahid.
"Ya Om saya akan berusaha."
Obrolan mereka pun berlanjut untuk membahas pernikahan Rega dan Dina, sedangkan Rega hanya diam saja tanpa ada niat untuk ikut campur. Rega hanya ingin bertanggung jawab atas kehamilan Dina dan entah bagaimana nanti dia akan menjalani rumah tangga yang sebenarnya tak diinginkannya itu.
Setelah kedua keluarga menyepakati hari pernikahan,Rega dan keluarganya pun berpamitan.
Rega memilih pulang sendiri. Dia berjalan sendirian ditrotoar sambil menikmati malam yang terasa hampa untuknya. Rega sampai disebuah taman kecil. Dia mendudukkan dirinya disebuah bangku. Rega menyandarkan kepalanya dan menatap bintang bintang dilangit.
Piran sayang sekarang kita memandang langit yang berbeda. Kamu sedang apa sayang? Aku kangen banget sama kamu Pir. Kenapa kamu ngebiarin aku melewati masalah ini sendirian Pir. Aku sudah bertanggung jawab sesuai keinginan kamu Pir. Maafkanlah aku yang sudah membuat luka yang dalam dihati kamu. I love u sayang, semoga kamu bahagia walau bukan aku yang jadi sumber kebahagiaan kamu.
__ADS_1
****
Dina tersenyum sendiri dikamar. Hatinya begitu bahagia karena keinginannya untuk memiliki Rega bisa terwujud.
"Sayang, bentar lagi Bunda akan menikah dengan ayah kamu nak. Akan Bunda pastikan kalau nggak akan ada yang bisa merebut ayah kamu dari kita. Ehmm ternyata sebuah keuntungan juga karna bunda meminum minuman ayahmu yang sudah bunda campur obat perangsang. Nanti jika bunda bertemu om Vino, Bunda akan mengucapkan terima kasih," ucap Dina pada calon bayi yang ada diperutnya.
Pagi sekitar pukul sembilan, Dina sudah berada dirumah Rega. Rencananya dia ingin mengajak Rega kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Saat itu rumah Rega dalam keadaan sepi karna orang tuanya tengah pergi bekerja. Perlahan Dina masuk kamar Rega untuk membangunkan Rega yang ternyata masih tidur karna jam 4 pagi dia baru bisa tidur.
"Re bangun Re ini udah jam 9 loh!" kata Dina sambil mengguncang badan Rega.
Rega yang merasa ada yang mengusik tidurnya pun membuka matanya perlahan. Rega langsung bangun saat melihat Dina ada didalam kamarnya.
"Mulai sekarang nggak boleh pake loe gue lagi inget bentar lagi kita akan nikah!" protes Dina.
"Iya-iya! Trus ngapain kamu disini?"
"Anterin aku priksa kandungan Mas. Kayaknya dia pengen dianterin ayahnya" ucap Dina manja.
__ADS_1
Dina kenapa bisa jadi lebay gini sih bikin males aja. Gumam Rega dalam hati.
"Ya kan loe bisa tunggu diluar nggak perlu masuk kamar gue juga! Ya udah gue anterin, tapi loe keluar dulu gue mau siap-siap!"
"Oke deh kalau gitu aku tunggu diluar."
Setelah mandi dan selesai berpakaian, Rega pun pergi mengantar Dina kerumah sakit. Dina tampak begitu sumringah sangat berbanding terbalik dengan wajah Rega yang terlihat datar. Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Harapan. Mereka tengah duduk mengantri menunggu panggilan.
Kini tibalah nama Dina dipanggil, dia segera masuk bersama Rega. Tampak dokter wanita berusia 30tahunan menyapa ramah kehadirannya.
"Selamat siang Mas, Mbak. Silahkan Mbak Dina berbaring, biar saya priksa perutnya," kata dokter Lina ramah.
Dina pun merebahkan dirinya dan dokter Lina mulai memeriksa. Dokter Lina menaikkan baju Dina lalu mulai meraba perutnya kemudian menempelkan jel diperutnya. Dina memperhatikan monitor sambil mendengar penjelasan dari dokter Lina.
"Janinnya sehat Mbak, karena usia mbak Dina juga masih muda jadi tolong jangan terlalu capek dan stress. Ini resep obat dan vitaminnya."
"Terima kasih dokter"ucap Dina kemudian keluar bersama Rega.
__ADS_1
bersambung...