Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 37


__ADS_3

Piran dan papanya sudah sampai didepan gedung perusahaan Winata Jaya. Saat mereka berjalan memasuki lobi,para karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat. Denny yang melihat atasannya datang pun langsung menghampiri.


"Slamat pagi Tuan David," sapa Denny sambil membungkuk hormat.


"Pagi juga Den,oh ya apa persiapannya sudah beres semua?" tanya David sambil terus berjalan keruangannya.


"Semua sudah siap Tuan, lima belas menit lagi kita akan memulai acaranya," terang David sambil melihat jam tangannya.


David pun menoleh keanaknya dan berkata," Masih ada waktu sayang kamu bisa istirahat dulu sambil mempersiapkan diri."


David pun menolehkan kepalanya keDenny,Denny yang paham pun langsung menghampiri Piran.


"Mari Nona, saya antar keruangan anda," kata Denny mempersilahkan.


Piran pun menuju ruangannya yang masih satu lantai dengan ruangan papanya.


Denny membukakan pintu untuk Piran dan Piran pun segera masuk sambil matanya berkeliling memandangi ruang kerjanya yang terlihat menyenangkan dengan desain interior.


"Apakah Nona Piran suka dengan ruangannya?" tanya Denny yang masih berdiri tegak dipintu.


"Saya suka banget Om Denny. Papa emang tahu selera anaknya,"ucap Piran yang masih merasa kagum.


"Syukurlah kalau Nona Piran suka. Kalau begitu saya permisi dulu Nona dan jangan lupa setelah ini Nona ditunggu di aula,"kata Denny mengingatkan.

__ADS_1


Setelah membereskan peralatan kerjanya,Piran pun segera menuju aula karena sudah jam sembilan.


Begitu Piran masuk,didalamnya sudah terdapat puluhan karyawan yang berjajar rapi dikursi. Piran segera duduk ditengah papanya dan asisten Denny.


"Selamat pagi semuanya. Disini saya selaku perwakilan dari Bapak Presdir akan memperkenalkan CEO baru kita yaitu Piranita Ayu Winata yang merupakan putri tunggal dari Bapak David. Untuk selanjutnya mungkin Nona Piran yang akan melanjutkan acara perkenalan."


Piran pun berdiri dan memulai sambutannya."Slamat pagi semuanya. Saya harap dengan bergabungnya saya disini bisa membawa dampak yang positif bagi perusahaan dan saya harap kita semua bisa bekerja sama. Sekian saja sambutan dari saya, kalau begitu kalian bisa bubar dan slamat bekerja."


Para karyawan pun memberikan tepuk tangan yang meriah untuk ceo baru mereka yang masih muda dan cantik.


Piran sudah memulai pekerjaannya dengan serius hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Piran pun keluar untuk makan siang.


"Tasya,saya mau istirahat dulu.Nanti kalau papa nanyain bilang aja kalau saya lagi makan diluar," jelas Piran pada sekretarisnya.


Piran pun pergi menaiki mobilnya lalu berkeliling mencari makanan yang diinginkannya. Setelah berputar-putar, akhhirnya Piran berhenti di taman kota karena dia melihat ada penjual batagor.


"Bang,batagornya satu porsiya tapi jangan pedes-pedes."


Piran pun duduk dikursi panjang sambil memainkan ponselnya dan tiba-tiba dia mendengar suara tangisan anak kecil. Piran mendongakkan wajahnya dan terlihatlah seorang anak kecil yang terjatuh. Piran pun segera menghampiri bocah yang masih belum berdiri itu.


"Sayang kamu nggak apa-apa," tanya Piran khawatir lalu membantunya berdiri.


Bocah itu tidak menjawab dan hanya memandang lututnya yang lecet-lecet.Piran pun menggendong bocah itu dan didudukkan dikursi.

__ADS_1


"Kamu disini dulu ya,Tante mau ambil obat dulu dimobil."


Piran pun kembali dengan membawa kotak P3K, dengan telaten Piran mengobati lutut bocah itu yang masih sesenggukan.


"Udah selse nih,kamu jangan nangis lagi ya! Oh ya nama kamu siapa kok bisa sendirian disini?"


"Nama aku Arfa Tante. Tadi aku kesini sama Mbak Tuti tapi karna nggak mau beliin aku es krim,aku marah trus lari-lari trus jatuh deh,"terang Arfa dengan polos.


Piran pun melihat sekeliling lalu ia melihat seorang gadis yang terlihat bingung mencari seseorang.


"Apa itu Mbak Tuti?"tanya Piran sambil menunjuk.


Arfa pun menganggukkan kepalanya lalu berteriak memanggil pengasuhnya itu.


Tampak pengasuh itu terlihat lega setelah melihat Arfa baik-baik saja.


"Ya ampun Arfa kamu bikin Mbak khawatir aja. Makasih ya Mbak udah nolongin Arfa, tadi dia marah soalnya minta es krim nggak saya beliin gara-gara dompet saya ketinggalan,"jelas Tuti dengan malu.


"Ya udah kalau gitu Tante beliin es krim ya tapi syaratnya makan es krimnya disini sambil nemenin Tante makan."


Arfa pun mengangguk senang karna mendapat es krim kesukaannya. Mereka pun makan bersama dan Piran tampak gemas dengan tingkah bocah itu.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2