
Dina berjalan dengan cepat menuju ruangannya kembali. Jantungnya berdetak dengan cepat dan keringat dingin pun keluar dari dahinya. Dina segera menyerahkan foto copyan yang diminta oleh salah satu karyawan disitu. Dina segera duduk kembali sembari menormalkan degupan jantungnya.
" Kamu kenapa Din, kok mukanya pucat gitu?"
" Nggak apa-apa Mbak! Ehmm...mungkin karna tadi aku belum sarapan."
" Ya udah ini aku ada roti, kamu makan aja."
" Iya Mbak makasih! Aku ketoilet dulu ya Mbak," jawab Dina kemudian berlalu pergi.
Dina terus memandangi wajahnya dicermin setelah beberapa kali mencuci mukanya. "Hahh...kenapa wajahnya Arfa mirip banget sama Vino! Bahkan gue baru menyadarinya setelah gue ketemu kembali sama Vino," kata Dina sambil berjalan mondar-mandir didepan toilet. Dina berhenti lalu kembali menatap cermin ,"Nggak...Vino nggak boleh tahu kalau Arfa adalah anaknya! Gue nggak mau kalau harus pisah sama Rega."
Diruangannya, tampak Vino sedang duduk sambil memutar-mutar kursinya. Pikirannya menjadi terusik sejak pertemuan tak sengajanya dengan Dina.
" Gue nggak boleh cemas! Lagian Dina juga nggak tahu kalau gue yang ngambil keperawanannya. Dia juga hamil setelah nikah ama Rega jadi nggak ada yang perlu gue khawatirin," Vino berbicara sendiri.
Vino pun keluar dari ruangannya untuk menuju ruang rapat. Ditengah-tengah jalannya rapat, Vino tiba-tiba membisikkan sesuatu keasistennya," Al kamu pimpin rapatnya dulu. Saya harus pergi sekarang!"
Tanpa permisi,Vino keluar dari ruang rapat. Dia benar-benar sedang tidak berkonsentrasi, dia ingin pulang dulu ke apartemennya untuk menenangkan pikiran.
__ADS_1
Saat sedang berjalan terburu-buru, Vino melihat keriuhan para karyawannya yang berada didivisi keuangan. Vino berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Ada apa kumpul-kumpul disini? Apa kalian tidak punya pekerjaan?" bentak Vino.
Para karyawan yang kaget melihat atasan mereka pun langsung berjalan mundur.
"Maaf Pak, ini ada anak magang yang pinsan," ucap salah satu karyawan.
Vino pun kaget saat mengetahui kalau ternyata Dina yang pinsan. Tanpa menunggu, Vino langsung membopong Dina menuju mobilnya. Vino melajukan mobilnya menuju apartemennya dengan cemas. Sesampainya di apartemen, Vino merebahkan tubuh Dina diatas kasurnya. Tak berapa lama, dokter yang ditelfon Vino pun sudah datang. Dokter pun segera memeriksa keadaan Dina dengan stetoskop.
"Gimana dok keadaannya?" tanya Vino cemas.
"Nona ini tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Ini cukup saya beri vitamin supaya kondisinya cepat pulih,"kata dokter sambil mengambilkan sebotol vitamin.
Vino mengusap pelan kening, pipi hingga bibir Dina.
Duh kok gue jadi mikirin cewek ini terus sih! Inget Vin, tujuan loe adalah Piran. Gumam Vino dalam hati.
Perlahan Dina membuka matanya. Dia merasa asing saat matanya menelusuri ruangan kamar yang ditempatinya.
__ADS_1
"Din,loe udah sadar!" ucap Vino yang mengagetkan Dina.
"Vino! Gue dimana Vin?" tanya Dina bingung.
" Loe ada diapartemen gue Din! Tadi loe pinsan trus gue bawa kesini. Loe baringan aja dulu,gue mau kedapur bentar."
Vino pun kembali dengan membawa semangkuk bubur dan air putih serta vitamin yang harus diminum Dina.
"Makan dulu Din! Habis ini loe minum vitaminnya."
Dina pun segera menghabiskan buburnya karena memang tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Dina meletakkan mangkuk diatas meja lalu meminum obatnya.
"Makasih ya Vin loe udah nolongin gue. Kalau gitu gue balik sekarang ya," kata Dina sambil beranjak namun gerakannya langsung dihentikan Vino.
" Loe istirahat dulu aja Din disini! Lagian badan loe kan masih lemes," larang Vino.
Dina tak menjawab Vino dan malah mereka saling berpandangan. Pandangan Vino beralih kebibir Dina yang basah dan tak sepucat tadi.
Duh kenapa gue jadi pengen nyentuh Dina? Bibir ini bener-bener menggoda gue.
__ADS_1
Tanpa sadar,Vino pun mendekatkan bibirnya kebibir Dina yang menggoda. Tangannya memeluk tubuh Dina agar lebih dekat. Dina pun kaget dengan apa yang dilakukan Vino. Pikirannya terlempar pada kejadian yang dialaminya dulu dengan Vino. Seakan terhipnotis, Dina pun membuka bibirnya untuk membalas ciuman Vino.
bersambung...