Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 8


__ADS_3

Sampai dirumah, Rega langsung masuk kekamar. Diletakkannya tasnya dikursi lalu membaringkan tubuhnya dikasur.


Rega memejamkan matanya,bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Ingatannya kembali pada memori istirahat siangnya bersama Piran.


Rega heran dengan dirinya sendiri yang sama sekali tak keberatan saat Piran memeluknya karena ketakutan melihat ulat, bahkan tanpa rasa risih dirinya mengobati paha Piran dan bersikap manis padanya. Padahal dengan Dina pun, Rega enggan berkontak fisik.


Apakah dia mulai jatuh cinta? Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya pada wanita manapun.


Mungkinkah benar dia sudah jatuh pada pesona Piran, si gadis sombong yang sudah berubah jadi kucing manis.


Bingung memikirkannya membuat Rega tertidur.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.Rega segera bangun untuk bersiap-siap kerumah Piran.


Setelah mandi, Rega mulai membuka lemari pakaiannya.


Dipilihnya celana jeans panjang warna biru tua yang dipadukan dengan kaos polos putih dan jaket biru tua.


setelah menata rambutnya, Rega menghampiri bapaknya yang sedang ngobrol santai dengan tetangganya diteras.


"Pak pinjam motornya ya buat belajar kelompok dirumah temen," kata Rega sambil memakai sepatunya.


"Ya hati'hati trus pulangnya jangan malem-malem," kata bapak memperingati.


"Ya pak! Ya udah Rega berangkat dulu." Rega mencium punggung tangan bapaknya, lalu menyalakan motor bersiap pergi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Rega tiba didepan sebuah rumah megah berlantai dua dengan halaman yang luas serta pintu pagar yang tinggi.


Rega memastikan lagi alamat yang diberikan Piran setelah yakin Rega segera mendekati pagar rumah.


Pak Marno yang melihat ada seorang pemuda celingak-celinguk didepan pagar pun langsung menghampiri.


" Maaf Dek,ada perlu apa ya?"


"Selamat sore Pak! Oh ya Pak apa bener ini rumahnya Piranita?"


"Iya bener. Emang Adek ada perlu apa kok cari non Piran?"

__ADS_1


"Saya Rega, teman sekolahnya. Tadi udah janjian mau belajar bareng."


"Bentar ya, saya telfonkan ke dalam dulu," ucap pak Marno berlalu pergi untuk menelpon orang rumah.


Setelah mendapat ijin pak Marno pun membuka pagar untuk Rega.


"Mari Dek masuk aja udah ditunngu Non Piran didalem."


"Ya Pak trima kasih," ucap Rega sambil memasukkan motornya kedalam.


Rega berjalan menuju rumah Piran. Matanya menatap kagum pada halaman rumah Piran yang luas dan cantik.


Ada taman bunga serta air pancur yang dibawahnya terdapat kolam ikan.


Rega mengetuk pintu rumah, tak berapa lama seorang wanita muda membukakan pintu.


"Mas Rega ya? Mari silahkan masuk." Siti membawa Rega menuju ruang keluarga.


Disitu sudah ada Piran yang terlihat memakai celana pendek coklat dan kaos hijau tua.


"Duduk sini Re," kata Piran sambil menepuk-nepuk kursi disebelahnya.


" Nih minum dulu biar seger kan tadi diluar panas banget." Piran menyodorkan segelas minuman dingin yang langsung ditenggak habis oleh Rega.


"Wow kasihan temen gue ini keliatan haus banget." Goda Piran sambil mengelus-elus leher Rega.


" Udah deh jangan mancing." Rega menarik tangan Piran lalu memposisikan tangan Piran dipinggangnya.


" Ihh kesenangan ya, tadi disekolahan gue peluk trus sekarang mau lagi." Piran semakin menggoda Rega.


Rega yang kesal pun langsung menarik tubuh Piran kepangkuannya.


"Masih mau nggodain lagi kalau diginiin," kata Rega mendekap erat pinggang Piran.


"Iya-iya gue kapok cepet lepasin," kata Piran sambil menarik-narik tangan Rega.


Rega pun melepas dekapannya, tapi tangannya tetap merangkul pinggang Piran dari samping.


"Mau belajar dimana Re. Taman belakang apa diatas?"

__ADS_1


"Diatas aja deh! Dikamar kamu kan?"


"Iya kan dikamar gue ada balkonnya nanti belajar disitu aja."


Piran pun menarik tangan Rega menaiki tangga.


Piran membuka pintu kamarnya lalu menggelar karpet bulu dibalkon untuk belajar sambil lesehan.


Piran mengeluarkan buku matematikanya diatas meja.


"Ini Re yang gue nggak bisa."


"Oh itu! Ya udah sini saya jelasin." Rega pun menarik Piran kepangkuannya lagi lalu mulai menjelaskan dengan pelan dan detail supaya Piran mudah memahami.


"Gimana udah paham?"tanya Rega.


Piran pun menganggukkan kepalanya pertanda paham.


"Ya udah saya kasih tiga soal ya! Harus kamu jawab dengan bener."


Piran pun mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan Rega dengan teliti.


" Udah ni Re coba loe priksa," kata Piran menyodorkan bukunya.


Rega memeriksa jawaban Piran beberapa saat kemudian tersenyum.


"Bagus! Pinter juga kamu."


"Yeyy nggak rugi donk gue temenan ama orang pinter," kata Piran sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


"Trus hadiahnya apa dong kan saya udah jadi guru privat kamu?"


Tanpa basa-basi, Piran langsung mencium pipi Rega. Saat Piran akan menarik wajahnya Rega menahan tengkuk Piran lalu balas mencium pipinya yang halus.


Rega melepas Piran, lalu keduanya saling menatap dengan perasaan yang berdebar dihati keduanya.


bersambung...


Please buat pembaca tolong tinggalkan like atau kommen setelah membaca.

__ADS_1


Author sangat berterima kasih.


__ADS_2