Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KARENA HIDUP HARUS TERUS BERJALAN


__ADS_3

Sistem deteksi sinyal darurat milik Negri singa putih menginformasikan telah menerima sinyal darurat dari titik koordinat jatuhnya pesawat boeing 757-500. Sinyal lokator suar darurat pesawat (ELBA) dari pesawat Hawa Air juga diterima oleh radar bandara Hasan kota Angin mamiri pada pukul 22.00 WITA.


Dunia penerbangan dunia khususnya tanah air terguncang, berduka atas kabar hilangnya pesawat penerbangan domestik itu.


Dengan segera, pihak maskapai merilis daftar manifest para penumpang beserta awak dan kru pesawat.


1.


2.


3.


4.Michael Gauhari pria (35 thn)


5.Larasati Indira wanita (32 thn)


Dst.


Gadis cantik bertubuh ramping ini merosot jatuh ke bawah,


"Mamaaaaaa!"


"Papaaaaaa!"



"Eyi!"



"Help us! Please!" teriak honey histeris meminta tolong pada pihak agensi.



Gadis itu menangis meraung-raung, "Eyi mau ikut mama aja !!!!"



Bahkan saat setibanya di bandara tanah air pun, tangisan dan teriakan gadis ini adalah yang paling kencang memanggil lirih kedua orangtuanya diantara keluarga korban lainnya.


.


.


"Om Gau," raut wajah sedih nan terpukul ditunjukkan oleh kerabatnya ini, Heru.



Sesosok pria tua dengan kaki yang telah cacat berdiri dari duduknya, yang ia lakukan adalah bernostalgia dengan semua kenangan semasa di angkatan laut dan kenangan keluarga.



"Bang Michael dan kak Laras---"


Ia menjatuhkan album foto yang sedang ia pegang, dimana halaman yang sedang ia buka adakah foto Michael dan Laras beserta putri kecil mereka Eirene.



Dinyalakannya televisi yang menayangkan kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan yang ditumpangi putra dan menantunya itu.



"Kita meluncur ke Maje ne! Saya mau mencari anak dan menantu saya sendiri!"



"Eyi, pihak tim DVI meminta sampel DNA kamu untuk data," bujuk Honey, pada gadis yang wajahnya sudah sembab dan bengkak. Penampilannya saja sudah berantakan dan mirip vampire, pucat nan menyedihkan.


"Gue ngga mau kasih honey, mama sama papa masih ada---" seolah tak habis-habis air matanya terus mengalir macam air ledeng. Ia sudah tak peduli orang akan menyebutnya orang gila dan stress karena duduk di lantai bandara, ia hanya ingin kedua orangtuanya kembali.


"Mereka udah janji mau ketemu gueeee!" teriaknya.



Derap langkah para prajurit muda begitu cepat nan perwira. Setelah mendapatkan kabar buruk ini, seisi tanah air seolah menyorot pada kecelakaan Hawa air. Bukan hanya tanah pertiwi, namun mata dunia.



Tak terhitung berapa ribu personil prajurit angkatan darat, udara dan laut yang diterjunkan demi mencari bank kai pesawat dan para penumpang yang ikut di dalamnya. Tak terhingga biaya yang dikeluarkan untuk misi penyelamatan ini.



Rayyan mencangklok tas besarnya di punggung, "KRI Fatahillah siap berlayar!"

__ADS_1



"Kita berangkat sekarang!"



"Siap laksanakan!"



Bersama dengan gabungan seluruh matra, mereka bahu membahu mencari titik terang dan petunjuk.



Eirene berjalan tanpa arah tujuan, tanpa alas kaki tanpa membawa apapun. Tatapannya begitu kosong, diantara suasana malam yang ramai, ia seperti sedang di ruang tanpa oksigen dan cahaya.



"Eyi?!" honey yang baru saja kembali dari toilet mencari-cari keberadaan gadis itu diantara ratusan orang yang ada di bandara. Bandara seperti rumah duka, begitu banyak tangisan dan teriakan pilu.



Eirene terus saja berjalan ke arah jalanan.



Truk Reo yang melintas hampir saja menabrak seorang gadis dengan rambut panjang kusut tanpa alas kaki, " astagfirullah!"



Semua penumpang truk yang berisi para tentara siap melakukan pencarian ikut tumpah ke depan akibat rem dadakan.



"Ada apa? Kenapa nge-rem mendadak?" tanya Al Fath.



"Ada bocah cewek bang!" jawab Dilar.



"Cewek apa kunti itu? Semrawut gitu, mana kagak pake sendal lagi?!" ujar Gentra.




Suara berat sepatu turun dari truk dan menghampiri Eyi, "dek, jalannya bisa ke pinggir? Ini om-om tentara mau tugas, tolong jangan berjalan di tengah?" pinta Andre.



Eirene mendongak, menunjukkan wajah menyedihkannya,"om tentara, Eyi bisa ikut ngga? Mau cari mama sama papa. Kasian kedinginan di laut sana---" ia menangis.



Andre mengenyitkan dahinya setengah iba, "adek---"



"Eyiiii! Gue cariin kemana-mana malah disini?!" sewot honey berteriak khawatir sambil berlari, ia segera membawa Eirene ke dalam pelukannya.



"Maaf pak, ini adik saya. Kami keluarga salah satu korban kecelakaan pesawat---maaf sudah mengganggu perjalanan," ujar honey.



"Ah tidak apa-apa, saya ikut berduka. Lain kali adiknya dijaga, takutnya nekat atau gimana," balas Andre.



"Ck! Lama!" Al Fath berdecak, ia hendak turun dari truk.



"Oh iya, makasih pak.Maaf sekali lagi! Eyi---ayo balik," ajak Honey.



Tatapan Andre mengikuti perginya Eirene dan honey, "kasian banget. Ngga kebayang kalo adek gue yang jadi tuh anak!" gumamnya.


__ADS_1


"Siapa?!" tanya Al Fath.



"Keluarga korban, kecil-kecil udah ditinggal gitu, kasian!"


Bukan hanya pihak dalam saja yang bekerja keras mencari, pihak dari luar pun mengirimkan bantuannya mengingat dalam daftar manifest ada warga negara asing juga.


KRI Fatahillah, Boeing 737-300, beberapa kapal perang, pesawat militer yang dilengkapi sonar, GAF NOMAD, beberapa helikopter, pesawat Fokker-50 (angkatan udara negri singa putih), kapal Oseanografi USNS Mary Sears (angkatan laut negri adidaya), serta tim pemetaan dari Kana da dikerahkan untuk melakukan pencarian pesawat yang telah beroperasi selama 17 tahun ini.


Rayyan dan tim yang sudah beberapa jam menyelam di lautan akhirnya bergantian dengan unit lain.


"Gimana?"


Ia membuka pakaian menyelamnya, "nihil bang! Arus laut wedannn! Kalo makin di obok-obok malah bahaya, bikin pandangan kabur, ngga nemu apapun. Jangankan puing, baut atau mur nya aja engga!"


Pencarian sudah berlangsung beberapa hari tapi hasilnya nihil.


"Lapor ndan! KRI Leuser kandas di sekitar Kodingareng, baling-baling terjerat tali!"


"Ck! Si-al," gumamnya pelan.


"Lembur---lembur!!!" ujar Munaf.


"Bukannya nemu malah yang nyari ikut bobrok," kekeh sumbang Esa.


"Gue mau sekalian nyari putri duyung lah bang!" balas Rayyan dengan berkelakar demi mengurai rasa lelah, stress dan kebuntuan. Disaat begini mental mudah drop, pencarian yang lama nan melelahkan terasa sia-sia.


"Saravvv," Munaf menggeleng.


"Gue juga lah, kali aja nemu duyung yang cantiknya ngalahin Luna Maya!" jawab Langit.


Mereka tertawa diantara beban fisik dan mental yang mendera, "si kadal mana?" tanya Langit.


"Pram lagi bok3r!" jawab Rayyan.


🌟 11 Januari 200X


Seorang nelayan menemukan serpihan ekor pesawat di selatan Pare sekitar 300km lepas pantai, di sekitar kawasan tersebut pula ditemukan sejumlah barang lainnya seperti kursi pesawat, jaket keselamatan, dan KTP.


Eirene masih terduduk di tepian ranjang hotel yang sudah disiapkan oleh pihak maskapai. Tangannya memencet tombol remote untuk mematikan televisi.


Ia berdiri menghadap jendela kamar, menatap nyalang nan jauh keluar dunia.


Ia meloloskan nafas lelahnya, sudah hampir 2 minggu ia begini.


Ceklek!


Honey baru saja datang membawa senampan menu sarapan, "Eyi, makan dulu, udah honey bawain ini," berjalan perlahan dan hati-hati.


"Honey, kita pulang ke negri singa putih. Hidup harus terus berjalan. Karantina menunggu Eyi, sekarang Eyi harus cari duit buat hidup sendiri," gadis itu membalikkan badannya.


"Mama sama papa udah di tempat yang mereka mau," tambahnya mantap, mengusap wajah tak ingin meninggalkan sisa-sisa kesedihan lagi.


Honey tersenyum getir menatap Eirene, "Eyi udah ngga punya siapa-siapa lagi selain loe, honey!" ia memeluk honey.


"Eyi, sebenernya---" ucapan yang sudah di ujung lidah terpaksa ia telan kembali.


"Eyi udah ngga mau mikir siapa-siapa lagi sekarang! Kita pulang, kita buka lembaran baru! Titik!"


.


.


.


Flashback off


Eirene mengusap air mata yang membanjiri pipi, "jadi sekarang dimana opah Gau?"


"Di Mana ado, dulu sih honey punya fotonya, tapi kayanya honey lupa simpen dimana!" nyengirnya.


"Kenapa dia ngga niat nyari Eyi?"


"Beliau----aduhhh! Honey ngga tau lah baby, honey juga baru beberapa kali ketemu opah Gau, itupun cuma sekilas-sekilas, karena beliau kan dulunya pasukan elite gitu---" honey kebingungan menjawab pertanyaan Eirene karena sejujurnya ia pun tak tau jawabannya.


Eirene melirik jam di tangan, "udah siang honey! Takut ada tamu ke rumah buat benerin mesin pompa air. Kita lanjut obrolan di rumah aja, kapan kamu ada waktu?" tanya Eyi.


"Besok baby, hari ini honey mau meeting dulu---ngga enak sama pegawai yang lain."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2