Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
LOVE YOU, DERMAGA HATI


__ADS_3

Dan semua rasa itu berkumpul jadi satu, tidak pernah sekalipun terbersit di benaknya apalagi pikirannya bisa menjadi seorang istri prajurit, ibu dua orang anak, dan seorang menantu.


Kemewahan, tahta dan jabatan, jepretan kamera, awak media, dunia keartisan, dunia malam dan persaingan job, mungkin hanya itu yang menjadi ruang lingkupnya dan akan tetap selalu seperti itu jika Rayyan tak menemukannya tergeletak di depan club malam, jika seandainya malam itu honey berhasil mencegahnya pergi clubing, maka semua harta paling berharga di bima sakti ini tak akan ia dapatkan sekarang.


Betapa tidak, hidupnya sekarang lengkap, meski hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan artis endorse'an.


Eirene tertawa kecil di ambang pintu dapur, melihat tiga orang kesayangan tengah bermain dan bercanda bersama.


Teuku Pandjie Ikram Ananta, bayi berusia 1 tahun yang tertawa terkikik menaiki perut ayahnya bersama Cut Daliya yang berusia 3 tahun.


"Aduhhh! Umi! Tolongin abi, diserang 2 monster kecil, mi!" Rayyan mengaduh tergelak terbaring diatas karpet ruang tamu, meski lelah mendera tapi dengan melihat kedua malaikat kecilnya tersenyum dan tertawa, bagai moodbooster untuknya. Kepalan-kepalan kecil dan gigitan gigi-gigi yang baru saja tumbuh terasa bagai cubitan untuk Rayyan.


"Abi jangan nugas lagi, jangan pelgi lama-lama telus!" keluh sang bidadari kecilnya, apalah dayanya yang seorang prajurit, meski hati berat meninggalkan namun ia tetap harus mengabdi pada negara sebagai bakti dan sumpah yang telah ia ucapkan sampai nanti raganya tak mampu lagi.


"Kan di rumah ada umi sama dedek, kakak cimoy juga bisa telfon abba--ummah, umi Fara---abi Fath, ma cut Ra, abang Saga, ada abang Rengga juga, ada dek Kahwa (adik Rengga), ada om Maliq juga, kalo ngga barengan nugas ada om Langit sama om Pram, tante Marina sama tante Diana," Rayyan mengabsen satu persatu orang terdekat mereka.


"Ngga maaa--uuuu. Mau sama abiiii," rengeknya. Rayyan terkekeh kecil, tak pernah terbayangkan ia akan sebahagia ini sekarang, pernikahan mendewasakannya, menikahi seorang model sekelas Eirene ternyata tak seburuk ketakutan uminya dulu, bagaimanapun semua ada pada sikapnya, bagaimana cara ia membimbing diri, membimbing Eirene, membawa bahtera rumah tangga keduanya. Ia yang dulunya flamboyan, playboy, tak pernah memikirkan orang lain nyatanya menjadi ayah yang begitu dirindukan oleh kedua anaknya.


"Iya nak," angguk Rayyan dengan tangan yang memegang Panji, bocah yang baru saja menjejakkan kakinya di bumi ini mencoba naik ke atas punggung sang ayah sambil tertawa-tawa cekikikan khas bayi, membayangkan jika ayahnya adalah seekor kuda. Eirene merogoh ponselnya dan memvideokan itu dalam memory ponsel saat si mantan playboy sedang di pusingkan oleh kedua anaknya.


"Abiii, kakak ada lagu buat abi! Dengelin, kakak ada tik tok sama umi," ia berlari ke arah dapur mencari Eirene dan meminta ponsel milik ibunya itu untuk menunjukkan hasil kreatifitasnya bersama sang ibu di media sosial pada Rayyan. Apapun akan ia tunjukan demi mendapatkan perhatian Rayyan.


"Umi ! ! Umi hape mana? Itu loh video nyanyi kakak, mi!" pintanya.


"Sebentar," Eyi menyerahkan ponsel miliknya.


Lelaki ini menaruh Panji di pangkuan kiri dan Daliya di pangkuan kanan, menyaksikan tumbuh kembang gadis kecilnya dengan seksama.


"Oh abi tau lagu ini, mau nyanyi bareng abi ngga?" tawar Rayyan.


"Ah masa?! Abi kan bapak-bapak, masa tau lagu anak-anak?!"


"Tunggu sebentar, abi ambil gitar dulu!" ia menaruh kedua anaknya dan mengambil gitar miliknya sendiri di kamar. Lelaki berkaos navy dan celana loreng ini keluar dengan sebuah gitar akustik lalu kembali bersila.

__ADS_1


Jrenggg! Ia menyetel senar gitar lama yang jarang ia pakai lagi.


"Masih bagus lah ngga sumbang-sumbang amat!" gumamnya.


"Umi jangan ngintip terus, nanti matanya sakit loh! Sini jadi penontonnya abi sama kakak cimoy, sama dedek Panji juga!" ajak Rayyan menggoda Eyi.


"Umi sini umi! !" seru cimoy berjingkrak-jingkrak.


"Oke! Umi jadi juri ya!" Eyi menghampiri setelah sebelumnya mematikan kompor, nasi tim ayam milik Panji sudah matang.


Eirene duduk, "eh, tapi kita masukkin ke tik tok ya?! Biar masuk uang juga!" seru Eirene tertawa, emak-emak ya begitu, apapun mesti jadi uang, lumayan buat uang jajan anak.


"Sebentar!"


"Ya,"


Rayyan mulai memetik senar gitar dengan cimoy yang duduk disebelahnya. Arah kamera menyorot keduanya, dengan lattar ruang tamu serba pink dan Panji yang berjalan tertatih kesana kemari keduanya live tik tok.


Cimoy membuka awalan dengan bernyanyi terlebih dahulu.


Kini Rayyan ikut bernyanyi seolah membalas ungkapan hati sang putri, keduanya bahkan tak terlalu fokus pada kamera, yang ada... keduanya saling menatap layaknya orang mengobrol dengan sebuah alunan lagu, "kalo kangen suaraku kamu tinggal call me saja, kalau mau bertemu kamu tinggal cari aku! Apakah kamu cinta, apa kamu sayang, aku mau bersahabat sama kamu."


"Kalau mau jadi aku, kamu tinggal daftar akmil, kalo mau tengok aku kamu cari di markas besar...apakah kamu cinta, apa kamu sayang? Aku mau bersahabat sama kamu.." Rayyan dan cimoy tertawa bersama. Begitupun Eyi yang tertawa haru, karena interaksi keduanya memancing air mata.


Pandangan Rayyan bergantian menatap senar gitar lalu kembali menatap putrinya dengan sorot mata sayang, sendu dan penuh kasih juga pengharapan, "Ku do'akan kamu hidup bahagia, agar papa mama bisa bangga..."


Diantara lagu yang akan berakhir tiba-tiba cimoy menghambur memeluk Rayyan, "sayang abi!"


"Wle...wle....hi--hi--hi! Yeeee!" seruan Panji berjalan dengan wajah gembira dan antusias juga tak lupa saliva yang menetes dari bibir ikut mengganggu moment lovely dovey ayah dan kakaknya itu.


"Aduhh ihhh umi! ! Dedek Panji ngences! Ilelnya kena pipi akuuu!" teriak Cimoy, Eirene mematikan live tik tok mereka setelah kondisi dikacaukan Panji.


Sekejap live tik tok itu dibanjiri komentar positif dan tercimoy-cimoy. Ribuan jempol menekan tanda love di siaran itu.

__ADS_1


"Abanggg! Salwa pengen ke ibukota!!!" nenek 3 orang cucu itu tak mau ketinggalan dengan setiap moment manis anak--cucunya.


# MANISNYA INTERAKSI PERWIRA DAN PUTRI CANTIKNYA, TERNYATA INILAH POTRET KELUARGA EIRENE LOVELY SEKARANG.


# MOMENT PANDJIE NGENCES JADI SOROTAN NETIZEN. "YA ALLAH GEMESNYA!"


# POTRET PERWIRA GAGAH NAMUN SWEET, TEUKU AL-RAYYAN ANANTA.


# SOSOK CIMOY, CUT DALIYA CLEMIRA ANANTA, ANAK DARI PERWIRA MILITER DAN MANTAN MODEL INTERNASIONAL.


Tagar Rayyan dan Cimoy kini mendunia di linimasa.


"Abang kapan upacara pengangkatan jabatan?" Eirene menelusupkan kedua tangannya dari pundak ke dada, ia memeluk lelakinya dari belakang.


"Minggu depan dek," ia memutar tubuh dan menggendong Eyi yang otomatis melingkarkan kakinya di pinggang Rayyan.


"Selamat abang, abinya kakak cimoy sama dedek Panji udah jadi Mayor sekarang,"


"Itu semua berkat kalian, yang selalu jadi support system abang, terimakasih sudah mau jadi pendamping si playboy usil ini," ia menyatukan kening keduanya.


"Always, selalu ada buat kamu----" balas Eyi.


..."I love you, dermaga hati."...


..."Love you too,"...


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2