
Rayuan maut begitu gencar ia lancarkan, bagaimanapun malam ini harus tersalurkan---kebutuhan yang onoh memang tak bisa ditunda sekalipun Jepang mau approching buat come back jajah tanah air.
Eyi awalnya menolak karena ngeri melihat luka di badan Rayyan, kalau bisa akan ia bungkus dengan daun pisang, biar ngga bikin ngilu.
"Ih, ngeri itu liat luka kamu-nya! Takut ngga sengaja ke pegang," gidiknya.
"Jangan dipegang, kamu pegangan aja sama bantal," desaknya memberikan solusi.
"Libur dulu kenapa sih?!" seru Eyi menthesah seraya memelas.
"Kelamaan libur dek, nanti kalah tajem sama piso dapur!" ia tetap memaksa. Dengan mengeluarkan dalil-dalil dosa dan pahala tentang kebutuhan biologis suami dan istri sekejap prajurit mesum ini berubah wujud jadi ustadz madrasah. Emang ngga ada duanya abang tentara playboy satu ini, ada saja akalnya. Gas terus sampe luluh! Hingga akhirnya Eyi mau.
.
.
Terasa mulai berkeringat, Rayyan merasakan nyut--nyutan perih di area lukanya.
"Kenapa?" tanya Eyi, yang tak kalah berkeringat.
"Dek, kayanya kulit abang keringetan---aga perih kena luka," akuinya.
"Terus gimana?" Eirene mengerutkan dahinya, sudah kepalang tanggung ikut h0r ny.
Rayyan bangkit terlebih dahulu mengambil kipas angin, ia arahkan ke tempatnya mengambil posisi wenakk. Jika dipikir-pikir, sejak pertama, kepingin nikmat aja ribet bener! Ia jadi sedikit tak terima kecium granat dan merutuki para musuhnya kemarin yang sudah melempar granat seenak jidat.
"Ketemu sama gue lagi mamposs lu," omelnya dalam hati.
Jika tadi Rayyan yang tersiksa, sekarang Eyi yang merasa kedinginan.
"Ck, abang ngapain sih pake nyalain kipas segala! Dingin," pori-porinya bahkan sudah membesar karena angin dingin yang ditiupkan.
"Biar ngga keringetan dek." Singkatnya.
Eirene sudah bersiap dengan pakaian seragam birunya, hanya tinggal menyematkan jepitan untuk anak rambut yang mencuat saja semua beres, tapi sejak tadi perutnya terasa kembung, kepalanya juga kleyengan.
Rayyan masih bersama Maliq memeriksa laporan dan tugas dinas di ruang tamu.
"Mau pertemuan?" tanya Rayyan, kedua pria ini menoleh saat Eyi keluar kamar.
"Iya," jawabnya mengangguk malas.
"Apa setelah ini ada acara?" tanya Rayyan lagi menghentikan obrolannya dengan Maliq.
"Ngga ada," gelengnya.
"Kalo gitu nanti kita keluar, sekalian ketemu Redi!" refleks saja Eyi mengangkat kedua alisnya tak percaya, sudah lama mereka tak bertemu karena kesibukan honey dan Eirene yang tak bisa keluar markas.
"Oke!"
Tapi baru saja selangkah Eirene merasa pusingnya itu tak tertahankan lagi, "huwekkk!" ia menahan mulut dan berlari ke arah kamar mandi, sontak saja kedua pria ini terkejut.
"Dek!" Rayyan berlari mengekor bersamaan Maliq yang ikut panik, hingga langkah mereka yang masuk bersamaan di ambang pintu dapur. Karena badan keduanya tak muat masuk, jadinya kedua pria ini malah nyangkut dan tertahan disana.
"Kamu mau ngapain? Mau ngikut istri saya ke kamar mandi?!" tanya Rayyan galak. Maliq merasa ambigu dan kikuk, "siap salah ndan! Barusan saya anu, refleks saja--" jawabnya malu sendiri, masih terbawa suasana saat Rayyan tak ada.
"Dek," Rayyan melanjutkan langkahnya saat Maliq mundur.
Ia masuk ke dalam kamar mandi dimana Eyi tengah membungkukkan badannya, selama menikah yang sudah sudah lebih dari 2 pekan, baru kali ini Rayyan melihat Eyi begini. Meski dipolesi make up namun tak menutup wajah pucat Eirene. Tangan besarnya memijit tengkuk Eyi, "kamu sakit? Apa hamil?!" tembaknya langsung, membuat Eyi menyikut lelaki ini di tengah rasa mual yang mendera.
Tak ingatkah lelaki sableng ini, semalaman ia te lanj ang ditemani kipas angin?! Kayanya otak suaminya ini mesti ia congkel dan betulkan di bengkel bubut.
__ADS_1
"Bu Rayyan, ayokkk!" panggil bu Nani bak panggilan alam, ia memanjangkan lehernya ke arah halaman rumah Eyi. Tak jua mendapat jawaban, bu Nani membuka pintu pagar dan masuk.
"Assalamu'alaikum," ia melongokkan kepalanya ke dalam rumah yang pintunya tak tertutup.
"Wa'alaikumsalam," Maliq mendongak.
"Loh---ada om Maliq to! Bu Eiren'nya kemana to om?!" tanya bu Nani.
"Ada bu, beliau sedang----"
"Eyi ngga hamil!" ujar Eyi galak. Mendengar ribut-ribut di dalam, membuat jiwa ke kepoan bu Nani bergejolak manja kelojotan--tak peduli ini rumah orang, sing penting dia paling update jika ada apapun yang terjadi dengan Eirene.
"Nah ini mual muntah, apa yang dirasa, sakit? Pusing? Apa abang perlu ijinkan sama ibu ketua Jala?" tanya Rayyan.
*Wushhhh*! Eyi menyiram isian perutnya yang keluar.
"Ngga perlu. Ini gara-gara kebanyakan makan angin semalem!" desis Eirene mendelik sinis, tapi lelaki ini malah tergelak.
"Oh, kirain udah ada dedeknya disini---" usapnya di perut rata Eyi, membuat wanita itu mendesis marah bak ular derik dan menepis tangan Rayyan.
"Kalo gitu, mau abang pijetin ngga?" alisnya naik turun, sudah pasti ada niat terselubung di dalam wajah konyol itu.
"Nggak!"
"Kan biar nanti mualnya ganti, bukan mual karena angin, tapi mual karena Allah. Maksud abang karena dedek!" kikiknya tak henti-henti menggoda sang istri, Eyi jika sedang mode galak begini berasa pingin gigit.
"Eyi udah telat bang--" gelengnya.
"Cepet kok! Biar perutnya anget--" gerakan tangannya begitu cepat membuat teh manis hangat untuk Eirene hingga bisa langsung diteguk.
"Oalah! Sudah telat to?! Selamat ya bu, om Rayyan!" serunya gembira nyelonong masuk ke dalam dapur.
"Baru menikah sudah dikasih rejeki momongan-- wes saya ijinkan saja dulu sama ibu ketua, ibu di rumah saja kalau masih tak enak badan, diperiksakan bu ke klinik!" cerocosnya tak berhenti.
"Bu---tapi, bu Nani!" Eirene ikut bangkit dari duduknya tapi ditahan Rayyan yang tertawa senang.
"Biarin aja, anggap aja do'a!" tawa Rayyan melihat betapa lucunya reaksi bu Nani dan Eirene yang berbanding terbalik.
"Waduhhh---ikut seneng saya!" saking ikut gembiranya bu Nani berjalan cepat keluar dari dapur dan menuju keluar rumah.
"Eyi ngga hamil!!! Kyyyaaaa !!!" jeritnya gemas nan kesal, membuat Rayyan semakin tertawa gemas.
"Eyi mau datang aja ke pertemuan! Nanti dikira Eyi manja," omelnya pada Rayyan.
"Ya udah diminum dulu, abang anter pake mbak Vega--takut kenapa-napa di jalannya,"
__ADS_1
Eyi menurut dan meneguk teh manis hingga tandas.
"Gimana Liq sudah selesai? Kalau belum besok dilanjut saja di kantor," ujar Rayyan memakai jaket kebesaran.
"Memangnya cuti kapten sudah habis?" tanya Maliq membereskan sebundel map di meja.
"Sudah, lama-lama cuti bikin bosen---" jawabnya meraih kunci motor.
"Lukanya udah lumayan kering om," tambah Eyi.
Rayyan menyeringai, "kan abang punya vitamin! Jadi cepet sembuhnya," kekehnya membuat Eirene mendelik sinis.
"Kalau begitu, saya ijin undur diri ndan, bu!" hormatnya tak ingin berlama-lama berada di dalam kerajaan barbie bersama duo atasan yang sedikit gila dan suka bikin ngiri jomblo sepertinya.
"Ya,"
"Om Maliq minumnya ngga diabisin?"
"Terimakasih bu, sudah cukup. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
Berbarengan dengan Maliq yang keluar dari rumah, Eyi dan Rayyan mengunci pintu rumah.
"Pasti nanti heboh di pertemuan, bikin malu! Nanti dikiranya Eyi ngaku-ngaku!" dumelnya bersungut.
"Kan kita ngga bilang iya atau enggak, anggap saja do'a dek--" jawab Rayyan.
Eyi naik ke jok belakang Rayyan dengan posisi duduk menyamping. Tautan tangan Eirene melingkar di sebelah perut Rayyan, "umi ada ajak Eyi sama kak Fara ke rumah di Aceh, bang."
Rayyan menyunggingkan senyumnya tipis, "kapan?"
"Engga tau, baru rencana." Helaan nafas panjang lolos dari mulut Eyi, "berarti harus naik pesawat ya, bang?" tanya nya.
Rayyan mengerutkan dahi, "emangnya kenapa? Apa---?"
"Eyi ngga bisa."
Rayyan kembali mengulas senyuman, kini sebelah tangannya memegang tangan Eirene lembut, "kamu trauma dengan apapun yang berbau pesawat, sampe setiap melakukan penerbangan kamu selalu di dopping obat tidur?"
Eirene mengangkat kedua alisnya, "eh! Darimana abang tau? Pasti honey?!"
"Bukan. Kamu masih inget kan, nanti abang mau ngajak kamu ke luar? Nanti abang jawab," balas Rayyan.
Rayyan kembali mengingat sebuah pesan tadi pagi, "*saya sudah berada di rumah Laksamana*."
.
.
__ADS_1
.