Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
DERMAGA HATI


__ADS_3

Selepas memberikan nafkah batinnya pagi-pagi buta, Rayyan bergegas mandi besar. Untuk yang satu ini Eyi sudah tak aneh lagi, jangankan nugas di luar---nugas di dalam kantor saja alasannya beragam. Namun ada yang beda dalam kegiatan panas mereka, Rayyan lebih cerewet memberinya pesan meski badannya terus saja memompa diatas sana.


Rayyan sudah bersama tas besarnya, dan kali ini hati itu benar-benar bergetar ketika mata Eyi jatuh tertumbuk pada Wiwit yang sampai menangis melepas kepergian Jaya. Eyi merasa ia tak sendiri, tapi kenapa seolah bumi mendadak menjadi lautan kepedihan untuknya. Netranya menyapu ke sekeliling yang nampak begitu sibuk.


Sepersekian detik semua suara mendadak lenyap tak berbekas hanya menyisakkan pemandangan layaknya persiapan perang dunia yang bak diputar slow motion. Kapal-kapal perang kebanggan milik tentara negri sudah terparkir rapi siap menyambut para ksatria nan perwira, pesawat pun tak kalah sibuk memutar baling-balingnya. Situasi bising itu kembali menyadarkan Eyi layaknya terompet serdadu perang.


Kenapa hari ini Rayyan begitu tampan dan pendiam, "sebenernya abang tuh mau kemana sih?!" tanya Eyi.


"Abang nugas dek, mungkin kali ini abang tak bisa menjanjikan kapan pulang. Oh ya, nanti umi sama abi ada kesini---kalau kamu memang ngerasa kesepian, kamu bisa nginep di rumah umi biar ada yang nemenin, disana ada dek Ra juga kan, jangan lupa rumah ditengokin nanti kotor."


Eyi mengernyit, tak biasanya Rayyan akan bersikap begini. Padahal kan ia biasanya akan melarang Eyi untuk pergi dari Markas besar barang sejengkal saja. Perwira berbaret ungu ini tampak tersenyum hangat nan teduh, ia juga mencium lama perut Eyi seraya mengucapkan pesan-pesan menggelitik pada sang jabang bayi, "abi sayang cimoy. Abi nugas dulu ya sayang---sehat-sehat di dalam sana. Jadi anak yang baik selama abi ngga ada."


"Jujur ! ! Abang nugas kemana?!" desak Eyi memaksa. Sebagai personel detasemen pasukan elite khusus, adalah mutlak untuknya merahasiakan setiap aktivitas bahkan misi yang akan dijalani demi kepentingan misi dalam operasi.


"Kalau abang agak lama, terus kamu mau belanja keperluan cimoy, nanti bilang umi. Abang nitip sesuatu di umi buat kamu," rentetan pesannya begitu panjang membuat Eyi tak bisa menahan lagi kecurigaan dan firasat buruk.


"RAYYAN !! Jangan kaya gini! Eyi ngga butuh uang kamu! Eyi maunya kamu!" bentaknya membuat mereka yang ada disana ikut menoleh pada pasangan absurdnya markas marinir. Angin di pangkalan cukup kencang tapi tak serta merta menghapus lelehan air mata para istri.


"Kamu sudah terlatih jadi wanita tangguh, dan kali ini abang minta kamu untuk sekali lagi menjadi si tangguh itu! Kamu lebih tangguh dari siapapun, bahkan takdir kehidupan tak mampu menumbangkan kamu," pintanya, tak ada nada kekehan usil ataupun candaan. Di dalam seragam ibu Jala, Eyi memeluk Rayyan erat kedua tangannya menelusup diantara celah tas besar yang Rayyan gendong, hati yang hampir remuk dan jatuh seolah mendapatkan kembali kekuatan dalam dekapan suami prajuritnya, "selalu ceria sayang, nanti abang hubungi kalau sempat," kecupnya lama di kening Eyi.


"Aku ngga tau bakalan selama apa kamu pergi, apakah sampe nanti cimoy ngga kenal sama sekali sama ayahnya? Aku juga ngga tau sebahaya apa misi yang akan kamu jalani apakah sampe bikin cimoy jadi anak yatim sebelum lahir..." isakan Eyi begitu memilukan bahkan kini Wiwit kembali menangis dan memeluk Jaya. Duo ubur-ubur sampai memalingkan wajah dan lebih memilih pergi.


"Melow gini euy!" ujar Pram.


"Gue mau cek ban pesawat aja lah, siapa tau kempes! Ketimbang liat beginian, kelilipan air mata!" balas Langit mencoba berseloroh namun tak membuahkan hasil apapun selain kegaringan yang hakiki.


"Pergilah sejauh ukuran luas samudera, tunaikan janji bakti dan pulanglah saat kamu rindu, karena akulah dermaga tempat hatimu bersandar, marinir!" lanjut Eyi mengecup punggung tangan Rayyan lama dan dalam.


"Sejauh apapun aku berlayar, pada akhirnya semua perasaan akan berlabuh di kamu, karena kamu adalah dermaga hatiku," jawab Rayyan mengecup pucuk kepala Eyi.


"Assalamualaikum,"

__ADS_1


"Wa---alaikum---salam," jawabnya terbata melepas Rayyan pergi.


Wiwit menahan badan Eyi yang hampir saja meluruh. Para perwira itu melangkah menjauh memasuki kapal perang gagah milik negri. Hingga kapal itu hilang di pelupuk mata, Eyi masih senantiasa memandang ke arah lautan.


"Eyi, ibu-ibu lain sudah menunggu untuk pulang," ujar Wiwit.


"Katanya mau rujakan?" tanya Wiwit diangguki Eirene, ia berharap semua kegiatan dan kebersamaannya bersama yang lain dapat mengusir rasa khawatir dan kesepian yang ia rasa.



🍃 Selepas subuh🍃



"Mi, titip Eyi--- dinas luar kali ini cukup beresiko dan tak tau kapan pulang. Ray minta do'a umi sama abi--semoga misi kali ini diberikan kelancaran dan keselamatan."



"Iya Ray, memangnya kemana? Berapa lama? Jaga diri baik-baik, sehat-sehat disana. Inget, kamu sekarang udah jadi suami, ada istri yang nungguin di rumah. Udah jadi calon ayah---ada malaikat kecil yang nantinya nunggu kamu pulang, jangan sampe nanti dia nganggap abi itu ayahnya!" ujar umi.




Umi langsung terdiam mendengarnya, "ngomong apa sih! Ngaco! Ya kamu sendiri lah yang ngasiin setelah anak-anak kamu gede, masa umi atau abi!" marahnya, ia tau kemana arah bicara anaknya ini, yang membuat hati siapapun ibu remuk redam dibuatnya, pasalnya Rayyan tak pernah bicara begini selama ia bertugas di kesatuan hampir beberapa belas tahun. Baru kali ini anak flamboyannya itu bicara begini, "efek jadi calon bapak bikin anak umi jadi lebay deh!"



"Jangan ngomong gitu, umi ngga suka! Atau umi gusur kamu buat balik ke Aceh dan minta kesatuan pecat kamu?!" ancam umi.


__ADS_1


"Udahlah! Umi udah bilang kan ngga suka kalo anak-anak umi jadi prajurit?! Kamu sama Fath sama-sama nyebelin! Ngga sayang umi!" cerocosnya hampir menangis dengan suara yang sudah bergetar.



"Masa ngga sayang umi, umi adalah segalanya buat Ray!"



"Mi, nanti bawa aja Eyi ke rumah atau ke Aceh kaya keinginan umi biar dia ada temen---ada kemungkinan Ray aga lama," ucapnya.



Dan benar saja, setelah pembicaraan tadi subuh saat Eirene sedang mandi, umi Salwa langsung menjemput Eyi di markormar.



Seorang perempuan berjilbab ungu terong duduk anteng namun wajahnya sedikit suntuk, bersama pak Janu yang berjalan-jalan kecil di depan rumah dinas Rayyan, entah apa yang dilihatnya, mungkin suasana rumah dinas atau tanaman liar yang tumbuh disana.



"Ck! Kamu darimana sih lama banget! Umi nungguin dari jam 9," ujarnya duduk di kursi yang ada di teras berteman kue malkist dengan taburan gula dan teh manis hangat yang disuguhkan bu Nani.



"Eyi baru anter abang ke pangkalan mi. Lah! Eyi ngga tau kalo umi kesini. Sebentar, Eyi buka dulu pintu." Eirene memutar kunci rumah dan membawa mertuanya masuk.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2