
"Jangan kebanyakan tidur siang, lagian ini mau dzuhur, jangan tidur dulu," balas umi. Sementara Zahra ia memilih undur diri, "udah ah! Belum nyuci!"
"Kapan kamu periksa kandungan lagi? Biar nanti umi anter," tanya umi.
"Minggu depan," jawabnya ngeloyor masuk ke dalam kamar Rayyan yang sekarang jadi kamarnya juga.
Eyi menghembuskan nafas lelah, sejak tadi perasaannya kembali dilanda khawatir, "apa jangan-jangan abang ikut operasi ini?"
*Dorrr*!
*Dorrr*!
Bidikan Rayyan jarang meleset dari target, sudah seminggu ia dan rekan-rekan di gembleng di medan pelatihan macam neraka. Ia pernah merasakan ini sebelumnya dan jika harus mengalami ini ia sudah tahan banting. Namun mental psikis tetap saja terdampak. Jika bukan karena melihat video-video Eirene, foto perut buncitnya dan kabar dari istrinya itu mungkin ia sudah gila.
Fisik dan stamina di pupuk dan di booster agar sekuat baja, karena mereka tak tau medan yang akan dilalui di depan seperti apa.
Bukan lagi kolam prajurit di dalam Markas besar yang kedalamannya hanya beberapa meter saja, melainkan lautan dalam ibu pertiwi yang jadi tempatnya berlatih.
Baju loreng yang ia pakai sudah tak sewangi saat awal ia bekal. Entah berapa hari sekali ia ganti, dengan terkena teriknya matahari, cuaca hujan dan kotoran.
"Surat perintah dari presiden sudah turun. Pertama, presiden memastikan agar tentara negri berhasil membebaskan para ABK yang disandera oleh para perompak Soma. Kedua, presiden meminta agar prajurit negri dapat membebaskan MV Cahaya Koedus agar kapal kargo itu dapat melanjutkan perjalanannya ke negara tujuan. Ketiga, bila diperlukan aksi militer, laksanakan pendaratan ke pantai untuk menunjukkan bahwa kita itu punya kedaulatan. Bahwa harga diri kita tidak bisa diinjak-injak! Negara kedaulatan, HARGA MATI!" ucapan presiden yang memang terlahir sebagai seorang perwira itu semakin meruncingkan taring militer negri.
Seketika jiwa yang lelah dengan kerasnya tempaan berkobar kembali, perwira dengan fisik dan mental baja siap membela kedaulatan juga harga diri bangsa hingga titik darah penghabisan.
Senyap dan rahasia, begitulah operasi khusus gabungan dengan nama sandi red and white, para pasukan hantu rimba bergerak mengumpulkan semua data valid dan informasi intelegen keberadaan posisi kapal.
__ADS_1
"Raja wali come in, laporan valid titik koordinat MV tak dapat secara spesifik karena kapal bergerak, tidak diam di tempat," suara Gentra dan kapten dari unit tengkorak matra darat terdengar begitu jelas memberikan laporan terkini dari tempat mereka memata-matai.
"Pantauan udara pesut mahakam 1 masuk... camp-camp musuh berjejer di sepanjang pesisir negri Soma," kini transmisi radio beralih pada chanel komando pasukan kodok.
"Di El-Dhan4n zona merah pekat terkesan hitam, perkampungan perompak dengan personil kurang lebih 1000 orang dipersenjatai lengkap dan canggih juga bervariasi, salah satunya ada roket launcer dan senapan mesin," lapornya lagi.
Rayyan saling lirik dengan Yosef, ia membaca dengan saksama seraya mendengarkan laporan setiap unit yang telah diberangkatkan oleh kesatuan dari setiap matra.
"Ck!" komandan elite Raden Joko, sampai mengusap kasar wajah dan kepalanya, ia tak bisa gegabah mengambil keputusan perencanaan, pasalnya banyak nyawa yang dipertaruhkan.
"Tidak memungkinkan untuk kita melakukan pendaratan militer, potensinya sangat rawan!" komandan Komando pasukan elite khusus darat angkat bicara, ia teguk sisa-sisa saliva yang hampir kering.
"Mohon ijin bicara, ndan!" Rayyan buka suara, membuat para petinggi matra menoleh padanya.
"Silahkan,"
"Mengingat situasi dengan potensi rawan, mungkin ada baiknya mencari kelemahan musuh yang berada di atas kapal, dengan memperhitungkan cadangan bahan bakar MV Cahaya Koedus yang berada di atas perairan negri Soma, bukankah jika ia bergerak setidaknya akan sedikit memberi celah menjauh dari camp-camp musuh? Selain itu kita pelajari potensi-potensi perlawanan serangan dari camp-camp musuh terdekat agar dapat menghitung berapa armada yang harus dikerahkan demi melawan," jelas Rayyan. Disinilah jiwa perwira dibutuhkan, otak harus tetap berfikir tenang meski disaat kondisi sulit, dikejar waktu yang semakin menyempit, fisik yang lelah dan mental terdampak serta situasi dengan medan yang belum dikuasai.
Gurat kencang masih terlihat menghiasi pelipis pertanda para pemimpin itu tengah berpikir keras.
Langkah kaki cepat setengah berlari menghampiri mereka, "mohon ijin melapor ndan!"
Mereka semua menoleh, "ya?"
"Menurut pantauan Inteligen detasemen Pesut Mahakam 1, MV Cahaya Koedus sempat merapat di pesisir El-Dhan4n, lalu kemudian kembali moving ke perairan laut lepas!"
Mata mereka membelalak, seolah meluluskan ide Rayyan barusan, Allah menjawab semua do'a-do'a para keluarga ABK.
"Segera siapkan KRI Yos XXX dan KRI XXX Perdana sebagai komando pusat elite Raden Joko, dan bentuk tim sea rider, saya turun!"
Para perwira itu kemudian bergegas beranjak dari kursi, "Siap laksanakan!"
"Unit zombie dan komando pasukan khusus siaga di titik yang sudah ditentukan,"
__ADS_1
"Siap!"
Rayyan bergerak cepat bersama Jaya, langkah berat sepatu delta menuju barak, dimana personel lain tengah menunggu komando.
"Dalam 10 menit sudah selesai berpakaian lengkap!" teriak Jaya membuyarkan gerombolan arisan yang sedang berbagi keripik diatas velbed milik Langit.
"Si alan! Kaget gue!" dengus Pram ditertawai Rayyan, "buru, gue udah empet sama menunggu! Menunggu adalah pekerjaan membosankan,"
"Kamvrettt, bilang aja sangkur lo ngga bisa nunggu lagi, udah kelewat karatan!"
Rayyan memasang pakaian serba hitamnya, perlengkapan tempur dan alat pelindung diri, sekarang atau tidak.
Pekerjaan ini teramat beresiko, berkali-kali lipat resikonya ketimbang melawan gerakan timur merdeka. Pasalnya mereka tak menguasai medan.
Rayyan memasang buff hitam hingga menutupi hampir seluruh wajah "Semoga kita bisa bertemu lagi, dek."
Deru mesin kapal sudah dinyalakan. Para personel gabungan dengan isi para perwira gagah merapatkan barisannya di depan bendera negri tercinta, dengan gerakan menghormat pada bendera, do'a dan harapan mereka mengudara. Agama, r4s, su ku semua sama, satu tanah bumi berpijak, satu da rah, satu pangkuan ibu pertiwi dan satu kedaulatan, bayangan senyum hangat keluarga di rumah dalam ingatan menjadi pengobat dan penguat. Di bawah awan biru sumpah prajurit mereka tunaikan.
"3 sea rider turun! Saya di sea rider 1, sea rider 2 dipimpin Pasops marinir, dan sea rider 3 dipimpin Danpus komando pasukan kodok!" Rayyan dan para perwira lain mengangguk paham. Diantara goyangan ombak laut yang begitu besar dan siap menelan siapapun janji ksatria dipertaruhkan.
Komandan unit turun tangan diantara sea rider 1 memberikan perintah pada rombongan sea rider untuk melakukan penyerbuan. Ombak laut besar menyambut kedatangan mereka, ganasnya lautan Soma siap menerkam siapa saja termasuk tim yang bertugas.
Rayyan mengeratkan cengkramannya di senjata, matanya menatap tajam bersiaga.
"Rayyan!! Kamu jangan gini! Eyi maunya kamu!!" ingatan itu selalu membayangi Rayyan bahkan di saat-saat begini.
.
.
.
.
__ADS_1