
"Sebenernya Eyi suka iseng bilang sama honey dulu, kalo Eyi mau kuliah---" tawa sumbang nan mendengus keluar dari mulut Eyi, "tapi ngga pernah kesampean sampe sekarang karena terlalu sibuk cari uang," ia kembali menunduk, rupanya tatapan Rayyan malah semakin membuatnya ciut.
"Sekarang umur Eyi udah diatas 20 tahun gini apa bisa? Ijazah Eyi juga cuma ijazah yang nebeng, engga sama dengan anak-anak yang sekolah formal."
"Jawabannya bisa sayang, kalo memang kamu mau---abang bakal urus semuanya, jangan pernah liat umur kamu. Umur kamu masih muda---kamu ngga tau aja umi dulu kaya gimana sampe dapetin gelarnya, ada drama pengorbanan yang ngga mudah," jelas Rayyan mengingat kisah Salwa dulu.
"Kenapa sama umi?" tanya Eirene, wanita seperti Salwa memiliki kisah kelam sepertinya?
"Umi sempat berhenti berkuliah---padahal beliau sudah di pertengahan jalan. Jangan kamu pikir keluarga Ananta sempurna sejak dulu." Rayyan menelan salivanya sulit mengingat cobaan keluarganya dulu. Betapa terpuruk dan stressnya Salwa. Alis Eyi mengkerut demi menyimak dengan seksama cerita Rayyan, sementara yang di bawah sana cenat-cenut terkontrol seolah tak ingin ketinggalan dalam obrolan keluarga Ananta.
"Umi menikah muda sama abi, mengandung bang Fath waktu masih sekolah, udah beban hidup tersendiri buat umi. Abi itu dulu camat dek, tau kan tuntutan pemimpin seperti apa, dan itu sedikit banyaknya berpengaruh, belum lagi kepindahannya ke serambi mekkah, gaya hidup ibukota dan disana itu beda dek, sangat berbeda---tapi umi setangguh itu. Beberapa kali cobaan rumah tangga dan hidup silih berganti, belum lagi umi kuliah sambil urus bang Fath, eh kebablasan punya abang. Umi masih pertengahan ngampus harus punya anak 2 yang masih pada kecil-kecil. Umi kena syndrom baby blues---" ia kembali meraup nafas menceritakan kisah Salwa sedikit banyaknya menguras emosi.
"Terus?" tanya Eyi.
"Memaksa beliau untuk istirahat di rumah. Tidak sampai disitu--- adik umi satu-satunya om Yusuf Malik Al Fajri, meninggal di usia muda karena sakit. Tapi Allah masih melihat kekuatan dan kemampuan umi sama abi, hingga ia menurunkan kembali cobaannya dengan menguji pekerjaan abi, abi Zaky dituduh melakukan korupsi dana bantuan satu kecamatan, sampai bisnis kopi sempat jadi barang sitaan negara dan harta bergerak yang berada dalam pengawasan---" Eyi mengangkat kedua alisnya tak percaya dengan apa yang sudah dilalui pasangan mertuanya, cobaan silih berganti tak berkesudahan namun hubungan mereka tetap kokoh tak goyah.
"Di usia muda umi sudah harus dihadapkan dengan permasalahan pelik, kuliahnya mangkrak--- abi memutuskan mundur dari jabatannya, ia memang cinta tanah kelahiran, tapi jika harus mengorbankan keluarga, ia tak sanggup. Abba sering sakit-sakitan dan ngga lama meninggal."
Binatang malam tak terlalu terdengar disini, yang terdengar adalah suara langkah sepatu pantofel para perawat dan dorongan roda brangkar serta troli berseliweran.
"Tapi memang selalu ada pelangi setelah hujan, dek. Allah memberikan cobaan yang bertubi-tubi untuk memberikan hal indah di kemudian hari. Abi memutuskan memboyong kita sekeluarga tinggal di negri tetangga," Rayyan menjeda ceritanya.
"Jadi abang pernah tinggal di luar?" Rayyan mengangguk.
"Disana umi mulai bisa healing---cukup lama sampai beberapa tahun, sampai dirasa umi sudah cukup kuat dibawa kembali ke Aceh,"
"Abi memutuskan hanya menjadi pebisnis dan memajukan usaha bersama yah bit. Ya...ia masih memiliki keluarga yang selalu mendukung, hingga umur abang 11 tahun umi kembali mengandung, abang kira abang bakalan jadi bungsu---tapi ternyata umi sama abi niat bikinin abang adik lagi, muncul deh si bawel!"
"Terus gimana ceritanya umi bisa dapetin gelar?"
"Usia dek Ra baru 2 tahun waktu itu. Umi yang memang kembali bangkit berkeinginan kembali kuliah. Sayangnya Allah kembali menguji dengan kematian ummah, sama opa...mengharuskan dia ke ibukota demi menemani oma bunda, bolak-balik ibukota dan sabang umi mutusin membawa abang sama Zahra sementara bang Fath lebih memilih menemani abi di Aceh,"
"Umi kuliah di salah satu universitas swasta ibukota, LDR sama abi dan bang Fath, hingga akhirnya waktu Zahra masuk TK dan abang lulus SMA, umi harus KKN, anak-anak keluarga Ananta sudah biasa ditinggal umi sama abi, dek. Walaupun pada akhirnya kami tempat mereka pulang--- setelah lulus umi buka bisnis ngikutin jejak abi, hari tua mereka nikmatin selalu bersama, mengganti hari-hari yang hilang," tatapan Rayyan lurus memperhatikan manik mata Eyi bergantian mengedar seperti sedang membayangkan masa lalu.
"Coba kamu liat...dimana ada umi pasti ada abi, dimana ada abi pasti ada umi," Rayyan menunduk demi meraih tangan Eyi, ia juga tak lupa mengusap cimoy.
"Dek, cita-cita itu tidak akan mudah digapai, layaknya buah matang pohon, buat dapetinnya tuh mesti lewatin banyak perjuangan, banyak proses yang harus dilalui---entah itu ambil galah, naik pohonnya langsung atau naik tangga sekalipun. Step by step nya tuh selalu ada, cobaannya tuh ya semut lah, ya ulet lah, belum lagi tenaga yang kekuras, atau kadang kepala yang selalu dongak ke atas tuh bikin leher pegel, mata kelilipan atau kepala kleyengan. Tapi kalau kamu istiqomah, tekun, punya tekad, insyaAllah buah manis itu akan terasa semakin manis, so pasti nikmat dimakan---" Rayyan mengangguk-angguk membuat Eyi kini tersenyum lebar.
"Jawaban abang untuk keraguan kamu itu..... kami selalu ada disini untuk mendukung kamu---" Eyi menenggelamkan wajahnya di dada Rayyan terharu dengan dukungan suaminya.
"Tentukan jurusannya---sesuai minat dan bakat, biar jalaninnya juga ikhlas lillahita'ala dan tentunya istiqomah."
__ADS_1
"Kalo umi aja bisa kuliah sambil urus 3 anak, kenapa kamu engga? Anak kamu kan 2---" Rayyan menaik turunkan alisnya.
Eyi mengernyit kecut, "kok 2?"
"Cimoy, sama abang!" tawanya.
"Anak yang bisa bikin anak gitu maksudnya?" tanya Eyi.
Eyi ditemani dua orang perawat menyusuri koridor menuju ruang operasi. Tapi wajah Rayyan terlihat masam, bukan karena ia yang takut dengan pisau dan alat logam lainnya tapi lihatlah di sekitarnya, tapi lebih pada malu.
"Berasa mau naik haji gini," dumelnya menggerutu, orang yang mengantarnya ke ruang operasi mirip orang yang mau anter seserahan, mulai dari unit elite Raden Joko dan keluarganya ikut semua, kenapa ngga sekalian satu resimen mereka ajak saja!
Eyi tertawa lepas, "aamiin'in jangan bang?!" ia memiringkan wajahnya.
"Elahh! Mau operasi aja bawel amat! Harusnya bersyukur nih orang-orang pada khawatir sama lo," sungut Langit yang kebetulan baru saja periksa rutin lukanya bersama Jaya disini, sementara Pramudya dan Rendra cuma nganter nih makhluk-makhluk yang mendadak jadi pasien.
"Hati-hati di dalem, jangan teriak-teriak!" ujar umi Salwa.
"Ha-ha-ha. Mi, di dalem tuh abang mau dioperasi bukan mau lahiran!" Zahra kembali menembak.
"Ya kali aja takut jarum suntikan," alibi umi.
"Dok, suami saya jangan dibikin buntung--- kalo bisa, otaknya aja dibenerin deh pikirannya mesum terus!" ujar Eyi membuat si dokter mengulum bibirnya.
__ADS_1
"Dek, abang ngga gitu!"
"Iya, abang tuh kalo lagi berdua otaknya bawaannya ngeres terus," omel Eyi.
Langkah mereka sudah sampai di depan ruangan tindakan.
"Ganbatte!"
"Semangat kakahhh!" seru mereka seperti menyemangati prajurit di medan tempur.
Senyum Eirene dan yang lain menjadi pemandangan terakhir Rayyan hingga ia benar-benar masuk ke ruangan operasi.
Eirene masih menatap jauh ke dalam pintu operasi dengan setia.
Terngiang-ngiang di ingatannya saat ini.
...***Saya berjanji, setia mendampingi suami prajurit dalam keadaan suka dan duka***.......
"Eyi, nunggunya di kantin aja yuk! Lama," ajak umi diangguki Eyi.
.
.
__ADS_1
.