Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
THE NEXT CHEF RENATA


__ADS_3

"Om, makasih banyak! Nanti siang Eyi mau keluar Markormar ambil uang cash, utang Eyi 400 ya kan?" tanya nya memutar kunci seolah memutar roda kehidupan, ia sedikit kesulitan membuka pintu-- mungkin karena ini rumah lama jadinya aga sedikit macet seharusnya dijadiin museum sejarah saja pikir Eyi. Wanita ini sedikit mendorong dengan tenaga dalam.


"Iya bu," angguk Maliq tak ingin banyak berkata, karena memang ia pun tak pandai berbasa-basi bokis pada orang lain.


"Kalau begitu saya undur diri bu," ucapnya sebelum Eyi bertingkah lebih dan bisa membuatnya mati kecengklak.


"Iya," jawab Eyi membawa masuk belanjaannya ke dalam, perempuan itu langsung meluncur ke dapur untuk menyusun tata letak sayuran di kulkas. Ia tersenyum, bahagia itu sederhana, bikin orang pagi-pagi pusing 7 keliling nyari pinjeman ditambah liat kulkas warna-warni bak pelangi sore aja udah bisa bikin Eyi seneng.


Kini kulkas Eirene penuh dengan sayuran, di tata rapi kaya lagi rapiin bulu mata. Ada hijau, putih, orange, kuning hanya satu warna favoritnya yang tak ada, pink-pink bikin gemes absen dari kulkasnya. Sayuran apa kiranya yang warnanya pink?


Eirene menatap sisa belanjaan yang ternyata tak muat meski udah di tata sedemikian rupa sampe desak-desakan di rak kulkasnya macam penumpang angkot. Lalu sisanya harus dia apakan, ngga mungkin dibuang kan?


"Kalo dibuang kan mubadzir, udah cape-cape dibeli masa dibuang?!"


Tapi kemudian cahaya berpijar keluar dari otak sengkleknya, sambil menyelam minum air----ia bisa belajar masak sambil sedekah, iye kan?! Great idea, emang udah paling pinter bininya Rayyan kalo bunuh orang secara perlahan.


Ia segera mengetik pesan pada Wiwit meminta resep masakan dan bagaimana caranya memasak.


Dari pagi srangenge sampai bedug lohor, Eyi anteng di dapur. Entah apa yang sedang dilakukannya bahkan para kecoa saja enggan untuk mengganggunya takut kena damprat.


Akhirnya ia menemukan mainan baru yang lebih seru layaknya anak tk 5 tahun selain main model-modelan dan ibu-ibuan dengan Rayyan. Wajah cantik itu berkeringat karena terlalu lama menghadapi suhu kompor yang panasnya melebihi hati sang mantan. Anggap saja sedang sauna, meskipun nanti wajahnya jadi bau bawang dan asap.


"Done!" ia memasukkan beberapa masakannya ke dalam kotak makan, untuk nantinya ia bawa ke kantor---ia bakal berbagi sedikit rejeki dengan satu regu rekan kerja Maliq, bawahan yang berada dalam naungan peleton yang di komandoi Rayyan.


"Mandi dulu deh biar ngga bau upik abu!" gumamnya.


Air meluruhkan seluruh kotoran yang menempel di badan Eyi. Ia sudah berkawan baik dengan selang yang ia anggap sebagai shower darurat. Bisa dibilang perlahan Eyi sudah menerima keadaan berada di markas papa smurf ini.


Tanpa harus berdandan sampai pensil alis pendek pun wanita ini memang sudah cantik dari zigot. Justru ia terlihat semakin cantik jika hanya memakai riasan tipis, seperti masih abege baru netes.


Dilihatnya pantulan diri didalam balutan dress lavender, rambutnya hanya ia gerai saja tanpa ada aksesoris tambahan, jika biasanya ia akan menemukan tanda merah di leher, maka sudah beberapa hari ini lehernya putih mulus tanpa noda membandel.


Tatapannya nyalang ke arah pantulan cermin, memegang kalung dan cincin yang dipakainya, "bang Rayyan kapan balik sih, tega banget ninggalin gue kaya anak ayam!"


Ia meloloskan nafas kasar, terbiasa sendiri seharusnya membuat Eirene tak banyak mengeluh. Beginilah jalan ninja yang harus ia nikmati sekarang, bukan untuk disesali tapi untuk disyukuri. Bersyukur ibu mertuanya sering menghubungi meskipun terkadang umi Salwa bawaannya suka marah-marah. Marah kalau Eyi nyerah masak, marah kalau Eyi lebih memilih makanan cepat saji. Dan tentunya marah kalau Eyi sampai nunda kehamilan---kehamilan? Ia melirik perut yang masih rata, baru juga nikah 2 minggu.


Eirene berdiri, diraihnya swetter rajut senada dengan dress selututnya begitu kontras dengan kulit putih Eirene. Ia harus pintar menjaga sikap dan diri di luar saat Rayyan tak ada.


Meski outfit bawah sendal jepit, tapi jangan salah--sendalnya merk Christian Dior, bisa senyum-senyum bangga jalanan aspal markormar diinjek tuh sendal!


Dengan paper bag berisi hasil eksperimennya memasak Eirene berjalan menuju kantor, dari kejauhan terlihat gedung kantor berdiri gagah.


"Tante Ulfa!" panggil Eyi mengenal seseorang yang melintas. Jangankan hanya Ulfa, bahkan semua yang ada disana menoleh ke arah datangnya bidadari surga-nya orang, termasuk ada Nindi, Diana, dan Marina.


"Bu Eirene," Ulfa yang sedang istirahat membalas sapaan dan menghampiri Eirene yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Dipanggil sama orang tenar itu kok ya rasanya kaya ada manis-manisnya gitu! Ulfa tersenyum merekah.


"Loh, bu! Bukannya bang Ray lagi tugas di luar?" alisnya berkerut diantara rambut bob nunggingnya. Sementara Eirene, jelas saja rambutnya panjang sepunggung dengan gaya curly di ujung berwarna sedikit kepirangan akibat hair toning. Kedua wanita ini bagaikan dua sisi mata uang koin yang berbeda, yang satu bak barbie, yang satu lagi serdadu meskipun usia keduanya terpaut setahun saja, jika Eyi 23 tahun maka Ulfa 24 tahun.


"Iya, udah seminggu Eyi ditinggal! Ngenes kan ya!" angguk Eyi mengadu.


Ulfa tersenyum, "resiko istri prajurit bu."


Nindia tersenyum kecut setiap kali melihat Eirene, maklum lah artis, tak akan setangguh dirinya, masih untung ngga sampe bunuh diri! Coba dulu Rayyan lebih memilihnya! Sudah dapat dipastikan ia akan jadi istri yang serba bisa dan tak manja.


"Terus ibu kesini mau apa?" tanya Ulfa.


"Mau ketemu om Maliq!"


"Oh, bang Maliq. Kayanya lagi di lapangan deh bu sama regunya!" arah pandangan Eirene berbalik sesuai telunjuk Ulfa.


"Oh, iya. Makasih!" Eirene berlari berjalan menuju lapang dimana ada satu regu tengah berlatih fisik sambil berjemur di siang bolong begini. Ia mengedarkan pandangannya, tak menemukan sang ajudan.


"Maaf om-om sekalian, ada yang liat om Maliq?" tanya Eirene. Sontak para junior itu menoleh, "ehhh ada bu kapten, bang Maliq sedang---"


"Bu!" Suara itu mengagetkan Eirene dari arah belakangnya.


"Astagfirullah!"


Eyi memukul lengan Maliq, "ngagetin aja! Om Maliq abis dari mana?"


"Ijin lapor bu, saya habis dari serambi depan!"


"Ngapain? Bukannya lagi fisik?" tanya Eirene.


"Maaf bu, habis---bayar utang." Jujurnya meringis.


"Om Maliq punya utang? Ck--ck! Bayar om jangan malu-maluin!" balasnya, membuat Maliq mencelos, utangnya juga utang situ!


"Ijin bertanya bu, ada apa ibu kesini?" tanya Maliq.


Eirene tersenyum lebar, jangan salahkan Maliq yang mengerutkan dahi saat Eirene tersenyum, karena faktanya jika wanita ini tersenyum lebar pasti akan ada kehebohan yang terjadi selanjutnya.


"Kebetulan, lagi pada kumpul kan! Udah masuk jam makan siang juga! Nih Eyi bawain lauk buat makan!" Eyi melepas sandalnya lalu menjadikannya sebagai alas duduk.


"Tadaaaa!" serunya menyerahkan beberapa kotak makan di atas rumput. Para junior itu melongokkan kepalanya ke arah kotak makan siang yang dibawa Eyi.


"Wah, baiknya ibu! Sampe bawa makan siang---jarang-jarang nih istri atasan baik gini!" ucap salah satunya. Sementara Maliq sendiri sudah menelan salivanya berat.


Maliq sudah berdehem, "makasih bu, nanti saya dan rekan-rekan makan setelah selesai kegiatan." Jawabnya diplomatis.

__ADS_1


Eirene merengut, "kok nanti?! Sekarang dong, cobain! Eyi kan pengen tau gimana hasil masak Eyi yang pertama!"


Jakun Maliq sampai naik turun, begitu berat cobaan menjadi ajudan kapten. Mungkin ia akan menganggap ini ibarat dikawah candradimuka, atau proses penggemblengan diri untuk menjadi prajurit yang tangguh.


"Buru!" sentak Eirene tegas, tak suami tak istri sama-sama galak pikirnya.


"Iya bu--iya!" haruskah ia membuat surat warisan terlebih dahulu?


Eirene menyerahkan sendok ke arah Maliq, sementara Maliq memandang rekan sesama bintaranya dengan tatapan nanar.


Disendoknya tumisan hasil percobaan memasak istri atasannya.


Hap!


Ia sampai memejamkan mata ingin segera menelan dan men-skip rasa di lidahnya. Tapi sejurus kemudian, lidahnya dapat menyesuaikan rasa, "not bad---" ia sendiri terheran, biasanya kan kalo adegan di tv-tv hasil masakan orang yang baru pertama kali masak itu selalu mirip racun tikus. Maliq kemudian beralih pada potongan ayam tepung, ia memotongnya, ya---meskipun tampilannya mirip-mirip ayam kena bom bunuh diri tapi daging ayamnya matang, jadi aman untuk dimakan. Hanya saja ia tak mengerti, fungsinya bunga dari tanaman sawi yang nempel cantik di atas ayam apa? Apa biar terlihat cantik?


"Gimana om?" tanya Eirene penuh harap, ia bahkan sudah menggigiti kuku jari tangannya.


"Ibu yakin, ini pertama kali masak?" tanya Maliq seraya mengunyah.


Eirene mengangguk, "latihannya sih tiap hari, itupun cuma telor sama daging salmon---tapi Eyi tau yang mana yang mateng yang mana yang engga---Eyi juga ngga bo do-bo do amat. Udah nyicip rasanya sebelum dikasih ke orang," jawabnya. Taukah yang Eirene lakukan saat ini, ia hanya ingin membuktikan pada orang-orang yang selalu meremehkan dirinya, status menjadi seorang model ternama nan manja selalu membuat orang-orang berpikir jika ia hanya menjadi parasit bagi Rayyan, tak bisa melakukan apa-apa, Eirene terlalu sombong untuk dianggap remeh macam itu. Ia bukan tak tau pandangan orang-orang sejak awal melihatnya, artis? Cih! Pasti tak bisa apa-apa, hanya bisa mewek, hanya bisa serba nyuruh dan instan, manja, pokoknya bukan istri idaman! Sudah terlalu lama orang melihatnya seperti itu.


Eirene memanglah tak bisa apa-apa untuk saat ini, hanya satu saja kelebihannya, ia manusia berakal dan mau belajar, bukan manusia primitif yang tak mengerti bahasa manusia untuk sekedar memahami ajaran Wiwit. Maliq dapat melihat kesungguhan seorang Eirene. Meskipun tak tau behind the scene-nya seperti apa, dapur Rayyan sudah mirip rumah kena obrak-abrik tsunami.


Akhirnya satu regu itu dapat mencicipi makan siang sama model ternama yang merupakan istri dari kaptennya di lapangan mirip acara piknik.


"Jadi enak ya om? Ngga gagal kan?!" tanya Eyi.


"Enak bu!" kejujuran rupanya barang mahal disini, ya walaupun ngga bohong-bohong amat-- setidaknya makanan ini masih aman di perut ngga bikin asam lambung naik, anggap saja mereka sedang diberi makan di rumah sakit angkatan laut saat sedang mengidap darah tinggi dan diabetes.


Eirene tersenyum seraya mengusap lembut kedua punggung tangan dan kulit kakinya yang masih terasa perih akibat melepuh terkena minyak panas, ada harga yang harus ia bayar demi membuktikan itu semua, mungkin ini bakat terpendamnya selama ini yang tak pernah ia sadari.


Next time ia akan membuka portal buku resep yang lebih banyak dan beragam lagi. Siapa tau kan dia adalah the next chef Renata!


"Ekhem! Lagi piknik?!" Eirene menoleh bersama yang lain.


Alisnya mengernyit karena sorot matahari, "abang?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2