
Eirene ikut tertawa saat Honey mendorong kepalanya pelan, "pesenin minum dong, aus!" pintanya, tapi sejak tadi terlihat jelas jika Eirene memang sengaja menghindari bersitatap dengan opa Gau, dan Rayyan juga opa Gau tau akan hal ini.
Eirene terlihat begitu sibuk meminta buku menu pada pelayan, "ada milkshake atau coffee float engga disini, honey?"
"Mana gue tau! Emang gue pelayan," cebik honey.
Rayyan memegang dan menggenggam tangan Eyi, yang ternyata sudah mendingin sejak tadi, berusaha kuat dan tegar memanglah melelahkan.
"Apa?" tanya Eyi sok polos kaya bubur ayam.
"Kalo ada orangtua disapa, abang tau kamu sudah tau sejak tadi---" ujar Rayyan.
Dibalik buku menu itu wajah Eirene mulai sendu nan keruh, ia menelan salivanya sulit dan helaan nafas panjang. Rasanya sulit saja bertemu dengan seseorang yang sudah lama ia harapkan, seseorang yang ia anggap telah tiada tapi kini ada di depannya, seseorang yang karenanyalah papa dan mama terbang ke Mana ado. Hanya untuk mendapatkan maaf darinya.
Eyi menurunkan buku menu dan menatap pria tua yang menatapnya sejak tadi, "maafin opa," ucapnya begitu lirih, teelahir dan di didik sebagai seorang prajurit, membuatnya tak pandai berkata-kata. Menurutnya semua penyesalan, rasa sedih dan bersalah juga rindu hanya bisa ia wakili dengan kata maaf.
"Maafin opa, Eyi..."
Rayyan merasakan kepalan yang mengerat di tangan Eirene.
"Untuk apa?" kedua laki-laki yang berada diantara keduanya itu sampai terhenyak mendengar pertanyaan Eyi.
"Untuk membiarkan saya seorang diri menghadapi hidup? Untuk semua luka yang sudah saya rasakan selama hidup dan harus saya hadapi sendirian, atau untuk tak mencari saya selama ini?" Eyi bahkan sampai berdiri menunjukkan keangkuhan, benteng kesombongan yang ia anggap sebagai bentuk sikap tangguh tak terkalahkan.
"Dek!" tegur Rayyan mengeratkan genggaman hangat di tangan Eyi.
Opa Gau menahan Rayyan dengan menganggukkan kepalanya jika ia baik-baik saja. Jika Rayyan akan berpikir istrinya ini akan langsung menangis terharu sampai sesenggukan dan bahagia karena telah bertemu dengan sang kakek mirip cerita-cerita di sinetron, maka tidak dengan opa Gau yang sudah tau sifat keras cucu-nya yang menjiplak dirinya dan sang putra.
Eyi menyeringai dan duduk, "mari kita mendongeng sebentar untuk pengantar tidur, 200X saya kehilangan orangtua karena kecelakaan pesawat---dan hanya kaki saya yang membantu saya bangun untuk kembali tegak. Beberapa bulan kemudian, disaat ambisi dan impian saya raih, pada siapa saya harus persembahkan selain pada diri sendiri---jika pantasnya semua orang akan selalu ada keluarga yang menjadi support system, maka saya?!" Eirene seolah sedang menumpahkan seluruh beban di hidupnya yang sudah ia pikul dan tahan sendiri selama ini, ia sudah terlalu lama memendam, ia sudah terlalu lelah!
"Saat menghadapi kerasnya karantina, kembali hanya hidup saya yang menjadi motivasi, karena tak ada yang bisa saya andalkan selain diri sendiri dan saya jadikan tempat untuk berkeluh kesah. Saat keberhasilan menyambangi bersama seluruh godaan dan ujian, kembali hanya diri sendiri sebagai pengingat karena saya tak memiliki tempat untuk pulang, jika saya tak memiliki siapapun yang akan menangisi saya kalau saya jatuh dan terpuruk. Kesendirian yang mendidik saya untuk menjadi pribadi tangguh---mengajarkan saya untuk tidak pernah memperlihatkan kelemahan pada orang lain, membentuk karakter saya yang seperti ini. Saat papa bercerita kalau saya memiliki opa bernama Rimba Gauhari seorang prajurit marinir dan mengatakannya telah tiada karena perang, maka bagi saya opa memang telah tiada--- Tapi kenyataan itu justru lebih pahit lagi saat mengetahui opa masih hidup namun tidak mencoba mencari saya selama ini, apa sebesar itu dosa papa dan saya? Apa sehina itu pekerjaan yang saya jalani di mata opa, sampai opa tak mau menemui saya dan mengakui saya sebagai cucu?" intonasi bicara Eyi bahkan meninggi dan berapi-api.
Opa Gau yang sejak tadi bertopang dagu di atas kepalan tangannya mengangguk setuju, ialah pendosa-nya disini.
"Dek, mungkin ada alasan tersendiri opa melakukan ini---dengar dulu penjelasan beliau," Rayyan ikut berdiri dan menurunkan kedua pundak Eyi.
"Eyi tau bang, opa takut menganggap kematian papa sama mama Eyi limpahkan karenanya--opa tuh ngga suka kerjaan mama yang seorang model, opa tuh maunya papa jadi tentara, egois kan?!" jawab Eyi.
"Baby, selama ini opa selalu ada di sekitar kita. Dia selalu jagain lo dan ngawasin lo--" tambah Honey memegang pula tangan Eyi.
Eyi menatap mata opa yang mirip sekali dengan papa Michael, seketika bayangan papa ada pada pria tua ini. Tetes-tetes air mata yang sejak tadi ia tahan dan tak berniat turun, rupanya kini luluh oleh mata itu. Eyi menunduk, tanpa mau kembali memandang bayangan sang ayah.
..."Lullaby, and goodnight....
__ADS_1
...You are your mother's delight....
...Shining angels beside....
...My darling abide....
...Soft and warm is your bed....
...Close your eyes and rest your head....
...Soft and warm is your bed....
...Close your eyes and reat your head."...
--Lullaby, and good night--
Diantara suara opa yang pas-pas'an terkesan dipaksakan di tengah cafe karena intonasi yang nge-bass dan nada suara datar, ada beberapa tetes air mata yang mengalir melewati garis wajah cantik Eirene. Benteng yang menunjukkan betapa tangguhnya Eyi ambruk seketika hanya dengan sebuah lagu pengantar tidur. Sudah sekitar---14 tahun lagu itu tak pernah ia dengar lagi sebagai pengantarnya ke alam mimpi indah, sejak saat itu ia terbiasa tidur dengan semua mimpi buruk tentang kerasnya kehidupan.
Bahunya bergetar diantara angkuhnya seorang Eirene.
"Saya memang bukan opa yang baik, membiarkan cucu perempuan saya menghadapi kejamnya dunia sendiri-- saya terlalu egois dengan menyamakan cucu perempuan saya dengan para prajurit,"
Rayyan membawa Eyi ke dalam pelukannya meski wanita itu awalnya menolak, "Eyi ngga nangis bang!" ucapnya lirih sesenggukan.
"Jadilah pribadi yang pemaaf, ikhlaskan semuanya, biar nanti kehidupan kita kedepannya lebih bahagia---" bisik Rayyan, Eyi menggeleng.
"Demi papa sama mama, demi Redi," tambahnya membujuk Eyi. Ia memaklumi, sudah terlalu lama rasa kecewa itu bersarang dan berubah jadi dendam.
"Demi abang deh demi abang---" Eyi malah mencubitnya keras.
"Awww---oke dek, abang diem." Ia mengatupkan mulutnya takut jika capitan kepiting itu Eyi sarangkan lagi di pinggangnya.
"Opa memaklumi kalau kamu masih belum bisa terima, opa mengakui semua kesalahan opa selama ini..."
"Hey dengerin abang..ngga mau kena kutukan opa gara-gara durhaka, kan? Tau kisah malin kundang ngga?" janjinya memang diam, tapi nyatanya mulut Rayyan tak bisa diam saja melihat Eirene tanpa respon apapun pada opa Gau, dan lebih memilih menangis.
Eirene mengurai pelukannya setelah jaket Rayyan bagian bahu basah olehnya, "kamu bisa diem ngga? Berisik," lirih Eyi.
"Eyi bukan anak kecil abang. Ngga usah ngarang cerita rakyat, ngga ada ceritanya Malin kundang dikutuk kakeknya sendiri jadi batu!" jawab Eyi. Honey menyemburkan minumnya karena kelakuan sepasang suami istri ini, termasuk opa Gau yang hanya mengangkat kedua alisnya, apa-apaan mereka berdua ini.
"Ada, tapi bukan Malin kundang. Cuma ceritanya sama! Kalo ngga salah Timun mas," debat Rayyan. Wajah Eyi semakin datar lebih mirip disebut mode Al Fath dan abi Zaky, "timun mas dikejar buto ijo!" balasnya.
"Oh iya kah?" Rayyan malah balik bertanya.
__ADS_1
"Yang ada itu kutukan mantan, kamu ngga usah ngarang deh!" jawab Eyi.
"Pokoknya ada dek," ujar Rayyan terkesan memaksakan.
"Iya, nanti juga setelah ini bakalan ada kutukan istri buat suami yang ngeyel terus playboy!" balas Eyi berapi-api.
"Abang ngga ngeyel, abang juga bukan playboy---cuma mantan," jawabnya.
"Terus apa namanya kalo bukan playboy, tapi matanya masih jelalatan liatin junior sama om Pram sama om Langit?! Jangan pikir Eyi ngga tau!" sungutnya berdecih sinis, mendadak wajah cantik Eirene berubah seperti Reog Ponorogo.
"Kapan? Salah liat kali!" apa Eirene pernah melihatnya memperhatikan para letting angkatan baru terutama junior perempuan yang baru-baru ini serah terima brevet? Rayyan baru menyadari jika Eyi adalah tipe orang yang selalu memendam masalah, menganggap masalah kecil tak penting tapi akhirnya membludak juga pada waktunya.
"Awas aja kalo Eyi pergi ke Jember kamu jelalatan! Eyi acak-acak markormar, tapi sebelumnya Eyi acak-acak semua muka junior kamu! Eyi minta dipulangin ke Paris !!!!" ancamnya. Kedua manusia ini malah jadi ribut di depan opa dan honey, sebenarnya mereka menganggap honey dan opa Gau apa? Umbul-umbul kawinan?
Prokk! Prokk! Honey menepuk tangannya beberapa kali, bukan mau sulap atau sihir tapi untuk menyadarkan pasangan sengklek ini kalau mereka sedang berada si tempat umum.
"Woyyy! Manusia! Ini jadinya gimana, masalah rumah tangga ntar aja di dapur sambil lempar piring! Ini opa jangan di anggurin kaya kismis nyempil di roti!" ujar Honey.
Keduanya menoleh, bersamaan Eyi yang menyeka jejak-jejak air matanya.
Netra indah itu menatap mata kelam opa Gau dalam-dalam begitu lama, cicak saja sampai beres lahiran saking lamanya.
"Eyi rindu opa," tapi di tengah moment haru itu, rasa yang tak dapat ia jelaskan pun sudah tak tertahankan, "aduhhh mulesss!" gumamnya.
"Udah kelamaan ditahan dan dipendem dari tadi!" Eyi berdiri dari kursi. Akibat masuk angin sepertinya ia harus bolak-balik kamar mandi.
"Apanya dek?" tanya Rayyan.
"Kemana baby?" tanya honey, alis ketiga pria ini berkerut.
"Sorry---sorry, rasa ini terlalu lama Eyi pendem dari tadi,"
"Rasa apa?" tanya opa penasaran.
"Mules!" Eyi berlari mencari toilet.
.
.
.
.
__ADS_1
.