
Bukan hanya Eyi yang langsung berdiri, ke 25 orang termasuk Maliq langsung menghormat kedatangan kapten dari detasemen Raden Joko sekaligus atasannya itu. Seminggu tak bertemu rasanya kaya ditinggal 7 dekade tanpa kepastian bagi Eirene.
"Siang ndan!"
"Siang," jawab Rayyan singkat.
"Assalamualaikum dek cantek," bisik Rayyan di depan wajah Eyi sepaket dengan senyuman lebarnya, ia begitu rindu dengan wajah cantik itu.
Bukannya senang, Eyi malah mengerutkan alisnya, "kok makin item?!"
Coba hitung, ada berapa istri prajurit di dunia yang seperti Eyi? Bukannya bertanya kabar atau kalimat rindu, ia malah bertanya yang sudah pasti tidak membutuhkan jawaban, haruskah Rayyan bilang karena berjemur?
"Ini namanya eksotis, bukan item dek!" jawabnya.
Para juniornya melipat bibir ke dalam, ingin tertawa tapi masih sayang nyawa. Eirene bahkan tak sungkan meneliti setiap inci wajah Rayyan berikut keseluruhan tubuhnya, belum ada tatapan aneh darinya, terang saja luka-luka di tubuh Rayyan seluruhnya terbalut baju loreng. Rayyan sudah mengganti seragamnya.
Sadar akan reaksi para junior Rayyan berdecak, "kalau ada garis bibir yang melengkung saya harap lutut kalian kuat menanggung beban!"
"Siap salah ndan!!" teriak mereka.
Seketika acara piknik yang tentram dan damai menjadi tegang karena Rayyan, "ck! Jadi pimpinan jangan galak-galak kenapa sih! Nanti anak buah abang pada ngga betah!" Eirene memarahi Rayyan.
"Ya itu---mereka malah enak-enakan makan, udah gitu mau ngetawain abang?!"
"Mereka jadi lagi tim cicipnya Eyi bang! Eyi lagi belajar masak----" lapornya dengan wajah senang.
Rayyan melongokkan kepalanya melihat ke arah para junior yang masih dengan menu makan siangnya dari sang istri. Nasi yang belum dikunyah pun langsung ditelan bulat-bulat akibat tatapan Rayyan, seolah mengatakan---berani-beraninya, saya aja belum cicip!
"Wah, pinter istri abang! Baru ditinggal seminggu udah jago bikin ayam bakar!" ucapnya membuat Maliq benar-benar tersedak sekarang, it's bad word ndan! Dari tadi saja ia tak berani berucap atau sekedar bertanya, lantas mulut atasannya itu begitu jujur bin nyablak. Padahal dari tadi si annabelle udah di momong sampai begitu antengnya.
Sontak saja Eirene alisnya menukik setajam tanjakan emen, matanya menyipit bak elang ingin berburu mangsa, "kok ayam bakar!" ia menghentakkan kakinya keras, membuat tanah di markormar seketika amblas. Marahnya perempuan memang maha dahsyat.
"Ini ayam tepung!!!"
Rayyan mengerjap, "oh, salah ya?!"
"Om Maliq! Tagih tuh uang sayur sama orang ngga ada akhlak ini! Eyi mau balik lah! Udah ngga pulang seminggu juga, datang-datang masih ngeselin! Sana balik lagi aja ke laut!" omelnya menabrak dada Rayyan dan berlalu dengan penuh kemarahan.
"Dek!" Rayyan berbalik badan menahan Eyi.
"Iya maaf, abang salah! Abang lapar pingin makan, buat abang mana, dek?"
"Ngga ada!" sengaknya begitu sengit.
"Jangan marah dong dek, masa abang baru pulang marah-marah, udah nahan kangen seminggu ini dek?" rayunya, keduanya bahkan tak malu bertindak seperti anak remaja di depan para juniornya.
"Liq, nanti saya balik kesini! Atau kamu ke rumah saya nanti!" tukas Rayyan cepat seraya menyusul Eirene.
"Siap ndan!"
Pfftt! Beberapa junior yang sejak tadi menahan tawa kini tak kuasa meledakkan tawanya, Maliq bahkan menggelengkan kepalanya, ayam bakar.
"Seru ya bang, jadi kapten Rayyan!" seloroh salah satu prajurit.
"Dek--cantikkk! Abang minta maaf, mata abang kebanyakan liatin ikan sarden jadi bawaannya siwer! Kebanyakan terombang-ambing di laut jadinya otak abang oleng!" rayunya menyamai langkah Eyi, oh ayolah! Masa pulang-pulang malah dicuekin, bagaimana nasib si keris samudra yang sudah 7 hari puasa, bisa-bisa karatan.
Pram dan Langit baru saja keluar kantor selesai melapor kepulangan, tapi mereka sudah disuguhi oleh drama termewek-mewek di depan mata.
"Nah tuh kenapa tuh!" gumam keduanya.
"Tinggalin aja bu! Cari yang baru," teriak Langit, Rayyan dan Eirene menoleh.
__ADS_1
"Ck! Diem, ini masalah rumah tangga---lu berdua masih kecil!" sahut Rayyan.
Rayyan menahan tangan Eirene yang merengut manyun, "tau ngga Eyi tuh sampe berapa jam cuma buat bikin kaya gitu! Biar nanti kalo kamu pulang Eyi ngga cuma masak telor ceplok doang!"
"Iya abang minta maaf, dimaafin ngga?"
Matanya menyipit ragu tapi tak urung ia luluh, "gendong!" pintanya bersungut. Tentu saja dengan senang hati lelaki yang sudah berganti julukan dari playboy jadi mesum ini setuju.
Ia menggendong Eyi meski setengah meringis, bahkan Pram dan Langit ikut merasakan ngilunya saat Eirene nemplok cantik di punggung Rayyan.
"Kayanya si Ray belum bilang Eyi," ujar Pram diangguki Langit.
"Abang! Gue pengen digendong juga bang!" teriak keduanya mengekor, berjalan bersama sampai saatnya berpisah di blok berbeda. Eirene tertawa, "idih, apaan itu berdua?"
"Buka kuncinya dek," pinta Rayyan, Eyi beringsut turun dari punggung Rayyan lalu membuka pintu rumah.
"Abang, Eyi punya utang sama om Maliq--400 ribu!" ucapnya.
"Utang apa? Kan abang udah isi atm sebelum pergi. Bahan makanan kering juga udah dibeli kan?"
"Iya," ia ikut masuk.
Rayyan meringis menggerakkan bahunya, kejadian lalu melukai lengan dan bagian punggungnya, sepertinya luka bakar masih belum mengering. Begitupun jatuhnya ia, menampar permukaan laut membuat anggota badannya seolah remuk redam.
Eirene langsung melengos ke dapur. Fara, umi, dan nyak Fatimah bilang salah satu kegiatan wajib yang tak boleh terlupakan adalah menyiapkan minum untuk suami. Yup! Ia masuk ke dalam grup wa klan mama-mama tangguh.
Meski pelan namun pasti Eyi menuangkan air panas ke dalam kopi bubuk di dalam gelas.
"Kamu ngapain?" tanya Rayyan.
"Bikin minum lah buat kamu!" jawabnya, ada senyum tertarik di bibir Rayyan.
Rayyan membuka seragam lorengnya di kamar berniat mengganti pakaian, saat itu juga langkah Eirene terhenti. "Kamu kenapa?"
Dapat Eirene lihat, di sepanjang badan pria itu melintang perban begitupun lengan kanan Rayyan. Mata Rayyan memejam sebentar lalu ia berbalik.
__ADS_1
"Cuma luka dikit waktu tugas," jawabnya singkat.
Eirene mendekat dan menaruh gelas kopi di meja rias.
"Coba Eyi liat?" ujarnya meminta. Netra indah itu memperlihatkan kekhawatiran yang teramat, bisa Rayyan rasakan.
"Kenapa bisa gini, masa luka kecil sampe di gulung perban kaya mumi gini?!" tangannya menyentuh dan mengusap area perban di belakang badan Rayyan.
"Biar ngga kena infeksi, tapi memang harus dibuka kalo udah sampe rumah. Biar luka bakarnya cepet kering, ngga nempel ke perban."
"Sini Eyi bantu," ia menarik Rayyan untuk duduk di tepian ranjang. Dibukanya ujung dari perban, ia buka sedikit demi sedikit balutan melingkar di badan suaminya. Semakin ia menipis semakin cepat degupan jantung Eyi.
Tatapannya menajam saat mulai terlihat kemerahan di balik selembar kain perban tipis.
"Astagfirullah!" Eyi menutup mulut yang sudah menganga, Rayyan membalikkan badan jadi menghadap Eyi.
"Itu kenapa bisa gitu?" matanya mulai berkaca-kaca.
"Eh, jangan nangis---abang ngga apa-apa, i'm fine--it's oke baby!" ia menangkup wajah Eirene.
"Kaya gini kamu bilang ngga apa-apa? Eyi aja kecipratan minyak yang cuma segini nangis sampe 10 menit!" sewotnya menunjukkan punggung tangan dan kulit kakinya.
"Ya Allah, ini berani-beraninya minyak panas cium istri abang waktu abang ngga ada?!" kelakarnya memegang kulit mulus Eyi. Rayyan tertawa renyah, rajin sekali istrinya ini, menangis saja sampai ia hitung dengan stopwatch. Eyi adalah pengobat dikala ia letih dan butuh dukungan meskipun kerjaannya marah-marah dan sering bikin kesel.
"Ini kamu hampir sebadan gini, berapa lama kamu nangis disana?!" tanya Eyi.
Rayyan tersenyum usil, "3 hari dek, abang sampe ngga bisa tidur 3 hari--- abang nangis sampe guling-guling, neptunus aja sampe bangun denger abang mewek," ia menggelengkan kepalanya lebay, memelas minta dikasihani Eirene. Untung saja ini di rumah, jika di luar mungkin ia akan ditertawakan terlebih oleh Pram dan Langit.
"Abang butuh obat dek," lanjutnya merayu tanpa henti, seintens lambaian *nyiur* di pantai.
.
.
.
.
Note :
__ADS_1
\* Nyiur : tanaman kelapa.