
Eirene memutar bola matanya, "kan benerrrr!" ibu-ibu udah ngumpul aja kaya kawanan lebah, desas-desus sambil senyam-senyum anjay kaya orang abis gajihan melihat Eirene dan Rayyan.
"Apanya yang bener?" tanya Rayyan so be go.
"Tuh!" tunjuk Eyi dnegan memanyunkan mulutnya 5 cm. "Pasti bu Nani ngomongin yang tadi sama ibu Jala lainnya," dumel Eyi.
"Aamiin," jawab Rayyan, tak bisa Eyi untuk tak berdecih.
Eyi dan Rayyan menoleh saat nama keduanya dipanggil ibu ketua Jala.
"Siap bu!" Rayyan mengangguk sopan.
"Bisa kita bicara sebentar? Kebetulan om Rayyan ada juga disini," tanya istri Laksamana. Keduanya saling lirik mencari jawaban dengan wajah keheranan, "siap, bisa bu!" jawabnya tegas, terpaksa Rayyan turun dari motor yang ia parkirkan di dekat bangunan tempat pertemuan para ibu Jala.
"Di kantor saja ya om Rayyan, bareng bapak!" ujarnya berjalan duluan diekori kedua ajudannya.
"Siap bu!" Rayyan menarik tangan Eyi untuk jalan bersamanya, "bapak siapa?" tanya Eyi berbisik pelan, nyaris tak terdengar.
"Bapak---bapak," jawabnya tak kalah berbisik.
"Heh!" membuat wanita itu sontak memukul lengan suaminya ini sambil manyun dan Rayyan tertawa, seketika ibu ketua Jala dan kedua ajudannya membalikkan badan.
"Siap salah bu! Maaf," ujar Rayyan, bisa-bisanya lelaki ini masih menggoda Eirene di depan atasan, ngga ngakhlak! Ibu ketua sampai menggelengkan kepalanya tersenyum simpul melihat kelakuan pasangan suami istri ini, yang harus ia sebut apa mereka? Absurd kah, kurang se ons kah. Keduanya bahkan lebih tepat disebut sepasang teman atau sahabat sepertinya ketimbang suami istri.
"Lan, tolong bilang sama wakil ketua ibu Jala untuk ambil alih dahulu pertemuan hari ini, saya ada tamu." Ujarnya selembut dow_ny namun penuh ketegasan.
"Siap bu!" salah satu ajudannya menghormat lalu undur diri.
Mereka kini berjalan menuju kantor kesatuan, sesekali kedatangan mereka pun diamati oleh tentara lainnya, mirip-mirip ngintai musuh, termasuk ada Diana disana yang tersenyum pada Eyi saat pandangan mereka bertemu.
Tok--tok--tok!
"Masuk!"
"Pak--"
Rayyan langsung membuat gerakan hormat pada Laksamana, "silahkan duduk kapten, dan ibu."
"Siap, ndan!" sikap tegap nan gagah Rayyan, berbeda dengan istrinya yang main nyelonong 11 12 sama ayam kampung, udah gitu b3rak dimana-mana.
Eirene sempat terbingung melihat beberapa orang di dalam sini, rasanya ia tak melakukan kesalahan apapun akhir-akhir ini selain nyusahin Maliq.
Sekitar 3 orang berpakaian bukan seragam kesatuan sedang duduk di sofa tamu, mata Eyi menyipit meneliti, merasa tak asing lagi dengan salah satunya, apalagi saat ia melirik kaos yang dikenakan oleh ketiganya, ada tulisan yang begitu mendunia disana.
...JFC...
...Jember Fashion Carnival...
"Mas Dudi? Iya kan?!" tembak Eirene menunjuk. Pria paruh baya itu tertawa hingga kerutan di ekor matanya membentuk beberapa lipatan, untung saja lipatannya bukan lipatan origami.
"Ha-ha-ha! Lovely, apa kabar?!" Eirene menyambutnya hangat dan mendekat.
"Mas Dudi, kirain siapa! Hay mas, lovely baik---apa kabar sekarang?" Rayyan yang tak tau menau dan tak mengenali pria itu hanya bisa menyimak.
"Baik, alhamdulillah!" Eirene membalas jabatan tangan pria dengan kaca mata itu.
"Silahkan duduk," pinta laksamana muda, membuat reuni itu terhenti sejenak.
"Maaf laksamana," ujarnya tak enak.
"Jadi?"
"Dengan penuh rasa hormat, kami selaku pelaksana JFC mengundang kesatuan angkatan marinir untuk menjadi special appearance dan tamu kehormatan di pagelaran JFC tahun ini." Ujar Dudi selaku president JFC.
"Dan kebetulan mas Dudi ini mengusulkan ibu Rayyan sebagai perwakilan, maka saya setuju saja. Selain dari memang keahliannya, pengalaman bu Rayyan sebagai model tak perlu diragukan lagi. Bawalah nama kesatuan berkibar di depan mata dunia lewat karya anak negri," ucap ibu ketua Jala. Ada rasa rindu yang menggebu di diri Eirene dengan dunia yang sudah membesarkan namanya itu, terbiasa melenggok di atas catwalk setiap harinya, Eyi merasa agak terkekang untuk saat ini. Ia hanya manusia biasa yang belum terbiasa dengan kehidupan seorang istri prajurit, banteran keluar kalau bukan karena diajak Rayyan paling-paling acara kesatuan sama kondangan khitanan.
Eirene melirik Rayyan seolah meminta persetujuan darinya, pasalnya acara begini butuh latihan yang matang dan GR, belum lagi proses penyesuaian baju dan pembuatan video, itu artinya Eirene akan berada di Timur daerah Jawa itu berhari-hari.
"Abang ijinkan," ada senyuman lebar dari Eyi mendengar jawaban Rayyan. Meski sedikit tak rela, ia tau Eirene pasti menginginkan itu, ia tak bisa egois dengan menutup seluruh pintu membuat Eirene merasa sesak hidup dengannya.
__ADS_1
"Siap bu," jawab Eyi. Dudi dan kedua orang wakilnya tersenyum lebar.
"Kapan acaranya?" tanya Eyi.
"Awal Agustus, dan mungkin nanti kita kirim orang untuk jemput lovely--"
"Ijin menyela ndan," pinta Rayyan membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Iya, silahkan."
"Maaf---biar nanti kalau saya sedang tidak bertugas saya saja yang antar istri," imbuh Rayyan.
"Silahkan,"
"Untuk undangan kesatuan, akan kami kirimkan lewat pos dan email juga!"
Eirene keluar dari kantor bersama Rayyan, "berarti sekarang abang yang kamu tinggal, dek?" ia memasukkan tangan ke saku celana setengah berpikir, udah kaya bang Bokir ditinggal bini.
Eirene menaikkan alisnya, "iya."
"Kok rasanya ada rasa ngga rela ya?" Eirene tertawa renyah.
"Itu juga yang Eyi rasain kemarin!" wanita itu melingkarkan lengannya di lengan Rayyan.
"Eyi ngga akan lama, janji langsung pulang."
"Siapa?" tanya Eyi.
"Mau sekarang? Kayanya orangnya sudah nunggu, biar nanti Redi disuruh langsung ke tempat aja--"
Eirene mengangguk.
"Sebentar, abang pinjem helm dulu sama rekan, sekaligus ambil jaket di loker!" Rayyan meninggalkan Eyi di dekat lobby kantor, wanita itu mengedarkan seluruh pandangannya dimana lambang kesatuan begitu besar terpampang bersama beberapa bendera setiap resimennya, sekarang--inilah rumahnya tempat ia kembali, bukan apartement mewah atau penthouse.
Rayyan kembali dengan jaket kesatuan cadangannya lalu memasangkan di badan Eirene, "nanti makin masuk angin, istri abang jangan sampai sakit biar bisa produksi massal," senyumnya manis lalu tertawa hingga jakunnya naik turun, hal itu langsung dihadiahi pelototan dari Eirene. Adegan sweet ini tak luput dari sorot mata rekan kerja, yang terkadang menjadi bahan ghibahan teman sekantor, dan tak jarang sampai pula ke telinga para mantan *si buaya*. Tak lupa helm milik entah siapa namanya ia pinjam juga dengan sedikit paksaan.
Keduanya meluncur menuju cafe yang tak jauh dari markormar, Rayyan sengaja membuat janji dengan opah Gau dan Redi di luar markas agar privasi mereka terjaga.
Langkah Rayyan membawa Eirene masuk ke dalam cafe, lelaki itu mengedarkan mata mencari dimana orang-orang yang dikenalnya.
Sebuah tangan melambai-lambai dari kejauhan sambil berseru, bukan sedang menawarkan diri pada lelaki hidung totol-totol apalagi angkat tangan di depan kamera saat uji nyali, melainkan memberi isyarat pada Rayyan dan Eyi, rupanya honey sudah berada disini duluan bersama seorang lelaki tua. Rayyan menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Yuk! Itu Redi udah ada!" tunjuk Rayyan ke meja sedikit menempel dengan dinding bergaya vintage. Suasana cafe tak terlalu ramai, tapi tak sepi juga. Mungkin orang-orang sudah selesai dengan jam makan siangnya.
"Honeyyyyy!" begitu senangnya Eyi dapat melihat kembali sang belahan pan tat. Padahal dulu keduanya tak terpisahkan bak pan tat kiri dan kanan.
"Babyyyy!" teriak honey ikut histeris, ia bahkan sudah hampir menangis melihat matanya yang bercermin-cermin.
Langkah Eyi melambat melihat sesosok lain yang duduk bersama honey, siapa?
"Baby! Kangen banget gue sama bayi gedenya gue! Bisa apa nak sekarang, udah bisa masak? Bikin bayi?" tanya nya tertawa.
"Cih, si alan! Lo 11 13 sama abang!"
"Cantik banget lovely-nya gue. Pake baju pramugari sepaket jaket abang kacang ijo!"
"Baju kesatuan istri prajurit oon!" ralatnya sarkas.
Eyi mengalihkan pandangannya dan mulai merasa tak nyaman, "sutthh! Honey, itu siapa? Sejak kapan lo seneng *daun berguguran*?!" tanya Eyi, karena sejak tadi pria tua itu melihatnya begitu intens dengan tatapan kaya orang abis maling, *muka-muka* *bersalah*! sontak saja Honey meledakkan tawanya, *daun tua, saravvv*!
"Kenalin! Dia opa!" ujar Honey, Rayyan merangkul Eyi lembut, "duduk dulu, ngga sopan," pintanya pada Eyi.
Eyi mengangguk dan duduk namun raut wajahnya penuh dengan rasa penasaran.
"Ini opa Gau," kembali honey berucap.
Eirene tampak terkejut sampai menutup mulutnya tak percaya, ia benar-benar syok lahir batin.
"Pasti kaget kan lo?" honey mengangguk-angguk, bahkan Rayyan sejak tadi mengusapi pundak Eirene, istrinya. Bersiap jika Eirene butuh sandaran dan dukungan. Tapi di luar ekspektasi, reaksi Eirene bertentangan dengan pemahamannya.
"Ngga nyangka gue---lo suka yang tua-tua! Yang ini mah lebih tua dibanding om Louwis keles. Maksud lo *oppa sarangheo*?! Your boyfriend? Tobat honey! Tobattt, dunia udah mau kiamat!" sewot Eirene.
"Dasar model SARAVVV!!"
Refleks Rayyan meledakkan tawanya, sementara opa Gau menggelengkan kepala prihatin, cucunya kelamaan gaul sama kaum Luth.
.
.
__ADS_1
.
.