Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
MALIQ OH MALIQ


__ADS_3

Maliq sedang meregangkan otot-ototnya dengan berlari pagi biar ngga kaku kaya kanebo kering, seraya mengecek istri atasannya yang nakalnya mirip annabelle. Kira-kira hari ini ia akan berulah apa lagi?


Ia sengaja melintas melewati blok rumah Rayyan, karena sudah 3 hari ini sejak kejadian Eirene dikejar Thunder dan Blacky, istri atasannya itu tak ada menghubungi Maliq lagi, padahal biasanya hal sepele saja sudah pasti Eirene akan meminta tolong padanya, semoga kali ini Eirene benar-benar kalem dan anteng di rumahnya.


Terlihat dari luar, keadaan rumah Rayyan begitu sepi tanpa kehidupan, bahkan sepertinya semut dan cicak saja bermigrasi entah kemana. Karena penasaran, Maliq mencoba membuka pagar--tapi nyatanya pagar pun di kunci rapi.


"Loh, ibu pergi? Kenapa tidak bilang sama saya?!" alisnya berkerut, jika sampai Rayyan menelfon dan meminta laporannya apa yang harus ia katakan.


"Bu!" panggilnya, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah, Maliq membuka pintu pagar dan masuk ke dalam teras, tangannya mengetuk-ngetuk pintu namun tetap tak ada jawaban. Mulai dilanda rasa khawatir, Maliq tetap berpikiran positif. Mungkin saja, atasannya itu sedang mencari sarapan---tapi sedetik kemudian ia menyadari, mana mau Eirene keluyuran cuma buat nyari sarapan, lagipula ia sering masak sendiri, sekalipun masakannya masih dalam tahap belajar di level makanan orang sakit, sakit darah tinggi, sakit jiwa dan sakit anemia.


Ia melihat seorang perempuan tetangga Eyi berjalan melintas di depan rumah, "bu, maaf--apa ibu lihat bu Eirene, istri kapten Rayyan?" tanya Maliq dengan menunjuk rumah Rayyan.


"Tadi sih buru-buru keluar markormar bareng saya om, buattt..." mata Maliq langsung segar, belum si ibu menyelesaikan ucapannya ia sudah panik mendengar Eyi keluar dari markas, "makasih bu!"


Ia berlari menuju gerbang markas, "celaka saya kalau bu Eirene keluar tanpa pengawalan. Bisa-bisa komandan menenggelamkan saya di perbatasan laut."


Jangan sampai ia hilang atau nyasar di ibukota apalagi ia artis ternama terlalu beresiko ia keluar sendirian. Ck! Perempuan ini---kalo keliatan batang idungnya bikin geger satu markormar, giliran anteng bikin geger juga karena ngilang.


"Iya om sama-sama--" ia menatap punggung Maliq yang berlari.


"Padahal kan maksud saya bu Eirene lagi belanja di luar markas sama ibu-ibu yang lain," ucapnya bergumam.


Eirene berasa jadi istri dan ibu-ibu sesungguhnya, pagi-pagi udah ngerubutin tukang sayur kaya lalat ijo lagi ngerubungin sampah.


"Ini wortel berapa?" Eirene menunjukkan jenis sayur berwarna orange di tangannya pada si tukang sayur.


Matanya sampai melotot tak percaya saat si tukang sayur menjawabnya, "murah banget! Eyi kira harganya nyampe 300 ribu gitu sekilo!" serunya.


"Waduh mbak Eyi, kalo harga wortel 300 ribu sekilo saya sekeluarga auto makan nasi garem sehari-hari!" sahut lainnya.


Jiwa perempuannya kembali kalap, melihat sesuatu yang murah bawaannya pengen borong. Ia meraup wortel, tauge, bayam, sawi, selada, kangkung, memborong semua pisang yang ada di gerobak sayur seolah di rumah punya banyak mo nyet, sampai-sampai ibu-ibu yang lain hanya kebagian melongonya saja, "oalah bu Ray. Belanja banyak begini mau makan-makan kah?" tanya seorang yang lain, sementara di tangannya hanya memegang tempe se-papan, dan satu bungkus tahu.

__ADS_1


"Engga juga, seneng aja!" jawabnya se simple itu.


Tentu saja disini pihak yang diuntungkan si mamang tukang sayur, dengan cepat ia membungkus semua belanjaan Eirene ke dalan kantong kresek, sementara pihak yang dirugikan adalah ibu-ibu lain karena mereka hanya disisakan beberapanya saja, benar saja ucapan mereka tanpa menunggu harga wortel jadi 300 ribu sekilo saja hari ini mereka sekeluarga hanya makan nasi garam.


"Berapa semuanya bang?" tanya Eyi.


"500 ribu bu," ia menjawab dengan ceria baru keluar saja ia sudah laris manis, Eirene merogoh dompet kecilnya untuk mengambil uang.


"Oke, sebentar!"


Maliq sampai bertanya pada penjaga pos depan, "bang--liat bu Eirene?" tak akan susah bertanya tentang Eirene, karena sudah pasti satu markas tau siapa Eirene juga seperti apa mukanya, wong tiap hari nongol di iklan tv, sampe poster-poster produk kosmetik pun ada. Bahkan mungkin saja di kertas pembungkus rawit pun terpampang wajah Eirene.


"Tadi sih kayanya ada nyempil bareng ibu-ibu lain ke arah kanan bang. Coba cari saja siapa tau belum jauh!"


"Makasih," pria bergaya rambut cepak messy itu berjalan dengan terburu-buru. Ia celingukan ke arah kanan dan kiri dari gerbang luar markas, tapi nafasnya kini tak lagi memburu seperti tadi saat menemukan istri atasannya itu tengah berbelanja bersama ibu kesatuan lain.


Maliq mendekat, "bu!"


"Ibu mau keluar kenapa tidak bilang saya? Saya kira ibu kemana," kalau berani, ia ingin memelintir kuping Eirene dan menggantung wanita itu di mon cong tembakan tank baja, biar ikut melesat bareng mesiu waktu tank baja memuntahkan pelurunya.


"Ha-ha! Iya lupa, abisnya Eyi cuma kesini doang om buat belanja, buru-buru. Masa harus bilang," jawabnya.


"Om, om Maliq bilang kalo Eyi ada apa-apa, atau butuh sesuatu jangan sungkan bilang kan? Terus kalo Eyi perlu bantuan harus bilang om Maliq karena mandat abang?"


Maliq mengangguk, tapi ia mulai mencium aroma-aroma tak beres dari wajah mencurigakan Eirene.


"Nah, sekarang om Maliq bayarin dulu deh kekurangan uang belanja Eyi, nanti siang Eyi ganti mau ambil cash ke atm dulu!" balasnya.


Maliq sampai melotot dibuatnya, "tapi bu---"


"Ya udah kalo gitu, abang mana belanjaan saya? Nah kekurangannya... urusannnya sama om ini ya!" tunjuk Eyi pada Maliq.

__ADS_1


Bukan main! Cuma Eyi atasan yang pagi-pagi udah bikin bawahan ngutang 400 ribu sama tukang sayur, ini gimana ceritanya prajurit gagah nan jomblo bisa punya utang sebesar itu ke tukang sayur pula! Maliq menggelengkan kepalanya frustasi, sementara Eyi sudah dengan senang hati melengos masuk membawa serta beberapa kresek belanjaan ke dalam markormar, mungkin saat ini burung-burung yang melintas bukan sedang berkicau riang, melainkan berkicau mengejek pada Maliq.


"Berapa kurangnya bang?" tanya Maliq. Untung saja pagi ini ia membawa uang di dalam sakunya.


"Belanjanya 500 ribu, ibu tadi cuma bawa 100 ribu. Jadi kurangnya 400 ribu---" si tukang sayur menjabarkan, bukan perang yang membuat detak jantung seorang bintara ini terhenti pagi-pagi.


"400 ribu?!" ia cukup tercekat, itu mah sii bukan kurang! Tapi kebangetan!


"Sebentar," ucapnya merogoh saku celana yang ternyata hanya ada 150 ribu. Terpaksa ia berlari menghampiri petugas pos depan demi meminjam uang.


Eirene masih berjalan di sepanjang jalan menuju rumahnya. Sampai Maliq yang baru saja menyelesaikan pembayaran muncul dari arah belakang.


"Ibu belanja apa saja sampai 500 ribu?" kepalanya sudah nyut-nyutan karena menahan kesal tapi ia tak bisa marah, bagaimana Rayyan menghadapi Eirene sehari-harinya? Rayyan memang pernah mengatakan jika istrinya ini magic, tapi Maliq tak tau akan semagic obat nyamuk! Bikin sesek yang ada di dekatnya.


"Banyak! Sayurannya murah-murah ternyata! Eyi mau eksperimen masak om! Nanti om coba ya!"


Gleuk! Maliq menelan salivanya sulit.


Eirene menyerahkan seluruh keresek belanjaannya pada Maliq karena dirasa tangannya sudah pegal dan bergaris akibat bobot belanjaan.


Ia lantas mengambil ponsel di sakunya untuk kemudian ia mengetik sesuatu disana.


Kedua alisnya terangkat, "nih ya! Eyi baru aja searching di mbah goggle, semua sayuran yang Eyi beli ini selain punya vitamin dan sehat buat badan, bagus juga untuk kesuburan pria---"


Pria itu menatap horor, jelas saja ia begitu, menikah saja belum. Jangan ngada-ngada! Lantas harus ia salurkan pada siapa, ayam?!


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2