
Andre yang memang sedang membantu membereskan tempat acara tak mungkin tak tertarik untuk melihatnya. Sepintas ia tau wajah Eirene sesiang tadi, tapi ia semakin menyipitkan mata merasa jika wajah itu tak asing baginya.
"Kok gue berasa kenal ya sama adik iparnya Fath, kaya pernah ketemu dimana gitu?!" ucapnya meneliti Eyi yang sedang bernyanyi dan berjoget bersama ibu-ibu lain.
"Ngaco! Dia kan artis, sering lo liat di tv kalii---apa di pamflet !" jawab Dilar memindahkan 10 kursi yang sudah ditumpuk dalam satu angkat.
"Engga--engga, kayanya pernah ketemu sama ngobrol!" kekehnya.
"Ck, ngebet banget. Bang, itu istri orang!" ujar Gentra dikekehi Regan dan bang Yo.
"Ketemu di mimpi kau sepertinya Ndre!" sahut bang Yo.
"Engga bang." Andre kembali memutar dan memaksa kerja otak demi mengingat potongan ingatan tentang Eyi.
"Dek, jalannya bisa ke pinggir? Ini om-om tentara mau tugas, tolong jangan berjalan di tengah?"
Eirene mendongak, menunjukkan wajah menyedihkannya,"om tentara, Eyi bisa ikut ngga? Mau cari mama sama papa. Kasian kedinginan di laut sana---" ia menangis.
Andre mengenyitkan dahinya setengah iba, "adek---"
"Eyiiii! Gue cariin kemana-mana malah disini?!" sewot honey berteriak khawatir sambil berlari, ia segera membawa Eirene ke dalam pelukannya.
"Maaf pak, ini adik saya. Kami keluarga salah satu korban kecelakaan pesawat---maaf sudah mengganggu perjalanan," ujar honey.
"Ah tidak apa-apa, saya ikut berduka. Lain kali adiknya dijaga, takutnya nekat atau gimana," balas Andre.
"Ha! Gue inget, dia tuh bocah yang hampir ketabrak Reo! Yang waktu kita lagi terlibat operasi pencarian HawaAir! Dia salah satu keluarga korban tragedi HawaAir!" seru Andre akhirnya dapat mengingat itu.
"Si abangnya itu manggil dia Eyi, persis panggilan bu Eirene!"
"Oh, yang tampilannya semrawut itu? Kaya lelembut, pucet banget!" tambah Dilar mengingat, diangguki Andre.
"Kalaupun iya, berarti dia yatim piatu?" timpal Gentra.
"Padahal Fath ada disana, tapi ngga sempat bertemu," ujar Regan.
"Yoi, emang dasar jodoh---hampir ketemu calon kakak ipar!" tawa mereka.
"Hey bapak-bapak! Beresinnya jangan sambil gosipan. Ibu-ibu matra udara sama laut mau pada pamit!" ucap Fani.
Eyi yang sudah kembali ke stelan kalemnya itu kini sudah bersama gerombolan birunya, mengucap salam dan kata pamit pada semua yang ada disana.
"Sering-sering kita adakan kegiatan gabungan begini, biar istri prajurit makin solid!" salam sayang para ketua kesatuan.
"Kalau nanti bertemu, salam buat Fara dan keluarga," ucap Fani.
"InsyaAllah. Makasih bu Fani---bu Gina, bu Susi, bu Nasya---" dengan perbedaan tinggi yang signifikan, Eyi lantas sedikit membungkuk demi bisa cipika-cipiki.
"Sehat-sehat kandungannya. Sudah berapa usianya?" tanya Gina mengusap perut Eyi.
"Sudah 19 minggu, atau 20 ya---" Eyi terlihat ragu sendiri.
Fani menggeleng tertawa renyah.
"Bu Eirene, atas nama tim XXXX dan kesatuan. Saya ucapkan berbela sungkawa atas kejadian lalu. Ngga nyangka bisa ketemu disini sebagai istri prajurit," imbuh Andre yang bergabung untuk melepas istri dari adik rekan sekaligus sobatnya itu. Bukan hanya Eirene yang mengernyit tapi pun mereka.
"Maaf, bela sungkawa untuk apa ya? Apa kita pernah ketemu?" tanya Eyi lupa. Muka-muka pasaran atau memang ingatan Eirene saja yang buruk?
"Mukamu memang pantas untuk dilupakan, bang!" tawa Gentra.
__ADS_1
"Masa lupa sama tentara ganteng yang turun dari Reo buat nyapa kamu?!"
Pffttt! "tentara ganteng!" Yosef mendorong keras kepala Andre.
Eirene meneliti wajah Andre lebih seksama butuh beberapa menit ia mencerna dan mengingat karena memang kejadian lama yang harus ia putar kembali, kapan kiranya ia bertemu sosok tentara di masa lalu.
"Om ini yang..."
"Yang malem-malem turun dari truk karena liat anak gadis nangis mau ketabrak truk Reo," lanjut Andre.
Eirene menepuk jidatnya, "oh! Iya--iya, Eyi inget! Kok kebetulan ya, akhirnya ketemu sama tim itu disini?!" tawanya renyah.
"Oh iyakah? Jadi Eirene ini---" tunjuk Gina.
"Iya bu, kedua orangtua saya adalah korban kecelakaan HawaAir," jawab Eyi bisa bersikap tabah.
"Oh ya Allah, kita turut berduka cita sedalam-dalamnya bu---" ucap Fani.
"Ngga apa-apa, makasih!"
"Padahal om Fath juga ikut operasi itu kan ya?!" tembak Fani yang tau operasi pencarian itu dari cerita Regan, suaminya.
"Oh ya? Jadi sebenernya Eyi hampir ketemu calon kakak ipar dong! Ha-ha-ha," tawanya.
"Ngomong apa sih lu, Ndre!" kembali Yosef mendorong kepala Andre.
"Alhamdulillah ketemu, makasih om-om sekalian, meskipun harapan Eyi untuk keselamatan mama--papa ngga diijabah, tapi makasih atas partisipasi usaha pencariannya om,"
"Sudah tugas kami,"
"Bu Eirene, masih betah?!" tanya yang lain, membuat grup arisan dadakan itu menoleh.
"Siap, sudah bu!"
"Maaf, ngga bisa lama-lama. Next time Eyi kesini lagi di lain waktu tugas bu, om!" pamitnya.
"Iya, hati-hati di jalan. Salam buat semuanya bu Eirene!"
Langkah Eyi pasti menatap Reo, meski pusing dan sakit kepala sedikit melanda saat menumpanginya, tak senyaman naik limosin, tapi usahanya tak sia-sia. Hari ini ia dapatkan keluarga baru, hari ini ia dapatkan rasa kepercayaan diri yang baru, hari ini ia dapatkan rasa kebanggaan yang baru, pengalaman baru, dan hari ini ia dapatkan satu fakta lama yang mengejutkan. Tepat di hari ini, ia menemukan pribadi dan jati dirinya....
Eyi tersenyum, kejutan hidup apa lagi yang akan ia dapatkan esok hari saat menjadi istri seorang prajurit?
Hidup memang seperti dibolak-balik, kemarin ia masih Eirene si model sombong dengan bergelimang kemewahan dan rasa manja, tapi esoknya ia terdampar di lautan biru menjalani rumah tangga penuh kesederhanaan bersama seorang prajurit negri, jalan hidup tak ada yang tau. Bahlan malaikat pun tak tau bagaimana cara Tuhan mengubah hidup seseorang termasuk hidupnya.
"Mari bu, pelan-pelan!" ujar si baret ungu dan biru membantunya naik Reo.
"Awas kepalanya Eyi---" Wiwit dan bu Nani membantu Eirene duduk diantara para ibu Jala lain.
"Semuanya sudah? Kita pulang ke Markas besar, pulang ke rumah...."
__ADS_1
Jalanan mulai terlihat mundur, dan badan yang mulai terguncang pertanda mobil sudah melaju. Eyi mengulas senyuman diantara suasana Reo,
Akulah Eirene Michaela Larasati, istri seorang kapten marinir tentara negri.
Umi memutuskan mengadakan acara sukuran 4 bulanan kehamilan Eirene yang sedikit telat di rumah dan sebuah panti asuhan. Tak mungkin ia mengadakan di markas besar yang jumlah personelnya mencapai satu brigade kesatuan, sekaya-kayanya umi dan abi jika harus satu brigade mereka tak akan sanggup, waktu dan tenaga dapur yang menjadi kendala.
Eirene tak mengerti dengan perhelatan sukuran macam ini, semuanya ia serahkan pada umi Salwa.
"Nanti ini dibagikan buat tetangga-tetangga satu blok. Terus komandan unit, sama personel unitnya Rayyan. Jangan lupa ibu Jala yang satu grup sama kamu jangan sampe ketinggalan!" titah umi membuat Eyi mengernyit.
"Ah umi, Eyi ngga hafal temen-temen abang. Suruh om Maliq atau abang aja sendiri yang bagiin deh---kalo rekan ibu kesatuan baru nanti Eyi minta tolong kak Wiwit sama bu Nani," Eyi mencomot kue yang ada di piring, tak peduli lagi dengan berat badan.
"Ck, kamu ini!"
"Ya udah nanti umi minta Maliq sama Ray buat bagi, bagian ibu Jala nanti kamu yang bagiin---"
Eirene mengangguk, "mi, tambahin lagi...Eyi mau kasih tukang sayur langganan Eyi di markormar," balasnya duduk di kursi meja makan, kini bulatan perut itu semakin eksis saja di balik baju Eirene.
"Sip," jawab umi. Jika dalam hal berbagi duo mertua menantu ini satu frekuensi.
Rayyan muncul dari ambang pintu dapur masih dengan koko putih dan songkok hitamnya, "aduduh, ini istri abang tiap diliatin pasti lagi makan, nambah gemoy nanti si cimoy!" Rayyan berjongkok dan menggeser kursi yang diduduki Eirene demi bisa mengusap perut Eyi.
"Udah kenyang belum nak, di dalem sana?" ia bahkan menempelkan kepalanya di perut Eyi yang terhalang baju gamis.
*Nyut*---
Meski getarannya tak sehebat getaran asmara, namun gerakan itu memancing reaksi syok sepasang calon orangtua ini.
Keduanya saling lirik dengan mata membola, bahkan Eirene menghentikkan kunyahan di mulutnya.
"Dia denger abang dek!"
"Dia kasih respon buat abang!"
"Dia kenal suara abinya, yang udah bikin dia!" Rayyan berseru senang.
"Geli bang! Jangan diajakin ngobrol terus ah, geli---"
Umi Salwa melihat itu dengan kedutan di bibir, Rayyan---putra keduanya yang memiliki sifat berbeda dari Al Fath, lebih konyol, selalu mementingkan dirinya sendiri, usil, flamboyan, jauh dari sifat kebapak'an kini mulai berubah seiring dengan kehadiran Eirene dan sang jabang bayi yang masih di dalam perut.
*Ya Rabb, jika aku boleh meminta, aku hanya meminta kebahagiaan senantiasa memayungi hari-hari anak-anakku*...
Salwa kembali fokus pada besek yang akan dibagikan.
"Tuh dek! Dia ada nendang abang lagi! Dia kenal sama abang dek! Apa dia tau kalo abang sering nengokin dia? Padahal abang nengoknya cuma sampe di depan pintu gerbang ya? Ketahan di ring 2 paling juga," serunya heboh, begitu excited dengan respon si kecil.
"Ngaco ih!" balas Eirene mengomel.
Salwa tertawa, " da sar bapak sengklek!"
.
.
.
__ADS_1
.