
Rayyan malah cengengesan, badan tegapnya tak sampai goyah meski Eyi berkali-kali memukulnya dengan tas sambil ngomel-ngomel.
"Dasar gilak!" makinya di depan kawan-kawan prajurit dan para ibu Jala.
"Pukul yang keras bu! Nih, kalo mau pake koper," Langit malah membantu mengompori dan ingin mengangkat kopernya.
"Mau saya kasih senjata sekalian ngga bu?!" tawa Pramudya.
"Lu berdua sama ngga waras-nya," ujar bang Jaya
"Kau ini!" dorong bang Jaya di pundak Rayyan.
"Oalah om Ray ini usil to! Yo wes lah, mbak Eyi kalau begitu kami pamit ya--- mbak Eyi, nanti kita nonton rame-rame yo..acara JFC nya, ada kan ya di tv?"
"Ada bu," jawab kak Wiwit.
"Makasih bu-ibu,"
"Wah, kalo ngga ada bu Rayyan kursus make up sama yoga-nya libur dong?!" kelakar bu Aryo.
"Libur dulu ibu-ibu, tutor-nya nugas dulu," jawab kak Wiwit.
"Udah waktunya terbang Ray," ujar Pram melirik arlojinya.
"Wes kalo gitu kami undur diri saja...bu Jaya mau bareng kita apa sama om Jaya?"
"Biar istri nanti bersama saya saja bu-ibu," jawab bang Jaya. Para ibu Jala itu berlalu meninggalkan pangkalan.
"Yuk!" Rayyan menggandeng tangan Eirene tapi Eyi masih diam tak bergeming malah ia terlihat begitu panik mencari sesuatu.
"Sebentar---"
"Kenapa Eyi?" tanya Wiwit.
"Eyi cari obat tidur, lupa belum diminum gara-gara tadi sibuk ngambek---kemana ya, perasaan tadi dimasukkin ke tas!" ia kelimpungan mencarinya sampai mengobrak-abrik isian tas selempang.
"Coba dicari dulu, kamu masukkin di koper ngga?" tanya Wiwit mulai ikut melongokkan kepalanya ke arah tas selempang Eyi.
"Bisa nunggu 10 menit kan om Pram biar nanti ada reaksi obatnya?" tanya Eyi dengan tidak menoleh.
"Loh, itu gimana ceritanya kalau setiap terbang mengkonsumsi obat tidur, ketergantungan dong bu?" tanya Langit.
"Iya om, ngga berani kalo ngga minum. Takut!"
"Dek! Udah ngga usah, kita belajar menyingkirkan trauma mu itu," Rayyan menghentikkan tangan Eyi.
"Macam mana pula kau Eyi, kalau kau terbang dan tumbang duluan terus siapa yang gotong kau masuk pesawat?" tanya Jaya.
"Biasanya ada asisten yang bawa Eyi pake kursi roda, tapi seenggaknya Eyi udah ngantuk berat bang, jadi antara sadar dan engga---kali ini kan dianter abang, jadi gampang lah ada abang yang gendong,"
__ADS_1
"Dek!" Rayyan hanya diam tak berusaha untuk ikut mencari, karena memang ialah pelaku penghilangan obat itu tadi di rumah.
"Kita atasi trauma mu mulai sekarang, kamu itu istri prajurit yang cepat atau lambat kalau abang dipindah tugaskan ke luar pulau harus memakai pesawat, atau bisa saja nantinya kamu yang akan pergi sendiri---"
"Engga---engga, ngga bisa! Eyi ngga mau!"
"Ray, pilot sudah memanggil!" tunjuk Pram, mereka semua menoleh.
"Kalau gitu mendingan batal pake pesawat, Eyi ngga mau!" wanita itu menggeleng cepat dan panik, apalagi melihat baling-baling yang mulai berputar menyapu udara dan mengeluarkan suara bising, degupan jantungnya seolah terpompa begitu hebat. Rasa pusing mendera dan dingin menjalar di badan Eyi.
"Pram tolong bawakan koper!" pinta Ray, ia langsung menangkap Eirene yang berusaha kabur.
Hap!
"Abang!!! Abang jangan bang--Aduhhh belum apa-apa Eyi udah kleyengan ini ih!" ia berontak di dalam dekapan Rayyan, sementara laki-laki itu dengan kekuatannya mendekap dan menggeret Eirene, kaya adegan penculikan bermobil modus permen karet.
"Kamu pasti bisa, ada abang disini!"
Ia tetap menggeleng kuat, keringat bahkan sudah mengaliri badan Eyi, "abang engga! Eyi ngga mau, takuttt!"
"Yang namanya obat tuh kalo konsumsinya terus-terusan bikin ketergantungan, jelek dek!" tukas Rayyan.
"Abang jahat ih, Eyi ngga mauuu!" jeritnya.
"Bang Jaya ihh tolongin!!!" Jaya hanya menggelengkan kepalanya prihatin namun pun ingin tertawa, pasalnya Eyi sudah mencakar dan memukul-mukul Rayyan mirip kucing hutan yang mau di masukkin konservasi.
"Abang ihhhh, playboy kamvretttt, cap ikan sarden!" jeritnya.
"Ampun gue ini pasangan aneh bin magic-nya kesatuan! Mau pergi aja mesti berantem dulu," imbuh Pramudya.
Rayyan mengangkat badan Eyi dan menggendongnya di atas bahu macam sekarung gabah membuat istri modelnya itu menjerit-jerit dan berontak.
"Aaa---abang---!"
"Aaaa---Teuku Rayyannn Anantaa!!!! Turunin! Turuninnnn!"
"Eyi mau minta cereee ajaaa! Umiiii! Opaaaa!" teriaknya menggegerkan satu pangkalan, bahkan suara jeritannya setara dengan suara baling-baling pesawat.
"Abang, Eyi ngga mau! Rayyannnnn! Eyi minta pisahhhh! Ngga mau sama kamu lagiii, tukang maksa, penjajah!" jeritnya terus, bukannya kasihan jatohnya mereka malah jadi ingin tertawa.
"Terserah adek mau bilang apa, teriak aja sesuka hati. Ntar juga cape sendiri," jawab Rayyan tenang menggendong istrinya ini dan berjalan mendekat menuju pesawat.
"Abangggg! Eyi mau selingkuh sama CEO aja! Ngga mau punya suami tentaraaa!" teriaknya.
"Iya---iyaa dek. Paling besoknya kamu denger kabar, kalo dia hilang dari bumi," jawab Rayyan, membuat semua ikut tertawa.
"Bang, gue dah dapet anak gadis orang!" kelakarnya pada bang Jaya.
"Gue pamit dulu lah bang, kak--" lanjutnya.
__ADS_1
"Ya."
"Iya, hati-hati Ray. Kasian itu Eyi--" ujar Wiwit yang meringis melihat Rayyan yang menggendong Eyi begitu, sampai jerit-jerit.
"Ampun gue, yang satu sengklek bin aneh, yang satu lagi usil pemaksa, ngga waras---" ujar Langit menggelengkan kepala dan menarik koper Eirene, Jaya tertawa tergelak melihat pasangan absurdnya kesatuan marinir itu.
"Abang !" Wiwit menyikut perut suaminya.
"Mereka itu dek, kamu mau digendong gitu juga?" tanya nya dengan menaik turunkan alis menggoda sang istri.
"Ngaco! Cepet pulang, Rengga tadi di titip tetangga," jawabnya sengit.
"Abang jangan kaya gini, Eyi takut!!" ia memohon dan mengiba masih dengan posisi yang sama, suara baling-baling semakin kencang terdengar, membuat perempuan ini kembali menjerit-jerit.
"Shittt! Rayyannnnn! Turunin gue sekaranggg!" teriaknya, Eyi menempelkan kedua telapak tangan di telinga demi menutupi pendengaran.
"Allahuakbar, Allahuakbar!" ucapnya memejamkan mata.
"Kapt, pesawat sudah siap terbang," lapor salah satu prajurit, ia cukup terkejut dengan kedatangan yang antimainstream.
"Ya," angguknya singkat menjejakkan kaki di atas pesawat.
Kilasan semua ketakutan dan kenangan buruk hinggap di diri Eyi, badannya benar-benar sudah bergetar hebat, degupan jantungnya cepat, bahkan badannya lemas.
"Rayyan, Eyi udah ngga kuat ih!" cicitnya.
Rayyan menurunkan Eirene di kursi penumpang, "hey, liat abang! Rayyan menepuk-nepuk pipi Eyi memintanya membuka mata.
"Everything is gonna be oke, coba buka mata kamu---kamu bakalan aman, semua yang disini orang terlatih, prajurit---" ia menggenggam tangan Eirene yang tremor, dingin dan berkeringat.
"Kita hilangkan trauma mu sedikit-sedikit," bisiknya.
"Sudah siap bang?" tanya pilot pada Langit.
"Udah, berangkat boy!" jawabnya.
"Coba buka dulu matanya," pinta Rayyan, ia menangkup wajah Eirene yang mulai chubby.
"Ngga mau!" Eirene menggeleng, dirasakan guncangan mulai terasa di kursi Eyi, wanita itu kembali komat-kamit yang entah ajian apa ia baca. Tangannya langsung memeluk badan tegap itu dan melesak bersembunyi disana, tak berani melihat sekeliling. Bagi Eirene ruangan yang sedang di dudukinya ini begitu sempit, pengap nan gelap, tangan-tangan besar Rayyan memeluk dan mengusap lembut kepala Eirene.
"Ray, ngga usah dipaksa dulu. Kasian gue liatnya---" tandas Langit.
Bahkan kini Eirene sudah sesenggukan.
"Heuhh, berasa ngenes banget gue liat beginian tiap hari," Pramudya berdecih melihat Rayyan yang berpelukan dengan Eyi, yang bisa ia lakukan malah mendekap tangannya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.