Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
CUCU-MANTU


__ADS_3

"Eirene Michaela Larasati, putri dari Michael Gauhari dan Larasati Indira, Michael adalah putra saya satu-satunya--- yang sekarang disinilah jasadnya berada, entah titik koordinat mana saya harus buat pusaranya," tatapnya penuh kegetiran.


Rayyan masih menukikkan alisnya, mempertajam pendengaran demi mendengar sedikit dongeng masa lalu istri manja-nya. Banyak sekali pertanyaan yang ada di otak encer Rayyan saat ini.


Rimba Gauhari membalikkan badannya, "dulu saya tidak merestui hubungan putra saya dengan Laras, karena menantu saya itu seorang publik figur. Saya juga terlalu memaksakan kehendak agar Michael menjadi seorang perwira sama seperti saya, tapi ia justru lebih menyukai dunia bisnis. Kami sering bertengkar hebat, sama-sama keras dan tak mau mengalah, sampai membuatnya berontak lalu pergi meninggalkan rumah," ia menjeda ucapannya.


"Hati saya terlalu batu, ambisi dan ego mengalahkan hati ke ayah'an saya. Sampai mereka menikah pun saya tidak pernah menganggap keduanya ada! Saya pikir seorang publik figur terlalu buruk, kamu tau apa yang saya maksud," ia menyunggingkan senyumnya, apakah sang Mayor ini tau tentang umi yang dulu sempat tak setuju dengan Eyi.


"Tapi ternyata saya salah, Laras bahkan rela kehilangan segalanya demi mengikuti Michael, menemaninya merintis usaha dan memiliki seorang malaikat kecil yang tumbuh menjadi gadis cantik mirip ayah dan ibunya." Ada senyuman bahagia di wajah tua nan tegasnya saat ia menceritakan Eyi kecil.


Rayyan juga mendengarkan bagaimana akhirnya perang dingin itu berakhir namun sayang seribu sayang, disaat ketiganya ingin memperbaiki keadaan, Allah tak memberikan mereka kesempatan untuk bertemu kembali.


Rimba menepuk tegas pundak cucu mantunya ini, "beruntung kamu memiliki orangtua yang pengertian, tidak seperti saya! Karena sekarang yang bisa saya lakukan adalah menyesali semuanya sampai akhir hayat."


Rayyan masih berdiri tegap diantara angin laut dan teriknya cuaca, bahkan kapal sudah mulai bergerak lagi untuk kembali.


"Jadi apa selama ini bapak---"


"Panggil saya opah, opah Gau." Potong Rimba.


"Siap salah, opah! Jadi apa selama ini opah pernah bertemu Eyi?" tanya Rayyan.


Ia menggeleng, "cukup bagi saya mengawasinya dari jauh. Dia mirip seperti Michael dan saya tentunya---keras kepala, namun ia pun manja seperti Laras."


"Kamu pikir kenapa pengajuan pernikahan kalian bisa lolos dengan kemampuan Eyi yang tak tau apa-apa mengenai negri kedaulatan? Maaf kalau saya lancang sudah memasukkan silsilah nama saya di persyaratan pernikahan mu, lewat Laksamana."


Ia berdecak dan menghentakkan ujung tongkatnya, untung saja kapal dan lautan tidak langsung terbelah jadi dua, "ck! Apa sih yang Michael dan Laras ajarkan pada si manja Eirene?! Kedaulatan negri sendiri saja tak tau! Yang ia tau hanya berlenggok di atas catwalk jadi tontonan manusia-manusia yang haus akan lekukan tubuh! Saya tak suka!" ujarnya kesal sebelah tangannya berpegangan pada pagar besi.


"Bahkan tua bangka macam Louwis saja sampai mengejar-ngejar Eyi-ku!"


"Louwis?" Rayyan mengerutkan dahinya.


"Saya yakin kamu mengerti dunia yang Eirene geluti," Rayyan berohria, pasti ini ada hubungannya dengan power of backstage. Apapun akan ia lakukan demi melindungi Eirene dari tangan-tangan pria nakal nan haus kasih sayang.


"Kalau begitu kenapa opah tidak menemui Eyi? Saya yakin Eyi pasti bisa terima," Rayyan sejujurnya tak setuju dengan sikap Rimba selama ini hanya menjadi stalker dan pahlawan bertopeng cucunya sendiri.


Ia menundukkan kepalanya, "saya masih belum punya cukup nyali untuk menampakkan batang hidung saya di depan cucu saya, apalagi mengakui jika saya adalah kakeknya yang tak tau diri, kejam dan penyebab kedua orangtuanya tiada," jawab Rimba Gauhari, ada raut penyesalan mendalam di sana, bahkan seorang perwira pun tak dapat menutupinya.


"Sepicik itukah opah menilai Eyi?" alisnya berkerut demi mendengar Rayyan menyebutnya manusia picik.


"Kalau begitu opah belum begitu mengenal Eyi, bukannya menurut opah Eyi mirip seperti tante Laras yang baik dan pemaaf? Saya mengenal Eyi belum genap setahun, hidup bersama pun baru 3 hari, tapi saya cukup tau jika Eyi pemaaf, meski ya---" ia mengingat beberapa sifat Eirene yang seperti umi, keras kepala, bar-bar, konyol dan nyablak juga manja.


"Saya yakin Eyi akan senang jika tau masih memiliki keluarga," Rayyan menutup perbincangan ini dengan mensejajarkan dirinya di batas pagar, pandangannya jauh ke depan ke tengah lautan sana.


"Saya yakin disana papa Michael dan mama Laras pun mengharapkan hal yang sama dengan yang saya harapkan saat ini, sudah terlalu lama Eyi sendiri. Pikirkan saja dahulu opah, tak ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari---jangan sampai opah kembali jatuh ke pusara penyesalan."


Rimba Gauhari menoleh dengan kernyitan di dahi dan alis, menghalau rasa silau di matanya.


Senyumnya terbit menghangatkan suasana yang memang cukup dingin untuk cuasa sepanas ini.

__ADS_1


"Saya memang tak salah menurunkan restu meskipun orang-orang di kesatuan memberi predikat playboy untuk kamu," Perwira senior itu berujar membuat Rayyan melongo, ia melangkahkan kakinya berlalu melewati Rayyan.


Seberapa tau opah Gau tentang gue? Apa beliau tau gue pernah ditampar Nindia? Apa dia juga tau gue pernah di kejar tank baja sama Diana di lapangan Kormar, gara-gara selingkuh?



"Bu, maaf. Kami berdua ijin undur diri. Mesin pompa sudah betul lagi," keduanya pamit pulang dengan pakaian loreng yang disampirkan di pundak dan peralatan di tangan.



Eirene yang duduk di meja makan itu mengangguk, "makasih om."



"Sama-sama bu,"



"Oh iya bu, dapet salam dari istri saya yang lagi ngidam---katanya kepengen perutnya dielus sama bu Rayyan," ucapnya malu-malu.



"Oh!" Eyi menaikkan alisnya.




"Gus, malu-maluin koe," bisik satunya menegur, namun demi sang istri dan si jabang bayi ia rela meminta ini pada istri seniornya, toh permintaannya pun tak aneh-aneh.



"Saya Serda Agus dari kompi markas batalyon infanteri 8, nama istri saya Desi---" jawabnya.



"Oke! Om Agus, besok suruh istrinya menyapa saya saja," Eirene memang berwajah angkuh namun hatinya setulus emaknya malin kundang.



Setelah kepergian kedua junior Rayyan, Eirene memutuskan untuk mandi, wanita itu mengunci pintu rumah lalu menyambar handuk dan bathrobenya.



"Saatnya mandi!" serunya sudah merasa kegerahan sejak tadi. Satu persatu pakaian ia tanggalkan dan ia masukkan ke dalam ember. Dan benar saja! Sesuai janjinya tadi, wanita ini langsung mencemplungkan dirinya ke dalam bak mandi dengan tanpa berbelas kasihan, sampai airnya luber-luber karena ia masuki, padahal air itu dengan susah payah diangkut Rayyan tadi subuh.



"Ahhhh!" ia memejamkan matanya keenakan.

__ADS_1



Sekitar 1,5 jam ia berendam, sampai-sampai kulitnya saja mengeriput kisut kayak kertas abis di r3mas. Mungkin besok Rayyan harus menguras habis dan membersihkan bak mandinya karena dipakai mandi busa dan berendam oleh sang istri.



Ia menggulung rambutnya dengan handuk kecil dalam balutan bathrobe, perempuan itu melirik meja makan yang tak ada apa-apa.



"Ini ngga ada makanan gini, terus gue mau makan apa?" decihnya, padahal perutnya sudah keroncongan.



Layaknya pencuri, ia membuka setiap lemari dapur dan kulkas, yang hanya ada telur, sosis dan kornet. Dalam lemari bufet pun hanya menemukan mie instan.



"Ini seriusan Eyi harus masak sendiri?!" ucapnya menjerit tak percaya.



"Abang bercanda nih! Ohhh come on!" dengusnya frustasi.



Masak? Ngga usah ngawur, ayolah! Seorang Eirene masak? Bisa-bisa kulit indahnya kecipratan minyak panas! Eirene memilih memesan saja secara online. Wanita itu tersenyum dengan mata yang berbinar, diraihnya ponsel demi membuka aplikasi restoran online. Jemari indahnya bergerak lincah memilih beberapa menu makanan utama dan kudapan.



"Oke, done!" ia tersenyum lebar, tapi apa yang terjadi selanjutnya....



"Whatttt!" Mata indah itu membola, ketika akan melakukan pembayaran dengan m-banking miliknya, mulutnya terbuka dan menganga,


"kok di blokir?!"



"Damnnn! Ini pasti kerjaan honey dan-----Rayyannnnnnn!!!!!" jeritnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2