
Tak ada lagi alasan untuk Rayyan menolak atau mengelak, tak mungkin ia berpura-pura mendapat panggilan tugas, karena sudah pasti personel detasemen Raden Joko lain pun mendapatkannya, definisi maju kena mundur kena.
Hanya pasrah pada sang Illahi, itulah kuncinya. Rayyan membuka pintu rumah yang terasa kembali sepi, baru beberapa jam Eyi tak ada, amat terasa efeknya. Padahal biasanya perempuan itu sedang menonton acara masak di you tube sambil rebahan di sofa, dan ia yang baru saja pulang pasti bersemangat 45 untuk mengusilinya hingga endingnya wanita itu akan ngomel-ngomel dan membalas tindakan Rayyan.
Rayyan terkekeh sendiri membuka pakaian loreng dan menggantungnya di cantelan pintu kamar, tapi sedetik kemudian ia menurunkannya kembali, Eyi akan marah jika Rayyan tak langsung memasukkannya ke dalam mesin cuci, pakaian dinas tak boleh dipakai lebih dari 2 hari, dengan catatan jika dipakai hanya di dalam kesatuan, maka selebihnya jika pakaian itu dipakai seharian di luar kesatuan maka langsung masuk mesin. Wanita itu anti dengan bau-bau asem naga atau bau-bau cub luk troll.
Ia menyambar handuk di jemuran besi yang selalu semerbak wangi bunga, bukan bunga kantil apalagi bunga bank kai, melainkan bunga lavender dan lili, padahal kan dulu handuknya bau apek ruangan banteran wangi juga paling wangi sabun detergen, itupun seminggu sekali.
Rayyan bersenandung sehabis mandi, kali aja kan bisa menghibur jagat raya dan seisinya, atau paling tidak meramaikan suasana hatinya. Sebenarnya Rayyan adalah perwira dengan sejuta bakat, dan musik salah satunya, itu kenapa ia menjadi salah satu the most-nya para perwira disini, kalau sudah beraksi di band kesatuan cacing kremi aja sampe pesen kebaya plus dandan.
Dibukanya lemari pakaian, telunjuknya menunjuk lipatan rapi pakaiannya dari bawah hingga atas. Alisnya mulai mengernyit, saat menemukan lipatan paling atas adalah baju berwarna pink.
"Apaan nih, mata gue kelilipan liat beginian!" ia membentangkan kaos dengan warna susu strawberry itu sambil menghadap cermin.
...***CEME \_WEWNYA KAMU***...
Ia bergidik geli, "ogah lah! Masa iya gue pake begituan. Bisa anjlok rating Raden Joko di mata dunia!"
Ia bukanlah pria playboy berakhir bucin, ia bukanlah suami-suami takut istri, hanya berusaha menjadi suami yang menghargai dan menyayangi istri. Dipakainya kaos berwarna pink itu lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Eyi, selepas itu selesai ia berniat menggantinya kembali dengan kaos lain.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam! Aaaa---abang aku padamu bang!" Eyi bertepuk tangan kecil kegirangan, belum lagi Rayyan menautkan jarinya jadi love membuat Eyi tergelak. Siapapun wanita pasti akan tau korean style, apapun yang berbau korea.
"*Sarangheo chagia*!" ucapnya membuat Eirene semakin tergelak di sebrang layar telfon sana.
"*Sarangheo oppa*!" jawab Eirene, belum lagi Rayyan mengedipkan matanya manja membuat Eyi semakin gemas berasa pengen nampol, membahagiakan istri tidak harus mahal ataupun mewah.
"Kamu beli ini dimana dek?" tunjuknya menjiwir bagian kaos yang dipakainya, kaya berasa jijik-jijik ngangenin gitu?!
"Waktu itu sama umi, waktu awal kita nikah. Eyi suka warnanya, abang suka?"
"Abang sukanya kamu," jawab Rayyan, tak mau sampai senyum itu pudar dari Eyi, karena senyuman itu yang harus ia jaga sampai mati.
"Abang udah makan belum? Ini Eyi lagi makan lumpia goreng, kak Bobi bawa enak banget! Tapi banyak minyak sama lemaknya, nanti Eyi gendut!" keluhnya, keluhan-keluhan kecil seperti inilah yang Rayyan rindukan dari Eyi, tetaplah mengkhawatirkan hal-hal kecil itu agar aku tau kalau kamu disana dalam kondisi baik-baik saja.
"Sudah dek, ya--ngga apa-apa, masa calon ibu kurus!"
"Abang bilang calon ibu, calon ibu terus---Eyi belum tentu hamil bang," jawabnya.
"Kalo calon ibu kan ngga harus pas lagi hamil, yang namanya udah nikah mah udah jadi calon ibu, masa calon istri!"
__ADS_1
"Terserah abang aja, ya udah kalo gitu. Eyi mau meeting sama produksi, siap-siap buat ambil video besok!"
"Iya, jangan lupa solat!"
"Iya, assalamu'alaikum--"
"Wa'alaikumsalam,"
Rayyan mematikan ponselnya, tapi baru saja ia beranjak dari sofa, ia dikejutkan dengan suara tawa beberapa orang yang tergelak puas seraya meneliti rumahnya.
"An\_jiiiimmm! Mewek si flying dutchman ngeliat marinir jadi barbie Ken!"
"Alamakkk! Ray!" decaknya percaya nggak percaya.
"Subhanallah!"
Sementara Rendra sudah memegang perutnya sejak tadi saat menjejakkan kakinya di ambang pintu rumah Rayyan, bukan karena mules apalagi lapar, tapi karena pegal tertawa, memang manusia-manusia kurang se ons ini jarang mengetuk pintu saat tau si empunya tengah sendiri di rumah, dan terbukti mereka menangkap basah flying dutchiii yang keciduk lagi cosplay jadi spg produk make up remaja.
"Njirrr apaan tuh, ceme wewnya kamu!" tunjuk Pram tertawa saat dada bidang itu menjadi penjelas tulisan kaos yang dipakainya.
Maliq yang sengaja mereka ajak tak kuasa menahan kedutan di bibirnya, melihat nasib yang menimpa atasannya.
"Biasanya juga gitu!" para perwira itu bahkan sudah masuk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu macam lagi liatin museum sejarah, iya sejarah---sejarah runtuhnya orde macho jadi makcik.
Lain halnya dengan yang lain, Maliq masih di gawang pintu, ia membuka sepatu dan kaos kakinya lalu meminjam sandal dan mencuci kaki di keran yang ada di luar.
"Liq, lu ngapain?" tanya Rendra sudah masuk ke dalam tanpa perlu repot-repot bersih-bersih macam mau masuk ruang ICU.
"Ini bang, cuci kaki!" jawabnya menggosok sela-sela jari secara menyeluruh.
"Elah lebay banget! Apa lo tersugesti steril karena mau masuk istana barbie?" tanya Rendra melongokkan kepalanya ke arah luar demi melihat aksi Maliq, Maliq menggelengkan kepalanya sambil terkekeh lalu ikut mengekor masuk, sudah keberapa kalinya ia masuk ke rumah ini jadi tak merasa aneh seperti yang lain.
"Bener-bener bini lo Ray, ck--ck!" decak Langit tak habis pikir harus disebut apa rumah si hantu laut satu ini sekarang? Markas para ibu peri?
"Pantas saja Wiwit ngerengek minta uang lebih katanya mau pembersih udara, rupanya mau beli yang seperti ini di rumah!" Jaya berjongkok di depan air purifier.
"Kenapa emangnya bang, kak Wiwit juga mau beli air purifier?" tawa Langit.
__ADS_1
"Berasa di hutan, udaranya sejuk euyy!" ujar Pramudya duduk seenak jidat di sofa empuk Eyi.
"Betah lah gue juga kalo disini, bang. Wangi, empuk, nyaman! Mata gue berasa cerah---habis gelap terbitlah terang!" tawa Rendra.
Pramudya menyapu seluruh ruangan dengan netra hitamnya, sofa beludru warna pink, karpet turki warna senada, cat tembok putih dan pink pastel, jam dinding dan keseluruhan ruangan ini berwarna pink, kecuali kulit-kulit orang yang ada disini seakan kontras dengan ruangan.
"Mendadak lidah gue ngerasa manis cuma ngeliat ruangan ini doang!" ujar Rendra. Sementara si empunya baru saja keluar dari kamar dengan kaos warna hitam.
"Daripada ngga dapet jatah, bisa jadi pasta *air gue* di dalem!" jawab Rayyan.
Bwahahahaha!
"Sini coba gue liat dal3 m4n lo pink juga engga?!" cibir Langit habis-habisan.
"Mendadak jadi fans blackpink gue!" jawab Pramudya.
"Hey boy! Kenapa pula kau duduk di karpet macam pembantu gitu?" Jaya sudah menyulut rokoknya.
"Ngga berani saya sama ibu, bang!" jawab Maliq.
"Kenapa emangnya, atasanmu ini bakal menghukummu? Biar ku hukum balik, lagipula Eyi sedang tidak disini," tanya Jaya, Rayyan tersenyum miring, "gue mah ngga kejam bang sama bawahan!" ia hendak ke dapur untuk membuat kopi, namun berhenti sejenak ingin mendengar alasan Maliq.
"Kapok saya, dulu pernah dimarahi ibu gara-gara ngga cuci kaki masuk ke dalam rumah, udah gitu malah pake sepatu!" jawab Maliq.
"Kamu takut sama istri Rayyan gara-gara doi atasan?" tanya Langit.
Maliq menggeleng, "ibu lebih galak," kekehnya.
"Maaf ndan! Saya salah!" angguknya singkat, Rayyan tertawa, "ngga apa-apa Liq, gue aja takut di uppercut!"
Semua yang mencibir seketika diam, "iya ndan, soalnya buat ngepel aja ibu sampe pake hand sanitizer! Beliau bakalan tau kalo ada yang salah sama barang-barangnya!"
"Hah? Masa iya?!" para perwira itu langsung turun dari sofa dan duduk melantai di karpet. Rayyan tertawa dengan keterkejutan mereka sepaket aksi para lelaki gagah ini.
"Kalo gitu gue cuci dulu kaki lah! Kaki gue berdosa banyak kumannya!" ujar Langit.
.
.
.
__ADS_1
.