Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
OLAHRAGA PAGI


__ADS_3

Ajudan itu meloloskan nafas pertanda kesabarannya sedang diuji oleh yang maha berkuasa.


"Siap bu!" jawabnya melangkah masuk, tapi baru saja selangkah dari ambang pintu rumah Eirene menyetop langkahnya dadakan, untung saja rem kakinya pakem.


"Om Maliq, ck--ck! Dibuka dulu dong sepatunya! Itu Eyi udah pel lantai sampe banjir keringet loh, mana pake campuran desinfektan sama hand sanitizer!" bukan hanya Maliq saja melainkan Wiwit ikut melongo mendengarnya.


"Oh, iya bu--maaf--" ujarnya, dan sekali lagi ia menurut dengan membuka sepatu menyisakkan kaos kaki hitam berjinjit masuk ke dalam, kok rasanya takut saja jika kaos kakinya menyebarkan virus disini, bisa-bisa nanti kalau penghuni rumah ini sakit menyalahkannya. Baru kali ini ia masuk rumah seorang perwira tapi takutnya setengah mati mirip mau masuk gerbang neraka.


Ia menggeser dan mendorong sofa berwarna pink itu sesuai interuksi Eirene setelah Wiwit dan Rengga menyingkir.


Ponsel Eyi berdering, pengantar makanan rupanya sudah di depan markormar. Rupa-rupanya ia trrtahan di gerbang dan tak bisa sembarang masuk kesini.


"Oke saya kesana sekarang!"


"Kak, Eyi mau ambil dulu makanan ya di depan gerbang. Katanya kurir dia ngga bisa masuk ketahan di pos." Wiwit mengangguk paham.


"Om, terusin aja ya, Eyi ke gerbang dulu!"


"Ngga mau saya antar bu?" tanya Maliq, jangan sampai nanti ia mengadu pada Rayyan karena ajudannya mengabaikan keselamatan istri atasan.


"Oh engga! Eyi bukan perempuan lemah yang udah uzur, mesti di gandeng-gandeng kok! Cingcai lah kalo cuma jalan ke gerbang terus ambil makanan!" Maliq benar-benar dibuat angkat senjata oleh Eirene, ia mencelos terus ini apa? Katanya kuat cuma geser sofa aja sampe manggil. Padahal nih sofa cuma di gelindingin pake telunjuk doang juga pindah!


Eirene memakai topi dan jaketnya lalu keluar dari rumah menuju gerbang, dilihatnya para perwira sedang melakukan latihan di lapang, sepertinya akan dilakukan latihan bersama hewan kesatuan di lapangan ini, bisa dilihat dari mereka yang membawa serta guguk pelacak milik kesatuan sepaket baju karung tebal.


Lumayan juga ia berjalan hingga seorang kurir dengan motor dan jaket merah, kuning khas si resto cepat saji terlihat.


"Pagi bu!"


"Pagi," angguk Eirene singkat.


"Pembayaran udah ya bang lewat m banking--- dan ini tips buat abangnya," ucap Eyi menyerahkan selembar biru, darimana ia bisa memesan sebanyak itu, tentunya dari honey! Ia memaksa honey membayar orderannya kali ini sebagai bentuk dosanya yang bersekongkol dengan Rayyan karena telah memblokir kartu atm miliknya.


"Iya, selamat menikmati, terimakasih sudah order!" ia tersenyum ramah diangguki Eyi singkat.


Sudah menjadi sifat Eirene yang royal dan boros tapi ia pun bukan tipe orang yang pelit.


"Om! Ini buat sarapan!" Eyi menyerahkan sebuah paper bag berisi 2 buah burger pada penjaga serambi.


Mereka saling melirik, lalu menerima pemberian istri kapten itu.


"Terimakasih bu,"


"Sama-sama," Eirene menenteng dua kardus pipih pizza yang diikat tali, dan dua paper bag besar kentang goreng, burger, hot dog dan spagheti.


Sudah lama lidahnya tak merasai makanan-makanan ini, dari aromanya saja tercium begitu menggugah selera. Beberapa kali ia melongokkan kepala ke dalam paper bag untuk membaui, saking tak sabarnya Eirene bahkan sudah merogoh salah satu hot dog yang masih terasa panas.

__ADS_1


Tali kardus pizza ia sampirkan di lengan, lalu ia meraih bungkusan hot dog, dan membukanya, "emhhh wanginya!"


Rupanya bukan hanya Eirene saja yang tergoda aroma daging hot dog itu. Para guguk pelacak yang kini sedang latihan pun mendadak oleng dan ngiler dengan baunya, bagaimana tidak sosis breatwurst yang masih panas itu menguar begitu kuat ke dalam penciuman mereka. Seharusnya yang mereka cium itu bau granat tapi si istri kapten melintas ke pinggir lapangan dengan membawa godaan maha dahsyat, hewan pun punya hati dan punya hidung, insting mereka mengatakan untuk mengejar makanan--maka itu yang mereka lakukan.


Gukkk---gukkk----


Eirene menoleh, dan dilihatnya wajah-wajah hewan menggonggong sohib para ksatria itu melihatnya penuh damba.


"Blackyyy! Blackkyyy!"


"Thunder!! Thunder!"


Teriakan memanggil para perwira tak mereka indahkan, Eirene mulai waspada...


Awalnya para guguk itu berlari pelan ke arah Eirene. Tapi berhubung Eirene panik dan berlari, maka mereka pun menunjukkan kemampuan berlarinya.


"Aaaaa---" teriak Eirene berlari kencang.


Blackyyyy!


Thunder!!!!


Para perwira itu mengejar Blacky dan Thunder yang mengejar Eirene, lebih tepatnya mengejar breatwurst di tangan Eirene.


"Bu kasih saja sosisnya!"


Maka terjadi lagi kehebohan di markas korps marinir dengan biang yang sama.


"Hushhh! Hushhh! Ini hot dog Gueee!" teriaknya sambil berlari.


Thunder dan Blacky berlari mengejar Eirene dan para perwira berlarian mengejar kedua guguk itu.


"Beli sana sendiri! Emangnya kesatuan ngga kasih kalian gaji?!" teriaknya lagi.


Eirene mulai kepayahan, beradu tanding berlari dengan salah satu hewan tercepat so pasti Eyi akan kalah.


"Om Maliqqq!"


Maliq yang baru saja beres dan keluar dari blok rumah Rayyan, dikejutkan dengan teriakan istri atasannya itu. Netranya menangkap sosok Eyi yang dikejar oleh dua guguk kesatuan dan para perwira.


"Allahu! Ibu!" ia berlari ke arah Eirene.


"Bu, lempar saja sosisnya!" teriak para perwira dari belakang.


"Kalo Eyi berenti lari buat ngambil sosis kelamaan! Justru nanti mereka ngacak-ngacak semua paper bagnya!"

__ADS_1


"Bu Rayyan sini cepat masuk!" salah seorang tetangga berbeda blok berteriak dan memberikan perlindungan. Dengan cepat Eirene masuk ke dalam rumah salah seorang tetangga lalu menutupnya cepat.


Eirene terlihat ngos-ngosan dan menyeka keringatnya, "hofffttt sukur!"


Diluar sana Maliq menenangkan kedua guguk kesatuan bersama para perwira lain.


"Gimana ceritanya itu bu, bisa dikejar guguk gitu?" tetangganya itu tertawa.


Eirene mengambil posisi duduk, "ikut duduk dulu deh! Cape ih," ucap Eirene.


"Boleh bu silahkan," ia melengos untuk mengambil air minum.


"Ini bu," segelas air minum terulur untuk Eirene dan perempuan itu langsung menyambarnya, "makasih," dalam sekali teguk segelas air minum tandas diteguknya.


"Hoffttt!" ia meloloskan helaan nafas lelah. Lumayan lah untuk membakar kalori hari ini.


Dilihatnya kedua guguk itu sudah dibawa kembali oleh pelatihnya, Eirene melongokkan kepala ke jendela luar, setelah dirasa aman ia membuka pintu dan keluar.


"Makasih ya bu, kalo ngga ditolongin ngga tau deh. Mana ngga bisa manjat pohon lagi!" imbuh Eirene.


"Sama-sama," ia terkekeh geli.


"Bu, ibu tidak apa-apa?" tanya Maliq yang masih di luar.


Eirene menggeleng, "cape!"


"Nyesel deh buka-buka makanan di tengah jalan!" gerutunya mendumel sambil berjalan untuk kembali ke rumahnya.


Maliq yang terkesan datar nan dingin mengulum bibirnya ingin tertawa mengingat kejadian barusan.


"Lain kali hati-hati bu, untung ibu larinya cepat, kalau engga---"


Eirene mendelik menoleh, "kalau engga apa?!"


"Mereka tak segan-segan mengoyak mangsa bu," lanjut Maliq menakut-nakuti istri atasannya, jika dilihat-lihat istri atasannya ini menggemaskan juga jika sedang menggerutu begini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2