Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KUTITIPKAN RINDU DI JEMBER


__ADS_3

"Jangan galak-galak ah! Tentara negri tuh harus ramah," goda Eyi.


"Lovely," sapa seseorang menyelamatkan ketiganya.


"Hay mas Dudi,"


"Mari, ke kantor!" ajaknya.


"Oke, kalo gitu Eirene pamit dulu guys! See you sist!" ia cipika-cipiki pada mereka namun saat akan berhadapan dengan Bobi, Rayyan menahannya, "dek," ia menggeleng.


"Bye kak Bobi!"



"Ini sederet jadwal kamu disini," asisten bagian talent memberikan beberapa lembar kertas yang sudah di jepret pada Eyi.



Eirene menyambarnya, "oke---kembali ke rutinitas modeling dulu kali ini," Rayyan ikut melihat sederet jadwal istrinya, memilah milih apakah semuanya baik atau tidak.



"Jadi pakaian *defile* mana aja yang aku pake, mas?" tanya Eyi.



"Sriwijaya sama Poseidon, untuk melambangkan kekuatan armada laut/marinirnya tanah air, sesuai nama kesatuan yang kamu bawa!"



"Oke,"



"Kita kasih pilihan buat mbak Lovely, ada yang berat kostumnya beragam. 5, 10, 20 kilogram?"



"Ha?! Yang bener aja?!" seru Langit, membuat mereka menoleh.



"Ada masalah om?" tanya Eyi pada Langit.



"Dek, itu berat. Kamu jalan 3,5 km ditambah bawa beban berpuluh-puluh kilo? Sama aja kaya tentara?!" ujar Rayyan tak percaya. Sementara Pramudya hanya bisa mengatupkan mulutnya menyimak pembicaraan mereka tak mengerti.



"So?" tanya Eirene.



"Emangnya abang baru tau kerjaan model juga ngga kalah capeknya?" Eirene mengangkat kedua alisnya. Seharusnya ia tak usah bertanya lagi, jelas saja mereka tak tau wong mereka bukan model.



"Heels, wedges?" tanya Eyi.



"Tergantung, mbak lovely mau pake desain yang mana. Khusus mbak Lovely kita kasih pilihan," ujarnya tersenyum.



"Wedges, heels oke, 8, 15, 18 no problem buat Eyi---" gidiknya acuh, tapi Rayyan kembali menganga dibuatnya.



"15 cm?! Gilak, pulang-pulang kamu encok dek! Patah engkel kamu,"



"Abang gimana sih, kan kerjaan Eyi dari dulu ya begini---"



"Engga, engga. Kalo bisa kamu pake flatshoes saja. Udah gitu bajunya ngga usah yang berat-berat! 5 kilo aja cukup! Ini pakaiannya tertutup kan?" perintahnya menunjuk pakaian yang di maksud dengan menatap orang talent sepaket tatapan tajamnya, ia menelan saliva seolah akan dikuliti oleh Rayyan.


__ADS_1


"Engga---engga! Eyi mau keliatan paling bersinar! Eyi mau yang ini!" tunjuknya pada pakaian yang sedikit terbuka, berat nan belibet.



"Itu berat, kamu bisa langsung pendek pulang dari sini, bahu kamu tersekspos" debat Rayyan, Eirene mengerutkan dahinya, sebenarnya yang model disini siapa?



"Abang mau kamu pake yang ini aja!" tunjuknya.



"Ya udah abang aja yang pake," jawab Eyi. Langit dan Pramudya mengulum bibirnya membayangkan jika seorang Rayyan memakai pakaian seperti itu, tiba-tiba saja keduanya tertawa.



"Abang tuh ngga tau style, taste-nya model! Biar glamour and shine!" balas Eyi menjelaskan, semua pasang mata melihat bergantian ke arah Rayyan dan Eyi. Sebenarnya percuma saja ia menjelaskan sampe mulut mandi busa. Toh jalan pikirannya dan Eirene yang berbeda profesi tak akan menemukan titik temu, ibarat kata Rayyan lewat jalur laut naik kuda laut nyungseb di rumahnya spongebob, sementara Eirene lewat jalur hutan naik kuda poni nyungseb di neverland.



"Ngga ada shine-shine'an kalo mau bersinar pake aja sabun pencuci piring!" tegasnya pada sang istri.



Eirene mengerutkan dahinya, "kok sabun?! Ah! Bawa abang lebih ribet ketimbang bawa honey lah!" Eirene mendekap tangannya di dada dan menyenderkan badan di sofa, baru kali ini ia kalah berkata-kata, hanya oleh tentara satu ini, selain menyebalkan rupanya Rayyan adalah juara debat antar kompi, emak-emak aja langsung minder denger Rayyan ngoceh.



Langit hanya bisa menthesah, dimana pun kapanpun, pasangan Ray-Eyi emang selalu berantem. Kayanya hidup itu monoton kalo ngga berantem.



"Ja..dinya, gimana mas?" tanya orang talent pada mas Dudi, ia mencari aman saja daripada di tembak oleh sniper dan si ahli teknologi'nya Raden Joko ini.



"Suruh aja abang yang pake mbak!" tukas Eirene ketus, lain kali ia tak mau mengajak Rayyan kalau endingnya disuruh pake gamis.



"Kasih yang ini aja mbak, kalo ngeyel pengen bersinar kasih aja bola lampu banyak-banyak!" tukas Rayyan menatap Eirene lekat.




"Pusing ya mas, kita apalagi---udah gumoh!" ucap Pramudya pada Dudi.



Setelah meributkan hal yang tak begitu penting, akhirnya tiba saatnya bagi Rayyan dan rekan untuk pulang. Tugas tetaplah tugas, tak bisa mencampur adukkan dengan masalah pribadi. Meskipun maunya Rayyan tetap disini menjaga istrinya yang terlampau nakal dan ngeyelan.



"Abang pulang ya, nanti kabari aja kalau acara sudah selesai. Siapa tau abang bisa jemput!" ucapnya merapikan rambut Eyi, mengusir rasa sendu, Eirene mengangguk memainkan kancing-kancing di baju loreng Rayyan, jika bersama selalu bertengkar tapi jika berpisah kok ya Rindu!



"Jangan ngeyel! Tetap jaga kondisi," tak ada pesan khusus untuk Eyi hanya saja rasanya beda antara meninggalkan dan ditinggalkan, setidaknya jika di markormar ia akan tau bahwa Eirene akan selalu baik-baik saja, beda dengan disini.



"Iya. Oh iya! Nanti kalau pulang. Eyi mau kaos yang lipetannya paling atas itu abang pake! Terus nanti kita video call'an. Eyi mau liat abang pake itu!" ujar Eirene memohon dengan mata membesar dan berkaca-kaca mirip si kerropi lagi nahan mules.



Rayyan mengernyit, "kaos apa?"



"Kaos couple, dulu peenah beli tapi belum sempet dipake!" jawab Eyi.



"Oke," jawabnya masih kalem, tak tau saja ia bentukannya seperti apa.



"Bu, baik-baik disini!"


__ADS_1


"Titip model yang tadi bu, mintain nomornya!" tawa Langit berkelakar.



"Yang mana om Langit?" balas Eyi tersenyum gemas.



"Yang, kaos putih!"



"Kirain si Boba!" sahut Rayyan.



"Bobi!" ralat Eyi berdecak, doyan banget ganti nama orang!



"Abang pulang ya," Eyi mengangguk dan mengambil punggung tangan Rayyan, menciumnya takzim, begitupun Rayyan yang mengecup kening Eyi, menitipkan hati dan kerinduan yang sudah pasti akan bersarang.



*Abang titipkan rindu di Jember*.



"Assalamualaikum,"



"Waalaikumsalam,"



Eyi menatap punggung tegap ketiga perwira yang kini meninggalkan hotel menuju parkiran dimana mobil kesatuan berada. Ia melambaikan tangannya, berdadah ria. Dari sini Rayyan akan kembali ke kota Pahlawan lalu terbang kembali ke ibukota.



"Bro, malem ini ada timnas kan?!"



"Di rumah Ray aja, kebetulan Eyi ngga ada! Kata kak Wiwit rumah Ray sekarang enak banget mirip hotel!" usul Pramudya, agar terbebas dari tugas bersih-bersih rumah.



"Eh janganlah!" tolak Rayyan, apa jadinya jika mereka tau rumahnya bak istana barbie.



"Ah, udah lama gue ngga kesana! Kuy lah, beli cemilan!"



"Ogah lah, biasanya juga di rumah Pram!" ujar Rayyan.



"Ah ngga ada! Rumah bakalan gue gembok!" jawab Pramudya.



"Keputusan final, rumah Rayyan!!"



"Oke, gue w.a yang lain!"



"Eh, bentar dulu!" tolak Rayyan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2