Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KINI KAU KEMBALI


__ADS_3

"Gue kangen Eyi bang," lirihnya.


"Hari ini lo laporan dulu, biar bisa cepet balik. Lo mau nelfon orang rumah?" tanya Al Fath, rindu sudah tak dapat dibendung lagi, ia mengangguk, bukan dengan ponsel miliknya melainkan ponsel Al Fath.


"Assalamu'alaikum,"


Umi menangis melihat Rayyan dengan kondisinya, padahal perwira itu sudah menutupi badannya dengan pakaian loreng, "ya Allah!" perempuan yang sudah mengandung, melahirkan dan mengurusnya itu menangis haru sesenggukan, "anak umi jadi jelek gitu!"


"Alhamdulillah," ucap abi Zaky. Moment yang seharusnya haru membuat Zahra menangis sambil tertawa, "abi anaknya dibilang jelek malah alhamdulillah!"


"Maksud abi alhamdulillah Rayyan selamat dan sehat," ralat abi.


Setelah beberapa menit ia berbicara dengan abi dan umi, ia lantas meminta umi kenyerahkan ponselnya pada Eyi.


Wanita yang awalnya sedang mengaduk susu bumil pagi harinya itu nampak syok dengan seruan umi yang mengatakan jika Al Fath memberi kabar tentang Rayyan.


Susu bumil yang masih hangat itu belum sempat masuk ke dalam tenggorokannya barang setetes pun, "Dek," panggilnya. Tampak wajah lusuh Rayyan disana dengan beberapa luka terutama di bagian wajah samping sampai leher, ia sedikit kucel dan dekil meski lebih baik ketimbang sebelumnya. Eyi tak kuasa membendung lagi haru bercampur sedih, menangis sesenggukan seraya menutup mulutnya agar tak bersuara.


Melihat wajah pria-nya dengan luka dan sanggahan di lengan membuat hatinya mencelos dan terhantam kuat.


"Diminum dulu susu-nya, kasian cimoy-nya'kita nungguin susu." Lidah Eyi kelu tak dapat berkata apapun saat ini untuk membalas ucapan Rayyan, hanya cengkraman erat di gelas susu sampai buku kukunya memutih lalu meneguknya hingga tandas di depan Rayyan, ia masih tak percaya jika do'a yang ia langitkan di dengar Yang Maha Kuasa. Wajah cantik namun pucat itu masih nampak mulus, "kamu udah makan belum?"


"Wajah kamu pucet banget. Kamu sakit?"


"Abang kangen dek,"


"Kapan abang pulang?" Eyi buka suara.


"Secepatnya, beres ini abang laporan dulu baru boleh pulang. Disini juga ada opa Gau," ucapnya.


"Opa?" tanya nya.


"Iya, opa bantuin tim dalam misi pencarian abang---beliaulah informan medan disini,"


"Ya udah, ngobrol panjang lebarnya nanti aja di rumah. Kasian paketan data bang Fath takut abis," kekehnya.


"Salam buat yang lain juga. I love you--- assalamu'alaikum," pamit Rayyan


"Wa'alaikumsalam,"



"Brother!!!!!" teriak Langit yang juga sama-sama diperban dibagian kaki dan Jaya di bagian perutnya.



"An jimmm! Tulang gue retak saravvv!" omel Rayyan terjengkat kaget saat mereka dengan tak pengertiannya memeluk.



"Abang keluar dulu Ray, mau kasih kabar sama keluarga di timur," ucap Al Fath.



"Iya bang,"


__ADS_1


Kalau saja tangannya tak di sanggah begini, mungkin ia dapat mencekik kedua teman ubur-uburnya itu.



"Gue pikir lo, aduhhh! Apa yang mesti gue bilang sama Eyi, bro! Bisa mati dicekek gue sama Eyi," ujar Langit.



"Bilang aja nih lakinya kamvrett!" sahut Pramudya.



"Allah masih sayang hamba somplaknya ternyata!" tambah Jaya ditertawai Rendra.



"Bang--- kata Maliq, ibu ngamuk di kantor! Nyariin unit elite Raden Joko---disebutin satu-satu, cuma gue aja kayanya yang ngga diabsen, mamposs lo, balik ke markas besar dicekek bu Eyi, ditimpuk pake sepatu hak!" kata Rendra.



"Ha-ha-ha. Bini Rayyan bar-bar. Katanya pegawai administratif diteriakin sampe sawan!"



"Untung aja ngga dipanggil PM bang," ujar bang Jaya.



"Kayanya takut ditimpuk sepatu sama ibu Eyi," tawa Rendra lagi.



Suara kapal berlabuh membuat para plankton berhamburan di bawah sana. Udara yang akan selalu terasa segar bagi mereka yang menatap hari dengan hati teguh nan ikhlas.


"Lo mau gue gotong engga?" tanya Pram, Rayyan menggeleng, "cih malu! Ngga ada ceritanya kapten digotong. Gue bukan manten su nat!" jawabnya.


Di ujung sana Eyi dan beberapa istri prajurit lain menanti kedatangan mereka. Tapi diantara para ibu kesatuan sosoknya lah paling berbeda, bagaimana tidak, ia tak berseragam ataupun pakaian sopan lainnya.


Eyi datang dengan kaos favorit Rayyan dan celana bahan, hanya dibalut jaket kesatuan milik Rayyan. Rambutnya bahkan hanya digerai saja berlindungkan topi demi menghalau sinar mentari yang membuat mata sembabnya silau, terlihat sekali jika wanita ini tak berniat memantaskan diri atau bersolek, wajahnya begitu pucat dan matanya sembab, ia juga langsung datang dari rumah umi.


"Eyi," Wiwit mengusap pundak wanita ini, sementara jagoannya sudah berlari siap menghambur di pelukan sang ayah, Jaya.


"Ayah!"


Senyuman Rayyan terulas lebar, melihat Eyi. Wanitanya yang paling cantik disana.


Langkah Rayyan sudah sampai di depan Eyi, tapi wanita itu masih mematung menatap Rayyan nyalang dengan sorot mata berkaca-kaca, seolah memastikan jika yang di depannya itu adalah suaminya.


Eyi menumpahkan tangis dan menghambur memeluk Rayyan sampai-sampai topinya terjatuh dari kepala, kemarin ia masih mencium bau lautan, pasir, lumpur hutan bakau, kemarin ia tak tau apakah esok masih dapat bernafas apalagi pulang. Tapi hari ini ia dapat menghirup kembali aroma wanitanya, mengecupi Eyi seperti biasanya.


"Kamu jahat, bang!" suara Eyi teredam pelukan.


"Kamu tega sama Eyi. Jangan kaya gini!" ia menegakkan kepalanya, "pake udah bikin wasiat---" ucapnya terbata, sementara Rayyan memperhatikannya menangis dan mengeluh.


"Kamu pikir aku matre! Aku dulu memang matre, tapi cuma sama aki-aki sab leng..." Rayyan tertawa meski terasa ngilu.


"Aku ngga suka kamu kaya gitu! Kamu tega udah bikin aku hamil terus malah ditinggalin! Kamu ngga tau aku sekarang rapuh---udah ngga tangguh lagi, apa-apa mewek, apa-apa mewek!" keluhnya.

__ADS_1


"Maaf," ia membawa kepala Eyi dan mencium keningnya lama, diantara deburan air laut di pangkalan dan angin yang sudah bertiup sedikit kencang, mereka mengikrarkan diri sebagai insan yang merindu.


Eyi merasai hangatnya sentuhan Rayyan itu dengan memejamkan mata, dan pada akhirnya pelabuhan terakhir itu di kamu.


"Woyyy! Udah kaliii, mau dikecup sampe kapan, tuh orang-orang udah pada balik! Abang sama opa lo nungguin," tepuk Langit membuyarkan moment keduanya.


"Gila kalii ya, orangtua suruh nunggu orang ciuman!" tawa Pram. Eirene tertawa menyipitkan matanya. Eyi membantu memapah Rayyan, "ya ampunn, ini tangan kenapa?"


"Abang bantuin spiderman terjun dek," jawabnya.


"Saravv!" umpat Jaya menahan tawa.


"Ck!" Eyi menjambak pelan rambut Rayyan, "dipikir anak tk gampang dikibulin!" sarkasnya.


"Kita pulang kemana ini dek?"


"Ke rumah umi dulu, nanti sore abang langsung medical check up,"


Mereka berjalan, "eh!" Eyi berbalik mencari barang yang sempat hilang.


"Kenapa?"


"Topi Eyi bang, topi!" serunya.


"Noh, jatoh tadi pas pelukan. Sampe ngga sadar!" ujar Pramudya.


"Eh, ambil tuh---sayang itu topi seharga motor matic di ibukota, dapet hadiah dari Kylie mana ada tanda tangannya, kalo di jual mahal---"


Sontak Langit dan Pramudya melotot, "hah?! Kylie Jenner itu, yang bibirnya sexy?! Wah, mayan dong, gue jual bisa ganti motor!" Eyi mengangguk. Keduanya balik kanan dan berlari untuk mengambil topi Eyi.


"Dasar perwira somplak!" cibir Jaya tertawa melihat keduanya berebut topi Eyi.



Sampai di rumah umi langsung menghambur memeluk Rayyan, menumpahkan semua kegelisahan.



"Umi udah bilang kan, ngga suka kalo anak jadi prajurit, gini nih---suka bikin jantungan!" omelnya, Eyi merangkul opa Gau di belakang Rayyan, membiarkan suaminya itu diomeli umi.



"Siang pak, silahkan--" abi Zaky mempersilahkan opa Gau masuk.



"Bi, bikinin minum ya!" tambah umi.



"Mari pak, masuk."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2