
Tepukan dan sorakan riuh selaras dengan euforia yang dirasa, Eirene bahkan kembali merasakan kegugupan yang dulu pernah ia rasakan sewaktu menjadi model untuk pertama kalinya.
Inilah kali pertamanya kembali setelah vakum dari berlenggak-lenggok di depan khalayak ramai, memutuskan menikah dengan seorang abdi negara...sejak saat itu pula honey menutup seluruh tawaran kerja untuk Eyi.
Rayyan kini duduk di depan sofa, hanya bisa cemberut tanpa tau kemana harus mengadu, apakah harus...ia curhat pada jarum jam yang berdetak, ataukah pada nyamuk yang lagi keliling buat ronda, nyariin donor dar ah?
Ia keluar dari rumah untuk sekedar mencari angin dan teman ngopi, padahal di rumah salah satu ketua kompi, ibu-ibu lagi khidmat-khidmatnya menyaksikan JFC di layar televisi.
"Om Rayyan! Mari sini, nonton ibu Eirene sama-sama!"
"Monggo bu, saya di rumah saja."
Bukan Rayyan tak mau, tapi dengan melihat Eyi rasa rindu yang bergema semakin bergaung begitu dahsyat di ruang dada. Keliatan banget kan, pungguk merindukan bulannya? Sue! Ia menyalakan sebatang rokok, sudah lama ia tak merokok, sejak....Eyi datang di hidupnya, mungkin ia selalu curi-curi kesempatan jika di luar namun tidak di rumah, ia tak mau meracuni Eyi. Lelaki itu berbelok di blok depan, Rayyan baru saja ingat jika tadi sore Langit dan Pramudya mengajaknya ngopi di rumah Langit.
"Lang! Bolang!" Rayyan mengetuk pintu mes Langit kaya anak kolong jembatan minta makan.
Pintu terbuka lebar, menampakkan para perwira itu tengah berbalut boxer plus sarungan, jomblo-jomblo acikiwir ya begini. Ngga ada perubahan, mentang-mentang ngga ada pacar yang bakalan ilfeel gawe'ne sarungan, Rayyan tertawa sumbang seraya menggelengkan kepalanya tak aneh.
"Lo bawa cemilan nggak?" tanya Pram. Rayyan menggeleng, "suruh Rendra, dia kesini kan?" sekuat-kuat tubuhnya melawan, tapi ternyata hati tetap tak bisa, otaknya menolak tapi hati memerintahkan tangan untuk meraih remote televisi demi memindahkan saluran chanel, dan kini nampaklah acara parade itu tengah berlangsung.
Terlihat gelap langit kota Jember malam itu, tapi dengan pencahayaan yang cukup letak panggung dan catwalk jadi semakin jelas.
Jantungnya berdegup kencang menunggu seseorang yang paling ia tunggu, rasanya belum pernah Rayyan seperti ini sebelumnya.
Tok-tok-tok!
Hingga suara ketukan pintu mengacaukan fokusnya yang tengah duduk melantai di karpet bersama Pramudya.
"Wah! Udah stay aja bapak nunggu ibu!" tawa mengejek Rendra dengan kresek hitam di tangan.
"Dikit amat Ndra, jangan-jangan isinya kuaci semua?!" Pramudya memanjangkan lehernya demi melihat isian kresek.
"Lang! Ada mie nggak?! Gue mendadak laper!" teriak Pram.
"Ada, yang kuah tuh di laci dapur!" si pemilik rumah keluar dari kamar dan bergabung dengan Rayyan.
"Di rumah banyak Pram, tapi males gue balik laginya," ujar Rayyan.
"Lagu lama lu bang, bukannya sekalian tadi dibawa kesini!" cibir Rendra.
"Males gue bawa besekan kaya emak-emak. Kalo mau ambil aja sendiri ke rumah," Rayyan ikut mencomot kacang kulit dari bungkusan yang dipegang Pram.
"Ogah ah, acaranya udah mulai. Gue ngga mau ngelewatin liat ibu," kekehnya, baru kali ini para perwira mantengin acara beginian hanya demi melihat nama korps marinir dikumandangkan.
"Masih lama, nih lagi sambutan dulu, tuh!" ujar Langit.
"Buru, gue mau yang goreng---di rumah Ray banyak pilihan rasa, kaya warung! Sekalian ambil telornya," ujar Langit menyuruh juniornya ini.
"Nih kunci, jangan sampe ada yang robah, atau lu yang gue sikat---ntar Eyi marah!" ujar Rayyan menyahut seraya menyerahkan kunci rumah dari saku celana.
Waktu bergulir bersama berserakannya bungkusan berwarna-warni di atas karpet plastik rumah Langit.
__ADS_1
Setelah penabuhan drum, mendadak lampu dipadamkan beberapa saat, hingga semua penonton kini bertanya-tanya dalam suasana excited.
"Yok bismillah yok!"
"Semoga lancar acara!" mereka saling menumpukkan tangan satu sama lain, "*Wuhuuu*!"
"Oke guys! Masuk frame!" teriak pengatur acara.
Eyi meloloskan nafas demi mengurai rasa cemas dan gugup. Berharap persiapan dan usahanya bersama rekan crew selama beberapa hari ini lancar dan sukses malam ini, kembali menorehkan kesan amazing di mata dunia.
"*Semangat---semangat*!"
Eirene yang telah siap bersama sejumlah guest star kini berjalan di antara kegelapan panggung dan berjajar tepat di atas panggung.
"*Oke, fokus lighting nyala*!"
"This is Jember Fashion Carnival, Mr. Dudi, president of JFC!" sosok pria paruh baya itu turun dari atas melewati beberapa anak tangga dengan riuh tepuk tangan.
"Dan sederet guest star, Laksmi, putri Indonesia tahun 202X !" perempuan yang memenangkan ajang putri sejagat itu menyusul turun dengan pakaian adat dan tentunya heels, senyuman tak pernah luntur.
"Bobi Alfi, make up artist!" sosok pria gemulai itu turun, Rayyan dan kedua lainnya sempat bergidik mengingat pertemuan mereka.
"Sarah\_Tumiwa, the winner next top model 202X!" gadis itu menyusul turun dari tangga dengan anggun tanpa melihat langkahnya apakah tepat atau tidak, tapi nyatanya ia tidak miss.
Keriuhan semakin bertambah kala satu persatu guest star turun dan tebak, saat gong-nya turun, semua mata kini tertuju padanya.
__ADS_1
"*And this is the last and only*! Eirene Michaela Larasati anak negri dengan segudang prestasi!"
Sepasang kaki-kaki putih nan jenjang turun dari atas panggung dengan anggun penuh kharismatik dan karakter kuat, ia selalu memiliki senyuman nan angkuh ciri khas Eyi, tak ada siapapun yang dapat menyamainya.
\# *Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa*.
~~*Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa*.
*Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata*.
"Woahhhh Eyiii! Mantu umi!" teriakan seorang ibu paling kencang diantara bangku penonton kelas VIP.
Pakaian selututnya bersama bagian belakang yang menjuntai macam ekor penguin menyapu jalanan, tulang selangka dan bahu yang terekspos sempurna tanpa celah memperlihatkan sisi keseksian yang Eyi miliki, mungkin sedikit tertutup aksesoris dan perintilan kostum yang dipakai, ditambah make up yang semakin menambah karakternya. Tak ada gerakan melenggok yang Eyi keluarkan disana namun sepertinya itu saja sudah cukup menunjukkan jika posisinya sebagai model profesional bertaraf internasional memang tak terkalahkan oleh siapapun.
Lensa kamera stasiun tv men-*zoom in* Eirene dari ujung kepala hingga bawah kaki, dimana seluruh mata negri kini terfokus padanya, tak terkecuali di markormar. Wanita itu mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam pada tamu yang hadir. Bahkan sorot mata ber-contact lensa coklat sedikit kemerahan itu tampak semakin mempertajam karakter Eyi. Pembawa acara bahkan membacakan sederet prestasi wanita satu ini lengkap dengan statusnya sekarang yang seorang istri prajurit, sejauh mana pun ia pergi tetap saja ia akan kembali ke pangkuan tanah kelahiran, sebagai *rumahnya*.
\#*Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata*.
*Gleuk*!
Rayyan meneguk salivanya sulit, sementara teman-teman lain berdecak memuji, "emang ngga kaleng-kaleng. Kebanting semua pas Eirene keluar!" Pramudya saja tau padahal ia bukan pengamat mode. Rendra tertawa, "lakinya aja udah gemeteran gini!"
"Si alan! Engga lah, gue mah udah biasa mandangin saban hari!" kilah Rayyan. Bukan tidak mungkin tawaran pekerjaan akan kembali berdatangan pada Eyi-nya setelah ini.
Para model itu berjalan melenggok di hadapan para penonton termasuk Eirene, kaki-kaki jenjang Eyi bahkan tak bergetar sedikit pun saat sepasang heels tinggi menjejaki jalanan. Berkali-kali ia melemparkan senyuman seraya mengeluarkan jurus memperlihatkan pakaian yang sedang ia kenakan, sebagai bentuk memamerkan hasil karya anak negri, karena untuk itulah kenapa ia dipanggil.
Pandangan Eirene fokus ke depan dan sesekali menyapu seluruh kursi penonton, tapi sayangnya ia luput satu sudut dimana sepasang suami istri yang jauh-jauh datang ke Jember tengah menontonnya.
.
.
__ADS_1
.
.