Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
PELAJARAN HIDUP


__ADS_3

Rambut basahnya seketika mengering karena asap yang keluar dari kepala. Lama-lama ia bisa botak berdiri jika begini terus, perutnya sudah keroncongan, entah itu keroncong solo atau keroncong protol, sejak tadi lambung kecilnya minta asupan nutrisi dan sumber energi.


Ia melirik ke atas dinding, dimana jam menunjukkan waktu hampir maghrib. Mau tak mau wanita ini kembali ke dalam dapur dan memikirkan bagaimana caranya memasak. Hentakan kaki kasarnya sukses membuat gempa para penghuni bawah tanah.


Ia ambil satu butir telur dari dalam kulkas.


"Ini wajannya mana?" ia mengedarkan pandangan ke seluruh inci dapur dan menemukan si pan tat lebar itu tengah asyik menggantung cantik di dinding bersanding dengan panci. Sungguh kasihan, dengan teganya Rayyan menggantung kupingnya mengait di sebuah paku.


Eirene menaruh wajan tepat di atas kompor dan menyalakannya. Tangannya terulur mengambil minyak dalam botol 2 liter bertuliskan BIbir MOnyonk LIma mili.


"Ini segimana sih minyaknya?" Eirene menuangkan minyak tanpa budi pekerti, sampai sepertiganya ia masukkan ke dalam wajan. Berenang---berenang deh tuh telor, kalo perlu Eirene bakalan kasih pelampung biar ngga kelelep.


Selesai dengan itu, kok lumayan capek ya?!


Ia cukup kebingungan caranya memecahkan telur, yang ia ingat para chef di televisi selalu terlihat mudah memecahkan telur dengan satu tangannya, maka ia akan meniru gaya mereka.


Dibenturkannya telur tadi ke meja kompor secara sembarang macam benturan dari tabrakan mobil, "kalo kata abang ucap bismillah dulu sebelum ngelakuin sesuatu biar lancar!" gumamnya.


Kreekkk!


Ambyarrrrr! Telur malah pecah hingga ke kulit-kulitnya dan mengucur cantik diatas meja kompor.


"Yahhh! Kok ancur?!" Eirene merasa kejijik'an dan berlari menuju kamar mandi, mencampakkan begitu saja kekacauan bekas ulahnya.


Wajan sudah mengepulkan asap pertanda minyak sudah benar-benar panas, seketika perempuan itu dilanda panik, "eh--eh---aduhhh gimana ini?!" ia malah dengan refleks memegang kuping wajan, maksud hati menurunkannya. Tapi apa daya, orang panik kan mendadak amnesia dan be go, alhasil tangannya memerah karena memegang pegangan wajan.


"Awww! Panas-panas!" Eirene meniup-niup telapak tangan yang memerah dan mengibaskannya di udara.


Setelah say hay pada wajan panas, baru ia siuman. Dimatikannya kompor agar tak semakin memanas, lalu ia berlalu kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menenggelamkan keseluruhan telapak tangannya di air. Tak ada genangan air mata ataupun tangisan frustasi saat ini, yang jelas ia ingin cepat-cepat menggoreng telur.


Otaknya bekerja, setelah dirasa lama--meski rasa terbakar masih ia rasakan di tangannya. Eirene memulai kembali usahanya, kali ini dengan perhitungan yang matang. Ia ambil kembali sebuah telur yang hanya tersisa 2 di kulkas lalu ia pecahkan dengan penuh ke hati-hatian di atas wajan berisi minyak yang hangat. Kepalanya menunduk demi menyalakan kompor, tak lupa ia kecilkan besarnya api.


Telur mulai meletup-letup termatangkan oleh minyak yang memanas dan itu membuat Eyi menjauh dan terperanjat, layaknya menghadapi bom teror panci.


"Aaa---aaa!" ia menjerit-jerit dengan spatula di tangannya.


"Ini sebenernya mau masak apa mau perang sih!" Eirene mengambil toples garam, kali ini ia tak ceroboh dengan merasainya terlebih dulu, setelah dirasa cukup asin seperti rasa keringat ia yakin jika itu garam.


Dengan tangan yang ragu, ia mulai menaburkannya di atas letupan telur, bahkan minyak panas sempat berkenalan dengan tangan mulusnya.


"Awww!" ia segera menarik diri.


"Ihhh! Si alan! Hey telorr, mendingan berantem aja yuk, sini!" ia berdecak kesal. Karena terlalu lama membiarkannya tanpa dibalikkan, permukaan bawah telur itu mulai menggosong.


"Eh! Jangan gosong dong!" mintanya mengomel.


Setelah perjuangan penuh drama dan peperangan panas antara ia dan minyak panas, akhirnya sepiring telur ceplok dengan tampilan cukup bikin bergidik kasihan tersaji di atas piring, kemudian Eyi mengambil nasi dari rice cokker dalam mode warm satu centong.

__ADS_1



Diantara hening dan kesendirian, Eyi bergulat dengan nasi hangat juga telur ceplok buatannya untuk pertama kali, wanita itu merasai satu suapan, senyumnya merekah, "not bad!" ujarnya jumawa, abaikan saja dapur berantakan dan bak kamar mandi yang airnya sudah keruh.



Kunyahannya melambat di beberapa suapan terakhir, hatinya mencelos---sebegitu manjanya ia dulu, apapun yang ia mau selalu disediakan honey, tak perlu berjuang sendiri sampai kulit dan telapak tangannya memerah begini. Malahan Eyi sering marah-marah jika keinginannya tak terpenuhi honey, ataupun ada kesalahan yang tak sesuai ekspektasinya.



Ia jadi merasa bersalah pada mantan manager sekaligus orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu, terkadang Eyi membuang-buang makanan hanya karena tak suka. Padahal ada usaha yang tak mudah di belakang pembuatannya, kini ia dapat merasakan itu.



Air sumur sudah dapat terpompa lagi, itu artinya ia dapat memakai wastafel. Eyi membawa piring bekasnya makan beserta gelas untuk ia cuci.



"Ini tuh sabunnya segimana sih?" gumamnya bermonolog. Dalam pikirannya lebih banyak lebih bersih kan? Ia menarik bibirnya tersenyum lebar.



Dengan tak berperasaan Eirene mengucurkan cairan pencuci piring sampai ia tergenang, dan meremas sponsnya sampai benar-benar mengeluarkan busa. Jangankan piring dan gelas yang sebiji saja, ini sih bisa dipake buat nyuci bekas makan satu batalyon.



Eirene menggosoknya asal, karena takut nail art-nya terkelupas, dan benar saja apapun yang ia lakukan setengah hati dan lebih memikirkan diri sendiri maka hasilnya pun tak akan benar.




"Astaga!"



Piring yang berada di tangannya terasa licin dan jatuh dari pegangan, pecahan terlempar dan mengenai kaki indahnya.



"Awwww!" ia mundur dari kekacauan berikutnya.



"Haaaaaaa!" ia menjerit pasrah.


__ADS_1


"Ngga tau ahhhh!" ia berlari menuju kamar mencari kotak P3k, "abang naro dimana kotak P3K ?" perempuan itu celingukan dan membuka keseluruhan pintu lemari yang ada di rumah ini.



Ia menemukan kotak P3K, matanya berbinar dan langsung membukanya.



"Ck!" ia duduk di tepian ranjang seraya memakai plester.



"Bang Ray tega banget sama gue! Masa gue ditinggal tanpa pengetahuan dasar bertahan hidup! Kurang aj ar ngga sih!" omelnya.



"Awas aja kalo balik! Ngga akan gue bukain pintu!" ujarnya lagi.



"Ahhhhh!!" ia menjerit kesal sampai melempar-lempar bantal ke arah pintu kamar karena kesal dengan Rayyan. Telapak tangannya memerah punggung tangan dan lengannya berbekas akibat cipratan minyak panas dan kakinya tergores pecahan piring hanya karena gelut dengan telur.



Rayyan berjalan menuju rumahnya, saat ini sudah hampir pukul 23.30 malam.


Rayyan beberapa kali menguap, dari beberapa meter saja ia sudah bisa melihat kini lampu teras berpendar, pertanda rumahnya tak lagi sepi sekarang. Ia terkekeh kecil, tak sabar melihat Eirene---si model cantik jantong hate abang. Sudah terbayang jelas bagaimana ekspresinya saat ngomel-ngomel pada penjaga serambi tadi, ia tertawa sendiri ditengah malam, mau nyamain mbak kun.


Paling-paling sekarang Eirene sedang tidur, mirip bayi besar yang menggemaskan.


Tangannya membuka pagar rumah, lalu mengunci kembali pagar. Derap langkah sepatu delta memasuki teras.


Alisnya mengernyit saat handle pintu dapat terbuka begitu saja, tanpa ada yang mengunci. Apakah Eirene lupa mengunci pintunya?


Ia melebarkan daun pintu dan melihat dalam rumahnya yang gelap gulita tanpa penerangan setitik pun. Dadanya mulai berdebar, alisnya menukik khawatir.


"Dek?!" panggilnya, tapi tak ada jawaban dari perempuan itu.


"Eirene!" kembali Rayyan memanggilnya lalu mencari saklar lampu.


Cetrek!


Gedebugghhh !!!!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2