Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
APAKAH INI TANDANYA?


__ADS_3

Apa artinya bang?


Tapi belum sempat Eyi membuka mulutnya, Rayyan sudah kembali buka suara.


"Abang ingin mencintaimu dengan sederhana. Bukan dengan harta dan materi melimpah, bukan dengan sikap romantis setiap harinya. Cuma pengen kamu merasakan cinta abang dengan hati, tanpa harus abang ungkapkan dengan kata ataupun isyarat," Rayyan menyentuh dada Eyi tepatnya di jantung yang kini sedang berdegup kencang. Berlatarkan kemilau laut berwarna jingga akibat pantulan cahaya matahari berada di ujung barat pertanda ia akan kembali pada peraduannya.


"Love you too," Eyi menelusupkan kedua tangannya diantara lengan dan pinggang Rayyan, menaruh dagu di pundak abang lorengnya.


Rayyan memberi keduanya ruang untuk bicara lagi, "cinta abang sederhana dek, se-sederhana rumah makan," sontak saja alis dan keningnya berkerut tajam.


"Kok jadi rumah makan?" tanya Eyi.


"Abang lapar, pulang yuk! Kamu masakin abang tuna dong dek--pake sambel dabu-dabu, beuhhh mantep tuh!" ajaknya turun dari ibu Cut.


Umi Salwa menjadwalkan dari jauh-jauh hari untuk kembali ke Ibukota, tak mau sampai kecolongan untuk kedua kalinya saat menantu lahiran. Ia ingun menjadi oma cantik siaga untuk cucu-cucunya.



2 minggu sebelum HPL yang telah ditentukan dokter, ia sudah berkemas kembali ke Jakarta. Pada Eyi---ia merasa seperti anaknya sendiri mengingat Eyi sudah tak memiliki orangtua. Eyi dan Rayyan juga sudah memesan kamar VIP dan proses melahirkan dengan waterbirth yang di idam-idamkan oleh Eyi.



*Ini umi udah pesen jet pribadi*!



*Satu jet full sama barang bawaan dari Sabang*!



*Umi ngga mau kecolongan lagi kaya waktu Fara*,



Begitulah sederet pesan umi sebelum berangkat dari Sabang menuju ibukota.



Eyi mencengkram batang sawi saat ingin memotongnya, sebenarnya sejak dari semalam ia sudah merasakan tak nyaman dan pegal di sekitar area perut bagian bawah, tapi ia tahan takutnya itu hanya sebuah kontraksi palsu seperti yang sering dokter jelaskan sebelumnya saat ia melakukan cek rutin. Ia sendiri tak tau seperti apa rasanya kontraksi, hanya bermodal kata dokter saja rupanya tak cukup bikin ngerti, tak memiliki pengalaman jelas faktor utama Eyi belum juga menyegerakan berkonsultasi.



Ke dokter? Ia hanya malas saja jika harus bolak-balik ke rumah sakit namun hasilnya nihil seperti obrolan santai para ibu Jala saat pertemuan. Dimana mereka selalu membagikan pengalaman melahirkan dengan sederet moment lucu, haru, dan kadang bikin hati berdenyut, karena tak sedikit yang harus melahirkan tanpa di dampingi oleh sang belahan jiwa.



*Udah ngga tahan taunya masih bukaan 3, sakitnya mirip kaya mau mens tapi lebih sakit berkali-kali lipat*.



*Udah mandi keringet sampe segede-gede biji jagung tapi masih bukaan 5, mana pemeriksaan dalam sampe bikin nangis*!


__ADS_1


*Kalo belum ada rasa kaya pengen poop mendingan jangan dulu ke dokter, percuma paling disuruh balik lagi*.



*Saya sampe jambak suami bu, udah persis kalo emak-emak nemu pelakor*.



*Saya sampe cakar-cakar kaya kucing berantem*.



*Saya waktu lahiran, suami lagi dinas di luar, sedih sii*.



*Udah kaya pengen pites aja orang yang bilang semangat! Berisik*,



*Berasa pengen mukul suami udah dibikin bunting*,



Dan yang lebih membuat Eyi geleng kepala adalah, *berasa pengen disaksiin Song Jong Ki biar lahirannya kuat*.



Itu lahiran apa emang si ibu ngefans dan maksain kehendak yang mustahil, biar si bapak ikut ber darah-da rah gitu?



Grekk!


Pisau bergetar diatas papan talenan kayu, baru saja ketajaman mata pisaunya sempat mengiris bagian bawah batang sawi. Untuk beberapa saat ia terdiam tak bergerak di susul cengkraman yang mendadak mengerat di gagangnya hingga buku-buku kuku memutih demi merasakan sesuatu dibawah sana yang memutar, meilit, membuat perih, pegal dan sedikit bikin pinggang panas sampai-sampai Eyi berkeringat.


Langkah kaki putih itu kian melambat di lantai dapur, mulutnya membuat gerakan menghirup nafas dan membuangnya kasar,


Inhale....


Exhale....


Namun kembali rasa itu mereda dalam rentang waktu yang tak lama, dan kemudian hadir lagi tanpa sempat minta ijin, membuat Eyi mendadak mandi peluh.


Sambil menunggu masakan matang, Eyi mencari ponselnya yang ia taruh di atas kulkas, Rayyan selalu meminta untuk membawa ponsel kemanapun, termasuk sedang mandi sekalipun.


"Jam 10," gumamnya memegang pinggang yang mulai terasa pegal lagi, bahkan langkahnya tak bisa tegak saat ini. Ia menggigit bibir bawahnya saat rasa sakit itu melanda lagi, apakah ini tandanya?


Eyi membuka kulkas demi mengambil buah, bukankah ia harus siap stamina untuk persiapan persalinan? Jika itu benar. Jadi yang akan ia lakukan adalah makan, dan saat ini naf su makannya merosot untuk menyantap asupan karbohidrat.


Ia kembali melirikkan kepala ke arah jam dinding, "anter makan siang buat abang dulu," tangan-tangannya kini telaten memasukan makan siang Rayyan ke dalam kotak bersusun, mengurus suaminya lebih dari mengurus diri sendiri. Menikah membuat Eyi belajar mengurus orang lain selain dirinya.


Tangannya memutar gagang kunci demi memastikan tak akan ada orang yang masuk ke dalam.

__ADS_1


Dengan menenteng tas kain ia merasakan angin siang yang sepoi-sepoi melambai kulit, meski cuaca cukup terik di langit ibukota. Setidaknya angin dapat membawa semua keringat hingga menguap di atas permukaan kulit.


Kata dokter harus banyak gerak, jalan-jalan...biar bayi ikut bergerak mencari jalan lahir, mempercepat kontraksi juga. Setidaknya itu yang ia ingat.


"Ini Eyi mau lahiran apa gimana ya? Kok dari semalem mulesnya ngga sembuh-sembuh malah makin sakit? Tapi kan hpl masih 2 minggu, masa jauh amat!" gumamnya bermonolog seraya terus berjalan, ruang di ulu hati pun sudah sedikit lega karena entah disadari atau tidak perutnya itu seperti turun hingga membuat langkahnya kesulitan, terasa ada yang mengganjal di bawah sana, sudah sejak seminggu yang lalu Rayyan tak berani meminta haknya lagi pada Eyi, bukan karena ia tak bernav su pada bumil ini melainkan ia cukup iba dan tak tega melihat Eyi yang sering merasa ikut kontraksi jika keduanya mencapai kli maks. Perutnya menegang, dan merasa mules hingga Rayyan harus membawa Eyi berendam di dalam bak dengan air hangat alhasil gas di rumah cepat habis.


"Aduhhh, ssshhhhh!" kali ini Eyi mulai menthesah kuat berpegangan pada tembok yang ada di sekitar.


"Bu kapten? Kenapa bu? Sakit?!" tanya orang sekitar yang berpapasan dengan Eyi, ia hanya bisa mengulas senyuman nanar dan so kuat, "engga."


Mereka ikut tersenyum getir melihat senyuman palsu Eyi yang terkesan seperti menahan sesuatu. Langkah pelannya tak sia-sia, ia hampir sampai di dekat gedung dimana area puslatpur berada.


"Ibu mau lahiran?" Eyi langsung mendongak saat pertanyaan itu lolos dari salah satu tetangga yang berpapasan.


Kepikiran, ia langsung bertanya. "Bu, mau nanya dong. Kalo mules kaya di peres, diubek-ubek perutnya, terus pegel sedikit panas sampe bikin keringetan itu mau lahiran apa bukan ya?"


Ia mengerutkan dahi mendengarkan pertanyaan Eyi, "biasanya sih begitu bu, ada keluar len dir merah?" Alis Eyi bertaut, ia sampai lupa cek yang satu itu, padahal itu kan ciri-ciri utama.


"Oh iya! Sampe lupa ngga cek," Eyi celingukan mencari toilet yang bisa ia tumpangi.


"Coba di cek dulu deh bu, siapa tau benar?! Mau saya temani, kita numpang dulu di toilet mushola dekat gedung latihan tembak saja," usulnya, Eyi mengangguk singkat, "oh iya. Makasih bu, biar saya sendiri saja. Abang juga lagi di area gedung B deket dari sini," jawab Eyi.


"Oh gitu, ya sudah saya tinggal kalo gitu. Tapi yakin ngga apa-apa bu?" ia kembali memastikan sebab kondisi Eyi membuatnya sangsi.


"Yakin bu," angguknya pasti.


Jantungnya berdebar kencang dari biasanya, mungkin nyaring seirama dengan suara tembakan yang terdengar dari gedung tempatnya berada.


Srekk! Suara gesekan pakaian membuat Eyi semakin berdebar.


Ha?! Matanya membola, ia tak bisa untuk tak terkejut.


"Oke Eyi! Relax---tenang, don't panic!" ia memberikan sugesti-sugesti menenangkan untuk dirinya sendiri agar tak panik dan membuat kehebohan. Tangannya memegang erat tas kain, ia berusaha berjalan secepat mungkin dengan mengesampingkan rasa sakit meskipun itu adalah hal sulit, karena sejak tadi cimoy seolah menekan saraf-saraf di tubuh Eyi, memberikan sinyal bahwa ia sudah ingin melihat dunia.


Suara beberapa peluit dan teriakan para prajurit terdengar begitu jelas, derap langkah sspatu delta pun memecah konsentrasi, bau-bau orang terlatih dan terdidik mulai terasa dengan peluh dan aroma lelah.


...PUSLATPUR...


...(Pusat Latihan Tempur) Gedung B...


Rasa sakit semakin terasa, intensitasnya pun semakin sering.


Prittt!


"Dimana tenagamu Marinir!"


"Jangan galak-galak bang, nanti junior bales lo," bisik Pramudya pada Rayyan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2