
Tak ada kata yang dapat terlukiskan lagi selain bahagia, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Daliya bagai piala bergilir, entah itu oleh umi Salwa, Fara, Honey, ataupun Zahra.
"Aaahhh, anak gue ini! Culik nih---culik!" gemas pria gemulai yang makin kesini semakin cowok banget ia menempelkan kulit wajah sekasar acian tembok itu ke kulit lembut Daliya, tak tau sihir apa yang umi Salwa lakukan pada honey, kini rambutnya sudah ia cukur modelan laki-laki normal, membuatnya tampan dan gentle meski tetap saja gaya gemulainya masih bersisa.
"Ya Allah, lucunya!" mata yang terdorong pipi gemoy itu mengerjap seperti mengamati sesuatu yang terasa aneh dan menyilaukan, entah sudah bisa melihat atau belum tapi terkadang ia tersenyum sendiri dalam tidurnya. Wangi khas bayi selalu membuat Rayyan selalu ingin pulang ke rumah lebih awal.
Balutan blanket pink menemani tidurnya. Sang ibu yang begitu protektif menaruh segala perintilan barang pengusir nyamuk, menggusur air purifier dimanapun Cimoy berada. Wewangian lavender selalu menemani Daliya tidur agar bayi itu tenang saat terlelap.
Rumah Rayyan semakin hangat dengan kehadiran cimoy.
🍃 2 Tahun kemudian
Sore Aceh yang selalu hangat menyapu permukaan kulit setiap warganya.
"Mir, itu kopi Gayo siap konsumsi yang 1 kuintal itu...deadlinenya hari senin, barusan orangnya sudah telfon dan transfer sisa pembayaran. Otomatis dari beberapa hari sebelumnya harus sudah diekspor ke Brunei,"
(..)
"Ya udah, saya mau itu ngga ada masalah keterlambatan lagi Mir. Yo---assalamu'alaikum." Zaky mematikan sambungan telfonnya melihat wanita dengan jilbab hijau mint dan menurutnya paling cantik di dunia itu datang dari arah dapur dengan membawa senampan cemilan sorenya.
"Abang Saga ulang tahunnya sebentar lagi, cimoy masih lama," Salwa selalu mengingat ulang tahun kedua cucu kesayangan. Setiap kalender di rumah sampai kalender kecil di atas meja kerja Zaky saja ia bulati dengan spidol.
"Dek, kapan perkiraan lahiran Eyi?" tanya Zaky.
"Perkiraan sih bulan besok bang, bulan ini kita ke ibukota bulan besok ke timur," jawab Salwa memetakan rencananya 2 bulan ke depan, dimana bulan ini Eyi akan melahirkan anak kedua dan Sagara berulang tahun. Abba dan ummah ini begitu sibuk dengan urusan kedua cucunya, bukan! Calon 3 cucu.
__ADS_1
"Waktu cimoy saja meleset 2 minggu dek," balas Zaky.
"Salwa udah suruh Eyi telfon sih bang, kalo mulai kerasa cenat-cenut telfon Salwa," nenek dengan dua cucu ini menaruh secangkir kopi beserta kue untuk sang suami ex camatnya. Keduanya saling pandang penuh cinta, setelah semua yang pernah mereka lalui cinta keduanya tetap kokoh.
"Makasih," ucap Zaky membuat Salwa mengernyit, "kopi sama kue doang bang kaya biasanya."
Zaky menggeleng, "untuk selama ini. Selama kamu menikah dengan abang, bukan perkara mudah kamu bertahan dalam biduk rumah tangga ini, banyak ujian yang menguji kesabaran dan akal sehat."
"Bukan hanya Salwa, tapi abang juga. Terimakasih sudah membimbing dan mengayomi Salwa, ujian yang sebegitu beratnya ikhlas Salwa lalui bang, kalau hadiah dari Allah sendiri semua kebahagiaan ini," nikmat mana lagi yang mereka dustakan memiliki 3 anak-anak mandiri, dengan pribadi sholeh---sholeha. Rejeki yang diperlancar, dan kesehatan baik di usia tua ini, jangan lupakan cucu-cucu yang semakin membuat hari-hari mereka bahagia.
"Pengennya Salwa lebaran nanti anak-anak kumpul disini bang,"
"Assalamu'alaikum calon ibu 2 anak, gimana udah kerasa mules?" tanya Rayyan baru saja datang, ia memeluk Eyi dari belakang dan mengusap lembut perut sang istri yang sebentar lagi akan menghadiahi Rayyan dengan anak kedua, tangannya berdiam lama di bagian bawah tonjolan perut, mengusapnya lembut dimana bagian kepala sang janin berada.
Eyi menggeleng, "belum."
"Cimoy panggil deh bang, udah sore belum mandi..." pintanya.
"Cimoy lagi asik sama om-om'nya." Rayyan tertawa kecil saat mengingat laporan demi laporan dari Maliq dan duo ubur-ubur memenuhi meja kerjanya tentang keusilan dan begitu aktifnya sang putri.
"Cimoy, yuhuuuu! Dimana ya cimoyy???" teriak Langit mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, usai bekerja kini ia dihadapkan dengan anak sobatnya yang selalu nempel pada Langit, Pramudya dan Maliq. Ketiga om-om ini sudah menganggap cimoy seperti anaknya sendiri.
"Udah ya cimoy, ini pinggang om sebentar lagi patah nih, encok gue--encok!" tambahnya. Ia menggelengkan kepala saat staf piket mengabari jikalau anak asuhnya itu mencorat-coret tank baja, mobil perang saat celah pintu gudang terbuka.
"Dimana lagi tuh anak?! Bapak sama emaknya malah asik dua-duaan, ngga tau apa nih anaknya bikin satu markas besar pusing!" sahut Pram mengatur nafasnya, kekasih Pram ataupun Langit sudah paham jika anak kapten Rayyan sudah menjadi bagian hidup kekasihnya, bahkan terkadang Marina dan Diana ikut mengasuh cimoy kalau mereka sedang ngapel.
__ADS_1
Cimoy, ini malam minggu. Cimoy samperin deh tuh om Langit sama Om Pram, pasti mereka bawain jajanan buat cimoy, biar cimoy anteng, pastikan cimoy jadi orang ketiga biar ngga ada se tan! Soalnya se tan takut sama anak kecil apalagi secantik dan selucu cimoy. Ingat selalu ia pesan sang ayah yang menyuruhnya jadi orang ketiga diantara dua pasang kekasih itu.
Kedua om minus akhlak ini terpaksa berlarian di sore hari mencari dimana Cut Daliya Clemira Ananta, setelah menerima laporan dari para personel kompi yang mengadakan piket alutsista. Apa jadinya tank baja ia gambari dengan kupu-kupu dan bunga, hancur minah! Kalau bukan Maliq ya 2 orang ini yang jadi babysitter Daliya. Beruntunglah Maliq yang saat ini sedang bertugas di luar.
"Hi-hi-hi," gigi-gigi susu yang berderet rapi itu ditutupi tangan mungil Cimoy, yup! Ia tengah bersembunyi diantara semak dan tanaman yang berada di samping gedung alutsista.
Bocah dengan poni hampir menutupi alis dan rambut yang diikat cepol samping kanan kiri itu tertawa usil, sebelah tangannya menahan bagian bawahnya yang tertutup baju dress bunga selutut.
Terdengar suara kikik'an kecil diantara semak dan dinding gedung. Langit dan Pram saling pandang dengan lirikan mata usil dan senyum miring.
"Darrrr!" seru keduanya membuat gadis kecil ini terkejut bukan main.
"Ketemu! Yuk pulang yuk, om keburu botak kalo lama-lama bareng cimoy!" ujar Pram.
"Moy, lain kali kalo mau gambar di buku aja ya, jangan di mobil atau tank nak, om-om kalo mau perang masa ditemenin kupu-kupu sama bunga," lanjut Langit menggendong cimoy, bocah ini mengangguk paham, "kan bial pelangnya dibantu kuda pony!" ujarnya belum cukup jelas.
"Yang ada kuda pony nya ditembak musuh, dilempar granat nanas," sahut Langit.
"Ya enggalah! Kuda pony kan punya kekuatan, nanti disihill pake kekuatan! Kekuatan pelangiii! Dilempalin glanat cupcake sama pinky pie, sama twillight spalkle," bibirnya sampai mo nyonk-mo nyonk saat bicara.
"Pinky pie saha?" tanya Pram.
"Adeknya kang dawet kali," jawab Langit.
Langit membenarkan posisi gendongan gadis kecil ini, tapi saat tangannya meraba bagian ujung dress terasa basah, "ini kok basah bajunya?"
Cimoy memainkan kedua telunjuk dan kemudian ia nyengir lebar macam kuda pony, "tadi cimoy pipis om, om sih ngagetin!"
Pram meledakkan tawanya.
Langit langsung menurunkan cimoy, "anj----" hampir saja ia mengumpat.
"Cimoy, om ini mau ngapel moy! Masa kamu---" ia melirik pakaian loreng bagian perut kanan dan menthesah, "ahhhh! Basah!"
.
.
.
.
__ADS_1
.