
Mereka tidak langsung pulang ke markormar, melainkan mampir ke rumah sakit angkatan marinir yang berada di dekat markormar.
"Masih sangat muda, tapi sejauh ini semuanya baik dan normal, ukuran kantung janin sekitar 13 mm. Kendala hanya di mual saja ya?" seorang dokter perempuan dengan rambut yang seragam dengan Ulfa tersenyum hangat pada Eirene dan Rayyan, mungkin memang potongan rambut para prajurit wanita begitu, biar keliatan rapi, praktis dan tak banyak gulung sana sini.
"Sama itu dok, kalo nyium bau parfum abang kok sekarang bau ya! Idung aku ada masalah atau gimana sih? Perlu pake pemeriksaan berlanjut apa engga?" tanya Eyi polos, maklumlah nggak punya pengalaman ngidam. Bahkan dokter sudah tertawa renyah untuk itu.
"Kok jadi abang dek?" tanya Rayyan, cilaka 12 kalo Eirene sampai tak mau dekat-dekat dengannya hanya karena penciuman Eirene yang lebih sensitif sekarang.
Yang butuh pemeriksaan lanjutan tuh otak kamu dek, batinnya mencelos.
"Oh itu wajar bu, karena perubahan hormon di masa kehamilan. Tapi tenang saja, ini hanya bersifat sementara," jawab dokter.
"Kirain karena anak Eyi ngga mau deket-deket sama bapaknya---" gumamnya.
"Ah, kamu ngaco! Masa ngga mau deket-deket, kan abang yang bikin si cimoy !" tolak Rayyan tak terima, jangan sampai bibitnya sendiri tak mau menerima dirinya.
Mulut Eirene menggumam, "cimoy--cimoy-- masa manggilnya cimoy? Ngga keren," tandas Eireme mendelik.
"Itu di layar kecil, kecil gitu bulet-bulet gemoy kaya kecebong. Cimoy \= kecil-kecil gemoy!" balas Rayyan.
"Wah, kapten flying dutchman kita, siap launching penerus nih!" alisnya naik turun menggoda Rayyan memilih berdiri dengan tangan yang setia menggenggam tangan Eyi seraya memperhatikan layar. Layar bergerak sesuai pergerakan alat yang ditempelkan di perut Eyi.
"Ini, bisa dilihat kan---sudah ada kantung janin. Ada bulatan kecil disini---" anak panah di layar monitor membuat bulatan di bagian bulatan kecil itu, Eyi dan Rayyan menyipitkan mata dan menegaskan alis demi melihat lebih jelas apa yang dimaksud.
"Yang itu?" tunjuk Rayyan, dokter mengangguk. Kecil sekali, itu baru kantungnya, belum bibitnya, apa benar kata umi jika Eyi kurang gizi? Buktinya sosok embrio itu kecil sekali, hey! Keperkasaan hantu laut patut dipertanyakan.
"Kecil ya," tiba-tiba kata itu lolos dari mulutnya membuat kedua wanita ini menoleh.
"Terus maunya abang segede apa, kata dokter juga perkiraan usia kandungan masih muda. Emangnya bayi pesut mau langsung gede!" sengit Eyi.
Dokter itu melipat bibirnya menahan kedutan geli.
"Masih sangat muda, kapten. Masih rawan juga. Wajib dijaga ya--- perkiraan usia kandungan baru sekitar 6 minggu,"
Rayyan terkekeh, "insyaAllah dok, terimakasih---" perempuan itu kembali fokus pada layar komputer yang menampilkan bulatan kantung di dalam rahim Eyi dan mengambil gambar untuk di cetak. Rupanya sosok inilah yang membuat Eyi mual-mual dan lemas belakangan ini, karena sudah ada Rayyan's baby di dalam rahimnya.
"Sampai kapan Eyi ngalamin mualnya, dok?"
"Tergantung. Semua faktor bisa mempengaruhi, ada pula ibu hamil yang tidak merasakan morning sickness. Mungkin tubuh butuh beradaptasi dengan hormon hCG, ada yang membutuhkan jangka waktu sebentar, ada pula yang sampai habis trimester 1," jawab dokter.
"Pantesan Eyi mual terus, badan lemes juga. Anak abang yang berulah!" desisnya pada Rayyan.
"Hebat kan! Anak abang kecil-kecil udah bestie'an sama abang. Dia tau kalo ayahnya ngga suka ibunya lenggak-lenggok di depan umum! Apalagi pake pakean bungkus pisang gitu, yang kalo di tarik aja melorot---" jawabnya.
"Abang aja yang ngga tau fesyeennn!" ngeyel Eyi.
"Terus bikin umi kamu mual dek, kalo bisa tiap mau keluar rumah itu mual---" bisiknya di depan perut Eyi.
Tak! Eirene menggeplak keras pundak Rayyan.
"Mana ada! Yang ada dia bakalan eneg liat bapaknya, saban hari pengen nengok!"
Rayyan menggeleng, "ngga. Ini anak abang, udah pasti bakal suka kalo abinya jenguk tiap waktu---"
Setelah meresepkan vitamin dan pil tambah darah, dokter mempersilahkan keduanya pamit undur diri. Lama-lama di ruangannya bisa-bisa dokter ikut gila seperti pasiennya.
__ADS_1
Salwa menatap foto usg milik Eyi, jika Fara ia tak sempat mendampingi, maka Eyi---sikap posesifnya sebagai ibu mertua mulai muncul.
"Apa kita sementara waktu pindah dulu di ibukota ya bi?" tanya Salwa pada Zaky membuat Rayyan dan Eyi melotot di tempat, jika umi berada dalam radar mereka maka----- Rayyan bahkan sudah menggeleng kuat seraya mencolek lengan abi Zaky.
"Mi, umi baiknya dampingin abi aja di Aceh, insyaAllah Ray bisa jaga Eyi segenap jiwa raga sepenuh hati sampe titik darah penghabisan, biar Ray sama Eyi hidup mandiri. Takutnya kita keenakan karena ada umi, nanti giliran dipindah tugas ke daerah pelosok jadi manja. Lagian umi ngga bisa kalo fokusnya bercabang, iya kan bi?" tanya Rayyan menumbalkan abi Zaky untuk membantu melobi umi. Abi Zaky sangat paham tabiat anak-anaknya, ia hanya bisa menggelengkan kepala sedikit ingin tertawa, jangankan Rayyan yang terbiasa hidup bebas, Al Fath saja yang notabenenya orang paling sabar diantara keluarga Ananta angkat tangan jika sudah berurusan dengan Salwa.
Umi mendesis resah, "shhh---bener juga tapinya, bisnis ngga bisa ditinggal!" untung saja umi Salwa lagi soleha, seketika senyuman Rayyan mengembang, yang jelas bukan karena tak suka dengan omelannya, tapi jika ada umi maka kebebasan mengeksplore gaya ber-kasih dengan Eirene akan stuck sampai disana, ibarat anak muda yang lagi asyik pacaran terus direcokin emak.
Meski berat, tapi Rayyan meminta umi dan abi untuk tidak mengantar sampai rumah dinas, bukan apa-apa ia hanya tak sampai hati kedua orangtuanya kecape'an.
"Kalian yakin ngga mau umi anter sampe rumah?" tanya umi Salwa dari balik kaca jendela yang telah dibuka.
"Yakin, umi sama abi juga udah sama-sama capek. Makasih mi, bi---"
"Ya udah deh, kalo ada apa-apa hubungi Umi. InsyaAllah nanti umi mampir ke rumah dinas kalian selama masih di ibukota," balas umi, terlihat jelas raut wajah lelah dari perempuan yang telah melahirkan Rayyan itu.
"Ray, jaga istri kamu baik-baik, jangan dibiarin apa-apa sendiri!" imbuh abi Zaky.
"Pak, bawanya hati-hati." Rayyan memanjangkan lehernya berbicara pada pak Janu, supir keluarganya.
"Siap den," jawabnya.
"Ya udah abi sama umi pulang dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," mobil mewah itu melesat meninggalkan parkiran rumah sakit, sementara Rayyan dan Eyi kini masuk ke dalam mobil dimana Maliq sudah menunggu.
"Sore ndan,"
"Sore. Markas aman Liq?"
__ADS_1
"Aman ndan, welcome back bu?!" sapa Maliq datar.
"Makasih om, oh ya om---nanti kalo ada tukang rujak di jalan berenti dulu ya, dari pagi sampe sekarang kepala Eyi mumet pengen yang seger!" ujarnya memberi mandat.
"Kenapa ngga bilang dari tadi, dek?" tanya Rayyan membantu Eyi masuk.
"Maunya juga baru sekarang gimana sih!" jawabnya ketus.
"Oh iya sekalian, itu di deket lapangan futsal suka ada abang-abang yang jualan lekker, Eyi mau beli itu, lidah Eyi ko pait-pait gitu kepengen yang manis-manis,"
Maliq menghembuskan nafasnya berat, *here we go again*!
"Moy---cimoy, yang baik ya nak di dalem sana. Anteng nak!" komat-kamit Rayyan membuat mata Maliq memicing melihat atasannya itu.
"Oh iya Liq, di depan ada minimarket berenti dulu---ibu mau beli dulu susu bumil," ujar Rayyan, sontak Maliq terkejut, rupanya istri atasannya ini sedang mengandung.
"Oh, ibu sedang mengandung?" tanya Maliq seraya menarik tuas rem tangan.
"Iya, om."
"Barakallah, selamat bu---ndan!"
"Makasih om," jawab Eyi. Maliq melihat dari kaca spion, apakah ini pertanda baik ataukah pertanda buruk untuknya?
.
.
.
.
__ADS_1