
Jangan tertipu dengan tampang manis manjanya, karena biasanya yang manis-manis gini mematikan kaya gula diabetes. Orang-orang tak akan ada yang tau bagaimana sisi lain seorang Eirene. Menjadi model tak ubahnya olahragawan yang mesti rutin membakar kalori tubuh kaya bakar sampah biar ngga gendut, begitu berat jalan yang harus ia lalui untuk jadi top model, dengan tinggi badan yang menjulang, berat badan idealnya tak boleh melebihi 65 kg alias kurus. Latihan fisik kardio yaitu membakar lemak begitu diperlukan dan kickboxing adalah pilihan sejumlah model termasuk Eirene, selain dari yoga dan pilates.
Perempuan itu berlari cepat dari rumahnya mirip-mirip lari dari kenyataan, sepanjang melewati asrama perwira--- suitan tak pernah ketinggalan dari abang kacang ijo yang melihat Eirene, membuat perempuan ini menggelengkan kepalanya prihatin.
"Kak Hans!" sapa Eyi, melihat seorang pria diatas motornya sedang digeledah dan diperiksa.
"Eyi!"
"Om, ini instruktur kickboxing Eyi, ngga bawa yang aneh-aneh kan, misalnya bom gitu?" tanya Eirene pada kedua penjaga serambi.
Hans menggeleng mengehkeh, pria blasteran ini menjadi pelatih kickboxing Eyi, sejak model ini datang ke tanah air.
Keduanya mengganguk singkat, "iya bu, tidak. Silahkan masuk pak!" ujar mereka.
Pria berotot dengan jaketnya ini membawa serta tas olahraga hitam yang ia selempangkan di dada bidangnya.
"Bawa aja motornya masuk, ikut parkir di depan kantor, nanti Eyi tunggu di lapang voli!" ucapnya.
Keduanya berpisah di depan kantor Rayyan yang awalnya hanya ada beberapa perwira saja.
Eirene melenggang terlebih dahulu ke lapangan, seraya menunggu Hans, Eyi melilitkan terlebih dahulu Hand wrap di tangannya.
Hans menghampiri, "Eyi, ini yakin mau latihan disini? Emang boleh?" tanya Hans mulai menjatuhkan tasnya dan mengeluarkan peralatan latihan mereka.
"Ngga apa-apa, suami Eyi udah kasih ijin," gidiknya acuh.
Pria blasteran barat ini membuka jaketnya menampakkan otot besar berbalut singlet hitam.
Ibu-ibu kesatuan yang kebetulan rumahnya dekat dengan lapangan memanjangkan lehernya demi melihat keduanya latihan, jarang-jarang bule masuk markas hantu laut, apakah mereka akan kembali menjajah bumi pertiwi?
"Bu, itu mbak Eirene kan? Latihan apa tuh, mau tinju atau apa! Ada bule juga!" mereka berbisik antusias, ada yang sedang beres-beres lalu menghentikkan kegiatannya, ada juga yang sedang memomong anak malah fokus pada Hans dan Eyi, pada dasarnya mau istri prajurit atau emak-emak kalangan biasa adalah sama-sama wanita biasa, liat yang bening dikit ya kicep.
Eirene ikut membuka jaket parasutnya menampakkan kulit putih mulus terbalut sport bra, mengekspos bahu, perut dan lengannya. Bahkan matahari yang masih malu-malu saja dengan nakalnya menyentuh kulit indah Eyi.
Moment latihan Eirene ini tak ayal memancing perhatian para perwira yang melintas untuk sekedar latihan fisik pagi atau berlalu lalang akan pergi ke kantor.
Bukannya melanjutkan tujuan metrka malah tertahan dengan tontonan asyik istri salah satu kapten marinir disini, kalo bisa mereka bakal ijin terus gelar tikar plus seduh kopi di pinggir lapang.
"Bb Eyi naik kak, udah 68 kg sekarang, berapa lama Eyi ngga kardio sama pilates," manyunnya.
Hans menyunggingkan senyumnya, "percaya. Kamu udah nikah Eyi, lagian sekarang bukannya lagi vakum modeling? Mau nyari apa coba, kalo bukan masa-masanya nyenengin suami?" Eyi mengangguk-angguk, "nyari sehat!"
"Betul! Yang penting sehat Eyi," Ia menepuk kedua telapak tangannya semangat, "oke kita mulai!"
Hans menepuk-nepuk samsak di tangannya (punching bag) untuk bersiap menghalau pukulan Eirene.
Eirene tersenyum manis lalu membuang nafasnya kasar, ia memasang kuda-kuda, menatap tajam instrukturnya.
"Jab!" bentaknya.
Eirene melayangkan pukulan jarak terjauh tangan kanannya dengan kepalan tangan kiri masih di depan dada.
Bugghhh!
"Lebih keras!" bentak Hans.
Bughhhh!
__ADS_1
"Jab berulang!"
Eirene memukul samsak di tangan Hans dengan kerasnya secara beruntun dan bergantian antara tangan kanan dan kirinya, membakar lemak yang bersarang di lengannya.
Suara hantaman terdengar begitu nyaring di lapangan yang luas tanpa ada aktivitas olahraga lain, selain anak-anak prajurit yang sedang sarapan dan bermain.
Rupanya di sekeliling sana Eirene memiliki penonton dan pengagum, tentara wanita saja kalah seksi dengan Eirene sekarang.
"Badasss! Itu tuh Eirene Lovely kan?" tunjuk seorang prajurit muda.
"Iya, istrinya kapten Rayyan by the way! Woyyy bubarrr! Lo pengen di cekek bang Ray!" ujar Letda Ulfa, seorang junior wanita Rayyan membubarkan para perwira muda yang sudah berkumpul disana padahal mereka harusnya bertugas.
"Alahhh, bang Ray ngga tau ini!" katanya.
"Hook!" sentak Hans.
Eirene kembali melayangkan pukulan namun setengah lingkaran di tangan Hans.
"Coba sekarang lawan saya Eyi," pinta Hans, Eirene meng-kombinasikan teknik jab, hook, dan uppercut untuk menyerang Hans.
Rayyan yang barusan berlari akhirnya menemukan akar masalah pagi ini. "Ck! Si alan!" umpatnya melihat ke arah lapang voli, yang biasa dipakai olahraga warga kormar, entah itu jadwal ibu-ibu kesatuan atau perlombaan acara besar.
Ia mendekati kumpulan perwira muda disana, ikut melongokkan kepalanya dengan sedikit berjinjit, "Eyi," gumamnya kasar, matanya mewakili mata garuda yang selalu menyorot tajam.
"Sini deh bang seru! Cantik gila," ajak seorang junior pada Rayyan tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara.
"Seksi ya?" tanya Rayyan melipat kedua tangan di dada, lengan baju yang di linting menampilkan otot bisep yang mengeras dan membesar.
"Banget! Cantik-cantik gahar! Definisi seksi sesungguhnya ini mah! Letda Nindia pindahan dari pasmar 2 mah kalah telak!" ujarnya.
"Kalo ada yang begini di kormar, ngga akan tunggu lama lagi buat lamar ke rumahnya!" kekeh mereka.
Rayyan semakin mengeraskan rahangnya, mendengar ocehan para junior juga rekan satu lettingnya dulu.
"Kalo masih jomblo udah saya kejar bang!" ia tertawa kecil.
"Langkahi dulu mayat saya!!"
Ucapan Rayyan menyentak dan begitu lantang, suaranya menggelegar membuat kumpulan fans base dadakan Eyi pagi itu menolehkan pandangannya ke belakang.
"Bang Ray?"
"Siap salah ndan!!!" mereka kalang kabut menghormat dan ingin berlari.
"Saya ingat wajah kamu satu-satu! Untuk junior dan rekan satu letting saya, silahkan disiplin hukum!" kembali Rayyan berujar sambil menunjuk satu persatu mereka yang ingin kabur.
Ulfa tertawa melihat mereka kena amukan Rayyan, "kan udah gue bilang juga dari tadi suruh bubar!"
Langit dan Pramudya tertawa, mereka ternyata mengekori Rayyan demi melihat kehebohan pagi ini di Kormar, begitupun bang Jaya yang baru saja datang.
"Ada apa pagi-pagi sudah rame begini?!" tanya bang Jaya.
"Ini bang, buaya lagi ngobrak-ngabrik satu kompi!" tawa Langit.
Dengan tanpa berdosanya Rendra malah nyelonong, "bu!" ia berteriak menyapa Eirene.
"Si kamvretttt, kagak takut mati!" ujar Pramudya tertawa.
__ADS_1
Eirene si bintang utama menoleh bersama Hans, karena terlalu fokus dengan kegiatannya Eirene baru menyadari jika dirinya sedang diperhatikan orang.
"Oh hay!" balas Eirene. Pandangannya jatuh pada sekumpulan perwira dimana Rayyan juga ada disitu.
"Oke rehat bentar," ujar Hans yang sudah ikut berkeringat, itu teelihat dari ujung singlet ketat di bagian dadanya yang basah.
"Rame-rame kesini ada apa?" beo Eirene.
"Abang juga kesini?" wajah Rayyan sudah masam berbeda dengan yang lain penuh gelak tawa.
"Bu Ray, apa kabar!" goda Langit ikut menghampiri.
"Alamak Eirene, kau bikin heboh pagi-pagi satu brigade!" ujar bang Jaya.
"Bu, kenalkan saya Letda Ulfa, juniornya bang Ray!" sapa Ulfa mengulurkan tangannya.
"Eirene," balasnya. Dipandangnya Eirene dari atas hingga bawah, memang tanpa cela---model yang sesungguhnya.
"Bu, kalo diliat dari aslinya lebih cantik aslinya ketimbang banner iklan," puji Ulfa ditertawai Eyi.
"Kamu bikin heboh pagi-pagi!" Rayyan melewati istrinya begitu saja demi mengambil jaket Eyi lalu memasangkannya di badan Eirene yang terekspos.
"Ini tuh! Aduhhhh----punya abang jangan kamu umbar-umbar!" omelnya seperti ibu yang memarahi anak, moment itu memancing tawa para rekannya.
"Biarkan saja Ray, bukannya kamu suka ngajarin buat sedekah?!" tanya bang Jaya melihat aksi posesif Rayyan.
"Ini mah pengecualian bang, ngga boleh di sedekahin--cuma milik pribadi," jawab Rayyan.
"Bang, saya Hans! Instruktur sekaligus pelatih Eyi--" Hans menjabat tangan Rayyan memperkenalkan diri.
"Saya Rayyan," balasnya datar, jika sedang mode datar begini Al Fath dan Zaky menempel kuat di wajah Rayyan.
"Oh iya bang Jaya, kata abang tadi pagi Eyi bisa ajak kak Wiwit buat ikutan kardio, kickboxing!" Rayyan langsung membekap mulut Eirene.
"Hah?!" sontak saja Jaya melotot, bagaimana bisa Rayyan menyarankan hal yang menyesatkan untuk istrinya. Pram, Langit dan Rendra melirik usil pada seniornya itu, "yang ada tiap hari di uppercut!"
"Pecah dong perang dunia ke 4 bu, kalo kak Wiwit diajakin kickboxing, tiap hari pasti benjol nih senior!" ujar Langit.
"Ajakin aja bu, bu Wiwit pasti seneng!" timpal Pramudya.
"Engga! Beres-beres di rumah aja sudah cukup olahraga, Rayyan ini---mau bikin aku mati mendadak!" tolak Jaya.
"Wah, ibu cocok nih bu ikutan jadi tentara! Seru nih bang, kalo ketauan selingkuh--- langsung disikat ibu!" sahut Rendra tertawa.
"Macem-macem double kill!" tambah Langit menggoda Rayyan.
Eirene tertawa renyah, "ngga ah! Tentara gajinya kecil," jawabnya sontak membungkam mereka dan memecahkan tawa Ulfa.
"Eyi, mau dilanjut apa di cut aja?" tanya Hans melirik jamnya dari ponsel.
"Untuk hari ini cut aja dulu, besok-besok olahraganya di rumah aja dek! Atau di sanggar, jangan disini! Abang ngga setuju," ujar Rayyan kini menarik kembali ucapannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.