Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
SANG MUTIARA HATI


__ADS_3

Setelah melewati drama debat tukang goyobod dan tukang rujak cingur yang sampai kapanpun ngga akan ketemu ujungnya, akhirnya Eyi dibawa dengan digendong langsung oleh Rayyan menuju mobil. Baju keduanya masih mengucurkan air, tapi apa peduli mereka keadaan tak memungkinkan untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.


Maliq si kalem memegang kemudi, lantas kedua makhluk berlumur keringat itu main duduk santai saja di bangku depan dan belakang padahal yang mau dibawa ke rumah sakit kan Eyi, tapi mereka sudah mendahului masuk ke dalam mobil mengamankan tempat masing-masing.


"Buru Ray sini!"


"Lo berdua mau ngapain ikut naik?! Bantuin kagak, malah duluan naik ke mobil?" tanya Rayyan. Kedua perwira itu lantas saling menatap heran lalu tertawa tergelak, "iya ya lo mau ngapain naik Lang?" tanya Pram.


"Dih, lo duluan naik ke mobil ya gue ngikut lah!" jawaban absrud Langit.


"Aduh! Please om, jangan ngelawak di waktu yang ngga tepat deh!"


"Awas!" sarkas Rayyan. Keduanya kembali turun dari mobil.


"Hati-hati! Kita langsung nyusul kalo kerjaan udah beres!" imbuh Pram. Mobil melaju meninggalkan Markormar, untung saja jarak rumah sakit angkatan laut dekat, jika sejauh dari Bandung ke ibukota bisa-bisa model ini melahirkan di dalam mobil.


Rayyan mendorong kursi roda menuju ruang bersalin bersama seorang perawat yang mendampingi.


Mungkin jika tidak sedang genting begini, suster akan terbengong-bengong melihat keduanya basah kuyup, hujan dimana?


"Liq! Buru!" teriak Rayyan, sontak saja Maliq membeo, "kok ikut ndan?"


Rayyan pun ikut tersentak dengan ucapannya, "eh, iya ya! Jangan deh jangan, enak aja lo mau liat bini gue tela n jang," dokter yang memang sudah tau perangai pasangan ini hanya bisa mengulum bibirnya.


"Ternyata ada yang lebih genting dibanding perang ya kapt?" tanya nya membuat Rayyan garuk-garuk kepala.


Umi sudah sampai di ibukota, berulang kali ia menghubungi Rayyan dan Eyi namun tak ada jawaban dari keduanya, "ini pada kemana sih! Kompakan gini ngga angkat!"


Kemudian Salwa mencoba menghubungi Maliq, "assalamu'alaikum!" ucapnya ketus.


"Wa'alaikumsalam bu Salwa, bu Eirene bu--"


"Hah?!!! Kecolongan lagi?!"


"Bang Za, buru! Eyi lagi lahiran!" Zaky yang baru saja hendak menyeruput kopinya lantas menaruh kembali cangkir dan menyambar kunci mobil.


"Hhhh---"


Eyi meraup nafas sebanyak-banyaknya kemudian ia buang secara perlahan. Pemeriksaan dalam dilakukan tapi nyatanya rasa mules lebih mendominasi.



Eyi sampai bergetar saling menggenggam dengan Rayyan menahan rasa sakit yang teramat.



"Masih bukaan 9 ya, mungkin sebentar lagi--"


"Hanya tinggal sedikit lagi saja, kapt. Menunggu beberapa saat lagi biar bukaan lengkap,"



"Untuk waterbirth mungkin sudah tidak memungkinkan bu, kapt, karena menyiapkan alat dan-----"



"Normal saja dok, biar normal saja!" tukas Rayyan cepat memotong ucapan dokter. Dokter mengangguk seraya tersenyum, sementara Eyi hanya pasrah, yang paling penting persalinan lancar dan selamat, serta sehat. Manusia hanya bisa berencana tapi semua Allah yang menentukan.



"Sambil menunggu beberapa menit lagi, kita siapkan peralatannya. Tas perlengkapannya dimana ya kira-kira?" tanya perawat.



"Ha?!" Keduanya membeo, sampai lupa dengan tas perlengkapan bersalin.



"Astagfirullah! Lupa!"


__ADS_1


"Liqqq! Maliq!"



*Plak*! Eyi menggeplak lengan Rayyan, "abang gimana sih! Kenapa sampe lupa?!" sengit Eyi. Absurdnya calon pasangan orangtua baru ini.



"Sebentar, biar abang minta Maliq, dok---sus, sebentar hanya menunggu sekitar 15 menit saja," ia lantas meninggalkan Eyi dan keluar mencari Maliq, ajudannya itu setia berada di dalam radar Rayyan.



"Liq, lo gimana sih?! Tas perlengkapan persalinan kenapa ngga dibawa?!" bagaimanapun atasan maha benar.



Maliq mengernyit, lantas salahnya? Apakah semut juga dangdutan salahnya juga? Apakah kali Ciliwong juga kotor karena salahnya juga?



"Kan kapten ngga bilang, mana saya tau,"



"Shh! Gue lupa, ya udah ambil deh! Nih kunci duplikat rumah, buru Liq, masa nanti anak gue mau dibungkus daun pisang!" ujar Rayyan.


Cairan bening mengaliri tempat Eirene berbaring hingga membuat pakaian bagian bawah pasiennya basah. Yup! Karena basah kuyup, Eirene terpaksa memakai baju pasien khas rumah sakit. Seiring dengan air ketuban yang pecah, maka rasa ingin mengejan semakin menggedor-gedor.


"Kapt, bisa dibantu posisinya? Lehernya ditahan, kedua kaki juga ditekuk kuat-kuat, tumit sampai menyentuh bagian pan tat ya,"


Perwira sekalipun akan menurut dengan perintah seorang dokter kandungan di saat-saat begini. Perse tan dengan SOP, otaknya mendadak jadi blank spot area.


"Seperti ini dok?" Rayyan memposisikan tangannya sebagai bantalan di leher Eyi dengan posisi sedikit diangkat agar memudahkan Eyi mengejan. Lalu tangan satunya sampai mengeluarkan otot dan urat demi menahan kaki Eyi kuat, sementara sebelah kaki Eyi ditahan olehnya sendiri.


"Iya betul,"


"Bu, kalau sudah terasa seperti ingin poop maka mengejan, bukan dengan berteriak ataupun menutup mata, karena semua itu hanya akan menghabiskan tenaga secara sia-sia dan resiko pecah pembuluh darah di mata, akibat tekanan yang diberikan."


"Dok," cicitnya memberikan sinyal.


"Dorong!" perintahnya santai.


Bertumpukan cengkraman kuat di lengan Rayyan ia mendorong sekuat tenaga, meski hasilnya nihil.


"Ayo dek, kamu pasti bisa." Belum apa-apa tenaga Eyi sudah terkuras. Wajar saja, ia mengalami kontraksi yang cukup lama, menurutnya.


"Aduh ngga kuat," Eyi menggeleng.


"Ayo bunda pasti kuat!" angguk dokter dan perawat.


"Saya harus gimana dok?" kepala Rayyan hampir pecah melihat bagian favorit tempat kerisnya selalu bermain sobek melebar tapi sang bayi belum jua keluar, Eyi pun terlihat sudah kehabisan tenaga.


"Coba dorong sekali lagi?! Push!" titah dokter, Eyi kembali melakukan hal tadi, berikut Rayyan yang refleks ikut mengejan juga.


Sampai perawat ikut menahan kedutan di mulut dengan kelakuan calon ayah di depannya, "sehati dok," bisiknya.


Hhhhh!


cengkraman Eyi sudah mengendur di lengan Rayyan, "Eyi udah ngga kuat abang," cicit Eyi menatap Rayyan, jujur saja Rayyan ingin menangis melihat wanita ini bersimbah keringat, dengan mata yang sudah memerah karena menangis, wajahnya pun terlihat benar-benar letih, seletih-letihnya. Tak ada yang dapat melukiskan ketakutan Rayyan saat ini.


"Jangan---jangan---jangan kaya gini dek, kamu pasti kuat! Kamu perempuan paling kuat yang abang kenal! Kita berjuang sama-sama."


Eyi hampir memejamkan matanya karena lelah, rasa sakit yang tak kunjung berakhir membuatnya lemas dan pucat, sudah tak ada lagi daya dalam tubuhnya.


Mungkin jika mama dan papa masih ada, keduanya akan menyemangati Eirene.


"Semangat sayang, Eyi pasti bisa!" senyuman hangat kedua orangtuanya terngiang dalam ingatan Eirene.


Mungkin jika Umi Salwa disini sudah pasti ia akan begitu cerewet menyemangatinya, kalo perlu ia akan membawa pom-pon dan terompet tahun baru.


"Ayo, kamu bisa! Kita ini keluarga...Ananta! Umi ngga terima kalo mantu umi ngga bisa, kalo perlu umi sewa semua mall buat hadiah persalinan!"

__ADS_1


"Abang ingin mencintaimu dengan sederhana,"


Ada segaris senyuman di wajah lelah Eirene.


"Dek, abang mohon kamu harus kuat!"


"Kapt, dipeluk saja dari belakang biar mempersingkat jalan lahir, dan memudahkan si dedek meluncur---"


Rayyan mengikuti intruksi dokter, ia naik jua ke atas ranjang, diangkatnya dengan perlahan badan atas Eirene, hingga ia bisa memeluk Eyi dari belakang, menahan kedua tulang kering Eyi hingga posisinya seperti tadi,


Eyi sudah menthesah pasrah hingga isakannya terasa berat di dada Rayyan.


Wajah Rayyan berada tepat di samping Eyi, "abang bantu, kita berjuang sama-sama."


"Sekali lagi ya, ini pake semua tenaga yang tersisa," pinta dokter menatap Eyi.


"Siap? Kita bantu cimoy keluar sama-sama, setelah ini---kita bakalan jadi keluarga yang utuh, kamu ada temennya di rumah kalo nunggu abang pulang," bisik Rayyan.


Eirene mengangguk lemah, ia meraup nafas kembali dengan rakus. Bersiap mengeluarkannya dalam sekali dorongan.


"Dok,"


"Dorong!"


"Hhhhh---umiii!" refleksnya berucap.


Sesosok malaikat kecil begitu lucu, menggemaskan, bersih dengan rambut hitam legam dan tebal keluar dari lubang dewi Eirene bersama sisa air ketuban.


"Alhamdulillah," semuanya menghembuskan nafas lega.


Eirene dan Rayyan tertawa kecil diantara tangis harunya saat malaikat kecil itu diangkat oleh dokter, ia langsung menangis kencang dan membuat satu ruangan ini penuh dengan suara tangisannya. Umi dan abi Zaky yang baru saja menghampiri Maliq di depan pintu ruang bersalin sepaket tas perlengkapan, mengatupkan mulutnya terlebih dahulu saat sayup-sayup suara kencang Daliya Clemira terdengar sampai luar.


"Alhamdulillah!"


"Alhamdulillah abang," Salwa menutup mulutnya dengan kedua tangan saking excited.


"Cucu Salwa! Cucu Salwa!" hebohnya antusias.


Eirene terisak sesenggukan, "abang dia nangis kenceng bang, dia---"


"Iya, dia cimoy kita," jawab Rayyan.


"Ya Allah lucu abang,"


"Kaya kamu,"


"Cut Daliya Clemira Ananta," bisik Rayyan membuat Eirene menoleh hingga wajah keduanya tak berjarak lagi.


"Suka," jawab Eirene.


"Kalian berdua mutiara hati abang," ucap Rayyan.


"Mau coba potong tali pusarnya pak?" tanya perawat diangguki senyuman lebar dokter.


"Boleh," Rayyan mengambil alih gunting logam setelah sebelumnya memakai sarung tangan karet, tangannya sampai bergetar demi melihat geliat manja sang putri, bibir mungil nan merah persis Eyi kontras dengan kulit seputih salju, alis tebal mirip dirinya menjadi pelengkap rambut tebal nan hitam jiplakan Rayyan, jangan lupakan pipi merah muda seperti buah peach.


Bukan senjata laras panjang ataupun granat juga kemudi kapal, hanya gunting medis tapi sukses membuat matanya berkaca-kaca, saat perawat mengabadikan moment itu dalam satu jepretan lensa kamera, untuk nanti mereka afdruk dan selipkan bersama foto newborn dan jejak kaki Daliya.


Rayyan mengikuti perawat dan kemudian melantunkan adzan di telinga sang putri.


"Hatchim!" si kecil bersin saat Rayyan tengah iqomah membuat Eirene tertawa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2