
Eirene tersenyum lebar, ia meraih map dan membuka penahan kertasnya, untuk apa repot-repot mengerjakan sendiri kalau punya saudara senasib dan bestie, "Nah--kan bagi-baginya udah! Eyi mau minta tolong nih--kan Eyi belum ngerti cara ngerjain tugas kantor, jadi mohon kerja samanya ya bu ibu!"
"Oh, bisa--bisa bu!" jawab mereka.
Wiwit melipat bibirnya, rupanya bagi-bagi warisan kali ini semata-mata buat nyogok ibu-ibu kesatuan biar pada mau ngerjain tugas kantornya, pinterrr!
Tempo hari Kapal Fregat melakukan patroli siaga di perairan utara Natu na. Mereka mendeteksi adanya kapal asing yang sedang menangkap ikan secara ilegal di 40 mil dari pulau laut Zona Ekonomi Eksklusif.
Bersamaan dengan itu, para abk kapal penangkap ikan tersebut terlibat pembicaraan lewat transmisi radio dengan kapal lain yang berada tak jauh dari sana. Alhasil Gugus Tempur laut akhirnya meminta bantuan kapal cepat lain untuk mengejar kapal itu, begitu mencengangkan.. tepat berada di antara perbatasan periairan tanah air utara dan negri naga biru mereka menemukan kapal tersebut membawa sejumlah ko kain dan gan ja siap edar melalui teropong, juga beberapa gadis warga tanah air untuk di pekerjakan secara ilegal di negri naga biru. Berkali-kali pihak KRI meminta mereka untuk menyerah namun yang di dapat malah serangan tembakan.
Adanya perlawanan dengan persenjataan lengkap membuat para prajurit meminta bantuan tim lain demi melumpuhkan musuh.
Rayyan beserta unit langsung turun ke kapal motor cepat demi menjangkau tkp, dari kejauhan saja sudah terdengar suara tembakan yang saling berbalas. Bendera negri masih berkibar gagah tak tertandingi di tiang yang tertanam di Kapal ibu Cut.
Terlihat pihak tentara masih berbalas serangan meski menggunakan senjata yang seadanya, Rayyan dan tim naik ke kapal itu lalu membantu prajurit lain. Selalu, mereka diterjunkan disaat situasi tengah chaos begini.
"Unit elite Raden Joko mohon ijin bergabung!" lapornya.
"Laporan diterima,"
"Senjata mereka lengkap ndan, itu artinya memang mereka sudah menyiapkan semuanya sejak awal!"
"Niat sekali!" decih Pram.
Jika kakaknya si mata garuda, maka adiknya tak mau kalah. Dia ahli menghitung dan melumpuhkan akses para musuh.
"Tembakan dilakukan secara sembarang, ndan! Mengenai lambung kapal.
"Ada kerusakan serius di badan Cut?" tanya Jaya.
"Sampai saat ini, belum ada ndan!"
"Segera tanggulangi kadet, agar tak menjadi masalah serius nantinya!"
"Siap!" beberapanya berlari menuju lambung kapal dan bersiap menambal kerusakan yang dihasilkan.
"Ray--"
"Mereka bukan orang terlatih bang, hanya dari orang bisnis yang menyewa amatiran lalu membeli persenjataan lengkap secara ilegal, Saya hitung ada lebih dari 20 di dalam sana melihat jumlah serangan yang dilancarkan-- Lumpuhkan terlebih dulu anjungan maka keseluruhan kapal akan lumpuh," jawab Rayyan.
"Oke, tak ada SOP khusus. Tetap waspada jangan gegabah!"
"Siap ndan!"
Tentu saja senjata Raden Joko lebih mumpuni dan canggih, begitupun kemampuan menyerangnya. Sekali kaki-kaki para personel Raden Joko menjejak, maka kematian bagi musuh selangkah lebih dekat.
Rayyan membidik musuh dari kejauhan dengan penglihatan thermal, tidak boleh gegabah karena di dalam ada warga negara yang harus diselamatkan.
Dorr!
Dorr!
Suara muntahan peluru musuh begitu nyaring, sementara unit elite Raden Joko benar-benar senyap, sampai suaranya sehalus hembusan nafas, tak bersuara tapi musuh satu persatu lumpuh tanpa disadari. Kondisi kapal musuh begitu banyak lubang akibat serangan prajurit. Bahkan bendera negri berwarna merah yang berkibar di kapal musuh sedikit koyak akibat baku tembak. Di langit khatulistiwa yang sedikit berawan ini tengah terjadi pertahanan kedaulatan oleh para prajurit, karena selamanya kedaulatan negri HARGA MATI!
__ADS_1
"Si al!" umpat mereka, saat mereka mulai terdesak.
"Mundur! Bawa kapal mundur!" teriak salah satu pimpinan.
"Sistem navigasi dan kontrol kendali mengalami kerusakan bos!" paniknya dengan dada yang naik turun. Bahkan kini keringat sudah mengucur deras, mereka bukan tidak tau kekuatan angkatan marinir negri pertiwi, terlebih pamor detasemen Raden Joko yang melegenda di mata dunia.
"Arghhhhh!" teriaknya frustasi tangan-tangan yang bertahtakan cincin emas itu menjambak rambutnya sendiri, "bombardir mereka, hubungi bantuan dari bos besar!" teriaknya, kapal berjenis feri ini mulai terdesak oleh para ksatria angkatan laut negri.
"Bos, maaf barang kali ini tak bisa sampai--- kami terdesak oleh tentara negri," lapornya.
"Guoobblokkkk!" terdengar suara thesahan lepas di ujung telfon sana, tanpa solusi penyelamatan, ia mematikan panggilan secara sepihak.
"Status sandera?" tanya bang Jaya.
"Aman, namun beresiko!" jawab Langit.
"Prioritaskan!"
"Ray--lindungi unit agar dapat masuk ke kapal musuh, *kawanan salmon* harus diamankan!" ujar Jaya.
"Siap!"
"Lu udah alot ya bang?" kekeh Langit masih sempat-sempatnya berkelakar.
"Si alan!" desis Jaya.
"Alot-alot begini rengginang lebaran Lang!" sahut Rayyan di kekehi Rendra, para seniornya ini dalam keadaan apapun selalu ada saja moment kamvrett yang diciptakan.
"Oh, yang suka dibuang emak abis tamu pada pulang?!" tambah Pram.
"Kamvrettt!" Jaya menendang para junior tak ada akhlaknya itu.
Sling tali baja ditembakkan para ksatria piningitnya angkatan laut itu ke arah cerobong kapal feri. Mereka meluncur dengan mudahnya seiring tembakan perlindungan dari yang lain.
__ADS_1
*Dorr*!
*Dorr*!
Tak ada yang bisa kabur dari cengkraman para prajurit negri, sekali mereka mengacak kedaulatan maka hukumanlah jawabannya. Barang sejengkal saja musuh masuk daerah teritori tanah air, maka akan mereka kejar hingga palung terdalam sekalipun.
Rayyan bagian terakhir meluncur karena ia bertugas melindungi yang lain.
Ia mencantolkan alat sling yang tertempel di bagian pinggang lalu bersiap meluncur, ombak lautan silih bersahutan di bawah sana. Siap menelan siapapun hidup-hidup. Begitu hebat kekuatan alam dan Tuhan. Tapi bagi para hantu laut ini, deburan ombak dan arus laut adalah kawan.
Deru angin laut bukan lagi kencang, namun sudah membawa serta semua rasa di dalam dada.
Ia menghentak dan meluncur, namun kejadian tak terduga dan cepat begitu tak terelakkan.
*Duarrrr*!
Lemparan sebuah granat membuat mereka tersentak. Para prajurit melompat berhamburan dari geladak utama, begitupun tali sling Rayyan yang terputus dari anjungan KRI.
*Psyutttt*! Dengan hitungan persekian detik tali itu lepas.
"Rayyyy!!!"
Perasaan terhenyak sinkron dengan jatuhnya tubuh seorang perwira ke dalam perairan.
"Aww!"
"Ck," Eyi mematikan kompor, setelah mendapatkan tutorial dan tips menggoreng ikan tuna dan salmon dari kak Wiwit dan ibu Jala lainnya ia langsung mempraktekkan itu, hanya masakan simple tapi sehat. Padahal ia sudah memasukkan olive oil sedikit saja tapi tetap saja tangannya terkena percikan minyak saat ikan ditaruh di atas teflon, karena jarak tangannya terlalu dekat.
Tiba-tiba saja perasaannya dilanda kekhawatiran yang amat sangat. Eirene berjalan cepat ke arah wastafel dan menyalakan kran wastafel agar mengaliri tangannya.
"Ck! Masih kecipratan juga," decaknya. Sepertinya Eyi harus berguru pada pelatih debus biar tahan panas.
Tak menyerah, ia kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya, pokoknya nanti saat Rayyan pulang ia akan menunjukkan hasil belajarnya.
.
.
.
__ADS_1