Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
MALAM DI JEMBER 1


__ADS_3

Rayyan menggelengkan kepalanya, seketika para perwira itu berhamburan mencuci kakinya. Bukan takut, tapi lebih pada menghargai dan menghormati si penguasa rumah, Eyi. Ditambah, perempuan itu jika sudah mengomel bak rentetan peluru senjata, mana pedes kaya rawon se tan.



Sudah 4 hari Eyi disana, dan waktu LDR mereka semakin terasa dikala Eyi dan Rayyan sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.



Mungkin, hanya waktu menuju tidur lah yang menjadi moment pertemuan mereka atau biasa disebut tren *sleep call*. Bukan Rayyan tentunya yang tertidur duluan jika mereka sedang saling melepas rindu.



Dipandangnya wajah cantik yang sudah terlelap sambil menaruh kedua tangannya di bawah kepala dengan posisi menyamping di layar pipih 8 inci, ia begitu rindu wanita-nya hingga diusapnya layar ponsel yang menampilkan bagian pipi Eyi.



"Malam sayang," bisiknya di ujung telfon lalu mematikan panggilan videonya.



Dan hari ini, Laksamana beserta istri sudah bersiap memenuhi undangan dari pelaksana JFC. Mereka terbang dari ibukota ke Jember sejak pagi sekali.



"Gue kira komandan bakalan butuh pengawalan gitu, taunya cuma ngajak ajudan!" dumel Rayyan seperti anak remaja yang ngambek karena tak bisa apel malam minggu.



"Udah, nobar aja nobar! Bareng ibu-ibu kesatuan," sahut Langit senang diatas kegalauan temannya itu.



"Mbak Lovely, sarapan dulu!" seorang asisten dari penyelenggara mengetuk pintu kamar hotel. Tapi sudah beberapa menit ia berdiri di depan pintu tak ada jawaban dari dalam. Jangan-jangan nih model masih nge-bank kee lagi.


"Mbak!" kembali ia mengetuk untuk ke sekian kalinya dan kali ini lebih kencang, takut kalau-kalau model ini belum dikorek kupingnya.


"Iya sebentar!" teriaknya. Wanita itu menghembuskan nafas lega saat Eyi menjawab.


Wusshhh!

__ADS_1


Eirene memencet tombol closet dan membasuh mulutnya, pagi ini ia kembali dilanda mual. Eirene bahkan sudah membasuh wajah dan menunduk sejenak meredakan rasa mual, "oke, Eyi. Lo kuat! Ngga boleh sakit!"


Daun pintu terbuka setengahnya, menampakkan perempuan berjilbab dengan name tag menggantung di lehernya membawa menu sarapan dan teh manis hangat di atas nampan kayu. Tadi Eirene sengaja menelfon asisten untuk mengantarkan sarapannya ke kamar, karena dirasa pagi ini ia tak enak badan.


"Makasih ya," jawab Eyi menerima nampan itu.


"Mbak Lovely sakit? Tumbenan loh mbak, biasanya sarapan bareng sama yang lain?" tanya nya perhatian, gadis itu tersenyum menampakkan deretan gigi yang terpagar rapi.


Senyuman tipis khas Eirene pun tak pernah luntur, "ah engga. Cuma males aja."


"Yo wes kalo gitu, selamet makan yo mbak," Eirene mengangguk dan menutup pintu kamarnya, membawa sarapan di atas meja seraya menonton tv.


Nasi sudah melambai-lambai minta di lahap diatas piringnya, ia tertata rapi bersama lauk telur asin, petis, abon sapi, sambal goreng, tempe, kentang, mentimun, air saliva Eyi mendadak penuh di dalam mulut. Hari ini rupanya sarapan Eirene adalah nasi Langgi Jember, tapi sebelum benar-benar menyantap makanannya ia menyeruput terlebih dahulu teh manis hangat miliknya agar lidah tak lagi terasa pahit.


Perhelatan Carnaval sebenarnya sudah berlangsung sejak 3 hari yang lalu, namun malam ini adalah puncak perayaan sekaligus penutupan acara, dimana parade akan menampilkan 10 defile berbeda.


Sebutir vitamin dan satu sendok sari kurma ia telan setelah nasi di atas piring tandas tak bersisa, demi menguatkan staminanya menjalani hari ini, yang pastinya akan menguras banyak energi. Eyi cukup heran dengan porsi makannya sekarang, tidak biasanya selera makannya sebanyak ini, apakah hari ini ia kerasukan?


"Bisa-bisa kiloan naik lagi ini!" gumamnya.


Sesiang ini Eyi hanya menghabiskan waktu bersama rekan model dan talent di ruang make up seraya berbincang tentang teknis acara nanti malam.


Tiket dengan tema bertajuk The Legacy itu ludes terjual meski dibanderol dengan harga 50-500 ribu---ada Pets Carnival, Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI), World Kids Carnival, dan puncaknya hari ini Grand Carnival of JFC.


Hampir semua warga tumpah ruah disini, tak ada yang tak sibuk sampe tukang dawet aja saban hari ikut heboh meraup untung banyak, mungkin sepulang dari acara ini bisa dipake buat naik haji. Sejak pagi sampe malam, para pedegang ini sudah stay di sekitar jalanan menuju alun-alun.


Parkiran sudah dipadati, jalanan sudah di sterilkan, kini deretan mobil berplat merah beriringan datang ke arah alun-alun, malam ini adalah milik Jember.


Sorot mata dunia sejenak terfokus pada salah satu kota indah ini, bukan karena luas daerahnya atau rekor yang dicetak melainkan karena parade yang digelar sebagai bentuk wadah kreatifitas para anak negri.


"Welcome to Jember Fashion Carnival 202X The Legacy!!!!" sambutan awal menggema di malam yang cukup bersahabat.


Lampu sorot warna-warni mengarah tepat ke atas panggung dimana layar digital besar menjadi lattarnya, dengan font yang menambah kegagahan serta latar pendukung pilar-pilar kerajaan dan logo burung wonderful *Nusantara.


...JFC ...


...Jember Fashion Carnival 202X...


...THE LEGACY...

__ADS_1


Angin malam kota ini membawa serta keriuhan suasana dan kenangan indah. Sambutan untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikumandangkan saat pertama kali pembawa acara menghaturankan salam.


"Selamat datang kami ucapkan untuk bapak Sandi, menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif negri telah menyempatkan hadir dalam perhelatan Jember Fashion Carnival tahun 202X The Legacy----"


Seorang pria cukup tampan, berkacamata dan tegap berdiri dari tempatnya dengan menggunakan pakaian kemeja batik, tersenyum menyambut hangat ucapan selamat datang.


"Selamat datang Gubernur Timur Java, ibu IndarParawansa---"


Kini gantian seorang perempuan berjilbab dengan sorot mata keibuan nan meneduhkan ikut berdiri menghaturankan terimakasih dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada seraya mengangguk singkat.


"Selamat datang untuk Bupati kota bapak Hendy---"


Turut berdiri pula seorang pria setengah baya orang nomor satu di kota karnaval ini.


"Lalu tak lupa kami mengucapkan selamat datang dan terimakasih untuk Laksamana muda pimpinan Korps. marinir negri beserta ibu ketua kesatuan Jala, yang dimana hari ini menjadi salah satu tamu spesial di Jember Fashion Carnival, terimakasih ibu bapak, sudah ikut berpartisipasi menjadi salah satu talent yang membawakan defile di acara ini, suatu kebanggan tersendiri untuk kami selaku pelaksana mewakili anak negri---"


Terlihat gagahnya komandan beserta ibu ketua Jala yang duduk berdampingan memperlihatkan keharmonisan dan kesetiaan pasangan abdi negara.


"Tak lupa kata sambutan kami ucapkan untuk para pengunjung, seluruh warga kota, dan para jurnalis lokal maupun mancanegara!!!"


"Welcome to Jember Fashion Carnival 202X, The Legacy!!!" suasana kembali riuh semakin semarak.


Satu persatu para tamu pempimpin itu memberikan sambutannya di depan stan microphone diantara ratusan penonton yang berjejer di kursi kanan dan kiri, belum lagi antusiasme warga kota maupun luar kota dan luar negri yang turut menyaksikan.


Sekitar kurang lebih 45 menit kalimat panjang itu memenuhi pendengaran, kini lagu wajib kebangsaan negri ikut diputar sebagai rasa syukur dan cinta akan tanah air, bersama layar digital yang menayangkan video berdurasi 20 puluh menit begitu indahnya kekayaan negri tercinta, adat budaya, makanan tradisional, tak lupa baju warisan setiap daerah yang begitu menyihir mata dunia, dan tentu saja defile-defile yang kini menjadi pusat utamanya.


Penghormatan juga diberikan untuk mengenang sang pelopor sekaligus pendiri JFC Center, Dyland Fariz yang telah berpulang ke haribaan pertiwi, hingga sejenak mereka mengheningkan cipta untuk beberapa saat.


Orang properti setengah berlari menaruh 4 buah drum besar di tengah-tengah depan panggung untuk selanjutnya ditabuh oleh para tamu kehormatan sebagai simbolis jika acara JFC ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2