
~Wiwit
Langkah Eyi dan ibu lain telah sampai di depan kantor. Layaknya prajurit, mereka mengikuti apel terlebih dahulu dari ibu ketua. Dibandingkan yang lain Eirene memang yang nampak paling terlihat, selain karena tinggi badan bak menara sutet tapi pun hari ini ia patut di nobatkan sebagai ibu kesatuan tercantik. Memang tak diragukan lagi, bumil selalu memiliki aura tersendiri dikala sedang mengandung.
Untung saja pagi ini belum terlalu terik, jadinya ia tak harus merasa kepanasan meski matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Sebenarnya Eyi adalah tipe wanita yang tak bisa disandingkan dengan pidato, ceramah atau semacamnya, di kala yang lain memperhatikan ibu ketua yang tengah bicara, Eyi malah asyik dengan dunianya sendiri, menguap----memperhatikan lapang tempatnya berpijak atau sekedar rumput yang bergoyang----melihat para semut lagi angkut-angkut bahan makanan buat hajatan, pokoknya apapun yang penting tak terfokus pada ibu ketua, baginya setiap kalimat yang diucapkan kok ya seperti mantra sihir agar ia tertidur, ditambah angin sepoi-sepoi di waktu pukul setengah 8 pagi bikin matanya yang sudah ditempeli eyeliner dan maskara terasa ketempelan bayi gorilla. Tak tau, akhir-akhir ini...semenjak ia mengandung bawaannya itu males, ngantuk, doyan makan. Entah memang semenjak menikah, yang dikerjakan Eyi ya ngga jauh-jauh dari kegiatan itu, tanpa kesibukan berarti selain dari pekerjaan rumah dan tugas kesatuan.
Diliriknya Wiwit yang anteng memperhatikan ibu ketua, dengan sesekali memainkan kuku jarinya, begitupun bu Nani dan ibu kesatuan lainnya.
Hingga akhirnya ibu ketua mengakhiri apel pagi ini, dan meminta ajudannya untuk memanggil prajurit yang bertugas membawa kendaraan yang akan mereka tumpangi.
"Ibu-ibu, sebaiknya kita menunggu di dekat kantor saja. Biar nanti mobilnya tidak perlu bolak-balik, dan mempersingkat waktu!" pinta wakil ketua.
"Siap bu," jawab mereka seraya cekikikan dan mengobrol ngaler ngidul, ibu-ibu kalo digembalain ya begini, mirip-mirip bebek, mulutnya ngga bisa diem.
"Kita naik mobil apa?" tanya Eyi melihat cukup banyaknya ibu kesatuan yang ikut, jika naik mobil berukuran mini bus rasanya tak akan cukup, perasaannya mulai tak enak.
"Ngga tau," geleng Wiwit.
Dan benar saja, sebuah truk Reo melaju dari kejauhan ke arah dimana kumpulan ibu-ibu Jala.
"Lapor bu, truk Reo sudah siap!" lapor Rendra yang setengah melompat turun dari bangku depan.
"Makasih om Rendra," jawab ibu ketua.
"Tapi maaf bu, bukan saya yang akan membawa. Ini adalah Serda Ahmad, dia yang akan bertugas mengantarkan ibu kesatuan bersama beberapa prajurit lain atas perintah jendral," lanjutnya. Serda Ahmad menghormat pada ibu ketua.
"Iya tak apa, terimakasih!"
"Bu-ibu, ayo masuk!" seru ibu ketua.
"Yuk ibu, kami bantu!"
"What?! Naik beginian?!" tanya Eyi terkejut, ia bahkan sampai menganga. Sudah seperti wanita malam yang terjaring razia di club malam saja diangkut kendaraan begini, mana dikawal para prajurit kaya terduga pele cehan lambang panca sila.
"Yuk," Wiwit menggandeng Eyi.
"Engga ah!" tolaknya pada Wiwit yang hendak naik, sementara ibu-ibu lain sudah beraturan masuk.
"Loh kenapa?" tanya Wiwit.
Yang benar saja, dari limosin turun ke truk Reo?! Are you kidding?! Becanda nih ibu ketua.
"Kaya ban cii yang kejaring razia pol PP kak, engga ah, ngga ada mobil lain gitu?!" tolaknya berusaha melepaskan tangan Wiwit yang sudah menariknya.
"Ya engga apa-apa, kan yang naik beginian bukan cuma ban cii, tapi ksatria yang mau berjuang di medan perang juga naik beginian. Termasuk om Rayyan dan suami saya---"
"Ih ngga mau ah! Mirip-mirip amunisi dimasukkin truk," debatnya lagi.
Wiwit tertawa renyah melihat ekspresi penolakan Eyi, ternyata memang lucu. Pantas saja Rayyan senang mengusili istrinya itu.
"Apa kata dunia kalo Eyi naik beginian?!" tanya nya bermonolog lirih.
"Ya engga bilang apa-apa, dunia cuma bilang welcome to the jungle, Eyi!" balas Wiwit menarik wanita itu yang manyun mirip mon cong bemo. Ia berusaha cukup keras untuk membujuk mantan model satu ini.
Rendra tertawa melihat perdebatan Wiwit dan Eyi, saat tak sengaja mendengar saat hendak pergi, bahkan ia cekikikan sampai ke dalam kantor.
"Awas bu, langkahnya.." dengan dibantu para prajurit Eyi naik ke dalam truk, ia menyapu seluruh isian truk Reo dimana ibu-ibu sudah duduk manis sambil tertawa lepas, seolah tak memiliki beban hidup.
"Santai aja, ngga akan dianggap wanita malam!" tawa Wiwit menepuk pundak Eyi yang masih melongo tak percaya, matanya tak lepas mengedar meneliti satu persatu situasi dan kondisi di dalam Reo.
"Anggap aja kita prajurit yang mau berlaga di medan perang!" lanjutnya.
Tak ada seatbelt ataupun pengaman, sepenuhnya mereka dilindungi para prajurit, bisa merasakan angin yang masuk dengan bebasnya dari belakang.
Tawa canda tercipta begitu hangat tanpa jarak diantara mereka, Wiwit tersenyum melihat Eyi yang mulai menikmati situasi.
"Gimana ngga seburuk yang kamu pikir kan? Kalo pake limosin atau mobil mewah lain kamu memang nyaman--- bergaya, tapi kamu sendiri. Dan akan selalu sendiri," ujar Wiwit.
Eyi mengangguk, senyumnya mulai terbit melebar seiring dengan mentari yang semakin melebarkan sinarnya.
Mobil melaju membelah kemacetan ibukota, karena cirinya yang begitu mencolok, wajar saja para pengguna jalan menatap meneliti mobil angkutan para prajurit itu, terlebih anak-anak.
"Ada tentara!" seru mereka dengan gembira, semburat rasa bangga nan mengagumi terlihat jelas di wajah anak-anak, dan Eyi dapat melihat itu.
*Apa cita-citamu*?
*Jadi Tentara!! Seru para anak lelaki*.
__ADS_1
*Kalau kamu sudah besar mau jadi apa*?
*Mau jadi Tentara! Kembali mereka berseru*.
*Polisi bu*,
*Dokter*,
*Guru*!
*Pemadam kebakaran*,
*Suster*!
*Presiden*
Dan kesemua itu adalah profesi yang mengabdikan diri pada negara.
Potongan kenangan manis saat ia masih berada di ruangan kelas sebuah taman kanak-kanak melintas tanpa ijin di pikiran Eyi.
Wanita itu tersenyum tipis, seharusnya ia malu dengan anak-anak, mereka saja tau sesuatu yang membanggakan bukanlah pasal uang, melainkan aksi heroik dan pengabdian pada negri tercinta.
Pandangannya kini beralih, tertumbuk pada papan iklan di pinggir jalan, sebuah produk make up ternama negri yang memakai jasa Hanin sebagai brand ambassadornya. dunia Eyi kini sudah berbeda, bukan lagi bergaya cantik atau berlenggok di depan lensa kamera, memamerkan bagian tubuh demi meraup rupiah sebanyak-banyaknya, tapi mengabdi pada negri dengan sepenuh hati.
Reo akhirnya melambat tanpa Eyi sadari.
"Eh, udah sampe ya bu?" tanya salah seorang istri prajurit.
"Ijin lapor bu, sudah sampai di depan gerbang markas elite pasukan khusus!" lapor seorang prajurit.
"Ya," jawab bu ketua. Pantas saja suasana tampak ramai sejak beberapa meter sebelumnya. Antusiasme warga sekitar begitu besar ternyata.
Mobil memasuki gerbang yang hampir menyerupai markas besar mereka hanya saja nuansanya berganti hijau.
"Bu, ibu mari turun!" ucap ibu ketua. Satu persatu ibu kesatuan turun dari Reo dibantu om-om tentara.
Warga yang sudah berdatangan pun masih tertahan di lapisan satu untuk memberikan formulir yang telah mereka isi sebelumnya di rumah. Terlihat wajah-wajah antusias dan gembira para orangtua, namun pun tak sedikit wajah pias anak-anak calon manten su nat, ada pula yang hampir meledakkan tangisnya.
"*Mak ngga mau di su nat sama bapak tentara*!"
"*Nanti anu nya pendek, hilang*!"
"*Di su nat sakit pak*!"
Eirene tertawa renyah melihatnya. Tenda-tenda hijau dan biru bertuliskan tentara republik negri dengan lambang berbeda-beda menjadi pemandangan yang tak luput dari pandangan.
__ADS_1
Diantara cerahnya suasana pagi kumpulan ibu berbaju ungu lavender dan hijau mint atau hijau melon, biru....Eyi menyipitkan matanya ke area para ibu yang tengah bergerombol.
"Eyi, itu para istri prajurit dari klan berbeda-beda," jelas Wiwit membuat Eyi mengangguk paham. Itu artinya seragam milik Fara adalah hijau, pantas saja dulu kakak iparnya sering mengatakan julukan kacang ijo, Eyi terkekeh sendiri macam orang kurang sehat. Jika Al Fath kacang ijo lantas Rayyan? Memikirkannya saja Eyi ikut tertawa.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Wiwit.
"Engga kak, cuma inget kata kakak ipar aja," jawabnya mengajak Wiwit untuk masuk saja sebelum ia lebih gila lagi.
"Bang, liat begini tuh mirip apa ya---seketika lapangan jadi warna-warni!" ujar Dilar berjalan di sisi lapangan.
"Sayangnya ngga ada bu Fara!" jawab Gentra.
"Ancur minah kalo ada bu Far,"
"Tapi gue dengar disini ada adik iparnya bu Fara, istri marinir katanya---" tembak Andre.
"Oh iya saya dengar mantan model!" jawab Regan.
"Jadi penasaran," ujar Dilar.
"Cari aja yang paling bening, yang tingginya hampir sama kaya galah!" jawab bang Yo. Mereka tertawa mendengar jawaban bang Yo.
"Gue bilangin ibu nih bang, mau cari yang bening-bening!" tawa Gentra.
"Saravvv!"
Eirene berjalan bersama para ibu Jala, berbaur diantara istri-istri prajurit lain, kekeluargaan begitu kental terasa. Kemarin ia hanya bertemu Rayyan, lalu bertemu keluarga Ananta, lantas keluarganya semakin besar dengan keluarga kesatuan satu batalyon, lalu melebar membesar jadi satu resimen, dan sekarang----Allah memang tak pernah membiarkan ia terus berada dalam kesendirian, begitu sayangnya *Ia* dengan mengirimkan satu persatuan tentara republik untuknya sebagai keluarga.
"Selamat datang!" para ibu berkharisma nan jelita menyambut kedatangan. Sudah pasti selain rombongan, Eirene lah yang menjadi pusat perhatian atas pamornya.
"Terimakasih,"
"Ibu Eirene, istri kapten Rayyan?" Eyi dan Wiwit menoleh.
"Ya?" Eyi membeo.
"Saya Fani, istri kapten Regan, teman Faranisa Danita dan letnan kolonel Al Fath--" sesosok wanita cantik menyapa dan mengulurkan tangannya pada Eyi.
.
.
.
.
.
__ADS_1