
"Allahuakbar! Setann!"
Eyi ikut terkejut dengan ucapan refleks para tamu minus akhlak di depannya, "setan!!! Mana setan?!" ia celingukan.
"Ck, Apaan sih ribut-ribut?" Rayyan ikut muncul dari dalam rumah, hanya dengan sekali gerakan ia memakai kaos yang dipegangnya lalu berjalan menuju ruang depan, dimana kegaduhan terjadi.
"Ih! Apa pula hantu takut setan!" sewot Eyi, wajar jika ia sewot--cantik begini disebut setan, matanya picek! Emang dasar tetangga kurang aj ar, udah minta makan, gedor pintu kaya mau bikin rubuh rumah orang, udah gitu nyebut si empunya rumah setan pula, emang minta dijadiin tumbal b4n ci!
"Astagfirullahaladzim, Eyi---malem-malem ngapain tuh muka dicemongin?!" ujar Langit.
"Bukan cemong, ini lagi maskeran ah!" Eyi masuk kembali ke dalam, membiarkan para bapak-bapak itu menyelesaikan urusannya.
"Ampun, gue kira apaan! Bikin heboh malem-malem. Masuk! Tuh kotak punya lo berdua di meja," tunjuk Rayyan melebarkan pintu rumah.
"Eh!" Eyi kembali dengan cepat.
"Cuci dulu kakinya di luar!" titahnya berkacak pinggang, saat Langit dan Pramudya baru saja akan menginjakkan kakinya di lantai, hingga tergantung di udara.
"Elah Eyi, baru juga mau injek! Untung nih kaki bisa di rem," omel Pram.
Rayyan tertawa renyah melihat kedua temannya didzolimi sang istri.
Eyi membaui layaknya anj ing pelacak, "tuh bau!!" ia menjeda ucapannya dengan menjepit hidung.
"Bau apa?" Pram malah dengan sengaja membawa kakinya ke dekat hidung lalu mencium aromanya, membuat Eyi bergidik, "ih jorok!"
"Bau-bau jomblo ngga laku!" lanjut Eyi. Keduanya berdecak kembali ke luar dan mencuci kakinya di selang depan dimana Rayyan biasa mencuci motor, atau menyiram, kini disana sudah disediakan sabun cair juga oleh Eyi.
"Ampun---ampun!" dumel keduanya.
"Sensitif banget tuh idung bumil! Bisa kali nemenin si Blacky waktu ada korban gempa," meski dengan mengomel keduanya menurut aturan yang punya rumah.
Eyi berdiri di depan ambang pintu, "udah pada mandi belum? Bajunya ganti kan?" tanya nya memuntahkan serentetan pertanyaan.
"Udah bu, udah! Nih, muka juga masih steril---baru aja di dalem autoclave barusan di lab!" jawab Langit.
"Bener kata si Maliq, beuh mpoknya rumah bikin mumet!" tangan Pram menggosok-gosok sela jari kaki.
Tawa Rayyan kembali pecah melihat keduanya mengomel.
"Kalo udah, tuh! Keset samping rak sepatu, Eyi mau cuci muka dulu!" ia masuk ke dalam, benar-benar masuk.
Setelah melakukan ritual bersih-bersih keduanya masuk ke dalam rumah, jika biasanya mereka akan langsung duduk di sofa kali ini mereka berpikir 2 kali, melihat apakah pakaian mereka bersih atau kotor, jangan sampai pan tat mereka di pukul dengan sapu.
Dilihatnya dua kotak bertumpuk samping asbak dan kotak tissue di meja yang tadi Rayyan tunjuk, "asikk, umi Salwa emang paling baik!" keduanya duduk di sofa.
"Kalo bisa sih, tiap hari umi disini!" kekeh Langit.
__ADS_1
"Dikasih paru minta ampela," decak Rayyan.
"Lagian lusa juga abi sama umi pulang, ntar balik lagi kalo mau sukuran 4 bulanan mantu--" lanjutnya memindahkan saluran televisi, dimana berita selebriti sedang terputar disana.
"Setelah kepulangan Eirene lovely ke tanah air, kini giliran anak bangsa lainnya yang pulang. Yap! Sesama model berskala Internasional, dialah Hanin Gudana---sosok model cantik berikutnya yang sukses di kancah Internasional baru saja tiba di ban-----"
Dari arah dapur samar-samar terdengar suara liputan itu di telinga Eirene, perempuan itu memanjangkan lehernya ke arah ruang depan, "hm, Hanin balik! Apa kontrak dia udah abis, atau justru punya job di tanah air?" gumamnya menuangkan sirop jeruk ke dalam gelas tinggi dan mengaduknya bersama air dan es batu, namun tatapannya jauh memikirkan job apa yang kiranya akan dilakukan Hanin di tanah air, beda dengan dirinya sekarang dengan segudang kegiatan yang ngga jauh-jauh dari kegiatan sosial, mendukung dan ikut mengabdi pada kesatuan tentara negri juga mengurus keluarga, sesuai sumpah dan janjinya saat pengajuan pernikahan.
Sesosok gadis berperawakan hampir sama dengan Eyi terlihat keluar dari pintu bandara bersama sorotan kamera para awak media yang mengejar di balik kacamata hitamnya. Dengan penjagaan dari management dan security, ia tampak masuk ke dalam mobil mewah nampak menimpali pertanyaan dari para wartawan, hingga Rayyan memindahkan saluran televisi ke chanel yang menampilkan saluran olahraga.
Sama-sama berkarir di dunia modeling, membuat Eyi dan Hanin mengenal baik, meski jarang berjumpa karena letak negara yang berbeda. Kini tak ada lagi persaingan prestasi antara dirinya dan Hanin, mungkin jika tak terdampar disini, lain pula ceritanya. Ia dan Hanin akan saling melempar celoteh siapa paling famous. Berkarier sebaik mungkin beradu kemampuan, hingga yang terbaiklah yang akan terus berkibar namanya.
"Good luck Hanin," Eyi tersenyum penuh keyakinan.
Sebagai tuan rumah yang baik, Eyi menyuguhkan satu nampan dengan dua gelas sirop jeruk pada kedua tamunya itu.
"Nih, karena Eyi tuan rumah yang baik! Diminum dulu," ucapnya menaruh kedua gelas tinggi dengan dinding gelas yang mengembun membuat senyuman keduanya terbit, kan jadinya tak sia-sia abis cuci kaki sampe kuku aja pada bling-bling.
"Aduhhh, hatur thank you, bu Rayyan!" seru Pramudya.
"Ya udah kalo gitu, Eyi ke kamar duluan deh bang. Ngantuk!"
"Iya," angguk Ray singkat.
"*Itu baju hamil enak banget dipake, udah Fara kirim lewat paket express. Tunggu aja sekitar 3 harian lah*---"
"Oke thanks kak,"
Eyi sedang duduk di depan cermin dan memoles make up dengan bantuan helm berlampu milik Rayyan ia menyoroti wajahnya sebagai ganti lampu-lampu yang biasa ia pakai di ruang make up semasa jadi model dulu agar penglihatan lebih jelas.
"Ada gunanya juga nih helm," Eyi menggeser letak helm agar menyoroti jelas alisnya. Jika kesatuan tau, mungkin bakalan mewek bawang, helm yang dipakai untuk membantu penerangan para personel kesatuan dalam bertugas ini, di tangan Eirene disulap jadi alat untuk membantunya ber-make up.
"Bagus nih helm dibawa buat make up darurat! Pesen satu ah!" ujarnya. Eirene berdiri dari duduknya, hari ini ia akan melakukan kegiatan sosial gabungan yang diadakan oleh persatuan tentara negri bersama para ibu Jala, dan ibu-ibu kesatuan angkatan darat juga udara dengan agenda kegiatan khitanan massal yang diadakan di daerah X\*\*\*\*\*, markasnya elite komando khusus.
__ADS_1
Eirene mematut dirinya di depan cermin, pakaian ibu Jala yang dulu sempat ia kecilkan kini malah terlihat mencetak badannya yang kian hari terlihat semakin berisi, jangan lupakan bulatan kecil yang kini menghiasi bentukan perutnya.
"Hm, udah keliatan ya--" gumamnya berkali-kali melirik dari berbagai angle.
"*Bu Rayyan*!" panggil bu Nani dari luar.
Dengan segera Eyi menyambar tas miliknya dan memakai sepatu pantofel, tak lupa pin kesatuan selalu tersemat di lidah kerah blazernya.
"Anak-anak sama siapa bu?" tanya Eyi mengunci pintu.
"Sama tetangga yang ndak ikut,"
"Kak Wiwit!" sapa Eyi saat Wiwit baru saja muncul.
"Duh, bumil ini lagi cantik-cantiknya nih! Aura bumilnya keliatan banget!" puji Wiwit, Eyi mengulas senyuman, "bilang aja gendut kak,"
"Bukan gendut, berisi--montox!"
.
.
.
Note :
\* autoclave : mesin steam untuk proses sterilisasi alat alat lab
__ADS_1