Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
LOVE IN THE KITCHEN


__ADS_3

...NOTHING'S GONNA CHANGE MY LOVE FOR YOU...


...TEUKU RAYYAN...



Masih dengan pakaian serba putihnya Ray dan Eyi pulang ke Markas besar, diantar oleh supir rumah, pak Janu.



Gerbang megah itu sudah terlihat jelas, hingga penjaga serambi membukakan palang pintu portal.



Rayyan membuka kaca jendela mobil bagiannya demi menyapa junior, "sore kapt!"



"Sore, ini---buat makan," ia menyerahkan 4 kresek berisi nasi kotak, air mineral dan kudapan khas Aceh dan Betawi pada mereka yang ada disana.



"Wah! Makasih bang! Acara apa nih bang?"



"Sama-sama, cuma acara tasyakur kecil-kecilan 4 bulanan istri saya," jawab Rayyan.



"Alhamdulillah, sehat-sehat buat ibu sama calon anaknya bang. Lancar hingga persalinan," tanpa sengaja Eirene mendengar itu, membuatnya ikut menyembulkan kepala, "makasih om!"



"Sama-sama ibu," angguk mereka singkat.



Di depan rumah Rayyan ternyata sudah menunggu Langit, Pram dan Maliq. Sebenarnya para perwira ini sempat mengikuti acara pengajian di rumah Rayyan meski datang di waktu pertengahan acara, namun ketiganya sudah pulang duluan ketimbang si tuan hajat.



Asap rokok mengepul menemani mereka duduk di teras depan rumah perwira tersebut, melihat mobil sudah diparkirkan pak Janu di depan rumah ketiganya langsung beranjak.



"Bray, sebanyak ini mau bagiin sekarang?" tanya Langit membuka bagasi mobil.



"Iyalah, biar langsung dimakan!" pintu mobil Rayyan lebarkan.



"Sini aden-aden saya bantu!" ujar pak Janu ikut menyerbu tumpukan besek yang disusun rapi di bagasi serta jok penumpang.



"Dek, kamu masuk aja. Udah sore---jangan kelewat sore bersih-bersihnya, kata orangtua dulu *pamali*," ujar Rayyan.



"Pamali itu sejenis apa?" tanya Eyi turun dari mobil.



"Sejenis tomcat!" jawab Pram terkekeh.



"Sejenis ular derik, bu!" timpal Langit, bukannya marah Rayyan malah ikut tertawa melihat istrinya dijahili. Eyi mengangkat sebelah alisnya sangsi dengan jawaban kedua teman suaminya itu. Mereka ini, bisa dibilang satu tipe dsngan Rayyan--tak bisa serius dan usil, " masa?"



"Pamali itu tabu neng, artinya larangan tak tertulis yang dipercaya masyarakat," jelas pak Janu.



Eirene berohria lantas memasang wajah mendelik pada ketiganya, "diantara 4 lelaki nih--cuma pak Janu yang waras! Kalian masuk kesatuan tuh berhak dipertanyakan tes medisnya,"



Rayyan tertawa, "terlalu ganteng, terlalu pintar, terlalu kece, atau terlalu pandai memikat...nama penyakitnya dek,"



Eirene mencebik, "terlalu stress, kebanyakan minum air laut yang mengandung racun ikan fugu!" ia masuk ke dalam rumah. Langit dan Pram tertawa, "lo dibilang stress sama bini sendiri, apalagi sama orang!"



"Lo juga kimvritt," balas Rayyan.



Jauh dari ekspektasi mereka, Rayyan dan Eyi justru seringnya terlihat saling lempar ejekan, lempar candaan, berbeda ketimbang Rayyan sewaktu berpacaran dengan mantan-mantannya dulu yang terbilang terlalu lebay dan terkesan membuat ilfeell.


__ADS_1


"Lo sama Eyi, ngga kaya lo sama mantan-mantan lo," akui Langit.



"Iya, dan itu yang membuat gue betah sama istri. Karena dia bukan seseorang yang membosankan, bukan seseorang yang setiap kali manja dan *kalah*. Dia partner yang selalu bikin kangen, partner yang manja sesekali, tapi jadi partner yang ngga mau mengalah, bikin gue selalu merasa tertantang," Rayyan mengulas senyuman lebar nan hangat, seolah pikirannya saat ini dipenuhi kenangan manis ataupun absurd bersama Eyi selama ini.



Eyi sudah duduk dengan bersila kaki di atas sofa menikmati cemilan yang dibawakan umi khusus untuknya satu toples penuh, belum lagi kue-kue basah khas tanah serambi mekkah dan betawi dari nyak Fatimah yang berkotak-kotak, ia masukkan ke dalam kulkas sebagiannya.



Eyi mulai senang memakai t-shirt milik Rayyan yang terkesan gombrang atau ber-ruang di badannya, kebanyakan t-shirt milik Eyi yang lebih mencetak badan sudah terasa sesak bagi bumil satu ini.



Rayyan tak langsung duduk di samping Eyi, yang ia lakukan adalah langsung melangkah lurus ke kamar mandi sebelum ia menyentuh bumil-nya.



"Udah dibagiin semua bang?" tanya Eyi.



"Udah, udah minta ka Wiwit, bu Nani sama yang lain juga buat bantu barusan."



"Abang mau dibikinin kopi?" tanya nya berteriak karena Rayyan sudah masuk kamar mandi.



"Boleh," balas Rayyan tak kalah kencang mirip-mirip di hutan pedalaman.



Pintu kamar mandi terbuka menyajikan sosok tegap dengan ber telan jang dada nampak segar nan wangi. Ia memeluk Eyi yang tengah mengaduk kopi dengan t-shirt miliknya menutupi sampai paha, menyisakkan celana pendek dan kaki mulus nan jenjang, sementara perutnya terlihat sedikit menyembul dari t-shirt itu.



"Abang ini takut tumpah ih kopinya," omel Eyi. Tangan besar itu menuntun tangan Eyi untuk menaruh sendok di meja dan memutar badan Eyi agar menghadapnya, membawa kedua tangan lentik itu agar mengalung di lehernya.



Dan yang ia lakukan adalah menyesap rakus ceruk leher Eyi, membuat tangan Eyi mengusap lembut tengkuk hingga belakang kepala dengan rambut-rambut 2 senti Rayyan.



Ia kembali menatap Eyi hingga menembus retina mata ke ruang hati,


"*If i had to live my life without your near me*.


*The night would seem so long, With you i see forever oh, so clearly, i might have been in love before*.


*But it never felt this strong*.


*Our dreams are young and we both know*.


*They'll take us where we want to go*.


*Hold me now, Touch me now, i don't want to live without you*..."



(**Jika aku harus menjalani hidupku tanpa kamu di dekatku**.


**Hari-hari akan terasa begitu sepi**.


**Malam akan terasa panjang. Denganmu aku melihat selamanya, oh, sangat jelas**,


**Aku mungkin telah jatuh cinta sebelumnya**.


**Tapi tak pernah sekuat ini**.


**Mimpi-mimpi kita yang masih belia dan kita berdua mengetahuinya**.


**Mereka akan membawa kita kemanapun tujuan kita**.


**Genggam aku sekarang, sentuh aku sekarang, aku tak ingin menjalani hidup tanpamu**.)



Rayyan tiba-tiba membuat gerakan seolah mereka sedang berdansa meski di lantai dapur, membuat Eyi sedikit terkejut dan tertawa kecil. Tak ada suara musik mendayu lembut nan romantis, hanya suara nyanyian dari mulut Rayyan. Ia menyatukan kening keduanya, saling berebut nafas satu sama lain. Pikiran keduanya melayang mengingat kejadian demi kejadian saat pertama bertemu,



Rayyan menemukan seorang gadis tergeletak berbaring begitu saja di pinggiran sebuah club malam macam gelandangan,


"Mbak," lirihnya.


Gadis itu mabuk berat hingga meracau, "muka lo benyek, ha-ha-ha! Gue Eirene lovely! Model dengan segudang prestasi tapi masa kecil gue kurang bahagia!"


Kilasan-kilasan lalu itu bagai kolase yang berputar dalam ingatan, membuat Eyi menelan salivanya sulit demi menahan air mata.


Huwekkk!


"Arghhhh! Baru kali ini gue nemu artis nyusahin kaya lo!" Rayyan menepis dan menghindar namun celana, jaket dan sepatunya telah terkena muntahan Eirene.

__ADS_1


Langkahnya membawa tubuh Eirene yang tak sadarkan diri ke dalam kamar penginapan kecil seharga 2 hari jatah makannya per-malam.


Cantik!


Demi melihat kemolekan tubuh sexy dan vul gar sang model.


Brak!!


Lo berdua ngapain!"


"Saya akan bertanggung jawab,"


"Ray, umi ngga mau! Umi ngga akan pernah kasih restu!"


"Berhentilah jadi model dan saya akan merestui kamu menjadi menantu,"


"Tapi gimana sama karir modelling gue?!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Eirene Larasati Michaela Larasati binti almarhum Michael Gauhari..."


"Rayyannnn! Eyi ngga bisa tinggal di tempat kaya beginian!"


"Iuhhh! Ngga ada shower---ngga ada bathtub! Argghhh!"


"Saya berjanji---mendampingi suami prajurit dalam keadaan suka maupun duka, mendukung setiap kebijakan dan aturan kesatuan..."


"Ray, ajari aku beribadah---"


"I love you," lalu keduanya larut dalam gelora yang menggebu di dalam kamar berukuran 4×5 m.


"Buka mata kamu, selama ini kamu melewatkan keindahan saat kamu tertidur. Beautiful palace for beautiful women. As beautiful as you..."


"Bismillahirrahmanirrahim---" Eyi menghayati lantunan surat Yusuf dan Maryam yang dibacakan Rayyan tepat di sampingnya.




"*Nothing's gonna change my love for you*....


*You ought to know by now how much i love*,


*One thing you can be sure of*,


*I'll never ask for more than your love*,


*Nothing's gonna change my love for you*,


*You ought to know by now how much i love*,


*The world may change my whole, life throught but...nothing's gonna change my love for you*." Suara Rayyan cukup merdu nan fasih menyanyikan salah satu lagu romantis itu.



(**Tak ada yang mampu mengubah rasa cintaku padamu**,


**Kamu akan mengetahui betapa aku mencintaimu sekarang**,


**Satu hal yang dapat kau pastikan**,


**Aku tak akan meminta yang lebih dari cintamu**,


**Tak ada yang mampu mengubah rasa cintaku padamu**,


**Kamu akan mengetahui betapa aku mencintaimu sekarang**,


**Dunia mungkin akan mengubah hidupku tapi...Tak ada yang mampu mengubah rasa cintaku padamu**.)



🍂 ***Nothing's gonna change my love for you----George Benson***.



Akhirnya lelehan air mata itu membasahi pipi Eyi, dengan kekehan setengah terisak ia semakin mengeratkan tautan tangannya di leher Rayyan, ia bahkan menggigit bibir bawahnya kencang. Begitupun Rayyan yang tertawa kecil saat selesai bernyanyi, apa yang Eyi lamunkan ternyata pun terputar jelas diingatannya.



*Cup*!



Rayyan menyambar bibir Eyi rakus hingga wanita itu sedikit terpundur ke belakang.



Lama---hingga keduanya tersadarkan oleh bunyi ponsel Rayyan yang berdering.



"Malam, ndan!" Rayyan segera menjawab panggilan darurat itu. Dengan tatapan nyalang pada istri cantiknya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2