Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
IJIN BERTUGAS, SAYANG!


__ADS_3

"Ikhlas dek ikhlas---" ujar Rayyan sepanjang jalan, gayanya sudah seperti ibu-ibu sosialita menenteng tas mewah meski badan tegap berbaju loreng.


Eirene meloloskan nafas lelah, efek stress ya begini. Uring-uringan, atau ia yang mau datang bulan?


"Jadi ngga kita belanja?" tanya nya dengan menyamakan langkah di samping istrinya berlenggok meniru Eyi saat berjalan di catwalk, sontak saja rasa lelah, marah, kesal, pusing dan ruwet itu hilang demi mendapati seorang ksatria loreng jadi seperti honey.


Eirene melayangkan pukulannya di bahu Rayyan, "abang apa sih!" tawanya renyah.


"Senyum dong, gitu kan cantek!" ucapnya, tangan besar nan kekar itu terulur demi membawa anak rambut Eirene yang mencuat keluar dari cepolan ke belakang telinganya.


Rayyan tak banyak lagi berkata-kata, tapi tak tau kenapa jika semua dilakukan dengan hati semuanya dapat tersampaikan, perlakuan sayang itu sampai ke palung hati Eirene.


"Abang lebih suka liat kamu begini, bukan dengan gaun malam atau sport bra. Hanya kamu dengan gaya sederhana, ibu jala-nya abang---" Rayyan meraih tangan Eyi dan mengecup punggung tangannya. Ada hati menghangat dan merona disana.



Tak ada lagi rengekan saat naik motor inventaris seperti awal jumpa, mungkin karena ini bukan kali pertama bagi Eyi, ia sudah tak aneh dan mulai beradaptasi dengan mbak Vega.



Keduanya hanya berjalan-jalan saja ke supermarket dan membeli bahan makanan, tapi rasanya seperti kencan untuk keduanya. Beberapa artikel gosip begitu bebas menyuarakan kegiatan merakyat Eirene ada yang memuji ada pula yang tetap mencibir. Tapi Perempuan itu sudah tak bergeming lagi, bagi Eirene hal itu tak penting sekarang, karena selamanya orang-orang akan begitu, hingga nanti tiba saatnya mereka akan terdiam dengan sendirinya.



"Abang, Eyi mau es krim cincau yang waktu itu di depan markormar---" pintanya.



"Boleh, tapi kalo sekarang mungkin harus di cari dulu, soalnya ngga tau udah mangkal dimana," jawab Rayyan tersenyum, bahkan kini Eyi tak meminta gelato atau makanan mahal lainnya. Perlahan langkah awal Rayyan sudah bisa menekan sikap *royal* Eirene, menyederhanakan gaya hidup sang bintang, meskipun begitu banyak keluhan, pukulan dan omelan yang Rayyan terima.



"Mau beli nasi goreng dulu engga?" tanya Ray.



"Dimana?"



"Ada di depan, kamu pasti suka! Enak soalnya," balas Rayyan beradu dengan angin malam.



"Boleh," angguk Eirene.



Sampai motor tiba dan berhenti di salah satu warung nasi goreng dengan spanduk sederhana, namun banyak peminatnya.



...***NASI GORENG 99***...


Keduanya turun dari motor, Eirene masih celingukan aneh di samping motor, ia hanya memanjangkan lehernya saja ke dalam spanduk warung.



"Antri deh kayanya," ujar Eirene.



Rayyan membenarkan posisi keresek belanjaan di cantelan motor.



"Ngga apa-apa, cepet ko layaninnya," jawab Rayyan.



Rayyan merangkul pinggang ramping Eirene dan mengajaknya masuk, suara spatula dan wajan berdenting begitu nyaring saling beradu dengan cepatnya, kompor api mawar dipakai agar cepat mematangkan masakan.



Beberapa kali tangan si koki nasi goreng membalikkan isian wajan dengan lihainya, ada yang lucu disana---kuping wajan ditambahkan kayu sebagai pegangan agar sang empunya bisa mengaduk isian dengan mudah.



"Abang, Eyi mau wajan di rumah kaya gitu bang! Biar ngga panas!" kekeh kecilnya. Rayyan ikut melihat wajah si tukang nasgor.


__ADS_1


"Oh jangan--jangan. Kamu mau balikkin apa emangnya? Telur?" tanya Rayyan, kan berabe kalo Eyi melempar-lempar telur di wajan, bisa-bisa tuh telur ngga balik lagi ke wajan. Sontak saja bibirnya manyun 5 cm.


Rayyan menarik kursi plastik hijau dan merah untuknya dan Eirene duduk. Ada sekitar 3 orang yang ikut mengantre disini, dan ketiganya masih menganalisa apakah yang sedang mengantri ini artis atau bukan, sepertinya wajah ini tak asing bagi mereka.



"*Mas Bowo, kalih nggih! Ingkang setunggal pedes, ingkang setunggal mboten. Spesial sedanten nggih mas Bowo*," ujar Rayyan memesan. (**intinya mah, Rayyan mesen 2 porsi nasi goreng spesial aja, yang satu pedes yang satu engga🤭🤭**)



Mas Bowo si tukang nasi goreng langganan menengok demi mendengar konsumen langganannya, "*eh mas Rayyan to! Oke, monggo ditenggo* rumiyin *yo* *mas Rayyan*!" (**eh, mas Rayyan! Silahkan ditunggu, ya**!)



"Mbak," angguk mas Bowo menyapa Eirene seraya tersenyum, Eirene membalasnya tak kalah ramah.



Eirene menatap mendelik Rayyan yang dengan sengaja berbicara bahasa lain, tiba-tiba saja tangan lentiknya menarik kuping suaminya itu, membuat Rayyan sedikit tertarik.



"Eyi ngga ngerti, jangan bilang kaya gitu!" desisnya galak, bukannya kesakitan ia malah tertawa puas, Rayyan memang sengaja bicara menggunakan bahasa yang tidak Eirene mengerti demi menjahili wanitanya.



"Greget abang tuh sama kamu, dek!" balas Rayyan mencubit pipi Eirene, dimana ia tengah memberengut.



Tingkah usil Rayyan terhenti saat dua orang lain masuk menyibakkan spanduk nasi goreng dan masuk ke dalam. Kedua wanita berambut pendek itu tersentak melihat Rayyan di dalam bersama Eirene.



Rayyan tersenyum sopan, "beli juga?" tanya nya.



"Iya." Jawab Nindi datar, jika Diana---Eyi sudah tau, tapi Nindia? Wanita itu belum tau.




"Iya, lagi pengen nasgor mas Bowo!"



Mata itu melihat Eyi dari atas hingga bawah, meneliti dan mencari kekurangannya. Dan Rayyan tau apa yang dilakukan mantannya itu.



"Dek,"



"Ya?" Eirene yang malah asik memperhatikan mas Bowo memasak nasi goreng menoleh.



"Kenalin ini Letda Nindia dan Letda Marina---rekan kerja abang."


Eirene menoleh, "oh--hay!"



"Eirene,"



Jika Nindia hanya berjabat tangan kaku, bahkan senyum pun dipaksakan, beda halnya dengan Marina.


"Wah, ngga nyangka bu! Bisa kenal model terkenal!" Marina tersenyum lebar.



"Ngga nyangka juga bisa nyangkut jadi keluarga marinir," balas Eyi.


"Padahal ibu cocok loh kalo jadi prajurit, katanya tadi pagi bikin heboh di lapang voli gara-gara kickboxing, keren!"


__ADS_1


"Oh iyakah?" seru Eirene bertanya.


Marina dan Eyi bisa nyambung kaya kabel, tapi lain halnya dengan Nindia dan Rayyan yang sama-sama diam. Hingga Rayyan mendapatkan pesanannya tak ada yang berbicara diantara mereka.



"Saya duluan, Marin---Nin!" Rayyan mengangguk singkat dan menarik Eyi.



"Duluan Marina--" pamit Eyi berdadah ria.


"Marina sama Nindia tuh kompi apa bang?" tanya Eirene.


"Satu infanteri kah, atau satu unit kah atau apa? Kok bisa kenal?" tanya nya lagi.


"Bukan, hanya satu markas saja. Satu matra--ya masa ngga kenal, sama-sama prajurit," jawab Rayyan diplomatis. Eirene hanya tersenyum, ia bukan tak peka dengan reaksi Rayyan dan Nindia tadi, yang menunjukkan keanehan. Tapi kembali, Eirene percaya Rayyan, ia bukan tipe manusia ribet yang mempermasalahkan hal yang belum atau tidak terjadi.


Baru saja mereka sampai, bahkan Eirene baru menumpahkan nasi gorengnya di piring, Rayyan mendapatkan telfon dari kantor.


"Siap ndan! 15 menit saja," ucapnya, Eirene sampai melongo dibuatnya.


"Kenapa?" tanya Eirene. Rayyan mengulas senyuman, "abang ada dinas di luar mendadak dek," ucapnya mengusap pipi Eirene yang masih melongo.


"Tapi ini nasinya gimana?" tanya Eyi.


"Abang makan ya, bisa tolong ambilkan sepatu delta abang?" Eirene mengangguk.


Dengan cepat Rayyan memakan nasi gorengnya, Eirene sampai membuka mulutnya melihat Rayyan, "abang laper apa kemasukan jin?" tanya nya menaruh sepatu di bawah kaki.


Rayyan memang tak menghabiskan makannya, namun di piring Rayyan tak banyak tersisa nasi.


Segera ia beranjak untuk mengganti pakaiannya, bukan si loreng kebangaan namun serba hitam.


Tangannya menyambar seragam ciri khas detasemen khusus Raden Joko hingga Eirene mengernyitkan dahi, baru kali ini ia melihat seragam itu dan Rayyan terlihat----menyeramkan, mematikan.


Raut wajah Eirene mendadak datar, "kenapa bukan yang loreng?"


Tetap saja, senyum itu tercetak di wajah Rayyan, ditangkupnya wajah Eirene demi menyatukan kening keduanya, "abang ijin dinas di luar ya! Selalu do'akan abang biar selamat sampai kembali lagi tanpa kurang suatu apapun, kamu baik-baik disini, jangan nakal---mungkin beberapa hari abang ngga pulang dulu."


Dentuman bertubi-tubi menyerang hati Eirene, mendadak rasa lapar itu hilang berganti rasa sedih dan haru.


"Terus Eyi gimana, Eyi ditinggal sendiri gitu? Eyi ikut!" pintanya mengeratkan tautan tangan di badan Rayyan. Kali ini rasanya begitu berat melepaskan Rayyan, tidak seperti yang sudah-sudah. Apakah rasa itu telah tumbuh di dalam dada?


"Masa tugas ngajak istri, ngaco! Dah ya, abang pergi dulu! Udah ditunggu dari tadi, kamu makan aja dulu--nanti kalo tidur kunci pintunya. Kalau ada apa-apa minta tolong Ulfa, bu Nani, atau kak Wiwit, mau masak baca dulu cara penyajian. Mau minta tolong ajudan tapi abang tau kamu sudah jengah dengan penjagaan," ujarnya lembut mengecup kening Eyi. Lain di mulut lain faktanya, Rayyan tetap akan meminta asistennya Sertu Maliq demi mengawasi Eirene.


"Iya," angguk Eirene, mau tak mau inilah kenyataan yang harus ia hadapi, beginilah resiko jadi istri prajurit. Baru saja tadi siang ia berfikir tentang ini, dan sekarang Allah sudah menjawabnya. Rayyan sudah rapi dengan rompi anti peluru, segala macam perlengkapan keselamatan, buff tengkorak dan helm yang dilengkapi inframerah, gerakannya menyimpulkan tali sepatu delta begitu seirama dengan cepatnya degupan jantung Eyi, "kamu harus pulang!"


"Kapten Marinir Teuku Al Rayyan mohon ijin bertugas, sayang!" lapornya pada Eirene, membuat hati Eirene mencelos berkali-kali. Baru kali ini ia sedih melepas kepergian seseorang.


Langkah Rayyan membawanya keluar dari halaman rumah, berbalik menatap sejenak istrinya di ambang pintu dan mengulas senyuman hangat.




"***Janji seorang ksatria! Senantiasa siaga bertindak terhadap segala macam ancaman bahaya***!"



"***Janji seorang ksatria! Melindungi harkat dan martabat keluarga, agama, nusa---bangsa, dan masyarakat***.



"\*\*\*\*\*\* ***Jayamahe !!! Di darat dan di laut kita jaya***!"



Seruan semangat para perwira berseragam hitam-hitam dengan peralatan keselamatan lengkap dan senjata laras panjang membakar suasana malam di langit ibukota. Ada do'a yang mengalir deras di belakang mereka meski tak nampak.



Mobil amfibi milik marinir sudah terparkir, siap membawa para ksatria laut ini menuju medan perang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2