Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KEJUTAN


__ADS_3

Jepretan kamera membidik seluruh gerakan Eirene, apalagi saat ia mengibaskan seluruh sisi gaun yang dipakainya dan berputar tanpa rasa ragu.


Langkah Eirene mantap nan percaya diri, ia dapatkan kembali dirinya yang sempat hilang. Salwa dapat melihat secara langsung bagaimana Eirene bergaya di depan sana, ada sebuah rasa yang tak bisa ia utarakan saat menantunya ini berjalan dan itu yang tak dapat ia temukan saat model lain yang melakukannya. Benar, Eierene memiliki sesuatu yang tak model lain miliki. Sekarang ia mengerti keangkuhan yang dibangun Eyi adalah demi karakter kuatnya diatas panggung.


"Apa Eyi lagi sakit?" tiba-tiba gumaman Zaky bertanya pada istrinya, melihat raut wajah menantunya itu seperti sedang menahan sesuatu.


Salwa mengerutkan dahinya, "masa sih? Ah abang so tau!" ujarnya dengan pasang mata yang masih mengawasi gerakan menantunya itu, Salwa sengaja mengesampingkan jadwal semua pertemuan bisnisnya demi melihat sang menantu berlenggok.


Musik berubah jadi berbau adat Madura, setelah Eirene dan yang lain kembali masuk ke pintu di bawah panggung diantara tangga pentas. Layar di atas menampilkan font bertuliskan


...MADURESE...


Dari pintu tengah tadi muncul para model yang menampilkan seluruh kostum bernuansakan budaya Madura, salah satu etnis terbesar di nusantara. Para model berlenggok dengan kostum yang tak main-main unik, berat serta mengundang decak kagum. Salah satu tema yang dibawakan adalah sate Madura yang mendunia beserta corak belang merah putih yang melegenda.


Senyuman para penonton tak surut sampai disitu untuk kemudian defile yang ditampilkan berlanjut,


...Sriwijaya...


Adalah kerajaan maritime tertua di pulau Sumatra, juga memiliki armada laut terkuat di masanya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Kostum yang sebagian besarnya mengambil cosplay kapal laut itu dibawakan begitu epic untuk menunjukkan betapa gagahnya armada laut yang dimiliki nusantara saat itu, termasuk oleh Eirene, wanita ini yang berjalan bak prajurit cantik kerajaan Sriwijaya membungkuk dan hormat pada Laksamana beserta ibu.


Rayyan menggelengkan kepalanya, "ck! Ngga di denger," saat Eyi keluar dengan pakaian cukup berat.


Langit melirik Rayyan yang terlihat menthesah, ia tertawa, "bapak marah-marah, samperin pak!"


Jika yang lain lanjut berparade sampai GOR PKPSO Kaliwates, Eirene masih harus berganti kostum dengan busana defile Poseidon. Masih ada cukup waktu untuknya berganti pakaian, sementara di depan sana defile lainnya sedang berparade, seperti defile Mahabharata, Garuda, Betawi, Majapahit, Kujang, Aztec, Sasando.


Beberapa talent bahkan menunjukkan bakatnya dengan melakukan atraksi memutar-mutar dan menyemburkan api atau fire breathing sehingga memantik antusiasme penonton juga masyarakat yang menyaksikan.


Alunan musik pengiring begitu membuat hati tergugah, lampu sorot seketika meredup membiru saat nama defile terakhir ini disebutkan.


"POSEIDON, bersama Eirene Michaela Larasati dan korps. Marinir tentara negri!!!"


Laksamana sampai melakukan standing applause, membuat yang lain refleks ikut melakukan hal yang sama atas kemunculan rombongan berbusana defile Poseidon yang merupakan dewa laut. Aura birunya laut mewakili korps ini, Eirene awalnya naik kendaraan seperti kereta kencana yang telah dihias layaknya kerajaan laut turun bertopangkan trisula, give applause for make up artist salah satu brand kosmetik kebangaan negri, Martha Tila ar. Yang membuat wajah seorang berkarakter macam Eirene menjelma seperti ratu kerajaan, lensa yang ia pakai adalah birunya laut bersama corak art make up di wajahnya dengan kebiruan dan hijau nampak jelas ialah Ratunya. Memang karya dan kemampuan anak negri patut disandingkan dengan kemampuan kelas dunia lainnya. Dan untuk itu, Rayyan telah berhasil membawa pulang salah satu anak negri yang sudah terlalu jauh pergi, terlalu lama melanglang buana sampai lupa dengan rumah dan bahasa ibu.


Eirene berputar dan membawa sebagian gaunnya agar terbawa angin malam. Mendadak tenggorokannya dilanda rasa tak nyaman, ia berusaha mengusirnya dengan bergerak.


"Ini kenapa mual datangnya ngga tau waktu gini," benaknya membatin. Ia berusaha sekuat mungkin agar tak muntah, sebagai tindakan profesional.


"Mbak lovely naik aja kesini, biar ngga terlalu capek jalannya---" untung saja crew pelaksana menyediakan roda yang dibentuk menyerupai kereta kencana untuknya, menyelamatkan badannya yang sudah siap tumbang.


"Oke!" tanpa berpikir panjang, Eirene menerima tawaran itu, selain karena pakaian yang ia pakai beratnya bikin pundak Eyi macam pundak samson dan kepalanya mendadak migrain. Entah kenapa badannya mendadak lemas dan mual. Mungkin ia harus memikirkan kembali ucapan Rayyan untuk memeriksakan diri ke dokter.


Rute jalanan yang dilalui telah diberi pembatas dan mendapat pengawalan dari aparat, terdapat banyak stan UMKM di sepanjang rute menuju GOR PKPSO. Warga yang menyaksikan pun tak kalah ramainya, pokoknya malam ini Jember berwarna dan bergelora.

__ADS_1


Parade dilakukan sampai sekitar pukul 22.00 wib.


"Yeeee! Makasih semuanya atas kerjasamanya malam ini, good job!" mereka saling peluk, saling berjabat tangan termasuk Eirene.


"Mbak Lovely, foto bareng yuk! Foto!" pinta mereka langsung menyerbu Eyi, wanita itu tak bisa untuk menolak, meski ulu hatinya sudah benar-benar tak bisa menahan lagi rasa mual, ia tersenyum kecut penuh kegetiran, wajahnya mendadak pias meski masih tertutup make up, hingga----


"Maaf permisi!" Eyi bahkan belum membuka heels'nya, ia sedikit berlari seraya menutup mulutnya dengan tangan.


Ia mencari tempat agak menjauh keluar dari ruangan, dan memuntahkan sisa-sisa tenaga dan ampas yang ada dalam perutnya.


"Loh mbak Lovely itu kenapa?" mereka celingukan memanjangkan lehernya demi melihat Eirene.


"Coba dilihat!" Dudi ikut keluar bersama beberapa kru, takutnya sang bintang malah sakit.


"Love, kamu ngga apa-apa?" tanya nya memiringkan kepala melihat Eirene yang masih membungkuk.


Wanita itu menggeleng, "ngga apa-apa mas, kayanya kena angin malam aja, badan lagi ngga fit. Eirene mau istirahat aja mas di hotel, maaf ngga bisa ikutan meeting---"


"Oh iya ngga apa-apa, itu cuma meeting kru aja. Kamu istirahat aja. Tik! Tika! Coba temenin Lovely ke hotel, minta Adit siapin mobil!" perintah Dudi memanggil salah sati asistennya, hingga perempuan dengan badan sedikit gempal berlari datang, "oke mas!"


"Ngga perlu!" sepasang suami istri menyusul ke tempat dimana pelaksana JFC berkumpul atas informasi beberapa kru pelaksana.


"Saya ibu Eirene," gamis yang menutupi keseluruhan badannya melambai seiring langkah Salwa mendekat.


Eyi segera menyeka mulutnya, "Mas Dudi, kenalin itu mama mertua Eyi---" ucap Eirene mengurai rasa penasaran Dudi.


"Oh, malam bu--pak!" sapanya.


"Malam," angguk singkat Salwa dan Zaky.


"Kalau gitu oke ya Ei? Saya tinggal?"


"Oke mas, silahkan."


"Kalau perlu apa-apa hubungi saja," tawarnya.


"Iya mbak lovely, kalau ada apa-apa hubungi saya saja."


"Oke," jawab Eyi, ketiganya menatap sang president event hingga ia benar-benar kembali masuk bersama asistennya itu.


Eirene melirik kedua mertyanya masih dengan rasa penasaran, "umi sama abi---"


"Anak nakal!" Salwa mengeluarkan jurus menjiwir hidung tepat di hidung mancung Eyi.

__ADS_1


"Kenapa ngga telfon umi kalo kamu ngga enak badan, ngga usah so so profesionalitas---kalo kamu sampe masuk rumah sakit lagi gimana?!" omelnya.


"Iya maaf umi, umi sama abi nginep dimana? Kapan kesini?" kini ketiganya berjalan, dengan Eyi yang digandeng Salwa.


"Ngobrolnya di mobil aja nak, angin malam ngga enak." Ujar Zaky.


"Iya abi,"


"Umi sama abi di hotel mana?" tanya Eyi.


"Satu hotel sama kamu, umi nanya Ray kamu dimana. Kemana lagi tuh anak, istri sakit gini dibiarin sendiri! Gimana sih!" omel umi. Eyi tersenyum mendapati omelan Salwa.


"Abang kan harus dinas umi, ngga bisa jadi pengawal pribadinya Eyi. Lagian Eyi masih 2 hari lagi baliknya, jadi belum sempet kabarin abang kapan pulang. Paling nanti malem Eyi kabarin abang, biar lusa jemput," jelas Eyi.


"Kamu disini sendiri, jangan apa-apa tuh dipendem sendiri. Kalo sakit bilang! Udah umi duga kan, kalo kamu tuh disini ngga ada yang urus!"


"Umi jangan ngomel-ngomel terus," Eirene memeluk lengan Salwa layaknya anak kandung, sementara Zaky setia berjalan di depan keduanya menuju mobil.



Pagi ini ia dikejutkan dengan ketukan di pintu kamarnya, tangan-tangan ramping itu memijit kening dengan urat-urat pelipis yang menegang karena menahan pusing. Apa ia masuk angin lagi, karena semalaman memakai baju minim?



Kelopak matanya masih enggan terbuka, tapi suara umi Salwa yang memanggilnya harus segera ia jawab. Eirene bangun dengan langkah yang sempoyongan.



*Ceklek*!



*Gubrak*!



"Astagfirullah Eyiiii!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2