Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
SALAM KENAL DENGAN EIRENE LOVELY


__ADS_3

Eirene melipat kertas nasi dengan isi yang masih setengah utuh, rasanya selera makan yang sudah meronta-ronta mendadak kenyang dengan kepergian Rayyan tadi. Kata orang-orang sih gejala semprul macam ini namanya cinta---apa iya cinta semenyiksa ini?


Tangannya terulur menyimpan sisa nasi goreng di meja makan lalu ia tutupi dengan tudung saji plastik berwarna biru. Sepertinya si pink sudah mulai berkawan baik dengan si biru. Langkah kaki terbalut sendal rumah berbulu itu mengambil kresek belanjaan lalu membawanya ke dapur, Eirene menata belanjaan tadi meskipun hatinya dilanda gundah gulana gelisah tanpanya, mungkin ini juga yang dirasakan oleh para istri tentara lainnya saat sedang bertugas.


"Harus kuat Eyi---lo ngga boleh mewek! Biasanya juga sendiri," ucapnya bermonolog, mumpung sendirian jadi ngga akan dikira gila kan? Paling-paling laba-laba yang geleng kepala prihatin, cantik-cantik kok ngomong sendiri.


Mulut boleh berkata kalau ia kuat, tapi matanya sudah berkaca-kaca, yup! Eyi sudah ketergantungan terhadap Rayyan. Biasanya kan ia hanya duduk cantik di kursi sambil bertopang kaki ala princess jadi mandor, sementara Rayyan yang mengerjakan.


"Di sarang flying dutchman gini ngga akan ada hantu kan?" Eirene menyapukan pandangannya ke sekeliling dapur. Katanya hantu tanah air seram-seram kaya yang punya rumah.


Eirene segera menyelesaikan pekerjaannya meskipun asal-asalan menaruh bahan makanan yang penting masuk kandang saja, dan langsung berlari ke ruangan tengah rumah, mengunci pintu seperti perintah Rayyan lalu melesat masuk ke kamar---bukan lagi berbaring, ia sudah masuk ke dalam selimut cintanya dan Rayyan.


"Gue mah ngga takut mati, tapi takut aja kalo tiba-tiba hantunya ngagetin terus gue kepeleset, mati deh kebentur---" gumamnya mencoba menguatkan iman yang serapuh kaki meja yang keropos.


"Nyesel gue terima ajakan honey buat nonton film horor kemaren-kemaren!" decaknya, tiba-tiba saja keringat mengucur deras dari badannya.


Tok---tok---tok!


"Astagfirullah---astagfirullah!!!" ia beristigfar seraya melafalkan do'a yang dia bisa, memangnya do'a apa yang ia bisa. Toh yang Rayyan ajarkan kalo ngga do'a makan, dan do'a tidur ya do'a mandi jun ub-----kan ambyar, masa se tan dikasih do'a begituan, auto keramasan.


"Hushh---hushhh! Eyi istrinya hantu laut loh! Sesama hantu jangan saling ganggu," ujarnya komat-kamit.


Kembali terdengar pintu diketuk sebanyak 3 kali, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang Narnia. Matanya memejam di balik selimut.


"Aduhhh, siapa sih! Mana ada manusia bertamu malem-malem gini !" ujarnya.


Untuk ketiga kalinya pintu itu diketuk dari luar, Eirene terjengkat kaget, tapi ia coba memberanikan dirinya untuk melihat.


"Bismillah deh, semoga bismillah kali ini bisa bantu Eyi!" ucapnya, ia menyingkapkan selimut, kaki-kaki jenjang itu perlahan turun dari ranjang dan membuka pintu kamar, ia menyembulkan kepalanya lalu celingukan demi memeriksa seluruh ruangan.


Tok--tok---tok!


"Bu!"


"Mana ada se tan manggil bu?!" alisnya berkerut, hanya untuk berjaga-jaga perempuan itu mengambil alat mop lantai dengan kain yang masih basah, bekas tadi siang menuju sore mengepel lantai yang ngga kotor-kotor amat, bagi Eirene kebersihan itu yang utama, she is miss higienis. Bahkan kalo bisa ia akan mengepel lantai dengan hand sanitizer sekalian biar kuman-kuman pada innalillahi.


Eirene maju perlahan karena ketukan itu terus berulang mengganggu gendang telinga, Beda halnya dengan cerita di novel yang kalo jarak 5 meter saja berasa 5 kilo, baginya jarak dari kanar menuju pintu depan yang 10 meteran mendadak cuma sejengkal, padahal ia berjalan bak menak yang kalo melangkah cuma persekian inci udah gitu berentinya setaun.


Tiba saatnya ia berada di balik pintu rumah. Sedikit demi sedikit ia membuka tirai jendela untuk melihat keadaan di luar. By the way, tirai biru Rayyan sudah berubah jadi pink 2 hari yang lalu atas request si model tentunya.


"OMG! Ngga ada orang dong!" matanya melotot namun sejurus kemudian alisnya berkerut, cengkramannya semakin mengerat kencang di alat pel, keringatnya mengucur deras bak talang air bocor.


Tok--tok--tok!


"Bu!"


Ia kembali tersentak, kini suaranya sedikit dekat ruang belakang, entah itu ke arah dapur atau halaman. Eirene memutar kunci pintu dan membukanya sedikit demi sedikit kaya lagi motong kue ultah yang mesti di slow motion, wanita itu melangkah sampai ambang pintu, tapi tak ada apapun atau siapapun disana.


"Bu!"


"Aaaaaa!!!!"


Eirene berteriak, karena refleks saking takutnya, alat pel'an itu ia layangkan dan di hantamkan pada orang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Astagfirullah!" ucapnya yang tanpa aba-aba menerima serangan mengejutkan dari Eyi.


"Bu! Saya Sertu Maliq, ajudan kapten," tandasnya cepat menepis dan menangkis serangan Eirene. Wanita itu melotot lalu melepaskan gagang pel'an, "ya ampunnn! Dikirain hantu atau orang jahat?!"


"Sorry--sorry!" wanita itu nyengir tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Terlihat Sertu Maliq merapikan dan membersihkan kepala juga bajunya, baru mau memperkenalkan diri saja sudah dicocol alat pel, bagaimana nanti ya gustiii! Semoga ke depannya istri atasannya itu anteng dan kalem.


"Maaf," Eirene menampakkan wajah menyesali.


"Nggak apa-apa bu. Salah saya yang datang malam-malam." Sertu Maliq menjiwir entah itu plastik atau kotoran pojokan ruangan yang nyangkut di rambutnya.


"Maaf baru beres pekerjaan rumah, barusan saya ditelfon bapak untuk menemui ibu dan berkenalan, sampai nanti bapak pulang ibu bisa minta tolong saya kalau ada perlu apa-apa,"


Rayyan bahkan tak segan memberikan nomor ponsel Eirene pada Maliq.


"Saya sudah punya nomor ibu dari bapak, dan barusan saya missed call ke nomor ibu---"


"Iya,"


"Kalau begitu maaf sudah mengganggu istirahatnya bu, saya ijin permisi!" Eirene kembali mengangguk singkat dan kembali ke dalam rumah.



Terasa betul kini kesendirian bergema begitu kencang di kepalanya, ternyata begini rasanya----



Tak ada kegiatan yang Eirene lakukan, umi Salwa mengabarkan jika sudah 3 hari ia pulang ke Sabang, begitupun Zahra yang sibuk kuliah, honey pun begitu sibuk mengurus bisnis umi, membuatnya jarang ada waktu, lalu ia sendiri? Hanya duduk di depan segelas susu vanilla sambil nungguin telur rebus, varian baru sarapannya. Hari ini ia libur bikin telur ceplok.



Senyum Eirene tersungging, kenapa ia tidak undang saja ibu-ibu kesatuan untuk menemaninya sambil ngerjain tugas kantor. Ide briliant, bisa juga kan sambil belajar masak sama mereka?!



*Bo iboe---kumpul di rumah ibu Rayyan*




"Eyi," rupanya kak Wiwit sudah lebih dulu sampai disini membawa serta anaknya.



"Hay! Masuk kak, eh---ada siapa ini?" Eirene berjongkok agar menyamai tinggi bocah 4 tahun itu.



"Rengga aunty," kak Wiwit memperkenalkan, sementara Rengga sendiri hanya malu-malu kucing bertemu dengan Eirene, bocah tau aja yang cantik.



"Oke jagoannya bang Jaya--- masuk-masuk! Di dalem ada permen sama coklat!" ajak Eirene ramah pada bocah yang betul-betul mirip bapaknya itu, seperti seorang kawan.



"Mirip banget bang Jaya," ocehnya.



Wiwit mengangguk setuju, "hooh, orang-orang juga bilang gitu. Aku cuma ditumpangin buat lahirannya doang!" tawanya berkelakar. Eirene tertawa, apakah ia akan bernasib sama? Who knows!


__ADS_1


Wiwit dan Rengga masuk, hawa dingin dan sejuk sudah terasa disini, ia memaklumi itu. Eirene terbiasa hidup mewah maka wajar saja perlengkapan yang ada pun pasti harus higienis dan terjamin. Waktu sebelumnya Eirene sempat membawa Air purifiernya kesini, karpet tebal dan segala perintilan rumah barbie-nya yang serba pink, pokoknya rumah kapten unit gahar itu jadi seperti kastil barbie mariposa sekarang, Wiwit mengulum bibirnya demi melihat ini, bagaimana reaksi Langit, Pramudya dan suaminya jika melihat ini.



Wiwit duduk di atas sofa bersama Rengga, sementara Eirene nyelonong masuk ke dapur "Eyi, baiknya sih kalo kata aku ini sofanya di geser, soalnya ibu-ibu biasanya lebih milih melantai di karpet!" teriak Wiwit.



Eirene kembali dengan toples permen dan coklat yang sudah dibelinya semalam bersama Rayyan, "ah jangan kak! Ngga sopan dong masa di karpet?"



"Kalo di sofa gini boros tempat, ngga bisa sambil rebahan! Ibu-ibu lebih seneng rebahan," balasnya lagi.



"Ohhh, jadi harus di geser ya?" tanya Eirene. Oke, tak mau berkeringat-keringat ria, ia merogoh ponselnya dan menelfon Maliq. Pria yang tengah piket alutsista itu terpaksa meninggalkan pekerjaannya demi panggilan yang katanya *urgent*.



"Jok, saya titip dulu sebentar! Ibu telfon, katanya urgent!" Ujarnya pada rekan kerja.



"Oh oke!"


Maliq setengah berlari ke rumah Rayyan takut kalau-kalau istri atasannya itu kenapa-napa. Prajurit muda berumur 24 tahun itu segera membuka pagar rumah Rayyan dengan sekali dorongan dan langsung masuk begitu saja ke pintu rumah Rayyan, wajahnya begitu serius dan khawatir pada sang atasan.



Wiwit dan Rengga sampai mendongak dengan kedatangan Maliq disini, "loh om Maliq, ada apa kesini?" tanya Wiwit, tak mungkin kan prajurit muda ini mau ikutan kumpulan ibu-ibu juga? Jangankan Wiwit, Maliq pun sama bingungnya, keadaan urgent sebelah mananya? Disini semua terlihat baik-baik saja.



"Eh om Maliq! Udah nyampe ya, cepet banget! Sat--set---sat---set!" kekeh Eyi.



"Urgent kenapa bu?" tanya Maliq.



"Ini---Eyi minta tolong geserin sofa, soalnya ibu-ibu mau pada kumpul-kumpul disini. Sofanya lumayan berat, Eyi takut kuku patah, soalnya baru dikasih nail art baru!"



*Ya Salammmm! Neptunussss! Telanlah saya! Salam kenal dengan Eirene Lovely, Maliq*. Maliq menthesah.


.


.


.


.


Note :


__ADS_1


Menak : Ningrat


__ADS_2