
Personel tim XXXX dan detasemen elite Raden Joko sudah bersiap, ada pula beberapa dari unit zonbie yang ikut serta dan pasukan bergerak cepat, yang dibentuk jadi 3 unit saja. Misi ini harus senyap namun gerak cepat.
Suara baling-baling helikopter sudah berderu kencang, setelah melakukan negosiasi dengan negri Soma dan negri tetangganya sebagai bentuk menghargai dan menghormati kedaulatan negri mereka agar dapat melintas di perairan, darat dan udara wilayah mereka, pihak nusantara kini bergerak.
Dari pintu heli yang terbuka Al Fath melirikkan pandangan ke bawah sana, diantara langit malam dibantu penglihatan infra merah ia mulai meneliti medan. Dari perairan para baret berwarna-warni itu kembali bersatu dalam KRI Ha*li*m menuju perairan laut negri tetangga dan negri soma dalam jangkauan aman. Menyusuri setiap inci lautan demi mencari personel tentara yang hilang.
"Hanya bisa menjangkau sampai sini! Saya akan menurunkan unit di ketinggian aman bang," teriak pilot.
"Ok!" mereka meluncur menuruni sling baja satu persatu dengan cepat, sapuan angin helikopter pun menggoyangkan dan membuat dedaunan beriak.
Kaki mereka sudah menginjak daratan orang. Lari gesit adalah sikap mereka, menatap tajam adalah aba-aba mereka, dan sikap siaga adalah pertahanan diri mereka.
Sadar akan kondisi angin, juga hilangnya 2 anggota para warga camp mulai mencium kecurigaan.
"2 unit pergi denganku dan 2 unit menyisir dengan kapal cepat! Unit lain bersiaga di camp, tekan tombol siaga pada camp lain dan siapkan amunisi!" perintah pimpinan camp, pakaiannya jarang rapi bahkan terkesan dekil, tapi jangan salah----berapa puluh kapal kargo yang sudah mereka rebut dan sandera beberapa diantaranya bahkan tak ditebus oleh sang pemilik kapal hingga menjadi milik mereka.
2 unit perompak mulai menyisir daratan dan 2 lainnya berangkat menggunakan kapal hasil jarahan tentu saja dengan perlengkapan senjata yang lengkap.
Rayyan dan Rizal terlalu lelah, lapar dan sakit untuk sekedar bergerak karena gangguan serangga, dibawah langit malam dan dingin juga kotor keduanya memejamkan mata meski tak benar-benar terlelap. Sayup-sayup terdengar grasak-grusuk dari berbagai sudut. Telinga keduanya seperti telinga binatang nocturnal.
Keduanya segera mencari tempat aman dan bersembunyi kembali, keduanya benar-benar tak mau meninggalkan jejak kali ini.
Bukan hanya 2 orang, tapi 2 unit mereka kerahkan. Rayyan meneguk sulit salivanya apakah kali ini ia akan benar-benar tak bisa lagi bertemu dengan Eyi? Wajah istrinya itu begitu jelas teringat di pikiran.
Maafin abang, ngga bisa tepatin janji. Jaga dan urus cimoy baik-baik, jangan salah pilihkan jodoh untuknya. Harapan seorang ayah yang bahkan belum pernah melihat wajah anaknya sekalipun.
Jarak mereka semakin dekat, Rayyan bahkan sudah meremas pistolnya bersama Rizal.
Pelatuk pistol yang diembannya semenjak masuk ke dalam detasemen Raden Joko itu hampir ia tarik dan arahkan ke kepala salah satu perompak yang terlihat seperti seorang pemimpin diantara mereka, kalaupun gue harus mati disini, setidaknya nama gue akan dikenal. Ada nama besar gue di belakang nama cimoy, bukan Ananta, tapi kapten Rayyan.
Rayyan sudah benar-benar menatik pelatuk karena jarak mereka yang hanya beberapa meter saja.
Tapi------
Shottt, dorrrrr!
Belum sempat Rayyan menarik pelatuknya situasi mendadak chaos.
"Soldierrrr!"
Serbuan tembakan dari hantu rimba, hantu laut dan pasukan sniper benar-benar bak bisikan se tan. Tak bersuara namun langsung menumbangkan. Rayyan langsung menarik kembali pistolnya.
"Memutar," Al Fath memberikan arahan dengan jarinya, setelah berhasil menembak beberapanya, mereka harus dengan cepat mengepung sisanya agar tak kembali dan melaporkan pada perompak lain.
Para hantu rimba itu berlari mengitari, serangan tembakan para perompak itu terdengar bising dan terarah, terkadang mereka melemparkan granat.
Disaat inilah celah untuk Rayyan dan Rizal keluar demi menemui mereka.
"Gerak!" perintah Rayyan pada Rizal. Keduanya berusaha sekuat tenaga untuk berlari dengan mengendap-endap diantara hujan tembakan.
"Bang Fath,"
Dorrr!
"Shittt, bang!"
__ADS_1
"Aduhh," gumam Rayyan melihat Rizal tertembak pada bagian kaki. Dengan segera ia membantu Rizal.
Rayyan dengan langkah yang tertatih seraya membantu Rizal memaksimalkan tenaga yang sudah habis.
"Alligator come ini, flying dutchman terlihat di arah jam 4,"
Secercah harapan membuat Al Fath semakin gencar, "guys on position, jemput flying dutchman di jam 4, lindungi unit Raden Joko."
Sosok tubuh tegap Rayyan yang memapah Rizal dengan badan yang sudah terbalur lumpur dan luka di sekujur tubuhnya masih nampak kuat.
"Abang tau kamu kuat Ray,"
Dorr!
Dorrr!
"Ray! Zal!" ucap Pram senang melihat rekannya masih hidup.
"Bawa Rizal, biar gue bantu!" Rayyan menyerahkan Rizal dan dengan langkah mundur teratur ia sempat mengarahkan mon cong pistolnya ke arah musuh.
"Eagle come in----Mundur teratur," perintahnya pada yang lain dengan saling melindungi hingga titik penjemputan.
"Cepat---cepat---cepat! Waktu tak banyak!"
Mereka harus secepatnya meninggalkan tkp sebelum perompak lain datang.
Rayyan mendongak seraya melindungi penglihatan, diantara gelap dan dinginnya malam ia mengucap syukur masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya.
"Masuk bang!" dengan perlindungan tembakan Rayyan masuk bersama Rizal, ia menyenderkan badannya yang sudah terasa remuk di bangku penumpang, melihat rekan sesama prajurit yang masih baku tembak dengan mereka. Bahkan tak tanggung-tanggung, helikopter sempat terbang tak stabil karena dentuman bom yang dilemparkan oleh musuh.
Satu persatu personel unit masuk ke dalam helikopter berbeda. Al Fath dan tim elite Raden Joko adalah personel terakhir yang masuk, saat langkah terakhir Al Fath seorang perompak mengangkat senjatanya, "bang awas!"teriak Rayyan.
.
.
Al Fath langsung menunduk, Rayyan menarik pelatuk pistol miliknya menembak duluan.
Ia terkapar, sementara Al Fath langsung naik menerima uluran tangan dari Gentra dan Pram.
Rayyan mendengus tertawa saat sekarang helikopter bergerak menjauh dari tempat itu. Ditatapnya tempatnya terdampar selama hampir 5 hari.
Jaya tertawa, "bad jingan tidak mudah mati ya Ray?!"
"Thanks,"
"Ucap makasih juga buat opa Gau, beliau yang memberi informasi medan disini---" ucap Al Fath, ia mengangguk lelah dan memejamkan matanya.
Rayyan dan Rizal masuk ruang perawatan, sendi tulang belikatnya sempat bergeser dari tempatnya. Lalu retak di bagian tulang selang ka. Belum lagi luka-luka di sepanjang lengan wajah hingga leher, juga separuh bagian tengah badan.
Langkah Al Fath masuk ke dalam ruangan Rayyan yang sudah selesai diobati, sementara ini ia hanya diberikan pertolongan pertama hingga nanti di ibukota ia harus menjalani serangkaian tindakan, fisioterapi, dan pengobatan.
__ADS_1
"Bang,"
"Gimana kondisi lo?"
"Baik,"
"Ada yang pengen liat---" sesosok pria tua itu ikut masuk.
"Opa,"
"Hm," ia berdiri di samping Al Fath yang memilih duduk di tepian ranjang velbed Rayyan.
"Allah masih sayang kamu, masih sayang Eyi dan calon cicit opa--" Rayyan tersenyum mengingat Eyi dan calon anak mereka.
"Iya opa, terimakasih."
"Ya, nanti opa mampir di Markas besar untuk menemui Eyi, sudah lama opa tak melihat si nakal itu, istirahat lah kadet. Opa tinggal dulu," Rayyan mengangguk.
"Thanks bang,"
"Umi sempat pingsan waktu tau kamu hilang, abi sampai mengerahkan rekanan bisnisnya di Mutiara Arab buat nyari kamu. Dan Eyi----" Al Fath sempat tersenyum tipis.
Sementara Rayyan mengangkat alisnya menanti lanjutan ucapan Al Fath, "Eyi kenapa bang? Pingsan, masuk rumah sakit?" tebakan-tebakan dengan pikiran buruk sudah menggentayangi otak Rayyan.
"Eyi sampe bikin geger kantor nyariin lakinya, satu kantor tentara kesatuan dia teriakin---" lanjut Al Fath membuat Rayyan tertawa.
.
.
__ADS_1
.
.