
Dengan aksen berwarna ungu besar cafe itu berdiri diantara jejeran gerai di zona food court.
...'Solaria'...
"Malam kaka, ini buku menunya..."
Seorang pramusaji mendatangi ketiganya yang baru saja duduk dengan senyuman lebar ciri khas para waiter.
"Lovely?!"
Ketiganya menoleh pada sumber suara yang memanggil Eirene, dialah Hanin si model ternama kelas Internasional lainnya yang sedang eksis di dunia periklanan tanah air.
"Hanin?!"
Oke! Baik Maliq ataupun Zahra tau jika Eirene adalah model terkenal sebelumnya jadi sudah tak aneh jika pergaulan dan lingkungan Eyi pun pasti orang-orang sebangsa artis semua.
"Hay baby! Apa kabar?!" ia mendekat bersama seorang manager dan dua orang bodyguard.
"Hay Eirene lovely, emhhh si honey kemana cin?" tanya bang sweety, manager Hanin.
"Hay kaka sweety, ada. Dia lagi urus bisnisnya mama mertua aku sekarang!" Eirene bangkit dari duduknya dan cipika-cipiki pada Hanin dan Sweety, membuat Zahra dan Maliq meringis geli.
"Boleh gabung?" tanya Hanin.
"Boleh--boleh!" jawab Eyi.
"Ini---suami kamu?!" tunjuk Hanin pada Maliq.
"Ah bukan bu, saya..." Maliq menggeleng.
"Dia om Maliq, ajudan suami lovely..." jawab Eyi.
"Dan dia Zahra, adik Lovely." Jawab Eyi lagi.
"Owhhh!" keduanya manggut-manggut.
"Itu bodyguard kamu suruh gabung aja Nin," ajak Eirene, tapi di luar dugaan---Maliq dan Zahra sampai terkejut dengan sikap dan perkataan gadis yang sama cantiknya dengan Eyi itu, mungkin masih dibawah Eyi sebenarnya.
"Alahhh! Ngga usah lah!" tepisnya di udara lalu ia duduk, "mereka kan cuma bodyguard, biar aja---udah biasa pisah-pisah gitu. Masa iya artis duduknya bareng bodyguard, hello!"
Eirene menggelengkan kepalanya, "cin, minuman aku mana?!" tanya Hanin dan percaya atau tidak sweety mengeluarkan sebuah botol bir beralkohol dan mengeluarkan batangan rokok untuk disesapnya.
Zahra sampai membulatkan mulutnya saking terkejut dengan perilaku sang bintang, ternyata memang pergaulan sebagian artis diluar ekspektasinya, dan ia bersyukur Eirene tak seperti itu.
__ADS_1
"Maaf bu,"
"Jangan panggil saya ibu, dibanding lovely aja Hanin beda setaun kok!" ia mengepulkan asap putih di depan wajah Maliq, hingga prajurit itu menepis udara.
"Iya maaf mbak,"
"Lo pikir gue kang jamu apa manggil mbak!" sarkasnya lagi membuat Eyi tertawa melihat Maliq yang salah tingkah.
"Oke apapun itu kakak, nona, atau miss---maaf tapi bisa kan, rokoknya dimatikan sampai nanti kita berpisah? Bu Eirene sedang mengandung dan itu tidak baik untuk kesehatan janin," ucap Maliq, Hanin segera mematikan bara api di rokoknya.
"Oh sorry--sorry!" jawabnya cepat.
"Cinta, kamu lagi hamil? Ya ampun! Hati-hati melar nanti badanmu, susah buat dapet job sayang," ujar sweety menyentuh pundak Eyi, sementara Eyi hanya bisa mengulas senyuman manis.
"Lovely lo hamil say?! Gue mah belum mau! Ntar susah buat normalin lagi, tau ngga say! Om Edward aja seringnya gue kasih pengaman padahal doi sering ngomel-ngomel, katanya ngga enak!" ucapnya tanpa disaring di depan Maliq dan Zahra.
"Maksudnya?!" Zahra sampai terjengkat kaget, otaknya masih mencerna ucapan Hanin. Tapi Eyi memegang tangan Zahra di bawah meja sana dan menggeleng.
"Ya pengaman lo tau kan?! Biar ngga melendung?!" tawanya bangga. Right! Zahra kini tau seliar apa pekerjaan di luar sana, ia menatap Eirene nyalang---begitu kencang angin godaan pekerjaan kakak iparnya dulu, dan ia sangat ingin menangis terharu melihat Eirene yang masih bisa menjaga diri.
"Hello say, dia banggain si Edward padahal udah gue suruh lepas aja! Om Hans lebih berduit dan berkuasa! Lo tinggal minta saham atau penthouse beberapa juga dikasih!" sweety cekikikan.
"Oh ya love, sayang banget karir modeling kamu tinggalin. Gue cuma menyayangkan aja sih, susah payah lo bangun karir dan sekarang begini, kalo lo mau ada tawaran menarik, gue punya kenalan bos salah satu fashion mode di Italia, dia sempet lirik-lirik dan tanyain lo sama sweety, karena tau sihhh honey sama swetty dulu sempet satu agensi manager!"
"Kak...mendingan makan di rumah aja yuk! Masakan umi lebih enak kayanya----sayang juga kalo ngga kemakan," ucapnya pada Eyi membuat Eyi mengernyit.
"Maaf kaka-kaka, kami pamit undur diri duluan ya!"Zahra bahkan sudah menarik tangan Eyi untuk segera pergi dari sana.
"Loh---loh---kan makanannya belum datang?!" tanya Hanin.
"Sorry ya Hanin," Eyi mengatupkan kedua tangannya di dada saat Zahra benar-benar menariknya dari sana dan Maliq mengekor.
"Say, Cin! Honey punya nomor sweety, kalo minat nanti hubungin aja!" teriak Sweety.
"AHd@^#^#*£₩₩@%!$acg!" Zahra bahkan berucap tak jelas demi menutupi suara sweety membuat Eirene tertawa.
"Sebel banget Zahra dengernya, ngga nyangka tau ngga kelakuannya kaya gitu, jadi ilfeel sama dia!" ujarnya mengomel.
"Pergaulan, tuntutan pekerjaan, dan beban yang dipikul yang bikin dia jadi gitu--- Lingkungan dengan gengsi selangit serta gaya hidup glamour, juga strata sosial kehidupan yang menuntut mereka untuk mencari sokongan dana dan penghasilan diatas manusia pada umumnya, dek Ra."
Abanglah yang menyelamatkan Eyi dari kehidupan itu. Honey lah pendamping terbaik yang selalu menyadarkan Eyi dari kemak siatan dan membatasi segala pergaulan.
__ADS_1
"Bang, gue udah ngga kuat!" Rizal meringis kesakitan, luka bakar dan lebam juga tulang patahnya sudah 4 hari ini hanya diobati dengan pertolongan pertama ala prajurit di medan tempur, begitupun Rayyan, seragam hitam yang sudah ia robek untuk membalut luka dan menyanggah sendi bahu yang mungkin dirasa copot.
Luka-luka di sekitaran wajah pun tak ia hiraukan. Selama hampir 4 hari ini mereka mengandalkan hewan dan tanaman mentah sebagai sumber makanan.
"Lo ngga boleh nyerah Zal, gue yakin yang lain lagi nyari kita sekarang!"
Teriknya matahari dan suhu panas negri ini membuat keduanya harus bertaruh nyawa lebih keras lagi. Bahkan saliva saja sudah hampir kering.
"Gimana caranya kita bikin sinyal SOS bang, sementara camp-camp perompak lebih dekat beberapa puluh meter dari sini?" ujarnya hampir putus asa.
"Untuk sementara kita lebih harus berjalan sampai jarak terjauh dari camp perompak, dan mendekati perbatasan...." ia sering berjalan bahkan berenang berpuluh-puluh kilo saat berlatih meski tidak dengan keadaan terluka.
"Anggap kalo sekarang lo lagi ngalamin kembali dikawah candradimuka sekali lagi Zal, dan nanti pada akhirnya sampai akhir batas kemampuan kita ada brevet menanti, gaji lo naik! Tunjangan lo naik, doi lagi nunggu!" ucap Rayyan membuat Rizal menggelengkan kepalanya, "bisa ae lu bang,"
Tap! Tap! Tap!
Suara beberapa orang mengobrol dengan bahasa Soma terdengar mendekat.
Obrolan keduanya terhenti, mendadak keduanya senyap, Rayyan dan Rizal mengeluarkan pistol dari pakaiannya bersiaga. Untuk saat ini mereka hanya akan bersembunyi tanpa melawan, itu adalah cara terbaik yang bisa mereka lakukan sekarang.
.
.
.
__ADS_1