
Menangis, takut dan mengumpat adalah obat tidur alami, karena pada akhirnya perempuan ini tertidur. Nafasnya terasa teratur menandakan jika ia pulas. Rayyan melonggarkan dekapannya, kini nampak olehnya wajah dengan bekas tangisan yang terlelap.
"Segitu parahnya trauma Eirene, Ray?" tanya Pram.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?" tambah Langit.
"Lo berdua masih inget kisah Mayor Inf. Rimba Gauhari?" tanya Rayyan balik bertanya.
Kedua manusia ini mengangguk seperti burung kakak tua yang baru belajar du gem, "inget."
"Beliau adalah kakek kandung Eirene," tambah Rayyan.
Betapa terkejutnya manusia-manusia berlumur dosa ini mendengar pengakuan Rayyan, "ah yang bener lo? Jangan ngaco, masa kakeknya tentara, cucunya kaya gini---pas nikahan doi ngga hadir juga kan?" seru mereka tak percaya.
"Panjang ceritanya, tapi intinya gitu." Rayyan dengan sangat hati-hati mengambil ponsel dari saku baju, hanya sekali goresan pin maka ponsel itu terbuka dengan wallpaper bendera negri dan lambang marinir, matanya terlihat bercahaya saat mengotak-atik ponsel, lalu ia perlihatkan foto Eyi dan opa Gau bersama honey.
"Njirrrr, jadi lo cucu mantu Mayor Rimba?" tanya Pram, Rayyan mengangguk.
"Eirene trauma dengan segala yang berbau pesawat karena---"
"Bonyok'nya meninggal kecelakaan pesawat--" lanjut keduanya kembali mengangguk-angguk.
"Oke, gue ngerti. Cuman---gue ngga nyangka aja ternyata istri lo cucu legenda," kekeh Pram.
Perjalanan menuju Timur Java hanya sebentar saja meski tak langsung ke Jember, mereka harus turun di pangkalan markormar yang ada di kota Pahlawan. Pesawat sudah landing. Dan perempuan ini mulai menggeliat cantik.
"Suthh! Bu negara bangun tuh, siap-siap! Bakalan liat lagi pertengkaran rumah tangga! Lo belum pernah kan Pram, liat buaya dikulitin depan mata?" tawa Langit.
Rayyan kembali mendekap Eirene dengan lembut. Begitu jelas di pendengaran suara mesin dan baling-baling pesawat yang belum dimatikan, ia segera mengeratkan kembali pelukannya di badan Rayyan.
"Kamu jahat tau nggak," kini suara itu tak lagi berapi-api dan meledak-ledak, Eirene lebih tenang sekarang meskipun tetap saja takut.
"Kamu tega sama aku, suara Eyi sampe serak gini," kembali ia menangis.
"Hey, tarik nafas..." pinta Rayyan.
"Coba tenangin dulu. Tarik nafas dalem terus keluarin...Kita udah landing."
"Kalo gitu gue duluan turun Ray," ujar Langit diangguki Rayyan.
Rayyan melonggarkan pelukan, "coba tangannya ngga usah dipakein tenaga dalam, itu baju abang nanti sobek kena kuku kamu," karena sejak tadi Eyi begitu mencengkram seragam Rayyan hingga buku-buku kukunya memutih, sampai kusut dibuatnya.
"Kamu tuh capek, serak, lemes karena terlalu panik, kamu tuh pusing karena udah negatif thinking duluan sampe nafasnya tuh ngga teratur. Takut tuh capek kan? Teriak-teriak ngga jelas tuh capek?" perlahan cengkraman Eyi melonggar. Keduanya masih berada di dalam pesawat saat ini.
"Sekarang buka mata kamu," pinta Rayyan, sontak saja Eyi menggeleng cepat, "enggak!"
"Buka sayang, liat muka abangmu yang ganteng ini!" rayunya dan Eyi membuat gerakan mencibir, bukannya menyerah Rayyan dengan sengaja mengecup bibir Eyi, bukankah lebih mudah menyerang Eyi saat perempuan ini tengah memejamkan matanya.
__ADS_1
Cup!
"Ihhh!" refleks saja Eyi membuka matanya dan melihat sekeliling tempatnya duduk, bagi Eirene ruangan ini begitu menyeramkan lebih mirip tempat eksekusi mati, "aaa!" ia menaikkan kakinya dan masuk ke dalam pelukan Rayyan.
Melihat isi kapal dimana kursi penumpang, kemudi pesawat, jaket keselamatan membuat keringat dingin kembali menyerang, yang ada dalam otaknya adalah bagaimana kedua orangtuanya meregang nyawa.
"Eyi ngga mau mati disini!" ia memejamkan matanya.
"Engga, kamu ngga akan mati disini. Mau turun ngga?" tanya Rayyan.
"Turun!" jawabnya cepat.
"Kalo gitu ayo,"
"Gendong! Badan Eyi lemes ih!" pintanya.
"Oke, tapi buka mata kamu. Deal?" tanya Rayyan, apapun asalkan ia segera turun, maka Eyi mengangguk.
"Heels Eyi mana?" tanya nya.
Rayyan turun dengan menggendong Eyi di belakangnya, sementara wanita itu kini lebih tenang dengan mengalungkan tangannya seraya memegang sepatu heels hitam di depan dada Rayyan.
"Seumur-umur waktu ngawal RI 1 aja ngga sampe harus gendong-gendong," kekeh Rayyan, terbayang saja jika sampai RI 1 minta digendong sama paspampres atau para prajurit, udah kaya tuyul ketuaan digendong kacang ijo.
"Ini bukan RI 1, tapi nomor 1 di hatimu," jawab Eyi terkikik.
"Hm, Eyi ngerti abang lagi berusaha bikin Eyi lebih berani, tapi bisa kan jangan mirip Hittler gitu, berasa kaya lagi diculik psycho," keluhnya bergidik.
"Abang bakalan terus berusaha buang jauh-jauh ketakutan kamu. Mau kamu cakar abang sampai berda rah-da rah, pukul abang sampai bonyok, sobekin baju atau kamu sampai gigit abang sekalipun..." Eirene hanya menempelkan dagunya di pundak Rayyan merasa ter haru dengan usaha Rayyan meskipun terbilang cukup ekstrem, Rayyan adalah prajurit, terbiasa dengan hal yang keras dan disiplin, tak biasa dengan hal yang basa-basi dan tak tau caranya berlaku lemah lembut. Karena percaya atau tidak praktek menggombal dan merayu perempuan yang selama ini selalu sukses bikin hati para wanita jedag-jedug, nyatanya tak berguna untuk membujuk seseorang yang memiliki trauma macam Eyi. Sebelum ini terjadi Eyi tetap tak mau melepaskan ketergantungan obat tidurnya sampai Rayyan benar-benar membuang obat tidur itu ke tempat sampah.
Baru beberapa jam yang lalu keduanya bertengkar sekarang keduanya malah sedang cekikikan bareng turun dari pesawat.
"Bu, bangun juga? Gimana rasanya naik pesawat?!" tanya Langit, kini ketiga perwira muda itu berjalan dengan Eyi dalam gendongan Rayyan.
"Tau nggak separuh jiwa Eyi udah berceceran tuh di jalanan, mana kelindes ban pesawat udah gitu ilang kebawa air hujan!" jawabnya, ditertawai ketiganya.
"Baru kali ini bro, pengawalan sampe minta digendong gini harusnya sih dikasih bonus kalo yang kaya begini!" ujar Rayyan menyindir halus istrinya yang masih anteng dalam gendongan. Bukannya kecupan, Eirene malah menggigit kuping Rayyan, "nih bonus!"
"Aduh dek, sakit!"
"Ha-ha-ha! Sokorrr!" tawa keduanya.
"Tau galak lagi, mendingan masukkin aja lagi ke pesawat!" Rayyan dengan usilnya berbalik dan berlari.
"Eh--eh!!" panik Eirene membuat Rayyan malah tergelak,
"Idih, lo berdua mirip bocah lagi pacaran!" ujar Pram.
__ADS_1
"Welcome di pangkalan kota Pahlawan!!!"
"Bang Esa!" sapa mereka.
"Apa kabar bang?!"
"Baik!" netra hitam kelam itu menatap Rayyan yang menggendong Eyi.
"Loh, ini---perwakilan dari ibu Jala kan? Yang mau ikutan JFC. Lo ngga sopan amat Ray! Maen gendong-gendong bini orang! Mana cakep lagi!" imbuh bang Esa.
Kedua perwira itu tertawa, "bang Esa kaya ngga tau si Ray. Dia mah janda aja disikat, apalagi cuma bini orang!" tawa Langit.
"Saravvv!"
"Abang kaya gitu? Astagfirullah ihhh! Ternyata Eyi salah pilih lelaki!" Eirene bahkan sudah melotot dibuatnya, tangannya menarik kuping Rayyan sebelah. Pramudya dan Langit semakin tertawa, sementara Rayyan sudah mencoba menginjak kedua temannya itu seraya mengumpat.
"Kamvrettt! Engga dek! Boong mereka. Bang Esa, ini Eirene---dia emang ibu Jala, tapi ibu Jala-nya gue, bang! Enak aja nyebut bini orang!" Rayyan sedikit manyun karena kini Eirene tertawa tergelak.
"Oalah! Lali aku, istrimu kan model to ya! Ku kira jadi dengan Nindia!" jawab bang Esa. Kini bukan hanya Rayyan yang manyun tapi Eyi.
"Ya--ya---udah akur malah dipancing-pancing lagi, auto gigit-gigitan lagi ini mah!" sepertinya kedua jomblowan ini akan selalu bersyukur untuk hari ini karena Allah telah memuliakan para jomblowan.
Eirene turun dari gendongan Rayyan, tak mungkin ia menemui persatuan ibu Jala ranting Timur Java dengan masih di gendong Rayyan. Tanpa takut harga dirinya jatuh, lelaki ini memasangkan sepatu, "abang, Eyi mau ganti dulu baju, masa mau ketemu sama ibu-ibu ketua Jala batalyon sini pake jeans?!"
"Ya udah, abang anter nyari kamar mandi dulu!"
Eyi masuk ke dalam kamar mandi yang ada di pangkalan dengan membawa serta pakaian kesatuan Jala dan dengan cekatan ia menggulung rambut hingga membentuk cepolan pramugari rapi, hanya melakukan touch up maka semuanya beres.
Pintu terbuka lebar menampakkan Eyi yang sudah rapi dengan baju kebanggaan, Rayyan mematikan ponsel yang sedang ia mainkan, "udah?" Baru saja selangkah Eyi sudah setengah berlari kembali ke kamar mandi, "huwekkkk!"
.
.
.
Note :
\* Bonyok : bokap nyokap \= ayah, ibu.
\* Lali \= lupa.
__ADS_1