Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
MEMANGGILMU LIRIH


__ADS_3

...KU MEMANGGILMU DALAM HATI LIRIH...


...EIRENE MICHAELA LARASATI...


Umi sudah dibawa ke kamar dan kini sedang ditangani Zahra, sementara abi menelfon asisten di Sabang untuk mengurus sementara bisnis di sana sampai ia dan Salwa kembali. Dan Al Fath kini tengah berbicara dengan Eyi.



"Dek, jangan pernah putus harapan. Berdo'a yang terbaik untuk Rayyan, abang yakin dia lebih kuat dari siapapun perwira yang hidup. Di dalam perut kamu, ada si kecil titipan Tuhan dan Rayyan yang harus kamu jaga baik-baik. Menjadi istri prajurit memang tidak mudah, tapi abang yakin, Rayyan memilih kamu bukan tanpa alasan----" tak ada tangisan meraung-raung lagi dari Eirene. Ia hanya diam seperti dulu, sesekali air matanya lah yang berbicara jika semua ini cukup berat untuk dijalani.



"Abang," Eyi membuka suara paraunya.



"Ya?"



"Kalau dulu bang Fath ngga berhasil bawa orangtua Eyi pulang, maka hari ini tolong bawa Rayyan pulang bang...." air mata itu seakan tak pernah ada habisnya.



"InsyaAllah! Sudah makan?" tanya Al Fath, Eyi menggeleng. Al Fath melirik arloji di tangannya.



"Sudah jam makan siang. Kasian si kecil,"



"Bi!" panggilnya pada asisten rumah tangga.



"Iya den?!"



"Minta tolong bawakan makan siang untuk Eirene,"



"Iya den."



Abi Zaky kembali, "Fath, jika diperlukan biaya operasional tambahan untuk pencarian Ray bilang saja abi," ucap Zaky.



"Ngga usah abi, ini sepenuhnya tanggung jawab negara,"



"Abi mau dipercepat Fath," tukasnya lagi.



"Abi percaya saja, kami prajurit tau apa yang harus dilakukan."



"Kapan kamu berangkat?" tanya Zaky.



"Sebentar lagi, detasemen pasukan khusus sudah berada disana duluan, semua rekan Fath masih disana."



"Umi mau nyari Rayyan!" teriak umi Salwa terdengar sampai ke telinga Al Fath dan Eyi.



"Mi," Zaky memutar badannya menuju kamar, didapatinya sang istri yang sudah menangis dalam dekapan si bungsu.



"Umi mau nyari Rayyan! Bang Za harus pesenin Salwa jet pribadi ke Soma, Salwa mau nyari anak Salwa, abang !!!!" ibu mana yang tak hancur perasaannya tatkala mendengar salah satu anaknya hilang, "telfon SWAT sekalian, bila perlu umi bakal sewa agen ternama dunia!"



Eyi semakin sesenggukan mendengar teriakan Salwa di kamar sana.



"Mi, umi tenang dulu---" Zaky bergantian memeluk sang istri sementara Zahra sudah ikut menangis.



"Dek, Ra temani Eyi----" pinta Al Fath.



Pencarian masih terus dilakukan, semua pengharapan masih terus dipanjatkan demi ditemukannya Rayyan dan Rizal.

__ADS_1



"Eyi mau ke kamar aja," ujarnya meninggalkan Zahra.



"Iya, kak Eyi istirahat aja. Tapi jangan dikunci pintunya ya kak--" pinta Zahra.



Seharian ini Eyi hanya diam tanpa ada apapun masuk ke dalam mulutnya.



Umi yang sudah baikan masuk ke dalam kamar Eyi, "Eyi---" ketuknya di pintu kamar.



"Masuk aja mi, pintu ngga dikunci.." Eyi mengusap lembut perutnya, dimana sang janin akan merespon setiap usapan lembut, sesekali bibirnya melengkung tersenyum.



Meski wajah masih sembab, umi Salwa sudah bisa kembali tegar. Ia membawa senampan makan siang yang sudah terlewat.



"Jangan bikin susah diri sendiri---kasian cucu umi, kalo kamu ngga makan," ucapnya.



Eyi mendongak melihat wajah mertua yang beberapa puluh menit lalu menangis menjerit-jerit.



"Maaf mi, Eyi sampe lupa kalo belum makan," jawabnya, jika Salwa saja bisa, kenapa ia tidak? Salwa adalah wanita yang mengenal Rayyan seumur hidupnya bahkan sejak masih berbentuk embrio, sementara ia mengenal Rayyan baru setahun lebih. Tapi lihatlah betapa tegarnya umi.



"Perlu umi suapin?" tanya nya, Eyi mengangguk cepat, dengan telaten ia menyendok nasi dan lauknya sementara Eyi mendekat layaknya bocah.



"Umi udah makan?" tanya Eyi.



"Udah, sebelum kamu sama Fath datang--" Eyi menerima suapan dari ibu Rayyan ini.



"Diantara anak-anak umi, Rayyan adalah yang paling manja hampir menyamai Zahra, mungkin karena pikirnya sebelum memiliki Zahra, Rayyan menjadi bungsu selama hampir 12 tahun."




Eirene mengerutkan dahinya lalu beralih mengambil piring untuk makan sendiri.



Sedikit lama, hingga nasi di piring Eyi tersisa sepertiganya. Umi kembali dengan sebuah laptop dan kunci, langkahnya menghampiri lemari baju Eyi dan Rayyan, "umi boleh buka ini ya?" tanya umi meminta ijin.



"Boleh mi," dibukanya lemari pakaian, lantas ia menunduk ke arah laci di bawah, dengan menggunakan kunci ia buka laci itu dan meraih barang di dalamnya.



Eirene menyingkirkan piring lalu minum dan bersiap memperhatikan umi Salwa.



"Umi mau apa?" tanya Eyi.



"Rayyan sempet kasih pesen sama umi..."



"Ini---atm dan buku rekening tabungan milik kamu yang sempet Ray ambil dari Redi, dan ini atm serta black card milik Rayyan. Kalau kamu mau belanja perlengkapan si kecil---kamu bisa pake ini." Umi menyerahkan dua buah kartu debit milik Rayyan di atas kasur, satu kartu bertanda bank swasta yang dikenali, dan satu lagi hitam gold khas kartu dengan isian saldo tak terhingga yang hanya dimiliki seseorang dengan uang segudang. Bukankah Rayyan hanya seorang prajurit, kalaupun ia memang anak juragan kopi, apakah ia sekaya itu?



Umi mengotak-atik laptop miliknya, "Rayyan minta juga membalik namakan saham dan obligasi miliknya atas nama si kecil nantinya---"



"Beberapa harta fisik milik Rayyan di Aceh tak banyak---hanya 1 buah mobil sport, 1 mobil jeep adventure, dan 1 motor Harley. Sebagai warisan untuk si kecil,"



Bukannya senang, Eyi menggeleng kuat, "engga mau! Umi ambil aja ini semua, Eyi maunya Rayyan!" ia mendorong semua kartu dan menutup laptop yang dibawa umi.



"Umi jangan kaya gini! Eyi yakin bang Fath bisa bawa Ray pulang! Bang Ray prajurit hebat iya kan, umi?!" Eyi mengguncang-guncang lengan Salwa yang kembali menitikkan air matanya.

__ADS_1



"Eyi yakin abang pulang! Tanpa kurang suatu apapun!" ucapnya mantap. Ada senyuman getir namun terharu di wajah Salwa, "ya udah. Umi simpen ini di lemari aja, udah selesai makannya?"



Eyi mengangguk dan meminta umi keluar, ia kembali merebahkan badannya menyamping, air matanya kembali jatuh membasahi sarung bantal.



*Abang, Eyi ngga mau kaya gini*!



*Ku memanggilmu...dalam hati Lirih*......



Lama ia tak keluar hingga saat hampir magrib, Eyi baru saja keluar dari kamar disambut Zahra.


"Kak," Eyi duduk di samping Zahra.


"Dek Ra, Eyi mau keluar---cari hiburan diri, ikut yuk!" ajaknya.


"Boleh kak, mau kemana? Belanja, nonton, salon?" tanya Zahra.


"Sertakan seorang ajudan buat jaga kalian---" pinta abi mendengar ucapan Eyi.


"Iya abi, Eyi bakal ajak om Maliq..."



Suasana malam ibukota memang ramai, seperti kota yang tidak pernah mati. Beberapa pasang muda-mudi berjalan bergandengan tangan bahkan saling rangkul. Tapi bagi Eyi, itu terasa hambar saat Rayyan tak ada, kacamata berbingkai bulat dipakainya untuk menutupi mata yang sudah bengkak.



Ketiganya berjalan diantara keramaian mall, meski Maliq berjalan tepat di belakang istri atasannya itu.



"Mau kemana dulu kita kak?" tanya Zahra.



Lirikan mata Eyi tertuju ke sebuah toko yang memajang sebagian perlengkapan bayi,



..." *The Lavi'e Baby*"...



"Kesini dulu deh dek, mau liat-liat---" matanya sedikit berbinar demi melihat perintilan-perintilan bayi lucu.



Eyi melihat-lihat, ada senyuman yang terukir di wajahnya saat ini.



"Emang udah ketauan cewek cowoknya kak?" tanya Zahra, Eyi menggeleng, saking sibuk memikirkan Rayyan ia sampai tak bertanya pada saat usg kemarin.



"Warna netral aja deh, atau biru karena ayahnya juga pasukan smurf ya?" tawa Eyi. Baru kali ini Eyi dapat tertawa kembali mengingat sudah beberapa hari ia tak bisa tertawa. Maliq dapat melihat itu, tak apa ia harus berjalan mengikuti kedua wanita ini sampai larut, asalkan istri atasannya itu dapat sedikit melupakan kesedihan.



Setelah mendapatkan beberapa barang yang ia suka dan butuhkan tadi di toko, Eyi melanjutkan acara dengan menonton bioskop saja. 3 tiket film horor ia pilih sebagai pengalih kesedihannya, biar lebih ekstrem saja getarannya.



2 jam lebih mereka di dalam, cukup membuat Eyi terhibur hari ini.



"Gilakk, sampe keringetan gini Eyi nonton!"



"Serem ih, alamat ngga bisa ke kamar mandi ntar tengah malem!" ujar Zahra ikut berjalan keluar dari gedung bioskop.



"Om, masih kuat ngga? Kita makan dulu ya abis ini?! Baru balik ke asrama?" tanya Eyi kini menaikkan kacamata, bengkak di matanya sudah mulai berkurang dari sebelumnya.



"Boleh bu," jawabnya singkat.



"Kesitu aja kak!" tunjuk Zahra menunjuk sebuah gerai makan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2