
Beberapa bulan sudah berlalu, umi dan abi terpaksa harus kembali ke Sabang. Rayyan sudah kembali pulih seperti sedia kala, bahkan beberapa hari setelah operasi pun ia sudah bisa kembali pecicilan.
Eyi akhirnya menambatkan hati pada salah satu universitas swasta di ibukota di tengah kesibukannya sebagai seorang istri prajurit. Kandungan yang sudah semakin membesar menjadi tantangan tersendiri untuknya. Tetap saja, meski perutnya sudah membuncit sedemikian rupa ia malah semakin menawan di mata khalayak.
Dress pink dengan turtle neck menjadi pilihannya hari ini. Bukan lagi heels yang ia pakai, karena Rayyan melarangnya atas anjuran dokter kandungan.
"Om, Eyi berenti disini---biar ke rumah Eyi jalan aja," pintanya pada salah satu bawahan Rayyan, bukan Maliq karena ia sedang memiliki tugas.
"Oh, siap bu!" patuhnya.
Senyum Eyi tersungging saat melihat satu peleton prajurit tengah berjemur seraya berlari, tepatnya DIJEMUR ! ! Oleh senior sekaligus instruktur killernya. Ia jadi mengingat saat pertama kali menjejakkan kakinya di markormar bersama honey, momentnya persis seperti ini.
🎶 Jangan sampai merusak barisan
Banjar dan shafnya harus diliruskan...
Banjar dan shafnya harus diluruskan...
Di dalam pertempuran tidak pernah memalukan,
Mati dalam perang suatu kebangaan,
Militer, hantu rimba..
Militer, hantu laut...
Militer, jaya di udara...
Pak polisi teman kita juga,
Eyi tertawa saat Rayyan berteriak diantara panasnya cuaca demi mendisiplinkan junior.
Kali ini ia tak marah, saat para juniornya memandang wanita cantik yang kini sedang berjalan menenteng buku tebal yang ia pakai untuk menghalau panasnya mentari dari kepalanya, tas besar menggelayuti pundak menandakan jika ia membawa banyak barang.
Rayyan bersiul genit, Witwiiww!
"Hay cewek!"
Eirene memutar bola matanya jengah, "hihhh! Berani goda-goda, abang punya apa?!"
"Komando! Silahkan kembali ke barak masing-masing!" Rayyan berteriak memenuhi hampir menggema dari ujung jalan ke ujung jalan lagi.
"Punya cinta dek," dengan kaos biru navy bertuliskan militer laut dibanjiri peluh ia menghampiri bumil satu ini, kulitnya mengilat tatkala lautan keringat terpapar sinar matahari.
"Makan cinta ngga bikin kenyang bang," sahut Eyi angkuh dan menyebalkan sambil terus berjalan diimbangi Rayyan.
"Cinta abang bikin kenyang loh, itu perutnya sampe kembung!"
"Ih rese!" Eyi memukulkan buku tebal ke bahu Rayyan hingga terdengar suara nyaring darinya, tapi pria itu malah tertawa renyah
"Abang punya janji sama kapten marinir Yudhistira, kebetulan beliau lagi piket buat pemeliharaan *ibu Cut*, ikut yuk!" ajaknya.
"Siapa *ibu Cut*?" tanya Eyi semakin mengernyit.
"Adek pasti suka!" senyumnya gemas, ia menarik tangan Eyi dan berjalan antusias membuat Eyi sedikit kepayahan mengimbanginya, persis anak SMA yang sedang dilanda kasmaran keduanya berlari kecil dimana kantor Rayyan berada padahal kini perut Eyi tengah buncit buah dari cinta keduanya, "abang sebentar ih!" keluh Eyi.
"Eh!" Tiba-tiba saja tubuh itu terangkat oleh tangan-tangan yang mengeluarkan otot.
Keduanya masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan Rayyan, "sebentar, abang pake dulu baju. Sekalian kunci pintu sama kasih memo buat Maliq dulu," ucap Rayyan. Selama menikah mungkin ini kali pertamanya Eyi masuk ruangan kerja Rayyan, cukup rapi dengan lemari berkas dan kursi 4 buah di depannya, kulkas kecil dan lemari layaknya loker. Meja kerja dengan setumpuk berkas, laptop lampu belajar tak lupa foto Eirene terpajang manis di atas meja kerja Rayyan. Eyi mengedarkan pandangannya ke atas dimana jam dinding berada bersebrangan dengan foto presiden dan wakilnya juga burung garuda di tengah-tengah. Beberapa piagam penghargaan dan tanda kehormatan juga piala tak lupa terpajang disini.
__ADS_1
Rayyan cukup bersih dan wangi, buktinya ruangan Rayyan dihiasi dengan pengharum ruangan yang digantungkan tepat di depan AC.
Rayyan membuka kulkas kecilnya mengambil satu minuman teh kemasan dan membukakannya untuk Eyi.
"Minum dulu, pulang ngampus pasti capek. Gimana tadi di kampus?" tanya Rayyan.
Eyi bergidik acuh dan meneguk teh kemasan dingin itu, "biasa aja---cuma pada bilang, perutnya udah makin gede aja, berapa bulan?! Enak ngga jadi istri prajurit?" tirunya mencibir.
Rayyan mengehkeh, "terus adek bilang apa?"
"KEPO!" jawab Eyi tepat di depan wajah Rayyan.
"Ck, masa ngga boleh tau?!" Rayyan mengajak Eyi keluar dari ruangan setelah menulis memo.
"Maksud Eyi, Eyi jawab kepo sama yang nanya," jawabnya.
"Put! Put!" panggil Rayyan pada Putra.
Prajurit itu menghampiri, "siap ndan?!"
"Titip memo buat Maliq," Rayyan menyerahkan kertas memo untuk Maliq pada Putra.
Angin bertiup kencang menerpa balutan dress yang mencetak tubuh Eyi, hingga perut besar itu sangat jelas dilihat oleh siapapun, untung saja pusar Eyi tak sampai menonjol.
Gemuruh air laut terdengar bak alunan musik, dan Eyi sudah mulai terbiasa dengan itu, dengan bau amis, angin kencang tak beraturan.
Kapal-kapal berjenis fregat dan korvet berlabuh merapat di pangkalan, rata-rata berwarna abu dan loreng. Bukan hanya kapal saja yang ada disana, tapi alutsista lain pun ada disini termasuk pesawat.
"Siang kapt!" beberapa junior menghormat pada Rayyan begitupun sebaliknya, Rayyan menunjukkan sikap hormat pada prajurit yang pangkatnya lebih senior.
"Kapt?!"
"Mau ketemu Mayor marinir Yudhistira, bang!" jawab Rayyan.
"Oh, bang Yudhis lagi liat ibu Cut," Rayyan mengangguk, Eyi hanya mengekor sambil mengembangkan senyuman, meski ia tak mengenal...anggap saja ia sedang sedekah senyum hari ini.
Deburan ombak laut semakin nyaring terdengar begitupun goyangannya seolah hendak tumpah dan menyapu daratan, mengombang-ambing semua benda yang berada di atas permukaan. Jauh di ujung pandangan burung camar berlalu lalang mencari ikan mematuk-matuk ke arah air laut.
"Ray!" teriaknya menyapa, ia menyembulkan kepalanya dari dalam kapal, mungkin dari lambung kapal.
"Ada masalah bang?" tanya Rayyan menghentikkan langkahnya dari bawah kapal.
"Kagak! Jadi mau ngikut?" Rayyan mengangguk.
"Katanya pengen ngerasain jadi Jack sama Rose!" jawabnya ditertawai oleh pria paruh baya yang sedang memakai baju layaknya montir namun berlambang kesatuan.
"Naik dah!" ajaknya.
"Yuk!" tapi tangan itu tertahan karena gelagat menolak Eyi, "takut bang," ia bergidik ngeri.
"Takut apa? Kan yang jadi nahkodanya tentara?"
"Cih, takut tenggelam," cicit Eyi.
"Anggap aja ini kolam renang!" jawab Rayyan enteng membuat Eyi berdecak, "enteng amat jawab kolamnya, mana ada kolam renang segede lautan---" debatnya.
"Iya kolam renang, kolam renangnya hiu---paus----ikan nemo, ikan sarden! Hayuk aja lah!" tarik Rayyan memaksa Eyi.
Wanita itu begitu gugup dan takut sampai-sampai menempel terus pada suaminya, melingkarkan lengan di lengan Rayyan seraya mengedarkan pandangan.
"Bang!" sapa prajurit lain pada Rayyan.
"Istri?!" tunjuknya pada Eyi.
__ADS_1
"Iya, masa istri orang!" tawa Rayyan.
"Oh, jadi ini yang kemaren ngidam pengen naik ibu Cut?!" tanya Yudhistira, sontak saja Eyi membulatkan matanya, ia melirik ganas pada Rayyan----main jual nama orang.
Eyi bahkan tak segan-segan mencubit pinggang suaminya, "fitnah!"
Rayyan lantas menoleh dan terkekeh.
"Yok bu, dinikmati tour keliling ibu Cut--nya! Gue ke anjungan dulu Ray, mau kroscek and test drive!" Yudhistira meninggalkan keduanya.
"Sip bang! Thanks ya, udah info sama ijinin ikut," jawab Rayyan.
Ia mengacungkan jempolnya , "sip!"
Eyi mengedarkan matanya takjub, baru kali ini ia menginjakkan kali diatas kapal perang kebangaan negri tercinta, kapal yang sudah berkali-kali mengukirkan sejarah dan membuktikan pengabdiannya pada bumi pertiwi, mulai dari menumpas pemberontakan dan tero risme hingga menemani para warga berkeliling demi merasakan sensasi naik kapal perang.
Tangannya mulai berselancar menjamah satu persatu bagian dari ibu Cut, entah kenapa wanita ini merasa terharu saat menyentuh logam-logam pelengkap kapal ini.
Ia menyapukan telapak tangan indahnya diantara peluncur roket dan senjata mesin yang melengkapi kegagahan ibu Cut.
"Jangkar naikin Man!" teriak Yudhistira. Deru mesin kapal mulai terdengar. Eyi kini berani berjalan menyusuri geladak, bahkan ketika kapal mulai melaju.
Gemuruh air yang beriak karena dibelah mon cong kapal membuat Eyi tersenyum diantara lukisan langit indah yang Tuhan ciptakan, dibawah payung biru angkasa inilah keindahan nyata di depan Rayyan.
Rambut Eirene berterbangan bebas tak karuan tersapu oleh angin kencang. Hingga tangannya meraih ponsel dari dalam saku untuk memotret makhluk paling indah kepunyaan-nya.
# Ibu kapten melaut bersama ibu Cut ❤ sehat-sehat sayang. Rayyan memposting sebuah foto wanita cantik diatas kapal cantik. Tak menunggu sampai berjam-jam, postingannya di like oleh ratusan bahkan ribuan orang.
Netz : Itu Eirene lovely kan?!
Netz : Ya ampun, so beautiful 😍😍
Netz : Udah besar, berapa bulan pak kapten?
Netz : Ka lovely jadi ibu Jala makin cantik aja 😘
Rayyan terkekeh melihatnya, tapi tak ia gubris, ia justru mematikan ponselnya dan kembali memasukkan itu ke dalam saku celana.
Rayyan berjalan dengan mengernyitkan alis, "gimana suka?" tanya nya berdiri tepat di samping Eyi. Wanita itu masih terkagum-kagum melihat keindahan perairan negri meski hanya sekitaran ibukota dan kepulauan Se-ceng.
Eyi mengangguk cepat, "banget!" keduanya berdiri di depan besi pembatas melihat ke bawah sana yang tampak ngeri bagi Eyi, "ih! Jangan pinggir-pinggir amat bang! Ngeri ah, kepeleset langsung nyium gerbang akhirat!"
Rayyan tertawa, "ngga akan."
Rayyan menunjukkan satu persatu bagian kapal layaknya menjadi pemandu siswa SD yang sedang tour. Hingga kapal hendak berbalik kembali ke arah pangkalan, hari mulai senja, langit sedikit teduh---kejinggan mulai bermunculan demi meng-indahkan langit nusantara. Seolah bebas tak ada tedeng aling-aling Eyi mulai merentangkan kedua tangannya membiarkan angin menerpa seluruh badannya dengan latar langit percampuran biru, putih, dan kejinggaan.
Ia tak pernah merasa sebebas ini dalam hidup, seolah semua beban dan rantai hidup yang membelenggu tak lagi mengikat tubuh, sementara Rayyan hanya memperhatikan dan menjaga Eyi.
"Seumur-umur belum pernah ngerasa sebebas ini, kaya---" ia terjeda oleh tenggorokan yang mulai tercekat.
"Kaya... lepas gitu semua beban hidup! Beban yang selama ini beratttt banget!" ia melepaskan semuanya pada angin, hingga terbawa mengudara dan hilang.
Rayyan mengulas senyumannya, si cantiknya lagi curhat sama angin. Seberat itu beban hidup yang membelenggu.
"Udah, sini duduk. Pegel berdiri terus," pinta Rayyan memberikan Eyi tempatnya, sementara ia berlutut di depan Eyi.
Rayyan berdehem untuk mengusir rasa tak nyaman di tenggorokan.
"Dek---"
"Lon ingin mencintaigata ngon sederhana,
Dengan kata yang hana sempat dipeugah kaye bak apui yang dipeget jet ke abe.
Lon ingin mencintaigata ngon sederhana,
Ngon isyarat yang hana sempat dipetrok leh awan,
Bak hujen yang dipeugah isyaratnyan hana."
...《▪》Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
...Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu....
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
...Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan,...
...Kepada hujan yang menjadikannya tiada....
Matanya mengerjap membawa serta air mata, baru kali ini ada seorang laki-laki menyatakan rasa sayang dan kata puitisnya terhadap Eyi tapi Eyi tak mengerti apa yang ia katakan. Eyi menggeleng frustasi, rasanya itu kok sedihhhhh.....
.
.
.
.
__ADS_1